GORESAN SEPEKAN DI KETAPANG


Foto RP. Avensius Rosis Kajang, CP

(16–25 Oktober 2026). Tanggal 16 Oktober 2026, saya berangkat dari Jakarta menuju Ketapang, Kalimantan Barat, untuk menghadiri perayaan 80 tahun kehadiran Kongregasi Pasionis di Indonesia, sekaligus berbagi pengalaman dan refleksi iman melalui Seminar Go Passio. 

Perjalanan yang saya bayangkan akan berjalan seperti biasa ternyata sedikit berbeda.

Penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta sempat mengalami penundaan karena kabut asap di wilayah Pontianak. Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya pesawat kami mendapat izin terbang dan mendarat dengan selamat di Bandara Supadio, Pontianak.

Selanjutnya, saya menuju Ketapang dengan perjalanan darat menggunakan travel. Kurang lebih dua belas jam kami menempuh perjalanan melewati jalan yang sebagian masih belum beraspal. Kabut asap juga menemani perjalanan kami. Tubuh lelah, apalagi setelah perjalanan udara yang sempat tertunda. Kami tiba di Ketapang ketika hari sudah larut malam, sekitar Pkl.2330 WIB. 

Ada pengalaman sederhana yang membuat saya terkesan. Di tengah malam itu, Pastor Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Pater Vitalis, CP, bersama Superior Biara Pasionis Ketapang, Pater Aris, CP, dan beberapa umat ternyata masih menunggu kedatangan saya.

Rasa lelah setelah perjalanan panjang itu seolah ikut menghilang ditelan kabut asap yang kami lewati sepanjang perjalanan. Bukan karena badan tiba-tiba menjadi segar, melainkan karena sambutan hangat dari saudara-saudara Pasionis dan umat. Malam itu kami duduk bersama, minum kopi, dan berbagi cerita. Sederhana saja, tetapi justru dalam suasana seperti itulah persaudaraan terasa begitu dekat.

Keesokan harinya saya menggunakan waktu untuk beristirahat sambil mempersiapkan beberapa hal yang diperlukan untuk Seminar Go Passio. Saya juga berkesempatan menikmati kebersamaan dengan para pastor dan umat, termasuk menikmati beberapa menu khas Ketapang yang disajikan dengan penuh keramahan.

Salah satu pengalaman yang berkesan adalah ketika saya mengunjungi Biara Tua Pasionis di Ketapang. Di tempat itu saya kembali mengenang perjalanan panjang para misionaris Pasionis yang telah merintis dan mengembangkan karya pelayanan di wilayah ini. Saya juga menyempatkan diri menyalakan lilin dan berdoa di makam almarhum Pater Vitalis Frumau, CP, yang meninggal dunia di Jakarta sekitar satu tahun lalu dan dimakamkan di Ketapang.

Beliau merupakan misionaris Pasionis terakhir asal Belanda yang memilih untuk tetap tinggal dan mengabdikan hidupnya di Indonesia sampai akhir hayatnya. Berdiri di depan makam beliau membuat saya kembali mengenang pengabdian para misionaris yang telah meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, dan berbagai kenyamanan hidup untuk melayani umat di negeri yang jauh dari tempat asal mereka. Mereka datang sebagai orang asing, tetapi kemudian menjadikan Indonesia sebagai rumah mereka sendiri.

Pada tanggal 18 Oktober, Seminar Go Passio dilaksanakan. Puji Tuhan, kegiatan berlangsung dengan sangat baik dan lancar. Hampir dua ratus  peserta hadir, terdiri atas para pastor, diakon, bruder, suster, serta umat dari dua paroki di Kota Ketapang, yakni Paroki Santo Agustinus dan Paroki Santa Gemma Galgani.

Saya bersyukur atas kehadiran dan dukungan saudara-saudara Pasionis, khususnya Pater Vitalis, CP, Pater Aris, CP, Pater Kornelis, CP, Diakon Andreas Pisin, CP, dan Bruder Elfidius, CP. Saya juga merasa terhormat atas kehadiran Romo Sutadi, Pr, Vikaris Jenderal Keuskupan Ketapang, yang di tengah kesibukannya masih berkenan meluangkan waktu untuk hadir dan mendukung kegiatan tersebut.

Seminar kali ini memang saya rancang agak berbeda. Meskipun materi yang disampaikan memiliki dasar ilmiah, saya tidak ingin kegiatan ini menjadi pertemuan akademis yang hanya berisi penjelasan dari pembicara, sementara peserta sekadar mendengarkan. Saya lebih memilih pendekatan seminar reflektif, sehingga setiap peserta juga memiliki kesempatan untuk berpikir, bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman hidup serta pengalaman iman mereka.

Seminar dibagi menjadi tiga sesi. Dua sesi pertama bersifat ilmiah-reflektif, sedangkan sesi ketiga lebih menekankan refleksi dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Saya sungguh menikmati kesempatan mendengarkan hasil diskusi dan berbagai pengalaman yang dibagikan oleh peserta. Ada banyak pemikiran dan pengalaman sederhana yang justru memperkaya pemahaman bersama. Pada bagian akhir, kami menyaksikan video musik lagu rohani yang pernah saya buat beberapa tahun lalu, sebagai penguat materi dan refleksi yang telah kami dalami sepanjang seminar.

Bagi saya, pengalaman ini sangat menyenangkan. Saya datang untuk berbagi materi, tetapi saya sendiri juga belajar dari pengalaman umat. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk memahami, menghayati, dan menghidupi imannya. 

Pengalaman seperti ini selalu mengingatkan saya bahwa refleksi iman tidak hanya lahir dari buku dan ruang kuliah, tetapi juga dari pergumulan hidup sehari-hari.

Memasuki tanggal 19 Oktober, para imam Keuskupan Ketapang mulai mengikuti retret. Kesempatan ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi saya, karena saya dapat berjumpa dengan banyak pastor dan diakon Pasionis yang selama ini berkarya di berbagai paroki di wilayah Keuskupan Ketapang.

Di sela-sela kegiatan retret, teman-teman Pastor dan Diakon Pasionis meluangkan waktu untuk bersama saya duduk, minum kopi, bercanda, dan berbagi cerita tentang kehidupan serta pengalaman pelayanan masing-masing. Ada yang bercerita tentang umatnya, tentang suka dan duka pelayanan, tentang pengalaman menarik di tempat tugas, dan tentu saja tidak sedikit cerita yang membuat kami tertawa bersama.

Saya sungguh merasa bahagia dapat mengalami kebersamaan itu. Tidak mudah bagi kami untuk dapat berkumpul seperti ini. Kami berada di tempat tugas yang berbeda-beda, dengan kesibukan dan tanggung jawab masing-masing. Bahkan dengan beberapa saudara, kami baru dapat berjumpa kembali setelah bertahun-tahun lamanya.

Dalam perjumpaan seperti ini, saya semakin menyadari betapa berharganya persaudaraan dalam hidup religius. Kami memang memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, tetapi tetap menjadi saudara dalam satu keluarga besar Pasionis. Kadang hanya dengan duduk bersama dan mendengarkan cerita saudara sendiri, kami sudah memperoleh semangat baru untuk kembali melanjutkan pelayanan.

Selama berada di Ketapang, saya juga menyaksikan secara langsung bagaimana umat Paroki Paya Kumang dan Paroki Santa Gemma bekerja sama mempersiapkan perayaan 80 tahun kehadiran Misi Pasionis di Indonesia.

Ada begitu banyak hal yang harus disiapkan. Saya melihat umat dari berbagai lingkungan terlibat dengan tugasnya masing-masing. Ada yang mempersiapkan tempat, perlengkapan, konsumsi, liturgi, acara, dan berbagai kebutuhan lainnya. Semua bergerak sesuai dengan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada mereka.

Yang membuat saya terkesan adalah semangat mereka. Banyak pekerjaan harus diselesaikan, tetapi saya tidak melihat hal itu mengurangi kegembiraan mereka. Mereka tetap bekerja dengan penuh semangat, saling membantu, bercanda, dan tersenyum. Tentu saya tidak mengetahui seluruh kesulitan yang mungkin mereka hadapi dalam proses persiapan. Namun, apa yang saya saksikan selama beberapa hari itu sungguh menggembirakan.

Saya merasa beruntung dapat menyaksikan sendiri bagaimana umat mengambil bagian dalam mempersiapkan perayaan yang memiliki arti penting bagi sejarah Gereja di Ketapang. Mereka tidak hanya datang sebagai peserta perayaan, tetapi juga menjadi bagian dari orang-orang yang membuat perayaan itu dapat terlaksana dengan baik.

Ada juga hal yang sangat menarik, setiap malam beberapa umat berkumpul di pastoran untuk sekedar minum kopi sambil berbagi cerita bersama para pastor dan diakon yang melayani di paroki. Sementara itu, untuk makan dan minum pastor dan diakon, umat secara bergantian membawakan apa yang mereka masak untuk makan keluarga ke pastoran. 

Tanggal 23 Oktober 2026, perayaan puncak 80 tahun kehadiran Kongregasi Pasionis di Indonesia dilaksanakan dengan sangat meriah dan penuh khidmat. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Bapa Uskup Ketapang, Mgr. Pius, dan dihadiri oleh sekitar delapan puluh imam dan diakon, para biarawan-biarawati, serta umat dari berbagai wilayah Keuskupan Ketapang.

Perayaan Ekaristi yang memadukan liturgi Gereja Katolik dengan unsur budaya Dayak memberi kesan tersendiri bagi saya. Inkulturasi itu memperlihatkan bagaimana iman yang diwariskan oleh para misionaris telah berakar dan bertumbuh dalam kehidupan serta kebudayaan umat setempat.

Saya teringat kembali pada para misionaris awal yang delapan puluh tahun lalu datang ke wilayah ini. Mereka tentu tidak pernah membayangkan secara lengkap seperti apa wajah Gereja di Ketapang delapan puluh tahun kemudian. Mereka hanya memulai karya pelayanan dengan segala kemampuan, keterbatasan, keberanian, dan kesetiaan yang mereka miliki.

Kini kita dapat menyaksikan buah dari perjalanan panjang itu. Bertambahnya umat Katolik, tumbuhnya panggilan imam dan hidup bakti, terbentuknya keuskupan, berkembangnya paroki dan stasi, serta keterlibatan umat dalam kehidupan Gereja merupakan bagian dari sejarah yang patut disyukuri. Tentu semua ini bukan hanya hasil karya para Pasionis, melainkan juga buah kerja sama dengan para imam diosesan, biarawan-biarawati dari berbagai kongregasi, misionaris awam, dan seluruh umat yang dengan caranya masing-masing telah ikut membangun Gereja.


Setelah perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan berbagai penampilan yang menarik. Salah satu hal yang berkesan adalah banyaknya kesempatan diberikan kepada anak-anak, remaja, dan orang muda Katolik untuk terlibat dalam acara tersebut.

Bagi saya, ini merupakan pendekatan yang sangat baik. Anak-anak dan orang muda perlu diberi ruang untuk mengambil bagian dalam kehidupan Gereja. Mereka belajar mencintai Gereja bukan hanya melalui nasihat dan pengajaran, tetapi juga melalui pengalaman terlibat, dipercaya, dan dihargai. Dari pengalaman kecil seperti inilah semangat misioner dapat mulai tumbuh dalam diri generasi penerus Gereja.

Malam harinya, setelah seluruh rangkaian acara selesai, kami para pastor, diakon, dan bruder Pasionis kembali berkumpul. Suasananya hangat dan penuh kekeluargaan. Setelah beberapa hari disibukkan oleh kegiatan, akhirnya kami dapat kembali duduk bersama dengan lebih santai, berbagi cerita, dan menikmati persaudaraan. Momen seperti ini bagi saya sama berharganya dengan berbagai kegiatan resmi yang telah kami laksanakan.

Tanggal 24 Oktober, sekitar siang hari, saya meninggalkan Ketapang bersama Pastor Paskalis, CP, Pastor Biono, CP, dan Pras, keponakan Pastor Paskalis, yang membantu membawa kami kembali menuju Pontianak.

Kami menempuh perjalanan panjang melalui jalur darat. Dalam perjalanan, Pastor Biono turun di Randau, kemudian Pras turun di Balai Berkuak. Sementara saya bersama Pastor Paskalis melanjutkan perjalanan menuju Pusat Spiritualitas Pasionis di Bukit Lait, Pontianak.

Sayangnya, dalam perjalanan pulang itu kondisi tubuh saya mulai kurang baik. Entah karena kelelahan setelah beberapa hari mengikuti berbagai kegiatan, perjalanan panjang, atau faktor lainnya, tiba-tiba saya merasa demam dan mengalami diare. Rupanya tubuh juga punya cara sendiri untuk mengingatkan bahwa ia membutuhkan istirahat.

Sampai saat saya menuliskan catatan ini, saya masih beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuh, sambil berharap segera sehat kembali agar dapat melanjutkan perjalanan ke Jakarta dan kembali menjalankan tugas pelayanan di sana.

Meskipun perjalanan pulang sedikit terganggu oleh kondisi kesehatan, saya tetap merasa bersyukur atas seluruh pengalaman selama berada di Ketapang. Ada banyak hal yang saya alami, lihat, dan dengarkan. Beberapa mungkin tampak biasa saja, seperti duduk minum kopi, menikmati makanan bersama, bertemu saudara lama, mendengarkan cerita umat, atau menyaksikan orang-orang bekerja mempersiapkan sebuah perayaan. Namun, justru pengalaman-pengalaman sederhana itulah yang membuat kunjungan ini terasa begitu berkesan.

Saya ingin menyampaikan terima kasih secara khusus kepada Pater Vitalis, CP, bersama seluruh panitia perayaan yang telah mengundang dan memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi pengalaman serta refleksi melalui Seminar Go Passio. Terima kasih atas kepercayaan, kerja sama, dan segala perhatian yang telah diberikan.

Terima kasih kepada Pater Aris, CP, Pater Kornelis, CP, dan Bruder Elfidius, CP, atas keramahan, kebersamaan, dan jamuan persaudaraan selama saya berada di Biara Pasionis Ketapang. Terima kasih juga kepada seluruh panitia dan umat Paroki Paya Kumang yang telah menerima dan memperhatikan saya selama tinggal di pastoran.

Kepada saudara-saudara saya, para pastor, diakon, frater, dan bruder Pasionis, terima kasih atas kesempatan untuk berjumpa kembali, berbagi cerita, bercanda, dan saling menguatkan. Semoga persaudaraan yang kita alami selama beberapa hari itu terus terpelihara, meskipun kita kembali berada di tempat tugas masing-masing.

Terima kasih kepada seluruh umat Ketapang, secara khusus umat yang telah bekerja dengan begitu tekun dan tulus mempersiapkan perayaan ini. Kehadiran, keterlibatan, dan kesetiaan Anda semua merupakan bagian penting dari kelanjutan karya misi Pasionis di tanah Ketapang.

Terima kasih pula kepada Bapa Uskup Ketapang, Romo Vikaris Jenderal, para imam diosesan, para biarawan-biarawati, serta seluruh pihak yang selama ini telah mendukung dan bekerja sama dengan para Pasionis dalam mewartakan Sabda Salib di wilayah Keuskupan Ketapang.

Saya datang ke Ketapang untuk mengambil bagian dalam sebuah perayaan dan berbagi refleksi tentang semangat Go Passio: Go for Life, Go for Love. Namun, selama beberapa hari berada di sana, saya justru memperoleh banyak pengalaman nyata tentang bagaimana semangat itu telah dan terus dihidupi melalui pelayanan, persaudaraan, kerja sama, dan ketulusan banyak orang.

Delapan puluh tahun merupakan perjalanan yang panjang. Kita pantas bersyukur atas segala yang telah dikerjakan oleh para pendahulu kita. Namun, sejarah yang indah itu tentu tidak berhenti pada sebuah perayaan. Masih ada banyak hal yang perlu dilanjutkan, banyak umat yang perlu dilayani, dan banyak kesempatan untuk menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga semangat para misionaris yang dahulu datang dengan segala keterbatasan, tetapi memiliki keberanian dan ketulusan untuk melayani, tetap hidup dalam diri kita yang meneruskan karya mereka saat ini.

Saya tiba di Ketapang dalam keadaan lelah setelah perjalanan panjang melewati kabut asap. Saya pun meninggalkan Ketapang dengan tubuh yang kembali membutuhkan istirahat. Tetapi di antara dua perjalanan itu, ada begitu banyak pengalaman baik, wajah-wajah bersahabat, dan kenangan indah yang akan tetap saya bawa.

Terima kasih, Ketapang. Terima kasih untuk persaudaraan, ketulusan, dan pengalaman iman yang boleh saya rasakan selama beberapa hari ini.

Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua, dan semoga semangat Pasionis untuk mengenangkan serta mewartakan kasih Allah dalam Sengsara Yesus Kristus terus bertumbuh dan menghasilkan buah dalam kehidupan kita.

🙏

Salam kasih dalam semangat Go Passio.

PATER AVEN, CP

Pusat Spiritualitas Pasionis, Bukit Lait

25 Oktober 2026

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:  25  Oktober 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar