PARA PASIONIS BERJALAN BERSAMA USKUP PIUS RIANA PRABDI.


Selamat sore Bapa Uskup, Bruder dan teman-teman imam. Semoga semua dalam keadaan baik dan penuh sukacita.

Sore ini, tepatnya tanggal 30 September 2024, bertempat di rumah ret-ret Anjungan, Keuskupan Pontianak, para Pasionis regio Kalimantan (juga konfrater dari Jakarta)  mengadakan ret-ret tahunan. Ret-ret  kali ini dibimbing oleh Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prabdi. 

Suasana awal ret-ret diwarnai keakraban penuh sukacita dan nuansa persaudaraan pasionis begitu tampak dan menghibur. Ini adalah kekuatan misi, berjalan bersama dalam persaudaraan.

Misa pembuka dipimpin oleh Uskup Pius dan didampingi oleh Pater Widodo, CP dan Pastor Sepo, CP. Dalam pesan misanya, Mgr Pius sangat lugas menyampaikan beberapa hal kepada para peserta ret-ret, di antaranya:

Pertama: Apa-itu ret-ret? 

Ret-ret merupakan waktu menyendiri dengan Tuhan. Waktu khusus yang dipakai untuk refleksi spiritual, doa, dan meditasi, sering kali dilakukan di tempat yang tenang dan jauh dari kesibukan sehari-hari. Tujuan retret adalah untuk membantu individu memperdalam hubungan mereka dengan Tuhan, merenungkan kehidupan rohani, dan memperoleh ketenangan batin. Ret-ret seperti "Rest Area", beristirahat sejenak setelah melewati pastoral panjang dan kembali menemukan kehendak Tuhan. Semoga para pasionis memanfaatkan kesempatan ini.

Kedua: Allah yang Berbelaskasih. 

Uskup Pius menyinggung "jam sengsara" yang melekat pada siklus hidup para Pasionis. Yang dilihat, bukanlah (jam-jam) sengsaranya, tetapi Belaskasih Allah yang sangat luar biasa dan nyata kepada manusia. Tidak sedikitpun Allah absen menganugerahkan belaskasih-Nya kepada manusia, seperti yang dirasakan oleh Ayub. Ayub sungguh merasakan belaskasih dan kebaikan Allah untuk dirinya, sehingga bahasa pamungkas Ayub mewakili suasana hatinya yang sangat bersukacita karena kasih Allah:

"Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ayub tidak pernah mempersalahkan realitas, atau mempersalahkan Allah atas persoalan-persoalan yang dia hadapi, malah dengan iman yang teguh memuji Allah yang telah mengasihinya.

Ketiga: Imamat merupakan Pemberian Tuhan.

Imamat bukanlah milik kita, bukan pula milik imam. Imamat merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada kita. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk berdiam diri. Ada saatnya kita lelah dalam pelayanan, atau dipersalahkan, tidak dimengerti, atau tidak dianggap, dll, tetapi seperti halnya, Santo Hieronimus yang menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Ibrani ke  Yunani dan dari  Yunani ke Latin (yang disebut vulgata). Tugas imam adalah jangan lelah-lelah "menerjemahkan Alkitab",  dalam cara-cara hidup manusia, agar umat merasakan belaskasihan Allah melalui kehadiran imamnya.

Akhirnya, meski baru awal ret-ret, semua peserta merenggangkan otot, melalui rekreasi bersama. Bisa dipahami pola ini, karena setelah melewati perjalanan jauh dari paroki masing-masing semua pasti letih dan lelah. Lalu, Pater Kristianus, Pater Niko dan Pater Biono pun memanfaatkan kesempatan dengan menjadi penyanyi di malam ini. Selamat menyambut ret-ret saudaraku.  Tuhan memberkati kita semua.





About Pater Vitalis, CP

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar