**Ketapang, 22 September 2024**Nama Jerun Stoop,CP. Diabadikan Menjadi Nama Gedung Pertemuan di Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang**Ketapang—Dalam rangka mengenang jasa dan pengabdian Pastor Jacobus Cornelius Stoop, CP, Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang, secara resmi mengabadikan namanya sebagai nama gedung pertemuan. Momen bersejarah ini diadakan pada tanggal 21 September 2024, dan dihadiri oleh para imam, tokoh masyarakat, serta umat Paroki Santo Agustinus.
**Sejarah Pendidikan Katolik di Indonesia**
Dalam sejarah penyebaran agama Katolik di Indonesia, nama Van Lith SJ sering kali menjadi rujukan utama. Ia dikenal sebagai sosok penting yang membawa perubahan sosial melalui pendidikan di Tanah Jawa pada awal abad ke-20. Kontribusinya tidak hanya terletak pada penginjilan, tetapi juga pada pendekatan pendidikan yang merubah wajah masyarakat pribumi. Van Lith percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk memajukan masyarakat. Melalui sekolah guru yang didirikannya, ia membuka jalan bagi banyak anak muda Jawa untuk mendapatkan pendidikan tinggi.
Menyusul jejak tersebut, hampir 75 tahun kemudian, Pastor Jacobus Cornelius Stoop atau yang dikenal sebagai Pastor Yerun CP, melanjutkan visi serupa di pedalaman Kalimantan Barat, khususnya di komunitas Dayak.
**Perjalanan Awal Pastor Yerun di Tanah Misi**
Pastor Yerun lahir di Schoorl, Belanda, pada 2 Maret 1925. Setelah ditahbiskan sebagai imam Pasionis pada usia 28 tahun, ia memutuskan untuk menjalani misi di Ketapang, Kalimantan Barat. Pada September 1953, Pastor Yerun berangkat dari pelabuhan Amsterdam menggunakan kapal Oranye menuju Singapura, sebelum melanjutkan perjalanan dengan kapal Lamonggang ke Pontianak. Perjalanan panjang ini berakhir di tanah Ketapang pada 20 Oktober 1953, di mana Pastor Yerun memulai pelayanannya di wilayah Tumbang Titi, yang saat itu juga mencakup Tayap atau Matan Hulu.
Sesampainya di Tumbang Titi, Pastor Yerun menyaksikan bahwa masyarakat Dayak mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan. Dalam tur pastoralnya, ia sering menggunakan sepeda atau berjalan kaki untuk mengunjungi berbagai desa, dan menemukan bahwa hanya sedikit anak muda Dayak yang melanjutkan pendidikan setelah sekolah dasar. Kesadaran ini memicu gagasan dalam benaknya bahwa pendidikan adalah jalan untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi komunitas Dayak.
**Mendirikan Panitia Beasiswa Keuskupan Ketapang**
Setelah 10 tahun melayani di pedalaman Matan, Pastor Yerun pulang ke Belanda untuk menjalani cuti selama satu tahun. Kembali ke Indonesia pada 1965, ia diutus untuk bertugas di Lintang Kapuas, Kabupaten Sanggau. Di sini, Pastor Yerun semakin dekat dengan masyarakat Dayak, dan terus memahami kebutuhan mereka akan pendidikan.
Titik balik dalam pelayanannya terjadi pada tahun 1978 ketika ia bersama tokoh Dayak, Petrus Yosef Denggol, mendirikan Panitia Beasiswa Keuskupan Ketapang (PBS). Dengan dukungan dari Uskup Gabriel William Sillekens CP, PBS bertujuan memberikan beasiswa kepada anak-anak Dayak untuk melanjutkan pendidikan tinggi di luar Kalimantan. Melalui PBS, anak-anak Dayak yang terpilih dikirim ke sekolah-sekolah tinggi di Jawa, termasuk IKIP Sanata Dharma di Yogyakarta. Inisiatif ini menjadi cikal bakal perubahan besar bagi masyarakat Dayak.
**Mengikuti Jejak Van Lith: Pendidikan untuk Kemajuan Sosial**
Jika Van Lith mendirikan sekolah guru di Jawa, Pastor Yerun mengambil pendekatan berbeda dengan mengirim anak-anak Dayak ke Jawa untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Hal ini mencerminkan visi Van Lith dalam upayanya mengembangkan pendidikan di Jawa Tengah. Di Tanah Jawa, murid-murid Van Lith seperti IJ Kasimo dan Uskup Albertus Soegijapranata menjadi simbol keberhasilan pendidikan Katolik. Demikian pula, melalui PBS, Pastor Yerun berharap para alumni bisa berperan penting dalam pembangunan masyarakat Dayak, menjadi guru dan pemimpin di daerah asal mereka.
Antara tahun 1979 hingga 2000, PBS berhasil mengirimkan hampir 600 anak dari berbagai latar belakang etnis, termasuk Dayak, Tionghoa, Jawa, dan Flores, untuk melanjutkan pendidikan di tingkat SMA hingga perguruan tinggi di berbagai kota di Indonesia. Alumni PBS kini banyak berperan di sektor pendidikan, pemerintahan, dan swasta, meneruskan cita-cita besar Pastor Yerun untuk memajukan masyarakat.
**Warisan yang Tak Terlupakan**
Karya Pastor Yerun melalui PBS telah meninggalkan jejak yang mendalam di Kalimantan Barat. Uskup Ketapang, Mgr Pius Riana Prapdi, pernah menyampaikan bahwa keterlibatan para alumni PBS dalam masyarakat memberikan kontribusi besar dalam perkembangan iman dan kehidupan umat di Keuskupan Ketapang. Dalam buku biografi "Pater Yerun, PBS dan Tahun-Tahun di Tanah Misi" (2020), Uskup Pius menegaskan bahwa kaum muda adalah penentu peradaban, dan pendidikan yang diberikan melalui PBS telah melahirkan pribadi-pribadi yang berperan penting dalam membangun bangsa.
Meskipun pada tahun 1999 Pastor Yerun berpindah tugas ke Malang, Jawa Timur, cintanya pada masyarakat Dayak tidak pernah padam. Dalam salah satu suratnya, ia menulis: “Walaupun saya telah meninggalkan Ketapang dua bulan lalu, hati saya masih di sana. Saya mencintai orang Dayak.” Pastor Yerun meninggal pada 23 Desember 2017 di Belanda dan dimakamkan di pemakaman Biara Pasionis, Moulenhop.
**Penutup: Warisan Tak Ternilai**
Pengabdian Pastor Yerun kepada masyarakat Dayak dan upayanya dalam pendidikan mengukir warisan yang sangat berharga. Sebagaimana Van Lith di Jawa, Pastor Yerun adalah pionir dalam memperjuangkan pendidikan sebagai alat perubahan sosial. Melalui PBS, ia membuka jalan bagi ratusan anak Dayak untuk meraih pendidikan tinggi, sebuah pencapaian luar biasa yang hingga kini terus memberikan dampak positif bagi masyarakat di pedalaman Kalimantan Barat.
Dengan diabadikannya nama Pastor Jacobus Cornelius Stoop, CP, pada gedung pertemuan di Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang, paroki tidak hanya menghormati jasa-jasanya, tetapi juga mengingatkan generasi mendatang akan pentingnya pendidikan sebagai alat perubahan sosial. Momen ini diakhiri dengan doa dan harapan agar semangat Pastor Yerun terus hidup di hati umat Paroki Santo Agustinus dan masyarakat Dayak pada umumnya.
*Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang*
*Tanggal: 22 September 2024*

0 comments:
Posting Komentar