**Romo Van Lith, Sosok Pelopor Penyebaran Agama Katolik di Jawa melalui Pendidikan dan Pendekatan Budaya**

                            Foto.RP.Franciscus Georgius Josephus Van Lith,SJ

**Ketapang, 13 November 2024** - Pertumbuhan agama Katolik di Pulau Jawa tidak bisa dipisahkan dari dedikasi Romo Van Lith, seorang imam dari Serikat Yesus (SJ) yang dikenal sebagai "Bapak Katolik Orang Jawa." Melalui pendekatan budaya dan pendidikan, Romo Van Lith tidak hanya menyebarkan ajaran Kristiani tetapi juga memberdayakan masyarakat Jawa dalam masa kolonial.

Romo Van Lith lahir di Oirschot, Belanda, pada 17 Mei 1863 dan telah menunjukkan minat besar pada kehidupan keimaman sejak usia muda. Setelah ditahbiskan sebagai imam pada 1894, ia tiba di Hindia Belanda pada 1896, khususnya di Pulau Jawa. Sebagai bagian dari pendekatan misinya, ia mempelajari bahasa dan adat istiadat Jawa, sehingga mampu memahami dan mendekati masyarakat lokal dengan cara yang lebih bermakna.

Pada masa itu, penyebaran agama Katolik di Jawa menghadapi berbagai kendala, terutama karena pandangan masyarakat lokal yang masih asing terhadap ajaran baru ini. Menyadari hal tersebut, Romo Van Lith tidak menekankan pada jumlah baptisan, tetapi lebih fokus pada pemberdayaan melalui pendidikan. Pada 1904, ia mendirikan sekolah guru Xaverius di Muntilan, yang terbuka untuk anak-anak pribumi tanpa memandang latar belakang agama mereka.

Kolese Xaverius yang didirikan oleh Romo Van Lith menjadi pionir dalam pendidikan yang inklusif. Sekolah ini menyediakan kurikulum yang memadukan nilai-nilai Barat dengan ajaran lokal, membentuk lingkungan belajar yang menghargai keberagaman. Pendidikan yang diberikan di Kolese ini menarik siswa dari berbagai kalangan, termasuk yang beragama non-Katolik, dengan tujuan untuk membentuk generasi pribumi yang berpendidikan dan mandiri. Banyak lulusan dari Kolese ini yang kemudian menjadi tokoh-tokoh nasional, seperti Mgr. Albertus Soegijapranata, uskup pribumi pertama, serta tokoh pergerakan kemerdekaan seperti I.J. Kasimo dan Yos Sudarso.

Salah satu momen penting dalam perjalanan misinya adalah baptisan massal di Sendangsono pada 14 Desember 1904. Dalam peristiwa bersejarah ini, Romo Van Lith membaptis 173 orang yang telah memutuskan untuk memeluk agama Katolik. Dengan dukungan dari Barnabas Sarikromo, seorang pemuka lokal yang berperan penting dalam mendorong baptisan, peristiwa ini menjadi tonggak bagi misi Katolik di Jawa, khususnya di wilayah Kalibawang, Kulonprogo, yang kini dikenal sebagai salah satu tempat ziarah Katolik terbesar.

Pendidikan yang diberikan Romo Van Lith melalui sekolah-sekolahnya dirancang bukan hanya untuk mengajarkan ajaran Kristiani, tetapi juga untuk membebaskan masyarakat pribumi dari belenggu kolonialisme. Romo Van Lith berharap bahwa melalui pendidikan, masyarakat Jawa bisa mandiri dan merdeka secara intelektual. Hingga kini, sekolah yang dirintisnya, SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan, melanjutkan visinya dengan mempertahankan tradisi asrama dan mengajarkan nilai-nilai budaya Jawa yang penuh makna.

R.P. Franciscus Georgius Josephus Van Lith, SJ, atau lebih dikenal sebagai Frans van Lith, wafat pada 9 Januari 1926, tetapi pengaruhnya tetap abadi melalui murid-murid dan warisannya. Sosok Romo Van Lith dikenang sebagai pelopor yang mampu menyelaraskan ajaran agama Katolik dengan budaya lokal, sehingga ajaran ini dapat diterima dan berkembang dengan baik di tengah masyarakat Jawa.

Warisan Romo Van Lith terus menjadi inspirasi bagi pendidikan berbasis nilai dan pemberdayaan sosial, memberikan makna yang lebih dalam tentang pentingnya pengajaran yang menghargai budaya setempat dan memajukan martabat manusia.

**Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang**  

**Tanggal: 13 November 2024**

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar