Ketapang, 14 Juni 2026.Semangat belajar dan memperdalam iman tampak dalam kegiatan Pendampingan Bina Iman Remaja (BIR) dan Putra-Putri Altar (Misdinar) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, yang dilaksanakan pada Minggu, 14 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Paroki "Pastor Jeroen Stoop, CP" tersebut dimulai pukul 10.00 WIB dan berlangsung hingga selesai.
Pendampingan ini dipandu oleh Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang, yang memberikan materi mengenai "Tingkat Perayaan dalam Liturgi Gereja Katolik". Materi tersebut dipilih agar para anggota Bina Iman Remaja dan Putra-Putri Altar memahami dengan baik susunan, tingkatan, dan makna berbagai perayaan yang terdapat dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik.
Kegiatan diawali dengan doa bersama dan sambutan singkat yang menegaskan pentingnya pembinaan berkelanjutan bagi generasi muda Gereja. Para peserta yang terdiri dari anggota BIR dan para misdinar mengikuti kegiatan dengan antusias. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan materi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan liturgi Gereja.
Dalam pemaparannya, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menjelaskan bahwa Gereja Katolik memiliki kalender liturgi yang sangat kaya. Kalender tersebut bukan sekadar daftar tanggal perayaan, tetapi merupakan sarana Gereja untuk mengenang, merayakan, dan menghayati karya keselamatan Allah sepanjang tahun.
Beliau menjelaskan bahwa setiap perayaan liturgi memiliki tingkatan yang berbeda sesuai dengan makna dan pentingnya peristiwa yang dirayakan dalam kehidupan Gereja. Pemahaman mengenai tingkatan perayaan liturgi sangat penting, terutama bagi para misdinar yang bertugas melayani di altar serta para remaja yang sedang bertumbuh dalam kehidupan iman.
Menurut beliau, tingkatan perayaan liturgi membantu umat memahami prioritas dan kekayaan tradisi Gereja yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan memahami tingkatan tersebut, umat dapat mengikuti perayaan liturgi dengan lebih sadar dan penuh penghayatan.
Materi pertama yang dibahas adalah Hari Raya (Solemnity). Beliau menjelaskan bahwa Hari Raya merupakan tingkatan tertinggi dalam kalender liturgi Gereja Katolik. Hari Raya digunakan untuk memperingati peristiwa-peristiwa utama dalam kehidupan Yesus Kristus, Bunda Maria, dan para kudus tertentu yang memiliki makna sentral dalam sejarah keselamatan.
Pada perayaan Hari Raya, Gereja menyediakan bacaan-bacaan Kitab Suci yang lengkap, yaitu Bacaan Pertama, Mazmur Tanggapan, Bacaan Kedua, dan Injil. Selain itu, dalam Misa Hari Raya dinyanyikan atau didaraskan Kemuliaan dan Syahadat atau Aku Percaya.
Beliau menekankan bahwa setiap Hari Minggu pada dasarnya memiliki kedudukan istimewa karena merupakan hari peringatan Kebangkitan Tuhan. Oleh sebab itu, menurut tradisi apostolik, Hari Minggu dipandang sebagai hari raya utama dalam kehidupan Gereja.
Dalam kesempatan tersebut, para peserta diperkenalkan dengan berbagai Hari Raya penting dalam Gereja Katolik, seperti Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, Hari Raya Epifani, Hari Raya Santo Yosef, Hari Raya Kabar Sukacita, Triduum Paskah, Hari Raya Kenaikan Tuhan, Hari Raya Pentakosta, Hari Raya Tritunggal Mahakudus, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Hari Raya Hati Kudus Yesus, Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, Hari Raya Semua Orang Kudus, Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda, dan Hari Raya Natal.
Secara khusus beliau juga menjelaskan bahwa di Indonesia terdapat Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia yang dirayakan secara liturgis sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas anugerah kemerdekaan bangsa.
Materi berikutnya membahas mengenai Pesta (Feast). Menurut penjelasan beliau, tingkatan Pesta berada satu tingkat di bawah Hari Raya. Pesta biasanya digunakan untuk memperingati peristiwa penting yang berkaitan dengan Tuhan Yesus, Bunda Maria, para rasul, atau orang kudus tertentu.
Pada tingkatan ini, liturgi memiliki bacaan-bacaan khusus serta doa-doa yang telah ditentukan oleh Gereja. Beberapa contoh Pesta yang dikenal luas oleh umat adalah Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria pada tanggal 8 September dan Pesta Salib Suci pada tanggal 14 September.
Selanjutnya para peserta diajak memahami makna Peringatan (Memorial). Peringatan merupakan bentuk penghormatan kepada para kudus yang memiliki jasa dan teladan hidup bagi Gereja. Peringatan dibedakan menjadi peringatan wajib dan peringatan fakultatif atau pilihan.
Beliau menjelaskan bahwa terdapat banyak orang kudus yang diperingati sepanjang tahun liturgi. Namun peringatan tersebut tidak selalu dirayakan apabila bertepatan dengan Hari Raya, Pesta, Minggu, atau masa-masa liturgi tertentu yang memiliki kedudukan lebih tinggi.
Penjelasan ini membantu peserta memahami mengapa nama santo atau santa tertentu terkadang muncul dalam kalender liturgi, tetapi tidak selalu dirayakan secara meriah di seluruh Gereja.
Materi berikutnya adalah mengenai Masa Musim Liturgis. Dalam bagian ini, peserta diajak mengenal berbagai musim dalam Tahun Liturgi Gereja, yaitu Masa Adven, Masa Natal, Masa Prapaskah, Masa Paskah, dan Masa Biasa.
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menjelaskan bahwa setiap musim liturgi memiliki ciri khas, warna liturgi, fokus spiritual, dan tujuan pembinaan iman yang berbeda. Masa Adven menjadi masa penantian kedatangan Kristus, Masa Natal merayakan kelahiran Sang Juruselamat, Masa Prapaskah menjadi masa pertobatan, Masa Paskah merayakan kemenangan Kristus atas maut, sedangkan Masa Biasa menjadi waktu pertumbuhan iman dalam kehidupan sehari-hari.
Penjelasan mengenai musim-musim liturgi tersebut membuat para peserta semakin memahami perjalanan iman Gereja sepanjang tahun.
Selain itu, beliau juga menjelaskan mengenai Feria, yaitu hari-hari biasa dalam Masa Biasa selain hari Minggu. Walaupun disebut hari biasa, feria tetap memiliki makna penting karena menjadi bagian dari kehidupan doa dan perayaan harian Gereja.
Pada sesi berikutnya, para peserta diajak memahami konsep Hari Raya Wajib. Beliau menjelaskan bahwa Hari Raya Wajib merupakan hari-hari tertentu yang mewajibkan umat Katolik untuk mengikuti Perayaan Ekaristi serta menghindari pekerjaan yang tidak perlu.
Kewajiban tersebut bukanlah beban, melainkan kesempatan bagi umat untuk memelihara relasi dengan Allah melalui perayaan iman bersama komunitas Gereja.
Dalam pemaparannya, beliau mengutip Kitab Hukum Kanonik yang menegaskan bahwa Hari Minggu merupakan hari raya wajib utama yang harus dipertahankan oleh seluruh Gereja. Selain itu terdapat sejumlah hari raya lain yang memiliki status wajib menurut ketentuan Gereja universal.
Para peserta juga diajak memahami bahwa kewajiban mengikuti Misa pada Hari Minggu dan Hari Raya Wajib merupakan bagian dari kehidupan moral umat Katolik. Kewajiban tersebut membantu umat memelihara iman, menguduskan waktu, dan mempererat persatuan dengan Kristus.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan alasan mengapa umat Katolik diwajibkan mengikuti Perayaan Ekaristi pada Hari Raya Wajib. Dasarnya adalah ajaran Gereja yang tertuang dalam Kitab Hukum Kanonik, khususnya Kanon 1246 dan Kanon 1247.
Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa Ekaristi merupakan pusat kehidupan Gereja. Melalui Ekaristi, umat bersatu dengan Kristus yang mengorbankan diri-Nya demi keselamatan dunia. Oleh karena itu, kehadiran dalam Ekaristi bukan sekadar memenuhi kewajiban, tetapi merupakan ungkapan cinta dan iman kepada Tuhan.
Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh penjelasan yang diberikan. Banyak di antara mereka yang baru memahami secara lebih mendalam mengapa Gereja memiliki berbagai tingkatan perayaan serta bagaimana hubungan antara kalender liturgi dengan kehidupan iman sehari-hari.
Sebagai bagian dari materi, para peserta juga diperkenalkan dengan Struktur Tahun Liturgi. Melalui penjelasan ini mereka diajak melihat bagaimana seluruh perayaan Gereja tersusun dalam satu siklus yang berpusat pada misteri wafat dan kebangkitan Kristus.
Tahun liturgi bukan sekadar penanggalan keagamaan, melainkan sarana Gereja untuk menghadirkan kembali karya keselamatan Allah secara terus-menerus dalam kehidupan umat. Dengan mengikuti tahun liturgi, umat diajak mengalami perjalanan iman bersama Kristus dari masa penantian, kelahiran, pelayanan, sengsara, wafat, kebangkitan, hingga kedatangan-Nya kembali.
Bagi para misdinar, materi ini menjadi bekal penting dalam melaksanakan tugas pelayanan di altar. Mereka tidak hanya mengetahui tata cara pelayanan liturgi, tetapi juga memahami makna teologis yang mendasari setiap perayaan yang mereka layani.
Sementara bagi anggota Bina Iman Remaja, materi ini menjadi sarana pembinaan yang membantu mereka bertumbuh dalam pengetahuan iman serta semakin mencintai kehidupan Gereja.
Kegiatan berlangsung dalam suasana yang hidup dan penuh semangat. Para peserta menunjukkan perhatian yang besar terhadap materi yang disampaikan. Diskusi dan tanya jawab yang terjadi menunjukkan bahwa mereka memiliki keinginan untuk terus belajar dan memperdalam pemahaman mengenai liturgi Gereja.
Melalui kegiatan pendampingan ini, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang kembali menunjukkan komitmennya dalam membina generasi muda Katolik agar memiliki dasar iman yang kuat, pemahaman liturgi yang baik, dan semangat pelayanan yang semakin berkembang.
Diharapkan melalui pembinaan yang berkesinambungan, para anggota Bina Iman Remaja dan Putra-Putri Altar dapat menjadi generasi penerus Gereja yang tidak hanya aktif dalam kegiatan paroki, tetapi juga mampu menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, sekolah, lingkungan, dan masyarakat.
Kegiatan pendampingan yang dipimpin oleh Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, menjadi salah satu langkah nyata dalam membangun masa depan Gereja melalui pendidikan iman yang terarah. Dengan memahami tingkatan perayaan liturgi dan struktur tahun liturgi, para remaja dan misdinar diharapkan semakin mencintai Ekaristi, memahami kehidupan Gereja, dan bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang setia mengikuti Kristus sepanjang hidup mereka.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 14 Juni 2026






0 comments:
Posting Komentar