Uskup Ketapang dan Para Imam Observasi Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Apresiasi Fasilitas Inklusif dan Beri Masukan Keselamatan

 


Ketapang, 21 Oktober 2026.Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, bersama para imam melakukan kunjungan dan observasi di Gereja dan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, sebagai bagian dari rangkaian retret para imam yang berlangsung pada 19–23 Oktober 2026 di Catholic Center. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi fasilitas gereja, lingkungan paroki, dan pelayanan kepada umat. Dalam kunjungan tersebut, para imam mengapresiasi sejumlah fasilitas yang mendukung kenyamanan serta aksesibilitas umat, sekaligus memberikan masukan mengenai keselamatan, ketertiban, dan pengelolaan lingkungan gereja.

Kunjungan tersebut dihadiri pula oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Ketapang, RD. Lorensius Sutadi. Rombongan disambut oleh Pastor Kepala Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Pastor Vitalis Nggeal, CP, bersama Diakon Andreas Pisin, CP, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP), Bapak Jeno Leo, serta jajaran pengurus paroki.

Selain melakukan peninjauan, para imam berdiskusi secara santai di teras paroki. Percakapan tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan pandangan, mengevaluasi fasilitas yang tersedia, serta membahas beberapa hal yang dapat ditingkatkan demi mendukung keselamatan dan pelayanan pastoral bagi umat.

Kunjungan sebagai Bagian dari Retret Imam

Retret para imam Keuskupan Ketapang yang berlangsung di Catholic Center pada 19–23 Oktober 2026 menjadi kesempatan bagi para imam untuk memperdalam kehidupan rohani, membangun persaudaraan, dan merefleksikan pelaksanaan tugas pelayanan mereka. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, kunjungan dan observasi ke Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menjadi salah satu kesempatan untuk melihat secara langsung kehidupan pastoral di lingkungan paroki.

Observasi ini mempertemukan refleksi para imam dengan kenyataan pelayanan sehari-hari. Gereja bukan hanya tempat umat merayakan Ekaristi dan mengikuti kegiatan rohani, melainkan juga ruang bersama yang perlu dijaga agar aman, tertib, nyaman, dan dapat diakses oleh berbagai kelompok umat.

Dalam konteks tersebut, perhatian terhadap kondisi bangunan, fasilitas pendukung, serta area di sekitar gereja menjadi bagian penting dari tanggung jawab pastoral. Fasilitas yang baik perlu dipelihara, sementara bagian lingkungan yang berpotensi menimbulkan bahaya perlu mendapatkan perhatian dan penanganan.

Kehadiran Mgr. Pius Riana Prapdi bersama para imam memberikan kesempatan bagi pengurus Paroki Santo Agustinus Paya Kumang untuk menerima masukan dari sudut pandang yang lebih luas. Pengamatan terhadap fasilitas dan lingkungan paroki tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik bangunan, tetapi juga dengan bagaimana ruang gereja digunakan oleh umat, terutama anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.

Dalam kunjungan tersebut, perhatian terhadap keselamatan menjadi salah satu pokok penting. Beberapa bagian lingkungan gereja dinilai perlu diperiksa kembali dan ditata agar penggunaannya tidak menimbulkan risiko bagi umat maupun pengunjung.

Masukan yang disampaikan diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pengurus paroki dalam menentukan langkah perbaikan dan pemeliharaan fasilitas. Dengan demikian, kunjungan ini tidak berhenti sebagai kegiatan peninjauan, tetapi dapat mendukung peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan gereja.

Diskusi Santai di Teras Paroki

Setelah melakukan pengamatan terhadap lingkungan gereja dan paroki, para imam mengikuti diskusi santai di teras paroki. Suasana yang tidak formal memberikan kesempatan bagi rombongan dan pihak tuan rumah untuk membicarakan kondisi fasilitas secara terbuka.

Dalam percakapan tersebut, berbagai masukan disampaikan berdasarkan pengamatan terhadap area gereja dan lingkungan sekitarnya. Pokok pembicaraan mencakup pemeliharaan perlengkapan di dalam gereja, perlindungan terhadap anak-anak, keamanan saluran air, serta pengaturan kunjungan ke Taman Doa Bunda Maria Pembawa Rahmat pada malam hari.

Diskusi ini memperlihatkan bahwa perhatian terhadap kehidupan paroki mencakup banyak aspek. Selain memastikan perayaan liturgi dan kegiatan pastoral berjalan dengan baik, pengurus gereja juga perlu memperhatikan keamanan lingkungan, kelayakan fasilitas, dan kenyamanan setiap orang yang datang untuk berdoa atau mengikuti kegiatan gerejawi.

Masukan para imam menjadi bahan evaluasi bagi pihak paroki. Setiap saran perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan kondisi di lapangan, penentuan prioritas, serta penyesuaian dengan kebutuhan dan kemampuan pengelolaan paroki.

Percakapan yang berlangsung di teras paroki juga memperlihatkan pentingnya komunikasi antara pimpinan keuskupan, para imam, dan pengurus pastoral paroki. Melalui komunikasi semacam ini, persoalan yang ditemukan selama observasi dapat dibicarakan bersama untuk mencari langkah penanganan yang sesuai.

Tidak semua masukan harus dipahami sebagai kekurangan mendasar. Sebagian merupakan upaya pencegahan agar fasilitas yang sudah tersedia tetap berfungsi dengan baik dan tidak menimbulkan risiko di kemudian hari.

Perhatian terhadap Keselamatan di Dalam Gereja

Salah satu masukan yang disampaikan dalam observasi berkaitan dengan penutup kipas di dalam gereja. Para imam menyarankan agar penutup kipas dipasang kembali karena terdapat potensi bahaya apabila bagian tersebut terlepas.

Perlengkapan yang digunakan untuk mendukung kenyamanan umat selama perayaan liturgi perlu diperiksa secara berkala. Pemeriksaan tidak hanya mencakup fungsi kipas, tetapi juga kondisi penutup, pengikat, dan bagian lain yang berpotensi membahayakan apabila tidak terpasang dengan baik.

Penutup kipas yang tidak terpasang secara aman dapat menimbulkan risiko bagi umat yang sedang mengikuti perayaan Ekaristi atau kegiatan lainnya. Karena itu, saran untuk memasangnya kembali perlu diikuti dengan pemeriksaan menyeluruh guna memastikan perlengkapan tersebut benar-benar aman digunakan.

Pemeliharaan fasilitas di dalam gereja merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan ibadat yang nyaman. Umat yang hadir untuk berdoa dan mengikuti perayaan liturgi diharapkan dapat memusatkan perhatian pada kegiatan rohani tanpa terganggu oleh kondisi fasilitas yang berpotensi membahayakan.

Masukan tersebut juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan rutin terhadap perlengkapan gereja. Peralatan yang digunakan setiap hari dapat mengalami kerusakan, kendur, atau perubahan kondisi akibat pemakaian dan faktor usia. Pemeriksaan berkala membantu pengurus mengetahui persoalan sejak dini sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Bagi pengelola paroki, perhatian terhadap hal-hal teknis seperti ini merupakan bagian dari tanggung jawab menjaga rumah ibadat. Perawatan yang terencana dapat mendukung keberlangsungan pelayanan sekaligus mengurangi risiko kecelakaan.

Pagar Kolam Ikan untuk Melindungi Anak-anak

Perhatian berikutnya tertuju pada kolam ikan yang berada di depan gereja. Para imam menyarankan agar area kolam dilengkapi pagar sehingga lebih aman, khususnya bagi anak-anak yang berada di lingkungan gereja.

Kolam ikan dapat menjadi bagian dari penataan lingkungan yang memperindah kawasan paroki. Namun, keberadaan kolam di area yang dapat dijangkau anak-anak juga memerlukan pengamanan yang memadai. Anak-anak yang datang bersama keluarga, mengikuti kegiatan pembinaan iman, atau bermain di sekitar gereja perlu berada dalam lingkungan yang aman.

Pemasangan pagar di sekitar kolam menjadi salah satu langkah pencegahan yang dapat dipertimbangkan. Bentuk dan penempatannya perlu disesuaikan dengan kondisi kolam, jalur pejalan kaki, serta kebutuhan pengguna lingkungan gereja. Pagar hendaknya mampu membatasi akses berisiko tanpa mengganggu fungsi dan keindahan kawasan.

Masukan tersebut menunjukkan pentingnya mempertimbangkan kebutuhan anak-anak dalam pengelolaan fasilitas paroki. Lingkungan gereja kerap menjadi tempat berkumpulnya umat dari berbagai kelompok usia. Oleh sebab itu, penataan ruang perlu memperhitungkan kemungkinan aktivitas anak-anak, bukan hanya kebutuhan orang dewasa.

Keselamatan anak merupakan tanggung jawab bersama. Pengurus paroki dapat mengupayakan sarana pengaman, sementara orang tua dan pendamping tetap perlu mengawasi anak-anak selama berada di lingkungan gereja.

Pencegahan melalui penataan fasilitas lebih baik dilakukan sebelum terjadi kecelakaan. Karena itu, saran mengenai pagar kolam dapat menjadi salah satu prioritas evaluasi yang perlu diperiksa lebih lanjut oleh pengurus paroki.

Usulan Pengamanan Selokan di Dekat Pagar Depan

Selain kolam ikan, para imam juga memberikan masukan mengenai selokan yang berada di dekat pagar depan gereja. Mereka menyarankan pemasangan besi penutup pada bagian tersebut untuk meningkatkan keamanan bagi orang yang melintas.

Saluran air merupakan bagian penting dari sistem pengelolaan lingkungan. Keberadaannya membantu mengalirkan air dan mencegah genangan. Namun, apabila terdapat bagian saluran yang terbuka atau kurang terlindungi, area itu dapat menimbulkan risiko bagi pejalan kaki, terutama ketika kondisi pencahayaan terbatas atau perhatian pengguna jalan teralihkan.

Pemasangan besi penutup dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi risiko tersebut. Sebelum pelaksanaan, pihak paroki perlu memastikan ukuran, kekuatan, dan posisi penutup sesuai dengan kondisi saluran. Penutup juga perlu dipasang secara kokoh agar tidak mudah bergeser ketika diinjak atau dilalui.

Pengamanan selokan tidak hanya bermanfaat bagi umat yang datang untuk beribadat. Langkah tersebut juga dapat mendukung keselamatan para petugas gereja, pengurus lingkungan, anak-anak, lansia, serta pengunjung lain yang menggunakan jalur di sekitar pagar depan.

Penataan jalur masuk merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan gereja yang mudah digunakan oleh semua orang. Jalur yang aman, tidak licin, dan bebas dari hambatan membantu umat memasuki kawasan gereja dengan lebih nyaman.

Masukan ini dapat menjadi dasar bagi pengurus untuk melakukan pemeriksaan terhadap kondisi saluran air dan jalur pejalan kaki lainnya. Dengan evaluasi yang menyeluruh, perbaikan tidak hanya dilakukan pada satu titik, tetapi juga dapat diarahkan pada bagian lain yang memiliki potensi bahaya serupa.

Pengaturan Kunjungan Malam ke Taman Doa

Para imam juga menyampaikan masukan mengenai pengaturan jam kunjungan ke Taman Doa Bunda Maria Pembawa Rahmat, khususnya pada malam hari. Mereka mengusulkan agar kunjungan malam dibatasi demi mendukung keamanan dan ketertiban lingkungan paroki.

Taman doa merupakan salah satu ruang yang mendukung kehidupan rohani umat. Tempat tersebut dapat digunakan untuk berdoa, bermeditasi, dan membangun keheningan di hadapan Tuhan. Keberadaan taman doa memberikan kesempatan kepada umat untuk mengungkapkan iman melalui doa pribadi maupun kegiatan rohani bersama.

Meskipun demikian, pengelolaan taman doa tetap memerlukan aturan yang jelas. Pengaturan waktu kunjungan dapat membantu pengurus menjaga keamanan kawasan, memperhatikan pencahayaan, dan memastikan lingkungan tetap tertib pada waktu malam.

Usulan pembatasan jam kunjungan bukan berarti mengurangi kesempatan umat untuk berdoa. Sebaliknya, pengaturan tersebut dapat menjadi upaya menyeimbangkan kebutuhan rohani dengan tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban bersama.

Pihak paroki dapat mempertimbangkan penyampaian informasi mengenai jam kunjungan melalui papan pengumuman atau saluran komunikasi resmi. Apabila diperlukan, pengurus juga dapat mengevaluasi pencahayaan, akses masuk, serta mekanisme pengawasan di sekitar taman doa.

Kebijakan yang ditetapkan hendaknya disampaikan secara jelas agar umat dan pengunjung memahami waktu penggunaan fasilitas. Dengan demikian, Taman Doa Bunda Maria Pembawa Rahmat dapat terus dimanfaatkan sebagai ruang doa dengan pengelolaan yang teratur.

Masukan tersebut menjadi bagian dari perhatian yang lebih luas terhadap penggunaan fasilitas rohani. Tempat doa yang terawat dan dikelola dengan baik dapat memberikan ketenangan bagi umat sekaligus mendukung keselamatan semua pengunjung.

Apresiasi terhadap Fasilitas Ramah Disabilitas

Di samping memberikan masukan untuk peningkatan keamanan, para imam mengapresiasi fasilitas yang telah tersedia di Gereja dan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Beberapa fasilitas yang mendapat perhatian ialah ruang pertolongan pertama atau UKS, tangga bagi lansia, serta jalur menurun yang dapat digunakan oleh pengguna kursi roda.

Keberadaan ruang pertolongan pertama menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan umat apabila mengalami gangguan kesehatan atau membutuhkan bantuan awal ketika berada di lingkungan gereja. Fasilitas tersebut dapat mendukung penanganan awal sebelum bantuan medis lanjutan diperlukan, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang terjadi.

Sementara itu, tangga yang diperuntukkan bagi lansia menjadi salah satu fasilitas yang membantu umat lanjut usia mengakses area gereja. Pada saat yang sama, jalur menurun atau ramp memberikan alternatif akses bagi pengguna kursi roda dan orang yang mengalami kesulitan menggunakan tangga.

Fasilitas aksesibilitas memiliki arti penting dalam kehidupan menggereja. Setiap umat mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam perayaan liturgi, menerima pelayanan pastoral, dan mengikuti kegiatan paroki. Kondisi fisik seseorang tidak seharusnya menjadi penghalang yang tidak perlu bagi keterlibatan dalam kehidupan komunitas.

Gereja yang memperhatikan aksesibilitas menunjukkan kepedulian terhadap kebutuhan umat yang beragam. Lansia, penyandang disabilitas, orang yang sedang mengalami keterbatasan gerak, serta umat yang membutuhkan bantuan khusus perlu memperoleh perhatian dalam perencanaan fasilitas dan pelayanan.

Keberadaan jalur kursi roda, misalnya, akan semakin bermanfaat apabila permukaannya aman, kemiringannya sesuai, dan jalurnya tidak terhalang benda. Demikian pula tangga bagi lansia perlu memiliki kondisi yang terawat agar dapat digunakan dengan nyaman. Evaluasi berkala membantu memastikan bahwa fasilitas yang sudah tersedia tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Apresiasi terhadap fasilitas tersebut menjadi dorongan bagi paroki untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan. Pembangunan lingkungan yang inklusif tidak berhenti pada penyediaan sarana fisik, tetapi juga mencakup sikap saling menghormati, kesediaan membantu, dan perhatian terhadap kebutuhan orang lain.

Dengan fasilitas yang semakin memadai, umat diharapkan dapat mengikuti kegiatan gerejawi dengan lebih leluasa. Lingkungan yang ramah juga membantu keluarga merasa lebih tenang ketika membawa anak-anak, mendampingi orang tua, atau mengantar anggota keluarga yang menggunakan kursi roda.

Pelayanan Pastoral Menjadi Perhatian

Selain fasilitas fisik, para imam memberikan apresiasi terhadap pelayanan Gereja dan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang kepada umat. Pelayanan paroki menjadi unsur penting dalam kehidupan Gereja karena melalui kegiatan pastoral, umat memperoleh pendampingan untuk bertumbuh dalam iman dan terlibat dalam kehidupan komunitas.

Pelayanan tersebut tidak hanya berlangsung ketika perayaan Ekaristi, tetapi juga melalui berbagai kegiatan yang mendukung kehidupan rohani dan kebersamaan umat. Dalam pelaksanaannya, keterlibatan pastor, diakon, Dewan Pastoral Paroki, pengurus lingkungan, serta para pelayan umat menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan menggereja.

Apresiasi terhadap pelayanan paroki menunjukkan bahwa perhatian terhadap mutu pelayanan perlu berjalan bersama dengan pemeliharaan fasilitas. Gereja yang memiliki sarana memadai membutuhkan pelayanan yang baik, sedangkan pelayanan pastoral akan semakin terbantu apabila umat dapat menggunakan lingkungan gereja dengan aman dan nyaman.

Keduanya saling melengkapi. Fasilitas membantu kegiatan pastoral berlangsung dengan baik, sementara pelayanan yang terarah memastikan fasilitas tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan umat.

Dalam konteks ini, masukan para imam dapat dipandang sebagai kesempatan untuk mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan baik sekaligus memperbaiki bagian yang masih membutuhkan perhatian. Evaluasi bukan semata-mata mencari kekurangan, melainkan juga mengenali kekuatan yang dapat dikembangkan.

Paroki dapat menjadikan hasil pengamatan sebagai bahan pembahasan dalam koordinasi bersama pengurus. Setiap persoalan dapat ditelaah berdasarkan tingkat urgensi, kemungkinan risiko, kebutuhan umat, dan ketersediaan sumber daya.

Langkah tersebut memungkinkan perbaikan dilakukan secara bertahap dan terukur. Fasilitas yang berpotensi membahayakan keselamatan perlu mendapat perhatian segera, sedangkan kebutuhan pengembangan lain dapat direncanakan sesuai prioritas.

Tanggung Jawab Bersama Menjaga Rumah Ibadat

Kunjungan dan observasi di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang memperlihatkan bahwa pemeliharaan lingkungan gereja merupakan bagian dari tanggung jawab pastoral. Rumah ibadat bukan hanya bangunan untuk kegiatan keagamaan, melainkan ruang bersama yang digunakan oleh umat dengan kebutuhan dan kondisi yang berbeda-beda.

Karena itu, keamanan lingkungan perlu menjadi perhatian seluruh unsur paroki. Pastor kepala, Dewan Pastoral Paroki, pengurus lingkungan, petugas gereja, dan umat dapat mengambil bagian sesuai tugas masing-masing.

Pengurus paroki dapat menyusun daftar fasilitas yang perlu diperiksa, menentukan tingkat prioritas, serta merencanakan perbaikan berdasarkan hasil evaluasi. Pemeriksaan berkala terhadap perlengkapan gereja, jalur masuk, kolam ikan, selokan, dan taman doa dapat membantu mengidentifikasi potensi risiko sejak dini.

Sementara itu, umat juga dapat mendukung upaya pemeliharaan dengan menggunakan fasilitas secara bertanggung jawab, menjaga kebersihan, mematuhi aturan kunjungan, serta melaporkan kondisi yang berpotensi membahayakan.

Perhatian terhadap keselamatan juga perlu menjadi bagian dari perencanaan kegiatan paroki. Ketika kegiatan melibatkan banyak anak-anak, misalnya, pengurus dapat memastikan area kegiatan aman dan pendampingan berjalan dengan baik. Demikian pula ketika umat lansia dan penyandang disabilitas hadir, akses menuju gereja perlu diperhatikan agar mereka dapat mengikuti kegiatan tanpa hambatan yang tidak perlu.

Upaya tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama. Lingkungan gereja yang aman dan inklusif membantu umat merasa diterima serta mendukung keterlibatan mereka dalam kehidupan komunitas.

Dalam kehidupan Gereja, pelayanan tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata dan kegiatan liturgi. Kepedulian terhadap keselamatan, kenyamanan, dan kebutuhan umat juga menjadi wujud nyata perhatian terhadap martabat setiap orang.

Tindak Lanjut atas Hasil Observasi

Masukan yang disampaikan selama kunjungan memberikan sejumlah hal yang dapat ditindaklanjuti oleh pengurus Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Beberapa di antaranya berkaitan langsung dengan pencegahan risiko, yakni pemasangan kembali penutup kipas di dalam gereja, pengamanan kolam ikan, pemasangan besi penutup selokan, dan evaluasi jam kunjungan ke Taman Doa Bunda Maria Pembawa Rahmat pada malam hari.

Tindak lanjut tersebut perlu diawali dengan pemeriksaan kondisi aktual setiap fasilitas. Pengurus dapat menentukan bagian yang memerlukan penanganan segera, kemudian menyusun rencana pengerjaan sesuai kebutuhan teknis dan sumber daya yang tersedia.

Untuk penutup kipas, pemeriksaan perlu memastikan pemasangan aman dan tidak menyisakan bagian yang berisiko terlepas. Pada kolam ikan, pengurus dapat menilai bentuk pengaman yang sesuai dengan kondisi area dan kebutuhan perlindungan anak-anak. Adapun pemasangan penutup selokan perlu memperhatikan kekuatan material, kestabilan, dan keamanan jalur pejalan kaki.

Pengaturan jam kunjungan taman doa dapat dibahas bersama dengan mempertimbangkan kebutuhan umat, kondisi lingkungan, serta kemampuan pengawasan. Informasi mengenai ketentuan yang nantinya ditetapkan perlu disampaikan secara terbuka agar dapat dipahami dan dilaksanakan oleh pengunjung.

Selain itu, fasilitas yang sudah mendapat apresiasi, seperti ruang pertolongan pertama, tangga bagi lansia, dan jalur kursi roda, perlu terus dirawat. Pengurus dapat memastikan fasilitas tersebut mudah ditemukan, tidak terhalang, dan dapat digunakan sesuai fungsinya.

Hingga informasi yang tersedia mengenai kunjungan ini, belum disebutkan jadwal pelaksanaan maupun penanggung jawab khusus untuk setiap perbaikan. Oleh karena itu, usulan-usulan tersebut perlu dipahami sebagai masukan observasi yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pihak paroki dalam menentukan langkah selanjutnya.

Keberhasilan tindak lanjut tidak hanya diukur dari tersedianya sarana baru. Pemeliharaan rutin, kepatuhan terhadap aturan, dan keterlibatan umat juga menentukan keberlanjutan lingkungan gereja yang aman dan nyaman.

Memperkuat Sinergi dalam Pelayanan Gereja

Kunjungan Mgr. Pius Riana Prapdi bersama para imam, termasuk RD. Lorensius Sutadi, ke Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menjadi kesempatan untuk memperkuat komunikasi antara pimpinan keuskupan dan komunitas paroki. Kehadiran mereka membuka ruang bagi pertukaran pandangan mengenai pelayanan umat serta pengelolaan fasilitas gereja.

Penyambutan oleh Pastor Vitalis Nggeal, CP, Diakon Andreas Pisin, CP, Ketua DPP Jeno Leo, dan jajaran pengurus paroki memperlihatkan keterlibatan berbagai unsur dalam mendukung kehidupan pastoral setempat.

Melalui observasi dan diskusi, pihak paroki memperoleh masukan yang dapat digunakan untuk menilai kembali kondisi lingkungan serta menentukan kebutuhan perbaikan. Pada saat yang sama, apresiasi terhadap fasilitas inklusif dan pelayanan umat menjadi pengakuan atas upaya yang telah dilakukan.

Sinergi tersebut penting karena pengelolaan paroki memerlukan kerja sama berkelanjutan. Pastor dan diakon menjalankan pelayanan sesuai tugasnya, Dewan Pastoral Paroki membantu koordinasi kehidupan pastoral, sedangkan umat mengambil bagian melalui keterlibatan dalam kegiatan serta pemeliharaan lingkungan bersama.

Kunjungan ini juga mengingatkan bahwa evaluasi merupakan bagian dari proses pengembangan pelayanan. Kondisi yang telah baik perlu dipertahankan, sementara potensi bahaya perlu ditangani sebelum menimbulkan akibat yang tidak diinginkan.

Dengan komunikasi yang terbuka dan tindak lanjut yang terencana, masukan dari observasi dapat membantu paroki membangun lingkungan yang semakin tertib, aman, dan ramah bagi semua umat.

Penutup

Kunjungan dan observasi Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, bersama para imam di Gereja dan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menjadi bagian dari rangkaian retret imam Keuskupan Ketapang yang berlangsung pada 19–23 Oktober 2026 di Catholic Center.

Dalam kegiatan tersebut, para imam mengapresiasi fasilitas pendukung pelayanan, terutama ruang pertolongan pertama, tangga bagi lansia, dan jalur akses bagi pengguna kursi roda. Mereka juga memberikan masukan mengenai keselamatan perlengkapan di dalam gereja, pengamanan kolam ikan, penutup selokan, serta pengaturan kunjungan malam ke Taman Doa Bunda Maria Pembawa Rahmat.

Diskusi santai di teras paroki menjadi ruang untuk membicarakan berbagai hal tersebut secara terbuka. Masukan yang disampaikan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengurus paroki untuk menentukan prioritas perbaikan dan pemeliharaan.

Pada akhirnya, perhatian terhadap fasilitas dan pelayanan merupakan bagian dari upaya menghadirkan Gereja yang semakin peduli terhadap kebutuhan umat. Lingkungan yang aman, tertib, inklusif, dan terawat membantu setiap orang mengambil bagian dalam kehidupan menggereja dengan lebih nyaman.

Kunjungan ini diharapkan menjadi dorongan bagi pengurus dan umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang untuk terus menjaga fasilitas yang sudah tersedia, menindaklanjuti masukan yang relevan, dan membangun semangat tanggung jawab bersama dalam pelayanan pastoral.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:  21  Oktober 2026


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar