**Mengenal Lebih Dekat Sosok RP. Jacobus Cornelius Stoop, CP: Sang Misionaris yang Berjasa bagi Masyarakat Dayak Ketapang**

 

                       Foto RP. Jacobus Cornelius Stoop, CP.Ketika Masih Muda

**Ketapang, 25 September 2024** — RP. Jacobus Cornelius Stoop, CP, yang lebih dikenal sebagai Pater Yerun Stoop, adalah salah satu misionaris yang telah meninggalkan jejak penting dalam perkembangan masyarakat Dayak di Ketapang, Kalimantan Barat. Melalui berbagai karya dan dedikasinya, Pater Yerun, bersama tokoh Dayak P.Y. Denggol, berhasil membawa perubahan signifikan dalam bidang pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat setempat. Salah satu pencapaian terbesar yang diraihnya adalah mendirikan Panitia Beasiswa (PBS) yang berhasil meluluskan sekitar 700 siswa tingkat SLTA dan 300 sarjana, yang banyak di antaranya kini menduduki posisi penting di pemerintahan.

Pater Yerun lahir di Schoorl, Belanda, pada 2 Maret 1925. Ia adalah anak ketiga dari 12 bersaudara, dengan saudara kembar bernama Maria. Terlahir dalam keluarga religius, sejak kecil Yerun sudah menunjukkan ketertarikannya menjadi imam, sebuah panggilan yang dipupuk dengan penuh kasih oleh kedua orang tuanya. Pada usia 4 tahun, saat melihat seorang pastor di gereja, ia spontan berkata kepada ibunya bahwa ia ingin menjadi seperti pastor tersebut. Pendidikan rohani dalam keluarga terus membentuk panggilan imamatnya hingga akhirnya ia memasuki seminari menengah di Haastrecht pada tahun 1938 dan melanjutkan studi filsafat serta teologi hingga akhirnya ditahbiskan sebagai imam pada 27 April 1952.

**Menjadi Misionaris di Kalimantan**

Panggilan Pater Yerun sebagai misionaris berawal dari cerita-cerita menarik yang disampaikan oleh seorang misionaris Kapusin yang pernah bertugas di Kalimantan. Cerita tentang kehidupan di pedalaman Kalimantan dan interaksinya dengan dukun-dukun Dayak menggugah minat Pater Yerun. Selain itu, surat-surat dari Pater Plechelmus Dullaert, CP, yang sudah lebih dahulu menjadi misionaris di Ketapang, semakin memperkuat keinginannya untuk mengabdikan diri di Kalimantan. Pada bulan Oktober 1953, Pater Yerun berlayar dari Belanda menuju Indonesia dengan kapal Oranye dan tiba di Ketapang pada 18 Oktober 1953, menjadi misionaris Pasionis ke-18 di wilayah tersebut.

                 Foto RP. Jacobus Cornelius Stoop, CP. Ketika Memimpin Misa

**Karya di Tumbang Titi dan Lintang**

Selama bertugas di Tumbang Titi sejak tahun 1953, Pater Yerun mengunjungi berbagai kampung di wilayah Dayak, seperti Petebang, Pasir Mayang, dan Punuk. Pengalaman pertamanya menyaksikan tradisi lokal, seperti bergendang dan minum tuak saat Natal di Serengkah, menandai awal dari petualangan panjangnya di Kalimantan. Ia juga bertemu dengan P.Y. Denggol, seorang Wedana Tayap, yang kelak menjadi rekan utamanya dalam mendirikan PBS.

Tahun 1965, Pater Yerun dipindahkan ke Lintang, Sekadau, dan bertugas hingga 1969. Di sini, ia menjalin hubungan yang erat dengan komunitas Dayak di pedalaman dan mengunjungi berbagai kampung seperti Sungai Biang, Meliau, dan Pelaman. Di kampung Pelaman inilah Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak, dilahirkan, dan kampung ini akhirnya berkembang menjadi basis agama Katolik di wilayah tersebut.

**Mendirikan Paroki Sukadana dan PBS**

Pada tahun 1971, Pater Yerun bertugas di Paroki St. Gemma di Sukadana, melayani umat di Kanal serta wilayah pesisir seperti Teluk Melano, Teluk Batang, dan Pulau Kumbang. Karena pesatnya perkembangan wilayah ini, Pater Yerun bersama umat setempat membentuk praparoki yang kini telah menjadi Paroki Sukadana.

Namun, salah satu warisan terbesar Pater Yerun adalah berdirinya PBS pada tahun 1976. Bersama P.Y. Denggol dan Mgr. Silleken, CP, mereka mendirikan lembaga ini dengan tujuan memberikan akses pendidikan kepada putra-putri Dayak yang saat itu kurang terwakili dalam pemerintahan dan pembangunan. Sebagai ketua PBS, Pater Yerun aktif mencari sponsor, sementara P.Y. Denggol menjalankan tugas harian sebagai Sekretaris Eksekutif.

**Pesan dan Harapan untuk Masyarakat Dayak**

Pater Yerun meyakini bahwa salah satu kebahagiaan terbesar seorang misionaris adalah saat ia merasa tidak diperlukan lagi, karena misinya telah berhasil dan ditopang oleh masyarakat setempat. Ia berharap agar muncul pemimpin-pemimpin baru dari masyarakat Dayak yang mampu membawa perubahan positif. Selama hidup dan bertugas di Ketapang, Pater Yerun merasa menemukan makna hidupnya, di mana kebaikan dan kepercayaan yang diterimanya dari masyarakat Dayak membuatnya semakin mencintai dan mendedikasikan dirinya untuk mereka.

Dalam wawancara terakhirnya pada tahun 1999, Pater Yerun menekankan bahwa dirinya sangat bersyukur telah bekerja di tengah masyarakat Dayak, yang mengajarkannya tentang kasih dan kepedulian. "Saya sangat mencintai orang Dayak," ungkapnya.


*Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang*  

*Tanggal: 25 September 2024*

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar