** Tiga Tokoh Dayak Tumbang Titi dalam Catatan Pater Bernardinus: Penggerak Perubahan dalam Kehidupan Gereja dan Masyarakat**

 

        Foto Buku Catatan Harian  Pater Bernardinus. Yang di Tulis Pak.Amon Stefanus

**Ketapang, 25 September 2024 — Tiga Tokoh Dayak Tumbang Titi dalam Catatan Pater Bernardinus: Penggerak Perubahan dalam Kehidupan Gereja dan Masyarakat**

Dalam sejarah panjang perkembangan gereja dan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat, ada tiga tokoh besar yang memainkan peran signifikan. Mereka adalah Pasificus Bantang, JXP Rehal, dan PJ Denggol. Ketiganya sering disebut dalam Catatan Harian Pater Bernardinus yang mencatat perjalanan misi antara tahun 1946 hingga 1978. Catatan ini tidak hanya menggambarkan kehidupan menggereja, tetapi juga peran para tokoh tersebut dalam urusan pemerintahan dan masyarakat luas.

 **1. Pasificus Bantang: Dari Guru Misi ke Pegawai Pemerintah**

Pasificus Bantang adalah salah satu tokoh Dayak yang paling sering disebut dalam catatan harian Pater Bernardinus. Pada Desember 1946, Bantang tercatat sebagai seorang guru di Serengkah. Ia bekerja di gereja dan sekolah, yang juga berfungsi sebagai pusat kehidupan spiritual dan pendidikan masyarakat Dayak di daerah tersebut.

Pada Agustus 1947, Bantang ikut dalam perjalanan Pater Rafael ke pedalaman dengan menggunakan kapal dan mobil pemerintah. Dalam perjalanannya, Bantang menunjukkan keahliannya sebagai seorang pemimpin yang dihormati oleh masyarakat, terutama dalam membantu Pater Rafael menjalankan misi di pedalaman.

Namun, peran Bantang tidak terbatas pada bidang pendidikan. Pada Juni 1948, ketika Uti Halil, seorang pemimpin masyarakat Dayak, berkunjung ke Ketapang, ia meminta dukungan Misi untuk melantik Bantang sebagai Asisten Demang di Tumbang Titi. Misi awalnya merasa keberatan, karena kepergian Bantang dari tugasnya sebagai guru misi akan berdampak besar pada pendidikan di daerah itu. Meskipun begitu, Bantang tetap dilantik sebagai pegawai khusus urusan orang Dayak di Ketapang, sebuah posisi yang memperkuat posisinya dalam masyarakat dan pemerintahan.

Pada Desember 1949, dalam upacara penyerahan pemerintahan dari Belanda kepada Indonesia, Bantang memainkan peran penting sebagai salah satu anggota dewan daerah istimewa Kalimantan Barat. Ia bersama Moh. Saleh dan Ng Chiauw Heng terpilih sebagai wakil masyarakat dalam transisi penting tersebut. Bantang, dengan kebijaksanaan dan pemahamannya terhadap kehidupan masyarakat Dayak, terus berperan aktif dalam memajukan daerahnya hingga ia diakui sebagai tokoh sentral dalam pemerintahan daerah.

                                                      Foto Bapak  Pasificus Bantang


                                  Foto  Bapak. Pasificus Bantang.di Antara Suster

 **2. JXP Rehal: Pemimpin dengan Karisma yang Menyatukan**

JXP Rehal adalah tokoh lain yang juga disebut dalam catatan Pater Bernardinus. Rehal dikenal sebagai sosok pemimpin yang disegani, tidak hanya dalam lingkungan gereja, tetapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak. Pada berbagai kesempatan, ia menjadi perwakilan masyarakat dalam acara-acara resmi, seperti yang tercatat pada upacara besar yang diadakan di Ketapang pada November 1954, saat kedatangan tamu-tamu agung, termasuk Mgr. De Yonge d’Ardoye dan sejumlah uskup lainnya.

Rehal dikenal karena kemampuannya menyampaikan pidato yang menggugah, dan pada resepsi yang diadakan di gedung bioskop pada acara tersebut, ia berhasil memaparkan sejarah gereja di Ketapang dengan jelas dan penuh semangat. Sambutannya yang menyatukan masyarakat Dayak dan mengakui kontribusi para misionaris dalam kehidupan mereka memberikan pengaruh yang mendalam pada mereka yang hadir.

                                                         Foto Bapak JXP Rehal

 **3. PJ Denggol: Tokoh yang Memperkuat Persatuan Dayak**

PJ Denggol, tokoh ketiga yang disebut oleh Pater Bernardinus, adalah seorang pemimpin yang sangat berkomitmen dalam memperkuat persatuan masyarakat Dayak. Pada Agustus 1949, Denggol bersama Pasificus Bantang melakukan perjalanan ke hulu untuk menguatkan persatuan Dayak. Perjalanan ini disambut dengan penuh penghormatan oleh masyarakat, seolah-olah mereka menyambut kedatangan seorang raja. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh Denggol dalam kehidupan masyarakat Dayak.

Dalam perjalanan tersebut, pelantikan beberapa tokoh penting juga dilakukan, seperti Banding sebagai Lurah Serengkah Kanan dan Serengkah Kiri, serta Mistael sebagai Demong Adat di Hulu Pesaguan. Denggol dan Bantang berperan penting dalam memastikan kepemimpinan adat terus berjalan dan mampu beradaptasi dengan perubahan politik dan sosial di Indonesia pasca-kemerdekaan.

**Kontribusi Tiga Tokoh Dayak terhadap Gereja dan Masyarakat**

Ketiga tokoh ini tidak hanya berperan dalam kehidupan gereja, tetapi juga menjadi penggerak dalam perkembangan sosial dan politik masyarakat Dayak. Mereka tidak hanya terlibat dalam pendidikan, tetapi juga dalam pemerintahan, membuktikan bahwa kehidupan menggereja dan mengabdi kepada masyarakat bisa berjalan beriringan. 

Pasificus Bantang, sebagai contoh, tidak hanya diakui sebagai guru dan penggerak pendidikan, tetapi juga sebagai tokoh yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat Dayak dengan pemerintah. Hal ini tercermin dalam pelantikannya sebagai pegawai pemerintah yang menangani urusan Dayak, meskipun peran ini pada awalnya mendapat tentangan dari pihak Misi karena dianggap dapat merugikan kegiatan pendidikan di daerah tersebut.

JXP Rehal, dengan kemampuannya memimpin dan berbicara, mampu menyatukan masyarakat dalam berbagai kesempatan penting. Peran pentingnya dalam menyampaikan sejarah gereja dan masyarakat Dayak kepada para pemimpin luar negeri dan pejabat gereja menunjukkan kemampuannya sebagai seorang tokoh penghubung yang berwibawa.

PJ Denggol, dengan semangatnya dalam memperkuat persatuan Dayak, memastikan bahwa kepemimpinan adat terus berjalan dan tidak terganggu oleh perubahan zaman. Kehadirannya dalam pelantikan-pelantikan adat di pedalaman menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian tradisi sekaligus adaptasi terhadap modernisasi.

                                                      Foto Bapak PJ Denggol

 **Warisan Abadi Ketiga Tokoh**

Warisan dari ketiga tokoh ini masih terasa hingga kini. Mereka tidak hanya menjadi bagian penting dari sejarah gereja di Kalimantan Barat, tetapi juga dari sejarah masyarakat Dayak dalam perjuangan mereka untuk diakui dan dihormati dalam tatanan pemerintahan Indonesia. Catatan Pater Bernardinus memberikan kita wawasan tentang betapa besar pengaruh mereka, dan bagaimana mereka terus dikenang sebagai pemimpin yang membawa perubahan bagi gereja dan masyarakat.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Dayak saat ini, nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Pasificus Bantang, JXP Rehal, dan PJ Denggol tetap relevan. Mereka adalah contoh bagaimana kepemimpinan yang didasari oleh iman dan dedikasi terhadap masyarakat dapat menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan.


**Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang**  

**Tanggal: 25 September 2024**

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar