**"Warisan Cinta Kasih Pater Yerun: Membangun SDM Ketapang dengan Hati Tulus"**

 


                                           Foto RP. Jacobus Cornelius Stoop, CP.

*Ketapang, 25 September 2024* – Nama Pater Jacobus Cornelius Stoop, CP, atau yang dikenal sebagai Pater Yerun, takkan pernah dilupakan dalam sejarah Ketapang. Sosok misionaris yang datang dari Belanda tanpa membawa harta, keluarga, ataupun sanak saudara di tanah asing ini, justru membawa sesuatu yang jauh lebih berharga—hati yang penuh cinta kasih. Melalui dedikasinya, ia berhasil mencetak generasi pemimpin yang hingga kini mengharumkan nama Keuskupan Ketapang. Namun, satu pertanyaan besar kini mengemuka: apakah warisan besar ini akan tetap terjaga?

 **Humanis yang Mengabdikan Diri untuk Pendidikan**

Pater Yerun adalah seorang misionaris Passionis yang tiba di Ketapang pada tahun 1953 dengan satu tujuan: menyebarkan kasih Kristus kepada masyarakat Dayak yang masih terpinggirkan dalam banyak hal, terutama akses pendidikan. Berangkat dari cinta kasih yang mendalam dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan menuju pembebasan, Pater Yerun mendirikan program beasiswa yang monumental. Bekerjasama dengan Bapak P. Denggol, ia membuka pintu bagi anak-anak yang tidak mampu agar bisa mengenyam pendidikan tinggi.

Sejak didirikannya program beasiswa tersebut, tidak kurang dari 1000 anak berhasil melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Mereka kini tersebar di berbagai sektor penting di Keuskupan Ketapang, mulai dari pemerintahan, swasta, hingga bidang keagamaan. Mereka yang dulu merasakan sentuhan kasih Pater Yerun kini menjadi pemimpin yang memegang peranan penting di masyarakat, berkat dedikasi dan perjuangannya.

                                             Foto RP. Jacobus Cornelius Stoop, CP







 **Dari Misionaris Menjadi Inspirasi Hidup**

Pater Yerun tidak hanya dikenal sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai seorang humanis sejati. Ia tidak memiliki keluarga di Ketapang, tidak ada sanak saudara dari sukunya yang tinggal di sana. Namun, Ketapang telah menjadi rumah yang ia cintai. Ia melihat potensi besar pada putra-putri masyarakat lokal dan mencurahkan hidupnya untuk memastikan mereka mendapatkan kesempatan yang layak untuk berkembang.

Program beasiswa yang ia rintis telah menciptakan para alumni yang kini hidup makmur. Banyak dari mereka telah berhasil meraih sukses luar biasa, memiliki tanah, rumah mewah, mobil, deposito, dan tabungan. Mereka kini hidup di atas standar yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, kekayaan materi yang mereka raih tidak lepas dari nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh Pater Yerun: kesederhanaan, pengorbanan, dan cinta kasih.

**Keberlanjutan Warisan Pater Yerun: Sebuah Pertanyaan Besar**

Kini, setelah lebih dari setengah abad sejak didirikannya program beasiswa tersebut, muncul sebuah pertanyaan besar: apakah ribuan alumni yang telah menikmati manfaat beasiswa ini masih memikirkan keberlanjutannya? Apakah ribuan orang yang pernah disentuh hidupnya oleh Pater Yerun dapat mempertahankan program ini dan melanjutkan warisan besar sang misionaris?

Pater Yerun telah mengajarkan bahwa untuk membantu orang lain, kita tidak perlu menunggu sampai memiliki jabatan tinggi, kekayaan yang berlimpah, atau gelar akademik yang mentereng. Cukup dengan memiliki hati yang tulus untuk peduli kepada sesama. Ia sendiri adalah contoh nyata dari prinsip ini. Tanpa memiliki apa-apa, tanpa kekayaan atau sanak keluarga di Ketapang, ia justru memberikan segalanya—hati yang penuh cinta kasih dan pengabdian tak kenal lelah.

**Sebuah Warisan Cinta Kasih yang Sederhana**

Pater Yerun meninggal dunia tanpa banyak diketahui orang. Di negeri asalnya, Belanda, ia dimakamkan dengan sedikit pelayat. Namun, warisannya hidup jauh lebih besar daripada apa yang tampak di permukaan. Bagi Ketapang, ia adalah teladan bahwa kasih dapat diungkapkan melalui tindakan nyata dan sederhana.

Sebagai seorang misionaris, Pater Yerun tidak meninggalkan harta benda atau kemewahan. Namun, ia meninggalkan satu hal yang tak ternilai harganya: hati yang penuh kasih. Dalam hidupnya, ia datang ke dunia tanpa membawa apa-apa, dan ia kembali ke Sang Pencipta dengan tangan kosong. Namun, selama ia hidup, ia memiliki satu hal yang paling penting—hati yang selalu peduli kepada sesama.

Kisah Pater Yerun mengajarkan kepada kita semua bahwa untuk mengubah dunia, kita tidak perlu menunggu kesempurnaan. Kita tidak perlu menjadi orang kaya atau memiliki gelar tinggi untuk membuat perbedaan. Cukup dengan memiliki hati yang tulus, kita bisa membawa perubahan besar dalam kehidupan orang lain, seperti yang dilakukan oleh Pater Yerun di Ketapang.

 **Panggilan Bagi Generasi Penerus: Melanjutkan Warisan Cinta Kasih**

Setelah kepergian Pater Yerun, program beasiswa yang ia rintis kini menghadapi fase genting dalam sejarahnya. Pertanyaannya adalah: apakah generasi penerus, para alumni yang telah sukses, akan mengambil alih tongkat estafet ini dan melanjutkan karya besar ini? Apakah warisan Pater Yerun akan terus hidup melalui mereka yang telah merasakan manfaat dari dedikasi sang misionaris?

Mengenang Pater Yerun adalah sebuah panggilan bagi kita semua untuk menghidupkan kembali semangat cinta kasih dan pengabdian yang ia wariskan. Semoga kita, sebagai generasi penerus, tidak hanya mengingat jasa-jasanya, tetapi juga mengambil tindakan nyata untuk meneruskan program beasiswa dan melanjutkan warisannya bagi generasi mendatang.


**Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang**  

**Tanggal: 25 September 2024**

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar