*Ketapang, 25 September 2024* – Nama Pater Jacobus Cornelius Stoop, CP, atau yang dikenal sebagai Pater Yerun, adalah sosok yang tak akan pernah terlupakan dalam sejarah perkembangan Keuskupan Ketapang dan masyarakat Dayak. Kehidupannya, yang penuh dedikasi dalam pelayanan rohani serta komitmennya untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat pedalaman, telah membawa perubahan besar di wilayah Kalimantan Barat, terutama di Ketapang.
**Awal Kehidupan dan Panggilan Imamat**
Pater Yerun dilahirkan di Negeri Kincir Angin, Belanda, pada tahun 1925. Kehidupan awalnya di Belanda menjadi pondasi kuat dalam membentuk karakter pribadinya sebagai seorang imam. Sejak muda, ia telah merasakan panggilan untuk mengabdikan hidupnya kepada Tuhan dan gereja. Setelah menyelesaikan pendidikan di seminari, Pater Yerun ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1952. Keputusannya untuk menjadi imam mencerminkan keinginannya yang mendalam untuk melayani sesama dan membawa cahaya iman Katolik ke berbagai penjuru dunia.
Sebagai anggota Kongregasi Passionis (CP), Pater Yerun memiliki semangat yang luar biasa dalam menjalani misi yang penuh tantangan. Kongregasi Passionis sendiri didirikan dengan tujuan menyebarkan devosi terhadap penderitaan Kristus, dan anggotanya dikenal memiliki komitmen kuat untuk melayani kaum miskin, tertindas, serta mereka yang belum menerima pelayanan rohani.
**Diutus ke Indonesia: Tiba di Ketapang pada 1953**
Pada tahun 1953, hanya setahun setelah ditahbiskan, Pater Yerun diutus sebagai misionaris ke Indonesia, tepatnya di Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat. Pada saat itu, Ketapang merupakan wilayah yang masih sangat tertinggal dalam banyak aspek, terutama dalam hal pendidikan dan pelayanan rohani. Sebagian besar masyarakat Dayak yang tinggal di daerah pedalaman belum menerima pendidikan formal, dan banyak di antara mereka yang masih buta huruf.
Misi Pater Yerun bukanlah perjalanan yang mudah. Wilayah Ketapang yang luas dengan infrastruktur yang terbatas, sulitnya akses menuju perkampungan pedalaman, serta tantangan dalam bahasa dan budaya lokal menjadi rintangan besar yang harus dihadapi. Namun, tekad Pater Yerun untuk membawa perubahan bagi masyarakat setempat tak pernah surut. Ia menyadari bahwa misinya sebagai imam tak hanya terbatas pada pelayanan rohani, tetapi juga pada upaya untuk memberdayakan masyarakat melalui pendidikan dan pembangunan sosial.
**Pelayanan di Tengah Masyarakat Dayak**
Saat tiba di Ketapang, Pater Yerun segera menyadari betapa besarnya kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Meskipun tujuannya semula adalah menyebarkan ajaran Katolik, ia melihat bahwa pendidikan merupakan kunci penting untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Banyak perkampungan Dayak yang saat itu masih tertinggal dari segi pendidikan, dan sebagian besar masyarakat pedalaman masih hidup dalam kemiskinan.
Sebagai seorang imam, Pater Yerun tidak hanya memperkenalkan ajaran Katolik, tetapi juga memberikan perhatian besar terhadap kesejahteraan masyarakat. Dia mulai merintis berbagai program yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Ia percaya bahwa dengan meningkatkan kualitas pendidikan, masyarakat Dayak dapat keluar dari lingkaran kemiskinan dan kebodohan.
Melalui pendekatan pastoralnya, Pater Yerun berhasil menjalin hubungan yang kuat dengan masyarakat Dayak. Ia belajar bahasa lokal dan beradaptasi dengan budaya setempat, sehingga dapat lebih mudah diterima oleh masyarakat. Kepribadian yang rendah hati, kesederhanaan, dan dedikasi totalnya dalam melayani membuatnya sangat dihormati dan dicintai oleh masyarakat Ketapang.
**Pendiri Panitia Bea Siswa (PBS): Komitmen Terhadap Pendidikan**
Salah satu kontribusi terbesar Pater Yerun dalam pelayanan masyarakat Ketapang adalah pendirian Panitia Bea Siswa (PBS) pada tahun 1976. PBS didirikan dengan tujuan memberikan beasiswa kepada anak-anak dari perkampungan pedalaman agar dapat melanjutkan pendidikan mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Banyak anak-anak Dayak yang berkat bantuan PBS berhasil menamatkan pendidikan hingga jenjang SMA dan perguruan tinggi. Hingga saat ini, PBS telah meluluskan hampir 700 alumni yang telah berkiprah di berbagai bidang, baik di pemerintahan, pendidikan, maupun sektor swasta.
PBS tidak hanya memberikan beasiswa, tetapi juga mendampingi para siswa agar mereka bisa meraih kesuksesan dalam pendidikan. Pater Yerun secara pribadi terlibat dalam proses pendampingan ini, memastikan bahwa setiap anak yang mendapat bantuan beasiswa benar-benar memperoleh manfaat maksimal dari pendidikan mereka. Banyak dari alumni PBS yang kini menjabat posisi penting di Kabupaten Ketapang, menjadi bukti nyata dari dampak besar yang dihasilkan oleh program ini.
Foto RP. Jacobus Cornelius Stoop, CP
**Pengaruh yang Luas dan Warisan yang Abadi**
Keberadaan Pater Yerun di Ketapang tidak hanya mempengaruhi kehidupan umat Katolik, tetapi juga seluruh masyarakat di wilayah tersebut. Dalam segala keterbatasan, Pater Yerun tidak pernah menyerah dalam menjalankan misinya. Ia terus berjuang untuk membawa perubahan, baik dalam hal rohani maupun sosial, demi kesejahteraan masyarakat yang dilayaninya.
Pater Yerun tidak hanya berperan sebagai pemimpin rohani, tetapi juga sebagai seorang pendidik, inspirator, dan pelopor perubahan sosial. Dedikasinya dalam mengembangkan sumber daya manusia melalui pendidikan, serta komitmennya untuk melayani masyarakat tanpa memandang latar belakang suku atau agama, membuatnya dikenang sebagai tokoh yang berjasa besar di Ketapang.
Meskipun Pater Yerun telah meninggal dunia pada 23 Desember 2017, karya-karyanya terus dikenang dan memberikan manfaat hingga saat ini. Banyak dari program yang ia rintis, termasuk PBS, masih berjalan dan terus memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan di Ketapang. Warisan Pater Yerun dalam membangun sumber daya manusia dan memperbaiki kehidupan masyarakat akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Keuskupan Ketapang.
Sebagai seorang misionaris yang datang dari negeri yang jauh, Pater Yerun telah meninggalkan jejak yang mendalam di tanah Kalimantan. Dedikasi, cinta kasih, dan pengabdiannya akan selalu hidup dalam hati masyarakat yang ia layani. Ketapang berhutang besar kepada sosok Pater Yerun, seorang misionaris yang telah membawa terang harapan bagi generasi muda di pedalaman Kalimantan.
**Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang**
**Tanggal: 25 September 2024**







0 comments:
Posting Komentar