BINA IMAN REMAJA KATOLIK PAROKI SANTO AGUSTINUS PAYA KUMANG

 

Foto Bapak Hendrikus Hendri, S.S.Saat Menyampaikan Materi

REMAJA DIAJAK MEMAHAMI MAKNA DOA SYUKUR AGUNG DALAM PERAYAAN EKARISTI

Ketapang, 24 Mei 2026.Semangat pembinaan iman kaum muda Katolik kembali terlihat dalam kegiatan Bina Iman Remaja (BIR) yang diselenggarakan di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB ini diikuti oleh 22 orang remaja Katolik yang berasal dari lingkungan dan wilayah pelayanan paroki.

Kegiatan pembinaan ini menghadirkan pemateri utama, Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan, Bapak Hendrikus Hendri, S.S., yang membawakan materi mendalam mengenai “Doa Syukur Agung” dalam Perayaan Ekaristi. Pembinaan berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan, antusiasme, serta semangat belajar iman yang tinggi dari para peserta.

Kegiatan Bina Iman Remaja Katolik ini mendapat dukungan penuh dari RP. Vitalis Nggeal, CP., selaku Pastor Kepala Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Kehadiran dan dukungan pastor paroki menjadi bentuk perhatian Gereja terhadap perkembangan iman generasi muda Katolik.

Turut hadir mendampingi para peserta dalam kegiatan ini yakni Ibu Angelina Norma Sanger, Ibu Fransiska Romana Sri Wijati, dan Ibu Trifina Erna Jawai.Saudara Antonius Pamungkas Putra Myne yang dengan penuh perhatian membantu jalannya kegiatan sejak awal hingga akhir.















Remaja Katolik Sebagai Harapan Gereja

Dalam kehidupan Gereja Katolik, kaum muda memiliki posisi yang sangat penting. Remaja merupakan generasi penerus Gereja yang nantinya akan melanjutkan pelayanan, pewartaan, dan kehidupan menggereja di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, pembinaan iman sejak usia remaja menjadi kebutuhan yang sangat mendasar.

Kegiatan Bina Iman Remaja bukan sekadar kegiatan rutin atau pertemuan biasa, melainkan menjadi sarana pembentukan karakter iman, pengetahuan liturgi, serta kedewasaan rohani bagi para peserta. Melalui kegiatan seperti ini, para remaja diajak untuk mengenal lebih dalam ajaran Gereja Katolik serta memahami makna iman yang mereka hidupi setiap hari.

Dalam sambutan pembuka kegiatan, para pendamping mengajak seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh. Para remaja diingatkan bahwa memahami liturgi dan Ekaristi sangat penting karena Ekaristi merupakan pusat kehidupan Gereja Katolik.

Suasana kegiatan sejak awal sudah tampak penuh semangat. Para peserta hadir dengan penuh antusias dan mengikuti seluruh rangkaian acara dengan tertib. Mereka tampak aktif mendengarkan, mencatat, serta mengajukan berbagai pertanyaan terkait materi yang disampaikan.

Materi Tentang Doa Syukur Agung

Materi utama dalam kegiatan BIR kali ini membahas tentang Doa Syukur Agung dalam Perayaan Ekaristi. Materi ini dipilih karena banyak umat, khususnya remaja, yang masih belum memahami secara mendalam makna serta bagian-bagian penting dalam Doa Syukur Agung.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menjelaskan bahwa Doa Syukur Agung merupakan pusat dan puncak seluruh Perayaan Ekaristi. Dalam bagian inilah Gereja memanjatkan syukur kepada Allah atas karya keselamatan yang telah diberikan melalui Yesus Kristus.

Beliau menekankan bahwa umat Katolik tidak hanya hadir secara fisik dalam misa, tetapi juga harus memahami apa yang sedang dirayakan. Dengan memahami makna liturgi, umat akan semakin sadar bahwa Ekaristi bukan sekadar rutinitas, melainkan perjumpaan nyata dengan Kristus.

Para peserta terlihat sangat fokus ketika materi mulai dijelaskan. Pemateri menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga para remaja mampu mengikuti penjelasan dengan baik.

Pengertian Doa Syukur Agung

Dalam penjelasannya, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menerangkan bahwa Doa Syukur Agung adalah doa syukur atau doa yang dipersembahkan oleh Gereja dalam Perayaan Ekaristi. Doa ini dimulai ketika imam mengajak umat untuk mengarahkan hati kepada Tuhan melalui prefasi.

Beliau menjelaskan bahwa dalam bagian ini, seluruh umat diajak untuk mengangkat hati kepada Tuhan dan bersyukur atas segala karya keselamatan Allah. Oleh sebab itu, umat harus mengikuti bagian ini dengan penuh perhatian dan penghayatan.

Menurut beliau, Doa Syukur Agung menjadi sangat penting karena merupakan puncak dalam Perayaan Ekaristi. Seluruh umat diajak untuk menyatukan diri dengan Kristus dalam pujian kepada Allah Bapa.

Para peserta kemudian diajak untuk memahami bahwa Ekaristi bukan hanya tindakan imam semata, tetapi seluruh umat turut ambil bagian secara aktif dalam doa tersebut.

Bagian-Bagian Penting Dalam Doa Syukur Agung

Dalam sesi berikutnya, pemateri menjelaskan secara rinci bagian-bagian penting dalam Doa Syukur Agung.

1. Ucapan Syukur

Bagian pertama adalah ucapan syukur yang dinyatakan dalam prefasi. Dalam bagian ini imam, atas nama seluruh umat, memuji Allah Bapa dan bersyukur atas karya keselamatan-Nya.

Pemateri menjelaskan bahwa prefasi mengajak umat untuk membuka hati dan menyadari begitu besar kasih Tuhan dalam kehidupan manusia. Gereja mengajak umat untuk tidak hanya datang ke misa sebagai kewajiban, tetapi sungguh hadir dengan hati penuh syukur.

Beliau juga menambahkan bahwa rasa syukur merupakan dasar kehidupan orang beriman. Orang yang hidup dalam syukur akan lebih mudah melihat karya Tuhan dalam hidup sehari-hari.

2. Aklamasi Kudus

Bagian kedua adalah aklamasi Kudus. Seluruh jemaat bersama para malaikat dan penghuni surga menyanyikan lagu Kudus sebagai bentuk pujian kepada Allah.

Pemateri menjelaskan bahwa lagu Kudus bukan hanya nyanyian biasa, tetapi bentuk persatuan Gereja di dunia dengan Gereja surgawi. Saat menyanyikan Kudus, umat diajak masuk dalam suasana surgawi.

Para peserta tampak mulai memahami bahwa setiap bagian misa memiliki makna yang sangat mendalam.

3. Epiklesis

Pada bagian epiklesis, Gereja memohon kuasa Roh Kudus agar persembahan roti dan anggur dikuduskan menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menjelaskan bahwa Roh Kudus bekerja dalam seluruh liturgi Gereja. Melalui kuasa Roh Kudus, roti dan anggur mengalami perubahan menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

Beliau juga mengingatkan para peserta bahwa kehadiran Kristus dalam Ekaristi adalah nyata dan harus dihormati dengan sikap iman yang sungguh.

4. Kisah Institusi dan Konsekrasi

Bagian ini menjadi salah satu bagian paling sakral dalam Perayaan Ekaristi. Dalam kisah institusi dan konsekrasi, imam mengulangi kata-kata dan tindakan Kristus sendiri saat Perjamuan Malam Terakhir.

Pemateri menjelaskan bahwa melalui konsekrasi, roti dan anggur sungguh berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Oleh karena itu, umat harus menjaga suasana hening dan penuh hormat.

Para remaja juga diajarkan mengenai sikap tubuh yang benar ketika konsekrasi berlangsung. Saat imam mengangkat hosti dan piala, umat memandang dengan penuh hormat. Ketika imam berlutut, umat menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan kepada Kristus.

5. Anamnesis

Anamnesis merupakan bagian ketika Gereja mengenangkan sengsara, wafat, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus ke surga.

Pemateri menjelaskan bahwa Gereja menjalankan amanat Yesus: “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku.” Oleh sebab itu, Ekaristi menjadi kenangan hidup akan karya keselamatan Kristus.

Beliau mengajak para remaja untuk memahami bahwa misa bukan sekadar peringatan biasa, melainkan menghadirkan kembali misteri keselamatan Kristus.

6. Persembahan

Dalam bagian persembahan, Gereja mempersembahkan kurban kepada Allah Bapa dalam Roh Kudus.

Pemateri menegaskan bahwa umat juga diajak mempersembahkan hidup mereka sendiri kepada Tuhan. Tidak hanya roti dan anggur yang dipersembahkan, tetapi juga seluruh hidup, perjuangan, sukacita, dan penderitaan umat.

Peserta diajak merenungkan bagaimana mereka dapat mempersembahkan hidup melalui tindakan kasih, pelayanan, dan kesetiaan kepada Tuhan.

7. Permohonan

Bagian permohonan menunjukkan bahwa Ekaristi dirayakan dalam persekutuan seluruh Gereja, baik yang hidup maupun yang telah meninggal.

Pemateri menjelaskan bahwa Gereja selalu mendoakan seluruh umat beriman agar memperoleh keselamatan.

Beliau mengajak para remaja untuk menyadari pentingnya doa bagi sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, umat dipanggil untuk saling mendukung dan mendoakan.

8. Doksologi Penutup

Bagian terakhir adalah doksologi penutup yang merupakan doa pujian kepada Allah Tritunggal Mahakudus.

Pada bagian ini, imam mengangkat hosti dan piala sambil memuliakan Allah Bapa melalui Kristus dalam Roh Kudus. Seluruh umat kemudian menjawab dengan Amin Agung.

Pemateri menjelaskan bahwa Amin Agung bukan jawaban biasa. Kata “Amin” menjadi tanda persetujuan seluruh umat terhadap doa yang dipanjatkan.

Partisipasi Aktif Umat Dalam Ekaristi

Selain menjelaskan struktur Doa Syukur Agung, pemateri juga menekankan pentingnya partisipasi aktif umat dalam Perayaan Ekaristi.

Beliau menjelaskan bahwa seluruh umat yang telah dibaptis memiliki hak dan kewajiban untuk ikut ambil bagian secara aktif dalam misa.

Partisipasi aktif tidak hanya berarti bernyanyi atau menjawab doa, tetapi juga mengikuti misa dengan hati yang sungguh hadir.

Para peserta diajak memahami bahwa sikap tubuh, perhatian, serta penghayatan batin sangat penting dalam liturgi.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. juga mengingatkan agar umat menjaga sikap hormat selama misa berlangsung.

Pentingnya Sikap Hening dan Hormat

Dalam sesi berikutnya, pemateri memberikan penekanan khusus mengenai sikap hening selama Doa Syukur Agung.

Beliau menyampaikan bahwa suasana hening membantu umat untuk lebih fokus kepada Tuhan.

Dalam kenyataan sehari-hari, sering kali umat kurang menjaga kekhusyukan misa, misalnya berbicara sendiri, bermain telepon genggam, atau keluar masuk gereja tanpa alasan penting.

Oleh sebab itu, para remaja diingatkan agar sejak dini membangun kebiasaan hormat terhadap liturgi.

Pemateri juga mencontohkan bahwa bahkan ketika lilin altar padam saat Doa Syukur Agung berlangsung, sebaiknya tidak langsung diperbaiki agar suasana doa tetap terjaga.

Hal-hal kecil seperti ini mengajarkan umat untuk menghormati kekudusan Perayaan Ekaristi.

Antusiasme Peserta BIR

Kegiatan Bina Iman Remaja berlangsung dengan penuh semangat. Para peserta tampak aktif mengikuti seluruh sesi.

Beberapa peserta mengajukan pertanyaan terkait bagian-bagian misa yang selama ini belum mereka pahami.

Ada peserta yang bertanya mengenai alasan umat harus berlutut saat konsekrasi. Ada juga yang bertanya mengapa umat harus menjawab dialog imam selama prefasi.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan baik oleh pemateri sehingga suasana diskusi menjadi hidup.

Para pendamping juga membantu mengarahkan peserta agar berani menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka selama mengikuti misa.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana belajar, tetapi juga mempererat persaudaraan antarremaja Katolik di paroki.

Peran Pendamping Dalam Pembinaan Iman

Keberhasilan kegiatan Bina Iman Remaja tidak terlepas dari peran para pendamping.

Ibu Angelina Norma Sanger, Ibu Fransiska Romana Sri Wijati, dan Ibu Trifina Erna Jawai dengan penuh perhatian mendampingi peserta sepanjang kegiatan.

Para pendamping membantu menciptakan suasana yang nyaman dan akrab sehingga peserta dapat belajar dengan baik.

Mereka juga memberikan motivasi kepada para remaja agar terus aktif dalam kegiatan Gereja.

Dalam kehidupan Gereja, peran pendamping sangat penting karena menjadi teladan iman bagi generasi muda.

Dukungan Pastor Paroki

Kegiatan Bina Iman Remaja ini mendapat dukungan penuh dari RP. Vitalis Nggeal, CP., Pastor Kepala Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Dukungan tersebut menunjukkan perhatian Gereja terhadap pembinaan kaum muda.

Pastor paroki berharap agar para remaja semakin mencintai Ekaristi dan aktif dalam kehidupan menggereja.

Beliau juga mengajak para remaja untuk tidak malu menunjukkan identitas mereka sebagai orang Katolik.

Menurut beliau, kaum muda Katolik harus menjadi terang dan garam di tengah masyarakat.

Ekaristi Sebagai Pusat Kehidupan Gereja

Dalam refleksi yang disampaikan selama kegiatan, pemateri menegaskan bahwa Ekaristi merupakan pusat kehidupan Gereja.

Seluruh kehidupan Gereja bersumber dan berpuncak pada Ekaristi.

Melalui Ekaristi, umat mengalami perjumpaan dengan Kristus yang hadir secara nyata.

Oleh sebab itu, memahami makna misa sangat penting agar umat tidak sekadar hadir secara fisik.

Para peserta diajak menyadari bahwa misa adalah perayaan cinta kasih Allah kepada manusia.

Tantangan Kaum Muda Katolik Masa Kini

Dalam pembinaan tersebut juga dibahas berbagai tantangan yang dihadapi kaum muda Katolik saat ini.

Perkembangan teknologi dan media sosial sering membuat remaja kehilangan fokus dalam kehidupan rohani.

Banyak remaja lebih sibuk dengan telepon genggam dibandingkan kehidupan doa.

Karena itu, Gereja terus berupaya menghadirkan kegiatan pembinaan iman agar kaum muda tetap dekat dengan Tuhan.

Pemateri mengingatkan bahwa iman harus dipelihara dan dikembangkan.

Tanpa pembinaan yang baik, kaum muda akan mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif.

Gereja Dan Kaum Muda

Gereja Katolik selalu memberikan perhatian besar kepada kaum muda.

Kaum muda dianggap sebagai harapan Gereja di masa depan.

Melalui kegiatan BIR, Gereja ingin membentuk generasi muda yang memiliki iman kuat, karakter baik, serta semangat pelayanan.

Para peserta diingatkan bahwa mereka dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Menjadi remaja Katolik bukan hanya identitas, tetapi panggilan untuk hidup sesuai ajaran Kristus.

Belajar Liturgi Sejak Dini

Salah satu tujuan kegiatan ini adalah membantu para remaja memahami liturgi sejak dini.

Banyak umat mengikuti misa tanpa mengetahui makna setiap bagian.

Melalui pembinaan seperti ini, para remaja diharapkan semakin memahami tata perayaan Ekaristi.

Pemahaman liturgi akan membantu umat mengikuti misa dengan lebih sadar dan penuh penghayatan.

Pemateri juga mengajak para peserta untuk rajin membaca buku misa dan memperhatikan doa-doa yang diucapkan imam.

Pentingnya Kehadiran Dalam Misa Mingguan

Dalam sesi motivasi, para peserta diajak untuk setia mengikuti misa mingguan.

Pemateri menegaskan bahwa misa hari Minggu merupakan kewajiban sekaligus kebutuhan rohani umat Katolik.

Melalui misa, umat memperoleh kekuatan rohani untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Para remaja juga diajak untuk datang tepat waktu dan mengikuti misa dengan sungguh-sungguh.

Kebiasaan baik sejak usia muda akan membantu mereka bertumbuh menjadi pribadi Katolik yang dewasa dalam iman.

Membangun Komunitas Remaja Katolik

Kegiatan BIR juga menjadi kesempatan untuk membangun persaudaraan antarremaja.

Para peserta saling mengenal, berbagi pengalaman, dan belajar bersama.

Kebersamaan seperti ini penting agar kaum muda memiliki komunitas yang positif.

Dalam komunitas iman, remaja dapat saling menguatkan dan mendukung.

Gereja berharap komunitas remaja Katolik menjadi tempat yang membantu kaum muda bertumbuh dalam iman dan karakter.

Harapan Bagi Para Peserta

Di akhir kegiatan, para peserta diajak untuk menerapkan apa yang telah dipelajari.

Pemateri berharap agar para remaja tidak hanya memahami teori, tetapi juga menghayati Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

Para peserta diingatkan untuk menjaga sikap hormat selama misa dan aktif terlibat dalam pelayanan Gereja.

Ada peserta yang menyampaikan bahwa mereka menjadi lebih memahami mengapa umat harus hening saat Doa Syukur Agung.

Beberapa peserta juga mengaku baru mengetahui makna bagian-bagian dalam Doa Syukur Agung.

Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pembinaan memberikan dampak positif bagi perkembangan iman para remaja.

Semangat Pelayanan Gereja

Kegiatan Bina Iman Remaja merupakan salah satu bentuk nyata pelayanan Gereja terhadap kaum muda.

Pembinaan seperti ini diharapkan terus dilaksanakan secara rutin.

Dengan pembinaan yang berkelanjutan, generasi muda Katolik akan semakin memahami iman mereka.

Gereja membutuhkan kaum muda yang aktif, kreatif, dan memiliki semangat pelayanan.

Para pendamping berharap agar para peserta semakin rajin mengikuti kegiatan Gereja lainnya.

Menjadi Remaja Katolik Yang Beriman

Dalam penutup materinya, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. mengajak para peserta untuk menjadi remaja Katolik yang beriman kuat.

Beliau menekankan bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Remaja Katolik harus mampu menjadi teladan dalam sikap, perkataan, dan perbuatan.

Beliau juga mengingatkan pentingnya doa pribadi, membaca Kitab Suci, serta aktif dalam kehidupan Gereja.

Menurut beliau, kaum muda yang dekat dengan Tuhan akan memiliki masa depan yang baik.

Refleksi Tentang Kehidupan Ekaristi

Kegiatan pembinaan ini memberikan kesempatan kepada para peserta untuk merefleksikan hubungan mereka dengan Tuhan.

Melalui pemahaman tentang Doa Syukur Agung, para remaja diajak menyadari betapa besar kasih Allah.

Ekaristi bukan hanya ritual, tetapi sumber kehidupan rohani umat Katolik.

Ketika umat memahami makna Ekaristi, maka mereka akan mengikuti misa dengan lebih sadar dan penuh sukacita.

Pemahaman ini diharapkan terus berkembang dalam kehidupan para remaja.

Kegiatan Yang Membawa Sukacita

Selama kegiatan berlangsung, suasana penuh sukacita dan kebersamaan sangat terasa.

Para peserta tampak menikmati setiap sesi yang diberikan.

Kehangatan dan semangat persaudaraan membuat kegiatan berjalan dengan lancar.

Bagi para peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan iman mereka.

Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga merasakan kebersamaan sebagai saudara seiman.

Peran Keluarga Dalam Pembinaan Iman

Selain Gereja, keluarga juga memiliki peran penting dalam pembinaan iman remaja.

Pemateri mengingatkan bahwa orang tua adalah pendidik iman pertama bagi anak-anak.

Karena itu, keluarga diharapkan mendukung anak-anak untuk aktif dalam kegiatan Gereja.

Kerja sama antara keluarga dan Gereja akan membantu membentuk generasi muda yang beriman kuat.

Para peserta juga diajak untuk menghormati orang tua dan hidup sesuai nilai-nilai Kristiani.

Menumbuhkan Cinta Akan Liturgi

Melalui pembinaan ini, Gereja berharap kaum muda semakin mencintai liturgi.

Liturgi bukan sekadar tata upacara, tetapi perayaan iman Gereja.

Dengan memahami liturgi, umat akan lebih mudah merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka.

Para remaja juga diajak untuk terlibat dalam pelayanan liturgi seperti lektor, pemazmur, misdinar, dan koor.

Pelayanan tersebut menjadi sarana untuk bertumbuh dalam iman dan tanggung jawab.

Gereja Yang Hidup Melalui Kaum Muda

Kaum muda memiliki energi dan semangat yang besar.

Jika diarahkan dengan baik, kaum muda dapat menjadi kekuatan besar bagi Gereja.

Karena itu, kegiatan pembinaan iman harus terus dikembangkan.

Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menunjukkan komitmennya dalam membina generasi muda melalui kegiatan BIR.

Semangat pelayanan seperti ini diharapkan membawa buah yang baik bagi Gereja dan masyarakat.

Penutup

Kegiatan Bina Iman Remaja Katolik yang diselenggarakan di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Minggu, 24 Mei 2026, menjadi momentum penting dalam pembinaan iman kaum muda.

Melalui materi tentang Doa Syukur Agung yang dibawakan oleh Bapak Hendrikus Hendri, S.S., para peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai makna Perayaan Ekaristi.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan semangat iman, rasa persaudaraan, dan kecintaan terhadap Gereja.

Dukungan penuh dari RP. Vitalis Nggeal, CP., Pastor Kepala Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, serta pendampingan dari Ibu Angelina Norma Sanger, Ibu Fransiska Romana Sri Wijati, dan Ibu Trifina Erna Jawai, Saudara Antonius Pamungkas Putra Myne menjadi kekuatan penting dalam keberhasilan kegiatan.

Dengan semangat pembinaan yang terus dikembangkan, diharapkan para remaja Katolik semakin bertumbuh menjadi pribadi yang beriman, aktif dalam Gereja, serta mampu menjadi saksi Kristus di tengah dunia.

Bina Iman Remaja bukan sekadar kegiatan sesaat, tetapi langkah nyata Gereja dalam mempersiapkan generasi masa depan yang memiliki iman kokoh, semangat pelayanan, dan cinta yang mendalam kepada Kristus serta Gereja-Nya.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 24  Mei 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar