NAMA BAPTIS SEBAGAI IDENTITAS IMAN DAN PANGGILAN HIDUP KRISTIANI: UMAT DIAJAK MENGENAL MAKNA NAMA ORANG KUDUS DALAM SAKRAMEN BAPTIS

 

 Foto Bapak Hendrikus Hendri, S.S

Ketapang, 18 Juni 2026.Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengajak umat Katolik untuk semakin memahami makna nama baptis sebagai bagian penting dari identitas iman seorang Kristiani. Melalui refleksi dan katekese yang dibagikannya pada Kamis, 18 Juni 2026, ia menegaskan bahwa nama baptis bukan sekadar pelengkap administrasi gerejawi, melainkan memiliki nilai rohani yang mendalam karena berkaitan erat dengan Sakramen Baptis dan perjalanan hidup sebagai murid Kristus.

Dalam penjelasannya, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. mengawali dengan mengutip ketentuan Gereja yang tertuang dalam Kitab Hukum Kanonik. Gereja mengingatkan bahwa orang tua, wali baptis, dan pastor paroki hendaknya menjaga agar nama yang diberikan kepada seorang anak yang akan dibaptis tidak bertentangan dengan semangat dan cita rasa Kristiani.

Ia mengutip Kanon 855 yang berbunyi bahwa orang tua, wali baptis, dan pastor paroki hendaknya memperhatikan agar jangan diberikan nama yang asing dari citarasa Kristiani. Ketentuan ini menunjukkan bahwa Gereja sejak lama memandang nama sebagai sesuatu yang penting karena nama bukan hanya tanda pengenal seseorang, tetapi juga memiliki makna spiritual yang menyertai kehidupan orang beriman.

Menurutnya, dalam tradisi Gereja Katolik, nama memiliki tempat yang sangat istimewa. Sejak zaman Kitab Suci, nama sering kali menggambarkan identitas, misi, dan panggilan seseorang di hadapan Allah. Banyak tokoh dalam Kitab Suci menerima nama baru ketika Allah memberikan tugas atau panggilan khusus kepada mereka.

Abram menjadi Abraham sebagai tanda perjanjian baru dengan Allah. Sarai menjadi Sara sebagai ibu banyak bangsa. Yakub menerima nama Israel setelah pergumulannya dengan Tuhan. Simon menerima nama Petrus sebagai batu karang Gereja. Perubahan nama tersebut menunjukkan adanya pembaruan hidup dan perutusan yang baru.

Karena itu, dalam kehidupan Gereja, nama baptis menjadi salah satu simbol bahwa seseorang telah menerima kehidupan baru dalam Kristus. Nama baptis menjadi tanda bahwa seseorang masuk ke dalam keluarga besar Gereja dan menjadi anggota Tubuh Mistik Kristus.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menjelaskan bahwa Sakramen Baptis merupakan sakramen pertama yang diterima seseorang ketika hendak menjadi anggota Gereja Katolik. Baptis juga menjadi pintu masuk menuju sakramen-sakramen lainnya.

Mengacu pada Kitab Hukum Kanonik Kanon 849, ia menerangkan bahwa melalui Sakramen Baptis seseorang dibebaskan dari dosa, dilahirkan kembali sebagai anak Allah, serta dipersatukan dengan Kristus dan Gereja-Nya.

Sakramen ini diberikan dengan rumusan yang diwariskan langsung oleh Tuhan Yesus Kristus, yaitu dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus sebagaimana tertulis dalam Injil Matius 28:19.

Dalam pembaptisan, manusia menerima rahmat pengudusan dari Allah. Melalui air baptis dan kuasa Roh Kudus, seseorang mengalami kelahiran baru yang mengubah status rohaninya. Ia tidak lagi hidup dalam keadaan lama, melainkan menjadi ciptaan baru dalam Kristus.

Oleh sebab itu, pemberian nama baptis mempunyai hubungan yang erat dengan makna pembaptisan itu sendiri. Nama baptis menjadi lambang dari kehidupan baru yang diterima seseorang ketika masuk ke dalam Gereja.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. juga mengutip Katekismus Gereja Katolik nomor 2156 yang mengajarkan bahwa di dalam pembaptisan, nama Tuhan menguduskan manusia dan seorang Kristen memperoleh namanya di dalam Gereja.

Nama tersebut dapat berasal dari seorang kudus, yaitu seorang murid Kristus yang telah menunjukkan kesetiaan hidup kepada Tuhan. Dengan demikian, nama baptis tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga menjadi inspirasi hidup bagi pemiliknya.

Dalam tradisi Gereja, nama orang kudus memiliki makna yang sangat penting. Nama tersebut menghubungkan seorang beriman dengan teladan hidup yang nyata dari para santo dan santa yang telah lebih dahulu mencapai kekudusan.

Karena itu, banyak umat Katolik memilih nama baptis yang berasal dari nama seorang santo atau santa. Meskipun tidak diwajibkan secara mutlak, Gereja sangat menganjurkan praktik tersebut karena memiliki nilai pendidikan iman yang sangat besar.

Menurut Bapak Hendrikus Hendri, S.S., pemberian nama baru pada saat pembaptisan sejalan dengan hakikat Sakramen Baptis sebagai kelahiran baru. Seorang yang dibaptis dipanggil untuk meninggalkan manusia lama dan hidup sebagai manusia baru dalam Kristus.

Makna ini sangat penting untuk dipahami, terutama dalam dunia modern yang sering kali lebih menekankan aspek administratif daripada makna spiritual. Banyak orang mengenal nama baptisnya, tetapi belum memahami pesan rohani yang terkandung di dalamnya.

Padahal, setiap nama orang kudus membawa kisah iman, perjuangan, pengorbanan, dan kesetiaan kepada Kristus. Dengan mengenal kisah hidup santo atau santa pelindungnya, seorang Katolik dapat menemukan inspirasi untuk bertumbuh dalam kehidupan rohani.

Ia menambahkan bahwa para orang kudus merupakan bagian dari persekutuan Gereja yang tidak terbatas pada dunia ini saja. Gereja percaya adanya persekutuan para kudus, yaitu persatuan rohani antara umat beriman yang masih berziarah di dunia, jiwa-jiwa yang sedang dimurnikan, dan para kudus yang telah berada dalam kemuliaan surga.

Karena itulah, mengambil nama seorang santo atau santa berarti mengingat bahwa kita memiliki saudara-saudari seiman yang telah mencapai tujuan akhir kehidupan Kristen. Mereka menjadi teladan sekaligus pendoa bagi kita.

Menurut ajaran Gereja, para kudus tidak berhenti berkarya setelah wafat. Mereka terus mendoakan umat Allah yang masih berjuang di dunia. Doa mereka di hadapan Tuhan menjadi bantuan rohani yang sangat berharga bagi kehidupan orang beriman.

Kesadaran ini mendorong umat Katolik untuk tidak memandang nama baptis sebagai formalitas semata. Nama baptis adalah jembatan yang menghubungkan kehidupan sehari-hari dengan warisan iman Gereja yang kaya dan mendalam.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menjelaskan bahwa salah satu manfaat penting memiliki nama baptis yang berasal dari orang kudus adalah adanya figur teladan yang dapat ditiru. Setiap santo dan santa memiliki kekhasan dalam menghayati Injil.

Ada yang dikenal karena kerendahan hati, ada yang terkenal karena keberanian membela iman, ada yang menjadi teladan pelayanan kepada kaum miskin, dan ada pula yang menunjukkan kesetiaan luar biasa dalam doa.

Melalui teladan tersebut, umat diajak untuk belajar menghayati nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, nama baptis menjadi sumber inspirasi yang terus menerus memperkaya perjalanan iman seseorang.

Selain itu, nama baptis juga dapat dipandang sebagai sebuah doa. Ketika seseorang menerima nama seorang santo atau santa, tersimpan harapan agar ia dapat bertumbuh dalam keutamaan yang sama sebagaimana ditunjukkan oleh orang kudus tersebut.

Harapan itu bukan sekadar cita-cita manusiawi, melainkan doa yang dipanjatkan kepada Allah agar kehidupan orang yang dibaptis semakin menyerupai Kristus.

Karena itu, pemilihan nama baptis hendaknya dilakukan dengan penuh kesadaran dan pertimbangan rohani. Orang tua, wali baptis, maupun calon baptis dewasa diajak untuk mengenal terlebih dahulu sosok santo atau santa yang namanya akan dipilih.

Melalui pengenalan tersebut, nama baptis akan memiliki makna yang lebih mendalam dan tidak berhenti sebagai nama yang tercantum dalam dokumen gerejawi semata.

Dalam refleksinya, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. juga mengajak umat untuk kembali membaca sejarah hidup para santo dan santa pelindung mereka. Menurutnya, banyak umat yang mengetahui nama baptisnya tetapi belum pernah mempelajari kisah hidup orang kudus yang namanya mereka gunakan.

Padahal, sejarah hidup para kudus merupakan kekayaan rohani yang luar biasa. Dari kisah-kisah mereka, umat dapat belajar tentang ketekunan dalam doa, keberanian menghadapi penderitaan, kesetiaan dalam pelayanan, serta kasih yang tulus kepada sesama.

Melalui permenungan atas kehidupan para kudus, umat diajak semakin mengenal Kristus yang menjadi pusat kehidupan mereka.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 18 Juni 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar