Ketapang, 5 Oktober 2026.Umat Lingkungan Santa Lusia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengikuti Misa arwah dua tahun meninggalnya Bapak Paskalis Duli, Senin, 5 Oktober 2026, pukul 18.30 WIB. Perayaan Ekaristi berlangsung di kediaman Bapak Leo Jeno dan Ibu Sutarti Rahayu, BTN Sukaharja Indah 2 Nomor 14A, Ketapang, dengan intensi doa bagi arwah Paskalis Duli sekaligus penguatan iman keluarga dan umat yang hadir.
Misa dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP., sebagai selebran, dengan Diakon Andreas Pisin, CP., sebagai konselebran. Perayaan tersebut dihadiri umat Lingkungan Santa Lusia yang datang untuk mendampingi keluarga dalam doa dan mengenang dua tahun perjalanan iman setelah kepergian Paskalis Duli.
Paskalis Duli merupakan ayah dari Ketua Dewan Pastoral Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Bapak Leo Jeno. Kehadiran umat dalam Misa arwah menjadi bentuk kepedulian komunitas iman terhadap keluarga yang masih menjalani perjalanan duka sekaligus menjadi kesempatan untuk meneguhkan keyakinan akan kasih dan keselamatan Allah.
Perayaan berlangsung dalam suasana hening dan khidmat. Umat mengikuti setiap bagian liturgi dengan penuh perhatian. Doa, nyanyian, pembacaan Sabda Allah, homili, serta rangkaian Ekaristi menjadi satu kesatuan yang mengarahkan umat untuk kembali menyadari makna kehidupan, kematian, kasih kepada Allah, dan tanggung jawab terhadap sesama.
Dalam perayaan tersebut, Bapak Stepanus Kauti bertugas sebagai pengantar. Lagu-lagu liturgi dipimpin oleh Ibu Suharyati, sedangkan Ibu Efriana Pipin menjalankan tugas sebagai pemazmur. Doa makan dibawakan oleh Sr. Stela, OSA.
Kehadiran berbagai unsur pelayanan tersebut memperlihatkan bahwa Misa lingkungan bukan hanya menjadi kegiatan doa bersama, tetapi juga menjadi ruang bagi umat untuk mengambil bagian dalam kehidupan menggereja. Setiap tugas yang dijalankan memiliki fungsi dalam membantu umat menghayati perayaan secara lebih baik.
Mengenang Paskalis Duli dalam Doa
Peringatan dua tahun meninggalnya Paskalis Duli menjadi kesempatan bagi keluarga dan umat untuk mengenang sosok yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup keluarga. Namun, pengenangan tersebut tidak berhenti pada rasa kehilangan.
Dalam iman Katolik, doa bagi orang yang telah meninggal menjadi ungkapan kasih sekaligus penyerahan kepada Allah. Keluarga dan umat membawa kerinduan, kenangan, serta harapan ke dalam perayaan Ekaristi.
Misa arwah juga mengingatkan umat bahwa kehidupan manusia berada dalam penyelenggaraan Allah. Kehidupan di dunia memiliki batas, tetapi iman mengarahkan manusia kepada pengharapan akan kehidupan bersama Allah.
Karena itu, doa bagi Paskalis Duli menjadi bagian dari perjalanan iman keluarga. Umat tidak hanya berkumpul untuk mengenang orang yang telah meninggal, tetapi juga memperbarui kesadaran bahwa setiap manusia dipanggil untuk menjalani kehidupan dengan kasih, pelayanan, dan tanggung jawab.
Suasana doa menjadi semakin mendalam ketika umat diajak mendengarkan Sabda Tuhan dan merenungkan hubungan antara kasih kepada Allah dengan kasih kepada sesama.
Homili Mengarahkan Umat pada Hukum Terutama
Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP., mengajak umat merenungkan ajaran Yesus mengenai hukum terutama. Renungan tersebut mengakar pada Matius 22:37-40 dan Lukas 10:27, yang menempatkan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama sebagai inti kehidupan beriman.
Pesan tersebut dikaitkan dengan kisah Orang Samaria yang Murah Hati. Melalui kisah itu, umat diajak melihat bahwa iman tidak cukup hanya diungkapkan melalui kata-kata. Kasih harus diwujudkan melalui tindakan yang nyata.
Homili juga mengarahkan umat untuk melihat kembali kehidupan masing-masing. Pertanyaan mengenai hidup kekal tidak hanya berkaitan dengan apa yang akan terjadi setelah kematian. Pertanyaan itu juga menyentuh bagaimana manusia menjalani kehidupannya sekarang.
Dalam refleksi tersebut, terdapat lima pokok penting yang menjadi penuntun bagi umat.
Pertama, manusia diajak menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupan. Hubungan dengan Allah menjadi dasar dalam menjalani berbagai keadaan. Keberhasilan, pekerjaan, keluarga, pelayanan, maupun persoalan hidup ditempatkan dalam terang iman.
Kehidupan manusia memiliki berbagai pencapaian. Seseorang dapat memiliki pekerjaan yang baik, kedudukan yang dihargai, keluarga yang membahagiakan, atau hasil usaha yang memuaskan. Namun, semua itu tidak boleh menggantikan posisi Allah sebagai pusat kehidupan.
Iman juga menjadi warisan yang penting bagi keluarga. Nilai-nilai kehidupan Kristiani perlu diteruskan kepada anak-anak dan generasi berikutnya. Karena itu, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kehidupan iman.
Mengasihi Tuhan dengan Segenap Hati
Pokok kedua yang disampaikan dalam homili adalah panggilan untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dapat dengan mudah mengungkapkan rasa syukur ketika memperoleh keberhasilan. Hasil panen yang baik, pekerjaan yang berjalan lancar, kondisi keluarga yang baik, maupun pencapaian tertentu sering menjadi alasan untuk bersyukur.
Namun, kasih kepada Tuhan tidak berhenti ketika keadaan menjadi baik. Iman justru diuji ketika manusia menghadapi kesulitan.
Dalam konteks tersebut, RP. Vitalis Nggeal, CP., mengangkat Ayub sebagai contoh seseorang yang tetap berpegang pada iman. Ayub digambarkan sebagai pribadi yang taat dan tidak memilih dosa sebagai jalan keluar dari penderitaan yang dialaminya.
Pesan tersebut mengajak umat untuk memahami bahwa kasih kepada Tuhan tidak boleh bergantung sepenuhnya pada keadaan. Relasi dengan Allah perlu dibangun dalam suasana suka maupun duka.
Kasih yang demikian merupakan kasih yang tidak memiliki batas. Manusia tetap menempatkan Yesus sebagai pusat meskipun menghadapi perubahan dan tantangan kehidupan.
Refleksi tersebut menjadi semakin bermakna dalam konteks Misa arwah. Kematian seseorang mengingatkan keluarga dan umat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Karena itu, kehidupan perlu dijalani dengan iman yang sungguh-sungguh.
Kasih Dinyatakan Melalui Pelayanan
Pokok ketiga berkaitan dengan mengasihi Tuhan melalui kekuatan yang dimiliki.
Kasih tidak hanya berada dalam pikiran atau perasaan. Kasih perlu diwujudkan dalam tindakan. Salah satu bentuk nyata adalah keterlibatan dalam pelayanan Gereja.
Umat Lingkungan Santa Lusia memiliki berbagai kesempatan untuk mengambil bagian dalam kehidupan menggereja. Pelayanan dapat dilakukan melalui koor, lektor, pemazmur, pendamping kegiatan, maupun berbagai bentuk pelayanan lainnya.
Setiap pelayanan memiliki nilai ketika dilakukan dengan kesadaran bahwa tugas tersebut merupakan bagian dari panggilan iman.
Keterlibatan dalam pelayanan juga memperkuat kehidupan komunitas. Gereja tidak hanya dibangun oleh mereka yang memiliki jabatan tertentu, tetapi oleh seluruh umat yang bersedia memberikan waktu, tenaga, kemampuan, dan perhatian.
Melalui pelayanan, umat belajar bahwa kasih kepada Allah berkaitan erat dengan kasih kepada sesama. Pelayanan yang dilakukan dengan tulus menjadi bentuk nyata dari iman yang hidup.
Menggunakan Akal Budi bagi Pertumbuhan Gereja
Pokok keempat yang ditekankan dalam homili adalah mengasihi Allah dengan akal budi atau pengetahuan.
Manusia dianugerahi kemampuan untuk berpikir, belajar, memahami, mengambil keputusan, dan mengembangkan berbagai kemampuan. Semua karunia tersebut dapat digunakan untuk membangun kehidupan bersama.
Dalam kehidupan Gereja, pengetahuan memiliki peran penting. Umat dipanggil untuk terus bertumbuh dalam pemahaman iman sehingga mampu menjalankan tanggung jawab secara lebih baik.
Pertumbuhan iman tidak berarti berhenti pada kebiasaan mengikuti kegiatan keagamaan. Umat juga perlu memahami makna dari apa yang dilakukan. Dengan demikian, kehidupan menggereja tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi menjadi proses pertumbuhan yang membawa perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
Akal budi juga perlu digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki setiap orang dapat menjadi sarana pelayanan apabila digunakan dengan tujuan yang baik.
Harapannya, kehadiran umat dapat memberikan dampak positif. Kehidupan seseorang tidak hanya berguna bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga, lingkungan, Gereja, dan masyarakat.
Menjadi Orang Samaria yang Berbelas Kasih
Pokok terakhir mengarahkan umat kepada panggilan untuk menjadi sesama yang berbelas kasih.
Kisah Orang Samaria yang Murah Hati memberikan gambaran bahwa kasih tidak mengenal batas kepentingan pribadi. Orang yang membutuhkan pertolongan tidak boleh diabaikan hanya karena berasal dari kelompok atau latar belakang yang berbeda.
Belas kasih menuntut keberanian untuk hadir. Seseorang tidak hanya melihat penderitaan orang lain, tetapi bergerak memberikan pertolongan sesuai kemampuan.
Pesan tersebut memiliki relevansi dalam kehidupan lingkungan. Komunitas umat beriman dipanggil untuk menjadi tempat di mana setiap orang dapat mengalami perhatian, kepedulian, dan dukungan.
Kehadiran umat dalam Misa arwah Paskalis Duli menjadi salah satu bentuk nyata dari kepedulian tersebut. Keluarga tidak menjalani pengalaman kehilangan seorang diri. Komunitas iman hadir melalui doa dan kebersamaan.
Kekuatan sebuah lingkungan tidak hanya terlihat dari banyaknya kegiatan yang dilakukan. Kekuatan itu juga terlihat dari kemampuan umat untuk hadir ketika anggota komunitas mengalami sukacita maupun kedukaan.
Belas kasih menjadi energi yang membuat komunitas tetap hidup. Ketika umat saling memperhatikan, kehidupan lingkungan tidak hanya menjadi struktur organisasi, tetapi menjadi persekutuan yang menghadirkan kepedulian.
Misa Menjadi Ruang Penguatan Keluarga
Bagi keluarga Paskalis Duli, Misa dua tahun tersebut menjadi kesempatan untuk kembali menyerahkan perjalanan kehidupan kepada Tuhan.
Keluarga mengenang dua tahun kepergian Paskalis Duli melalui doa bersama. Kehadiran umat memberikan dukungan moral dan spiritual kepada keluarga.
Bagi keluarga yang kehilangan orang terkasih, waktu tidak selalu menghapus rasa rindu. Namun, iman memberikan cara untuk mengolah kerinduan tersebut menjadi doa.
Dalam doa, kenangan tidak harus menjadi sumber kesedihan semata. Kenangan dapat menjadi alasan untuk bersyukur atas kehidupan seseorang yang pernah hadir dan menjadi bagian dari keluarga.
Perayaan Ekaristi mengarahkan seluruh pengalaman tersebut kepada Allah. Umat menyerahkan Paskalis Duli kepada kemurahan dan kasih Tuhan, sekaligus memohon agar keluarga yang ditinggalkan memperoleh kekuatan.
Dalam konteks itulah, Misa arwah memiliki dimensi pastoral yang kuat. Gereja hadir bukan hanya ketika seseorang masih menjalani kehidupan sehari-hari, tetapi juga mendampingi keluarga dalam pengalaman kehilangan.
Dari Doa Menuju Kehidupan Nyata
Pesan homili tidak berhenti pada perayaan Misa. Umat diajak membawa nilai-nilai yang direnungkan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Menjadikan Yesus sebagai pusat berarti memberi ruang bagi Tuhan dalam setiap keputusan. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati berarti tetap setia dalam berbagai keadaan. Mengasihi dengan kekuatan berarti bersedia melayani. Menggunakan akal budi berarti mengembangkan kemampuan demi kebaikan bersama.
Sementara itu, menjadi Orang Samaria yang Murah Hati berarti membangun kepedulian terhadap sesama.
Kelima hal tersebut saling berkaitan. Iman kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari cara seseorang memperlakukan orang lain.
Karena itu, peringatan dua tahun meninggalnya Paskalis Duli sekaligus menjadi momentum bagi umat Lingkungan Santa Lusia untuk memperbarui kehidupan iman.
Kematian mengingatkan manusia mengenai keterbatasan waktu. Namun, iman memberikan arah agar waktu yang dimiliki digunakan untuk mencintai Allah, melayani Gereja, memperhatikan keluarga, dan membantu sesama.
Kebersamaan Umat Memperkuat Kehidupan Lingkungan
Kehadiran umat Lingkungan Santa Lusia dalam Misa tersebut menunjukkan bahwa kehidupan iman tumbuh melalui kebersamaan.
Lingkungan menjadi ruang yang dekat dengan kehidupan umat. Di tempat inilah umat saling mengenal, berdoa, melayani, dan memberikan perhatian dalam berbagai situasi.
Kegiatan doa bersama bagi keluarga yang berduka juga memperlihatkan bahwa pelayanan Gereja tidak selalu berbentuk kegiatan besar. Perhatian sederhana, kehadiran dalam doa, dan kesediaan menemani keluarga dapat memiliki arti yang mendalam.
Bagi umat, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bahwa kasih Kristiani perlu diwujudkan secara konkret.
Misa yang berlangsung di kediaman Bapak Leo Jeno dan Ibu Sutarti Rahayu juga memberikan suasana yang lebih dekat dan kekeluargaan. Rumah menjadi tempat umat berkumpul sebagai komunitas iman.
Doa bersama menghadirkan suasana yang memungkinkan keluarga dan umat saling menguatkan. Perayaan Ekaristi menjadi pusat perjumpaan tersebut.
Harapan bagi Arwah dan Keluarga
Di penghujung perayaan, seluruh rangkaian doa diarahkan kepada harapan akan kemurahan Allah bagi Paskalis Duli yang telah meninggal dua tahun sebelumnya.
Harapan agar Paskalis Duli memperoleh kemuliaan Allah menjadi bagian penting dari intensi Misa. Doa tersebut sekaligus mengingatkan umat mengenai tujuan akhir kehidupan manusia dalam iman Kristiani.
Bagi umat yang masih menjalani kehidupan di dunia, pengenangan tersebut menjadi ajakan untuk hidup secara lebih bertanggung jawab.
Kehidupan tidak hanya diukur dari apa yang dimiliki. Nilai kehidupan juga tampak melalui kasih yang diberikan, pelayanan yang dilakukan, dan kebaikan yang ditinggalkan bagi orang lain.
Karena itu, Misa arwah dua tahun Paskalis Duli tidak hanya menjadi peristiwa mengenang seseorang yang telah meninggal. Perayaan tersebut menjadi kesempatan bagi keluarga dan umat untuk melihat kembali perjalanan iman masing-masing.
Pesan mengenai kasih kepada Allah dan sesama menjadi inti refleksi. Kasih tersebut harus menghidupkan, bukan hanya diri sendiri, tetapi juga keluarga, lingkungan, Gereja, dan masyarakat.
Melalui kebersamaan dalam doa, umat Lingkungan Santa Lusia kembali diteguhkan bahwa iman memiliki kekuatan ketika diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Peringatan dua tahun meninggalnya Paskalis Duli akhirnya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran bahwa setiap manusia dipanggil mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi, serta menghadirkan belas kasih kepada sesama.
Dalam terang iman itu pula, keluarga dan umat menyerahkan Paskalis Duli kepada kasih Allah. Sementara mereka yang masih menjalani peziarahan di dunia diajak melanjutkan kehidupan dengan iman, pelayanan, dan kepedulian.
Dengan demikian, doa bagi arwah tidak hanya berbicara mengenai mereka yang telah meninggal. Doa tersebut juga berbicara tentang bagaimana mereka yang masih hidup mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan dengan kasih dan pada akhirnya kembali kepada Allah.
Perayaan di Lingkungan Santa Lusia menjadi pengingat bahwa Gereja hadir dalam seluruh perjalanan manusia dalam kelahiran, pertumbuhan, pelayanan, keluarga, penderitaan, hingga kematian. Di setiap tahap tersebut, iman mengarahkan umat untuk tetap menjadikan Yesus sebagai pusat dan menghadirkan kasih melalui kehidupan yang nyata.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 5 Oktober 2026

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar