Ketapang, 20 Juni 2026.Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menuntut berbagai pihak untuk terus meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan media komunikasi secara kreatif, efektif, dan bertanggung jawab. Menjawab kebutuhan tersebut, Canon melalui PT Datascrip sebagai distributor tunggal produk pencitraan digital Canon di Indonesia.Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Ketapang yang menilai pelatihan tersebut sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kemampuan komunikasi digital umat Katolik di era modern. Komsos Ketapang melihat bahwa perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah membuka peluang besar bagi Gereja untuk menghadirkan karya pewartaan yang lebih luas, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam produksi video, tetapi juga pemahaman mengenai pentingnya menyampaikan pesan-pesan iman, pendidikan, dan nilai kemanusiaan secara menarik dan bertanggung jawab. Komsos Ketapang berharap para peserta dapat menjadi pelopor komunikasi digital di lingkungan paroki, sekolah, komunitas, dan kelompok kategorial masing-masing, sehingga semakin banyak konten positif yang mewarnai ruang digital dan menjadi sarana evangelisasi yang efektif bagi Gereja Keuskupan Ketapang.
bekerja sama dengan Catholic Center Ketapang menyelenggarakan
kegiatan bertajuk “Creative Video Content Creation: Storytelling, Production,
Editing & Gear Essentials” yang berlangsung di Aula Catholic Center Paya
Kumang, Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian
dari program #CANONGOESTOCOMMUNITY ini berlangsung sejak pukul 08.00 hingga
17.00 WIB dan diikuti oleh 36 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang
pelayanan Gereja, mulai dari imam, frater, suster, guru, Orang Muda Katolik
(OMK), hingga pelajar tingkat SMP.
Pelatihan tersebut menjadi momentum penting bagi Gereja Katolik di Keuskupan Ketapang untuk semakin hadir di ruang digital melalui konten-konten kreatif yang mampu menjangkau masyarakat luas. Di tengah perkembangan media sosial yang begitu cepat, kemampuan memproduksi konten berkualitas menjadi salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan, terutama dalam bidang pewartaan, pendidikan, dan pelayanan sosial kemasyarakatan.
Sejak pagi hari para peserta
tampak antusias memenuhi Aula Catholic Center. Mereka datang dari berbagai
paroki, sekolah, komunitas religius, dan kelompok kategorial yang memiliki
ketertarikan untuk memperdalam kemampuan produksi video digital. Kehadiran peserta
dari berbagai kalangan menunjukkan bahwa kebutuhan akan literasi media digital
kini tidak hanya menjadi perhatian kaum muda, tetapi juga para pelayan pastoral
dan tenaga pendidik.
Suasana keakraban sudah terasa
sejak registrasi peserta. Berbagai peralatan produksi sederhana seperti telepon
pintar, kamera digital, tripod, hingga laptop terlihat dibawa oleh para peserta
sebagai sarana praktik selama pelatihan berlangsung. Sebagian besar peserta
mengaku tertarik mengikuti kegiatan ini karena ingin belajar membuat konten
video yang lebih menarik untuk mendukung pelayanan di lingkungan masing-masing.
Program ini menghadirkan dua
narasumber profesional yang memiliki pengalaman luas dalam dunia produksi
konten digital dan industri kreatif. Narasumber pertama adalah Jovan
Engelbrecht Herman Sulaiman, S.I.Kom, seorang Digital Content Specialist yang
memiliki pengalaman dalam bidang pemasaran digital dan pengembangan konten
kreatif. Narasumber kedua adalah Thoriq Muhammad Yusuf, S.Kom, Editor
Specialist, kreator konten, praktisi videografi, serta influencer DaVinci
Resolve yang dikenal aktif membagikan edukasi seputar kamera dan teknik
penyuntingan video.
Kehadiran kedua mentor
tersebut memberikan kesempatan berharga bagi para peserta untuk belajar
langsung dari praktisi yang sehari-hari berkecimpung dalam industri kreatif
digital. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga
diperkaya dengan berbagai pengalaman praktis yang dapat langsung diterapkan
dalam kehidupan pelayanan maupun pekerjaan peserta.
Acara diawali dengan
sambutan dari Manager Program Catholic Center Ketapang, R.P. Advent Novianto
Stephanus, S.J. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi dan ucapan
terima kasih kepada Canon dan PT Datascrip yang telah memberikan dukungan nyata
bagi peningkatan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan Gereja.
Menurut R.P. Advent Novianto
Stephanus, S.J., perkembangan dunia digital harus dipandang sebagai peluang
untuk memperluas karya pelayanan. Gereja tidak boleh tertinggal dalam
memanfaatkan teknologi sebagai sarana pewartaan dan pendidikan iman.
“Selamat pagi dan berkah dalem
kepada seluruh peserta pelatihan. Hari ini kita berkumpul untuk belajar bersama
dalam lokakarya Creative Video Content Creation: Storytelling, Production,
Editing & Gear Essentials. Era digital menuntut kita untuk kreatif dalam
berbagi nilai. Video bukan lagi sekadar hiburan, melainkan sarana komunikasi
yang sangat kuat. Melalui pelatihan ini, kita ingin memastikan bahwa teknologi
dapat mempermudah, bukan mempersulit karya kita di lapangan,” ungkapnya.
Beliau menegaskan bahwa kemampuan
membuat konten digital kini menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Kehadiran media sosial telah mengubah cara
masyarakat memperoleh informasi, belajar, dan berinteraksi. Oleh karena itu,
Gereja perlu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengisi ruang digital
dengan pesan-pesan positif yang membangun iman dan kehidupan sosial.
Dalam kesempatan tersebut,
R.P. Advent Novianto Stephanus, S.J. juga mengajak seluruh peserta untuk
memanfaatkan pelatihan ini secara maksimal. Menurutnya, ilmu yang diperoleh
tidak boleh berhenti pada tingkat pengetahuan, tetapi harus diterjemahkan menjadi
karya nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh umat dan masyarakat.
Beliau kemudian memaparkan
tiga bidang utama yang menjadi fokus penerapan hasil pelatihan, yakni karya
pewartaan, bidang pendidikan, dan pelayanan komunitas. Ketiga bidang tersebut
dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui media digital, khususnya
video kreatif yang mudah diakses dan dipahami oleh masyarakat.
Pada bidang pewartaan,
peserta didorong untuk memanfaatkan kemampuan storytelling guna mengemas
pesan-pesan Kitab Suci menjadi video singkat yang menarik, khususnya bagi
generasi muda. Melalui pendekatan visual yang kreatif, pesan Injil diharapkan
dapat disampaikan secara lebih efektif dan relevan dengan kehidupan
sehari-hari.
Selain itu, peserta juga
diajak untuk mendokumentasikan berbagai kesaksian iman yang hidup di tengah
umat. Cerita-cerita inspiratif mengenai perjuangan hidup, pelayanan, maupun
pengalaman spiritual dapat menjadi sumber penguatan iman bagi banyak orang apabila
dikemas dalam bentuk video yang baik.
Tidak kalah penting,
penggunaan fitur-fitur modern seperti auto-caption pada aplikasi CapCut juga
diperkenalkan sebagai sarana untuk memperluas jangkauan pesan. Dengan adanya
teks otomatis, konten dapat lebih mudah dipahami oleh berbagai kalangan dan meningkatkan
aksesibilitas informasi.
Pemanfaatan media digital
dalam bidang pendidikan juga menjadi perhatian khusus dalam pelatihan ini. Para
guru dan pembina diajak untuk menciptakan materi pembelajaran yang lebih
kreatif dan menarik melalui video edukatif. Metode pembelajaran berbasis visual
diyakini mampu meningkatkan minat belajar peserta didik sekaligus membantu
menjelaskan materi yang kompleks secara lebih sederhana.
ANTUSIASME PESERTA MEWARNAI
SELURUH RANGKAIAN PELATIHAN
Semangat belajar para peserta
semakin terlihat ketika sesi materi utama dimulai. Sejak pagi hingga sore hari,
seluruh peserta mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian. Berbagai
pertanyaan, diskusi, serta praktik langsung yang dilakukan menunjukkan tingginya
minat peserta untuk memahami dunia produksi konten digital secara lebih
mendalam.
Peserta yang berasal dari
berbagai latar belakang pelayanan membawa perspektif yang beragam dalam
mengikuti pelatihan. Para imam, frater, dan suster melihat peluang besar
penggunaan video sebagai sarana pewartaan iman. Para guru memandang
keterampilan ini sebagai alat bantu pembelajaran yang efektif. Sementara itu,
Orang Muda Katolik (OMK) dan pelajar SMP menunjukkan ketertarikan yang besar
terhadap dunia kreatif digital yang saat ini sangat dekat dengan kehidupan
mereka sehari-hari.
Pada sesi awal, Jovan Engelbrecht
Herman Sulaiman, S.I.Kom mengajak peserta memahami perubahan pola komunikasi di
era digital. Menurutnya, masyarakat saat ini lebih mudah menerima informasi
dalam bentuk visual dibandingkan teks panjang. Oleh sebab itu, kemampuan
membuat video yang menarik menjadi salah satu keterampilan yang sangat penting.
Ia menjelaskan bahwa konten
digital tidak hanya terbatas pada video semata. Dalam ekosistem media sosial
terdapat berbagai bentuk konten seperti foto, teks, audio, maupun kombinasi
dari semuanya. Namun demikian, video memiliki keunggulan karena mampu menggabungkan
unsur gambar, suara, teks, dan emosi dalam satu media yang utuh.
Para peserta kemudian
diperkenalkan dengan berbagai kategori konten yang umum digunakan di media
sosial, mulai dari konten informatif, edukatif, inspiratif, hingga hiburan.
Melalui berbagai contoh nyata, peserta diajak memahami karakteristik
masing-masing jenis konten serta bagaimana cara mengemas pesan agar sesuai
dengan target audiens.
Materi mengenai storytelling
menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta. Dalam sesi ini
dijelaskan bahwa keberhasilan sebuah video tidak semata-mata ditentukan oleh
kecanggihan kamera atau perangkat yang digunakan, melainkan oleh kekuatan
cerita yang disampaikan.
Menurut Jovan, sebuah video yang
sederhana dapat menjadi sangat menarik apabila memiliki alur cerita yang jelas,
pesan yang kuat, dan mampu membangun kedekatan emosional dengan penontonnya.
“Orang mungkin lupa pada kualitas
kamera yang digunakan, tetapi mereka akan mengingat cerita yang menyentuh hati
mereka,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut mendapat
respons positif dari peserta. Banyak peserta mulai menyadari bahwa konten
pelayanan Gereja sesungguhnya memiliki potensi cerita yang sangat kaya. Kisah
perjuangan umat, kegiatan sosial, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga
kehidupan komunitas dapat menjadi bahan konten yang inspiratif apabila dikemas
dengan baik.
Sesi berikutnya membahas proses
produksi video. Pada bagian ini peserta belajar mengenai teknik dasar
pengambilan gambar, komposisi visual, pencahayaan, serta pengelolaan audio.
Peserta diperkenalkan pada konsep
Rule of Thirds atau aturan sepertiga yang membantu menghasilkan komposisi
gambar lebih menarik. Mereka juga belajar bagaimana menentukan sudut
pengambilan gambar yang tepat untuk memperkuat pesan visual yang ingin disampaikan.
Selain aspek visual, mentor juga
menekankan pentingnya kualitas audio. Menurutnya, penonton sering kali masih
dapat menerima gambar yang kurang sempurna, namun akan segera meninggalkan
video apabila suara yang dihasilkan tidak jelas.
Karena itu, peserta diajak
memahami berbagai teknik sederhana untuk menghasilkan kualitas suara yang baik
meskipun menggunakan peralatan yang terbatas. Pendekatan ini sangat relevan
bagi peserta yang nantinya akan memproduksi konten di lingkungan paroki,
sekolah, maupun komunitas dengan fasilitas yang sederhana.
Memasuki sesi siang hari, suasana
pelatihan semakin hidup ketika peserta mulai melakukan praktik langsung. Mereka
dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk membuat konsep video berdasarkan
tema yang telah ditentukan.
Setiap kelompok diminta menyusun
ide cerita, menentukan alur video, membagi tugas produksi, melakukan
pengambilan gambar, hingga menyunting hasil rekaman menggunakan aplikasi
CapCut.
Pada tahap inilah kreativitas
peserta mulai terlihat. Ada kelompok yang mengangkat tema kehidupan Orang Muda
Katolik, ada yang membuat video motivasi, ada pula yang mengangkat pesan-pesan
moral dan nilai-nilai pelayanan.
Suasana aula dipenuhi
aktivitas kreatif. Sebagian
peserta terlihat berdiskusi menyusun konsep cerita. Sebagian lainnya melakukan
pengambilan gambar di sekitar lingkungan Catholic Center. Ada pula yang mulai
mencoba berbagai fitur editing yang baru mereka pelajari.
Meskipun sebagian besar peserta
mengaku belum pernah membuat video secara profesional, mereka mampu menunjukkan
semangat belajar yang luar biasa. Bahkan beberapa peserta yang sebelumnya tidak
memiliki pengalaman editing sama sekali berhasil menyelesaikan video pendek
dengan hasil yang cukup baik.
Keaktifan peserta juga tampak
dalam sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan diajukan mulai dari teknik
pengambilan gambar menggunakan telepon pintar, cara memilih musik latar yang
tepat, hingga strategi meningkatkan jangkauan konten di media sosial.
Melihat antusiasme tersebut, para
mentor memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta. Menurut mereka, semangat belajar dan
keberanian untuk mencoba merupakan modal utama dalam dunia kreatif digital.
Salah satu momen yang paling
dinantikan terjadi pada sesi presentasi hasil karya. Setiap kelompok diberi
kesempatan menampilkan video yang telah mereka produksi selama pelatihan.
Ketika hasil karya diputar di
layar utama, suasana aula menjadi semakin meriah. Tepuk tangan dan sorak
dukungan terdengar dari para peserta yang menyaksikan kreativitas rekan-rekan
mereka.
Beragam ide menarik muncul
dalam karya-karya yang ditampilkan. Meskipun dibuat dalam waktu yang relatif
singkat, video-video tersebut menunjukkan pemahaman peserta terhadap materi
storytelling, teknik pengambilan gambar, serta editing dasar yang telah diajarkan.
Thoriq Muhammad Yusuf, S.Kom
secara khusus memberikan apresiasi terhadap hasil karya peserta. Menurutnya,
kemampuan peserta dalam memahami materi dan menerapkannya dalam praktik patut
mendapatkan penghargaan.
Ia menilai bahwa sebagian
besar video yang ditampilkan telah berhasil membangun alur cerita yang jelas
serta mampu menyampaikan pesan kepada penonton. Beberapa kelompok bahkan
dinilai memiliki potensi besar untuk terus mengembangkan kemampuan produksi konten
digital di masa mendatang.
“Kami sangat mengapresiasi
semangat teman-teman semua. Dalam waktu yang singkat, hasil karya yang
ditampilkan sudah menunjukkan pemahaman yang baik tentang storytelling dan
editing. Ini merupakan awal yang sangat baik untuk terus berkembang,” ujarnya.
Jovan Engelbrecht Herman
Sulaiman, S.I.Kom juga menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, kreativitas
peserta membuktikan bahwa keterbatasan alat bukanlah penghalang untuk
menghasilkan karya yang berkualitas.
Ia menegaskan bahwa kekuatan
utama sebuah video terletak pada ide, pesan, dan kemampuan bercerita. Dengan
terus berlatih, peserta diyakini akan mampu menghasilkan konten yang semakin
baik dan berdampak positif bagi masyarakat.
Pujian dari para mentor
tersebut disambut gembira oleh peserta. Banyak di antara mereka merasa lebih
percaya diri untuk mulai membuat konten digital setelah mengikuti pelatihan
ini.
DUKUNGAN PENUH GEREJA
TERHADAP PENGEMBANGAN KONTEN DIGITAL
Keberhasilan pelaksanaan
kegiatan Creative Video Content Creation: Storytelling, Production, Editing
& Gear Essentials tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak yang memiliki
perhatian besar terhadap pengembangan sumber daya manusia, khususnya dalam
bidang literasi digital dan komunikasi modern.
Salah satu dukungan penting
datang dari Pastor Kepala Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, R.P. Vitalis
Nggeal, C.P. Beliau menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap
pelaksanaan kegiatan yang dinilai sangat relevan dengan kebutuhan Gereja pada
masa sekarang.
Menurut R.P. Vitalis Nggeal,
C.P., perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang besar bagi Gereja
untuk memperluas karya pewartaan. Kehadiran media sosial dan platform digital
memungkinkan pesan-pesan Injil menjangkau masyarakat secara lebih luas tanpa
dibatasi oleh ruang dan waktu.
Beliau menegaskan bahwa
Gereja perlu mempersiapkan generasi yang tidak hanya mampu menggunakan
teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara kreatif dan bertanggung
jawab untuk menghadirkan nilai-nilai Kristiani di tengah masyarakat.
Sebagai bentuk dukungan
nyata terhadap kegiatan tersebut, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang mengutus
lima peserta untuk mengikuti pelatihan. Langkah ini merupakan bagian dari
komitmen paroki dalam membangun kemampuan umat, khususnya kaum muda dan para pelayan
pastoral, agar semakin siap menghadapi tantangan era digital.
RP. Vitalis Nggeal, CP.
berharap para peserta yang mengikuti pelatihan dapat menjadi pelopor dalam
pengembangan media digital di lingkungan paroki. Ilmu yang diperoleh diharapkan
tidak hanya berhenti pada diri peserta, tetapi juga dapat dibagikan kepada umat
lainnya melalui pelatihan, pendampingan, maupun praktik langsung dalam kegiatan
pelayanan.
Beliau juga menekankan bahwa
kualitas sebuah karya digital tidak ditentukan oleh mahal atau canggihnya
peralatan yang digunakan, melainkan oleh pesan yang disampaikan dan semangat
pelayanan yang mendasarinya.
Menurutnya, melalui
kemampuan storytelling, produksi video, dan editing yang baik, berbagai
kegiatan Gereja dapat didokumentasikan secara menarik sehingga mampu menjadi
sarana evangelisasi yang efektif.
“Semoga pelatihan ini
menjadi kesempatan berharga untuk mengembangkan talenta yang Tuhan anugerahkan.
Mari kita gunakan teknologi secara bijaksana dan kreatif untuk menghadirkan
terang Kristus di ruang digital. Tuhan memberkati seluruh peserta dan penyelenggara
kegiatan ini,” ungkap R.P. Vitalis Nggeal, C.P.
ROMO NEDI: MEDIA DIGITAL
MENJADI SARANA PEWARTAAN YANG EFEKTIF
Dukungan terhadap kegiatan
ini juga disampaikan oleh R.D. Blasius Suhanedi Kusmantoro, yang akrab disapa
Romo Nedi.
Menurut Romo Nedi, pelatihan
semacam ini sangat penting karena memberikan keterampilan praktis yang
dibutuhkan Gereja untuk menjawab tantangan zaman. Di tengah arus informasi yang
begitu cepat, Gereja perlu hadir melalui konten-konten yang kreatif, inspiratif,
dan mudah dipahami masyarakat.
Beliau menilai bahwa
kemampuan membuat konten digital yang berkualitas bukan lagi sekadar
keterampilan tambahan, melainkan sudah menjadi bagian penting dari karya
pelayanan dan pewartaan masa kini.
Melalui pelatihan ini,
peserta memperoleh bekal untuk menyampaikan nilai-nilai Kristiani secara
menarik dan relevan dengan perkembangan teknologi komunikasi modern.
Romo Nedi berharap para
peserta mampu menjadi kreator konten yang tidak hanya kreatif secara teknis,
tetapi juga memiliki semangat pelayanan yang kuat.
“Media digital dapat menjadi
sarana yang sangat efektif untuk mewartakan Injil, menginspirasi masyarakat,
dan membangun peradaban kasih. Karena itu saya menyambut baik dan mendukung
penuh kegiatan ini,” ungkapnya.
KOMITMEN CANON DAN PT
DATASCRIP BAGI PENGEMBANGAN SDM DIGITAL
Pelaksanaan kegiatan ini
juga menjadi wujud nyata komitmen Canon melalui PT Datascrip dalam mendukung
pengembangan pendidikan dan literasi digital di Indonesia.
Sebagai distributor tunggal
produk pencitraan digital Canon di Indonesia, PT Datascrip selama ini tidak
hanya menghadirkan berbagai produk teknologi, tetapi juga aktif mendukung
berbagai program pendidikan, pelatihan, dan peningkatan keterampilan masyarakat.
Melalui program #CANONGOESTOCOMMUNITY,
Canon dan PT Datascrip berupaya menghadirkan edukasi yang dapat membantu
masyarakat memanfaatkan teknologi secara produktif dan kreatif.
Perwakilan mentor
menjelaskan bahwa perkembangan teknologi saat ini membuka peluang yang sangat
luas bagi siapa saja untuk menjadi kreator konten. Bahkan dengan menggunakan
telepon pintar yang dimiliki sehari-hari, seseorang sudah dapat menghasilkan
karya video yang berkualitas apabila memahami dasar-dasar storytelling,
produksi, dan editing.
Karena itu, pelatihan ini
tidak hanya berfokus pada pengenalan perangkat Canon, tetapi lebih menekankan
pada pengembangan keterampilan kreatif yang dapat diterapkan oleh seluruh
peserta sesuai kebutuhan pelayanan dan profesi masing-masing.
Para peserta juga
diperkenalkan dengan berbagai pilihan perangkat yang dapat digunakan untuk
produksi video, mulai dari kamera profesional hingga penggunaan smartphone yang
saat ini memiliki kemampuan perekaman video yang semakin baik.
Anda dapat menambahkan
bagian berikut pada Bagian 3 sebelum doa penutup:
R.P. ADVENT NOVIANTO
STEPHANUS, S.J. UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA CANON, PT DATASCRIP DAN PARA MENTOR
Menjelang berakhirnya kegiatan,
Manager Program Catholic Center Ketapang, R.P. Advent Novianto Stephanus, S.J.,
menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung
terselenggaranya pelatihan Creative Video Content Creation: Storytelling,
Production, Editing & Gear Essentials.
Secara khusus, beliau
menyampaikan apresiasi kepada Canon melalui PT Datascrip yang telah
menghadirkan program edukatif yang sangat bermanfaat bagi pengembangan
kemampuan digital para peserta di lingkungan Gereja Katolik Keuskupan Ketapang.
Ucapan terima kasih juga
disampaikan kepada kedua mentor, yakni Jovan Engelbrecht Herman Sulaiman,
S.I.Kom, selaku Digital Content Specialist, dan Thoriq Muhammad Yusuf, S.Kom,
selaku Editor Specialist, yang telah berbagi ilmu, pengalaman, serta
keterampilan praktis kepada seluruh peserta sepanjang pelatihan.
Menurut R.P. Advent Novianto
Stephanus, S.J., materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan zaman,
khususnya dalam membantu Gereja mengembangkan karya pewartaan, pendidikan, dan
pelayanan melalui media digital yang kreatif dan profesional.
Beliau mengaku bersyukur melihat
antusiasme para peserta yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari pagi
hingga sore hari. Semangat belajar, kreativitas, dan kemampuan peserta dalam
menghasilkan karya video selama sesi praktik menjadi bukti bahwa pelatihan ini
memberikan manfaat nyata bagi pengembangan sumber daya manusia di Keuskupan
Ketapang.
“Kami mengucapkan terima kasih
kepada Canon, PT Datascrip, para mentor, panitia, dan seluruh peserta yang
telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kami melihat secara langsung bagaimana
peserta mampu mengembangkan kreativitas mereka dan menghasilkan karya-karya
video yang sangat baik dalam waktu yang relatif singkat,” ungkap R.P. Advent
Novianto Stephanus, S.J.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan
bahwa hasil pelaksanaan kegiatan ini akan dilaporkan kepada Mgr. Pius Riana
Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang. Laporan tersebut akan memuat jalannya
kegiatan, materi yang diberikan, keterlibatan peserta, serta berbagai manfaat
yang diperoleh selama pelatihan berlangsung.
Menurut beliau, kegiatan ini
menjadi salah satu bentuk nyata upaya Gereja dalam meningkatkan literasi
digital dan kemampuan komunikasi umat di era modern. Oleh karena itu,
hasil-hasil positif yang diperoleh dari kegiatan ini perlu disampaikan kepada
Bapa Uskup sebagai bagian dari pengembangan karya pastoral Keuskupan Ketapang.
R.P. Advent Novianto Stephanus,
S.J. berharap kerja sama yang telah terjalin dengan Canon dan PT Datascrip
dapat terus berlanjut pada masa mendatang melalui berbagai program pendidikan
dan pelatihan lainnya yang mendukung peningkatan kapasitas umat, khususnya kaum
muda Katolik.
Beliau juga mengajak seluruh
peserta untuk tidak berhenti pada pelatihan ini saja, tetapi terus
mengembangkan kemampuan yang telah diperoleh sehingga mampu menghasilkan
konten-konten digital yang inspiratif, edukatif, dan menjadi sarana pewartaan
yang efektif bagi Gereja.
“Semoga apa yang telah dipelajari
hari ini dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Mari kita terus berkarya,
berinovasi, dan menghadirkan nilai-nilai Kristiani di ruang digital melalui
konten-konten yang kreatif, membangun, dan penuh harapan,” tutup R.P. Advent
Novianto Stephanus, S.J.
DOA PENUTUP DAN FOTO BERSAMA
Setelah seluruh rangkaian
materi, praktik, evaluasi hasil karya, dan sesi diskusi selesai dilaksanakan,
kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh R.D. Gregorius Lastsendy
Pamungkas.
Dalam doa penutup tersebut,
seluruh peserta diajak bersyukur atas kesempatan belajar bersama sepanjang
hari. Mereka juga memohon berkat Tuhan agar ilmu dan pengalaman yang diperoleh
dapat menjadi sarana pelayanan yang membawa manfaat bagi Gereja, sekolah,
komunitas, dan masyarakat luas.
Suasana penuh syukur dan
sukacita tampak mewarnai penutupan kegiatan. Setelah doa bersama, seluruh
peserta, mentor, panitia, imam, frater, suster, dan tamu undangan berkumpul
untuk mengikuti sesi foto bersama sebagai kenangan atas terselenggaranya kegiatan
tersebut.
Momen foto bersama
berlangsung meriah. Para peserta tampak antusias mengabadikan kebersamaan
mereka dengan mentor dan panitia penyelenggara. Senyum dan kegembiraan terlihat
jelas di wajah para peserta yang merasa mendapatkan pengalaman baru yang
berharga.
Usai sesi foto bersama,
panitia menyediakan makanan ringan dan minuman sebagai bagian dari acara ramah
tamah. Kesempatan tersebut dimanfaatkan peserta untuk saling berbagi
pengalaman, berdiskusi mengenai rencana tindak lanjut, serta menjalin relasi
yang lebih erat antar peserta dari berbagai komunitas.
Menjelang sore hari, seluruh
rangkaian kegiatan resmi berakhir. Para peserta kemudian kembali ke rumah,
komunitas, sekolah, dan paroki masing-masing dengan membawa semangat baru untuk
berkarya di dunia digital.
Pelatihan Creative Video
Content Creation: Storytelling, Production, Editing & Gear Essentials tidak
hanya memberikan pengetahuan teknis mengenai produksi video, tetapi juga
menumbuhkan kesadaran bahwa media digital dapat menjadi sarana pewartaan,
pendidikan, dan pelayanan yang sangat efektif.
Melalui kegiatan ini, Canon,
PT Datascrip, dan Catholic Center Ketapang telah membuka ruang pembelajaran
yang membantu peserta memahami bahwa teknologi bukan sekadar alat, melainkan
sarana untuk menghadirkan pesan-pesan kebaikan, harapan, dan kasih di tengah
masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi, kreativitas, dan pelayanan, para peserta diharapkan mampu menjadi generasi kreator digital yang menghadirkan konten-konten positif, inspiratif, edukatif, dan membangun, sehingga ruang digital semakin dipenuhi oleh pesan-pesan yang membawa terang, harapan, dan sukacita bagi banyak orang.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 20 Juni 2026






0 comments:
Posting Komentar