Foto Fr.Josef Peruschitz, O.S.B. / Fr.Juozas Montvila / Fr.Thomas Byles
**Ketapang, 13 November 2024.** – Tepat 112 tahun dan 5 bulan yang lalu, tragedi tenggelamnya kapal RMS *Titanic* terjadi, meninggalkan jejak mendalam bagi sejarah maritim. Di antara kisah pengorbanan dan ketakutan malam itu, terselip cerita tentang tiga pastor Katolik yang menolak kesempatan menyelamatkan diri demi tetap bersama para penumpang yang terjebak di kapal yang tenggelam. Ketiga pastor itu—Pater **Thomas Byles** (42) dari Inggris, Pater **Josef Benedikt Peruschitz, O.S.B.** (41) dari Bavaria, dan Pater Juozas Montvila (27) dari Lituania—mengorbankan hidup mereka demi melayani para penumpang dalam suasana penuh kepanikan.
Para pastor ini menolak tempat di sekoci dan memilih untuk menenangkan orang-orang di sekitarnya, memberikan doa, pengampunan, dan ketenangan rohani bagi mereka yang sedang menghadapi maut. Pengorbanan mereka dianggap sebagai wujud iman yang sangat menginspirasi dan bahkan dijuluki sebagai tindakan kepahlawanan sejati.
Perjalanan Titanic Menuju Kehancuran
RMS *Titanic* adalah kapal penumpang terbesar di dunia pada masanya. Kapal ini memulai pelayaran perdananya pada 10 April 1912 dari Southampton, Inggris, menuju New York City, dengan ribuan penumpang dari berbagai latar belakang. Didesain dengan fasilitas mewah seperti gimnasium, kolam renang, perpustakaan, dan restoran kelas atas, Titanic juga dilengkapi telegraf nirkabel canggih. Sayangnya, Titanic hanya membawa sekoci yang mampu menampung sekitar sepertiga dari jumlah penumpang dan awak, mengikuti standar keamanan yang telah usang.
Foto.Kapal RMS Titanic pada Tahun 1912Pada malam 14 April 1912, sekitar pukul 23:40, Titanic menabrak gunung es di Samudra Atlantik Utara, sekitar 375 mil dari Newfoundland. Benturan tersebut merobek lambung kapal, merusak lima dari enam belas kompartemen kedap air, sehingga menyebabkan Titanic tenggelam dalam waktu dua setengah jam. Akibat tragedi ini, lebih dari 1.500 nyawa hilang, termasuk para imam yang setia pada panggilan mereka hingga akhir.
Foto Ilustrasi (Royal Mail Steamer).RMS Titanic Ilustrasi Saat Tenggelam
Pengorbanan Ketiga Pastor yang Heroik
Di tengah kepanikan, ketiga pastor ini memilih untuk tidak menaiki sekoci dan tetap di kapal guna memberi kekuatan spiritual pada para penumpang yang ketakutan. Mereka memberikan absolusi terakhir, memimpin doa rosario, dan membantu para penumpang menghadapi ketidakpastian. Helen Churchill Candee, seorang penumpang kelas satu yang selamat dari Titanic, menceritakan bagaimana pastor-pastor itu tetap tegar, memimpin doa, dan mengangkat tangan mereka, membuat para penumpang merasa lebih tenang.
Helen menyaksikan bagaimana ketiganya memimpin doa dengan penuh ketenangan di tengah suasana yang genting. *“Pastor Byles mengangkat tangannya dan menenangkan kami semua dengan mengatakan, ‘Tenanglah, orang-orang baikku.’ Setelah itu, ia menuju ke arah kemudi dan memberikan pengampunan kepada mereka yang tetap berada di kapal.”* Para penumpang, terlepas dari latar belakang agama mereka, bergabung dalam doa rosario, mengucapkan, *“Santa Maria, doakanlah kami…”* dalam kesatuan yang mendalam.
Warisan Keberanian dan Kepahlawanan
Pater **Josef Benedikt Peruschitz** juga diberi kesempatan untuk naik ke sekoci, namun ia menolak dengan tegas, menyerahkan tempatnya kepada penumpang lain yang membutuhkan. Para penyintas mengenang bahwa kedua pastor terus-menerus memberikan absolusi umum, sementara yang lainnya, Pater.Juozas Montvila, dengan penuh tekad tetap tinggal di kapal demi membantu mereka yang tersisa.
Paus St. Pius X kemudian menyebut Pastor Byles sebagai "martir untuk iman." Pengorbanan para imam ini dikenang sebagai tindakan kepahlawanan dan kesetiaan yang luar biasa terhadap panggilan mereka, serta sebagai inspirasi yang tetap hidup hingga saat ini. Kisah mereka menjadi simbol keteladanan, menunjukkan keberanian untuk mengorbankan diri demi kepentingan orang lain.
Kenangan Abadi dari Tragedi Titanic
Titanic tenggelam bersama 1.514 penumpang di dalamnya, termasuk ketiga pastor Katolik ini. Mereka tetap memimpin doa dan memberikan ketenangan hingga detik-detik terakhir, memberikan sakramen terakhir kepada mereka yang sekarat, membantu mereka beristirahat dalam damai di Samudra Atlantik. Meskipun waktu berlalu, keberanian dan dedikasi mereka di malam tenggelamnya Titanic tetap hidup dalam kenangan sebagai kisah inspiratif akan iman, keberanian, dan pengorbanan yang abadi.
Kisah ini, yang masih dibicarakan dan dikenang lebih dari seabad setelahnya, menjadi warisan yang sangat berharga bagi dunia. Para pastor tersebut telah meninggalkan contoh nyata akan cinta kasih dan kepahlawanan sejati, mengingatkan kita semua tentang makna sebenarnya dari pengabdian dan pengorbanan di saat-saat paling sulit.
**Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang**
**Tanggal: 13 November 2024**
.jpg)
.jpg)
.jpg)
0 comments:
Posting Komentar