Suasana Penuh Khidmat di Lingkungan Sta. Lusia
Ketapang, 24 Februari 2026.Umat Lingkungan Sta. Lusia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, berkumpul dalam suasana penuh khidmat pada Selasa malam, 24 Februari 2026, pukul 18.30 WIB. Ibadat masa prapaskah Pertemuan I dilaksanakan di rumah Bapak Dersi, S.H., M.A.P., yang dengan penuh sukacita membuka kediamannya sebagai tempat persekutuan doa.
Sebagai bagian dari wilayah pastoral Keuskupan Ketapang, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang secara rutin mengadakan ibadat lingkungan selama masa prapaskah sebagai sarana pendalaman iman umat. Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Doa Sumber Gerakan Aksi Puasa Pembangunan dalam Bermisi.”
Ibadat dipimpin oleh Prodiakon Bapak Daduanto dengan penuh penghayatan, sementara lagu-lagu pujian dipersembahkan dan dipandu oleh Ibu Sutarti Rahayu. Hadir pula Suster Stela, OSA, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Bapak Jeno Leo, serta umat Lingkungan Sta. Lusia yang dengan antusias mengikuti seluruh rangkaian ibadat.
Salam Pembuka: Mengawali Retret Agung Umat Allah
Dalam salam pembuka, umat diajak menyadari bahwa masa prapaskah adalah “retret agung” Gereja menjelang Pekan Suci. Masa ini merupakan kesempatan berharga untuk melihat kembali perjalanan batin secara menyeluruh, memperbaiki relasi dengan Allah dan sesama, serta membangun kerendahan hati melalui doa dan mati raga.
Pemandu ibadat menegaskan bahwa doa bukan sekadar rutinitas religius, melainkan buah pertobatan yang memampukan umat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Melalui doa, hati dimurnikan, jiwa diarahkan pada kehendak Tuhan, dan hidup sehari-hari dibentuk menjadi kesaksian iman yang nyata.
Doa dan hidup bhakti diibaratkan sebagai perisai jiwa yang melindungi umat dari godaan dunia, sekaligus menjadi kekuatan untuk terlibat aktif dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP) sebagai wujud solidaritas kasih.
Mendalami Pesan Paus: Benih-benih Perdamaian dan Pengharapan
Dalam pertemuan ini, umat juga diajak mendalami pesan Paus Leo XIV pada Hari Doa Sedunia ke-10 untuk Pemeliharaan Ciptaan, yang bertema “Benih-benih Perdamaian dan Pengharapan.” Pesan tersebut mengingatkan kembali refleksi sepuluh tahun ensiklik Laudato Si' yang pernah diterbitkan oleh Paus Fransiskus.
Dalam pesan itu ditegaskan bahwa Yesus sering menggunakan gambaran benih dalam pewartaan-Nya. Dalam Injil Yohanes 12:24, Yesus menyebut diri-Nya sebagai biji gandum yang harus jatuh ke tanah dan mati agar menghasilkan banyak buah. Gambaran ini mengajarkan bahwa pengorbanan bukanlah akhir, melainkan awal kehidupan baru.
Umat diajak melihat diri mereka sebagai “benih-benih kedamaian dan pengharapan.” Seperti benih yang tersembunyi di dalam tanah namun tumbuh dan berbuah, demikian pula iman yang sederhana, jika dirawat dengan doa dan pengorbanan, akan menghasilkan buah yang melimpah.
Pesan tersebut juga menyinggung kondisi dunia yang dilanda krisis ekologis: penggundulan hutan, polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, serta konflik atas sumber daya alam. Semua ini menuntut pertobatan ekologis dan tindakan konkret demi menjaga ciptaan Tuhan.
Bacaan Kitab Suci: Kisah Para Rasul 12:24–13:3
Sabda Tuhan yang dibacakan diambil dari Kisah Para Rasul 12:24–13:3. Dalam teks ini dikisahkan bagaimana firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang. Barnabas dan Saulus kembali ke Antiokhia setelah menyelesaikan pelayanan mereka di Yerusalem.
Pada saat jemaat Antiokhia beribadah dan berpuasa, Roh Kudus berfirman agar Barnabas dan Saulus dikhususkan untuk tugas misi tertentu. Setelah berdoa dan berpuasa, para nabi dan pengajar meletakkan tangan atas mereka dan mengutus mereka pergi.
Bacaan ini menjadi dasar refleksi tentang pentingnya doa, puasa, dan ketaatan dalam menjalankan perutusan Gereja.
Dinamika Kitab Suci: Mendengarkan Roh Kudus
Dalam sesi dinamika, umat diberi waktu hening untuk merenungkan sabda Tuhan. Setiap peserta menuliskan hal yang paling menyentuh hati mereka dari bacaan tersebut.
Beberapa pertanyaan refleksi yang dibagikan antara lain:
Apa misi utama Barnabas dan Saulus setelah kembali dari Yerusalem?
Bagaimana para nabi dan pengajar mendengarkan perintah Roh Kudus?
Apa yang mereka lakukan setelah menerima perintah tersebut?
Dari diskusi dan penegasan, ditegaskan bahwa misi utama Barnabas dan Saulus adalah melanjutkan pelayanan dan penginjilan, serta membawa bantuan kasih bagi yang membutuhkan. Mereka mampu mendengarkan Roh Kudus karena hidup dalam doa, penyembahan, puasa, serta keterbukaan dalam komunitas.
Setelah mendengarkan perintah Roh Kudus, mereka berpuasa dan berdoa kembali, meletakkan tangan sebagai tanda pengutusan, dan dengan taat membiarkan Barnabas dan Saulus pergi menjalankan misi.
Refleksi Umat: Benih yang Bertumbuh
Bagian refleksi semakin hidup ketika beberapa umat membagikan pengalaman iman mereka.
Bapak Suhardi menegaskan bahwa Saulus dan Barnabas adalah pribadi yang taat dan setia dalam mewartakan kabar gembira tentang Tuhan Yesus Kristus. Ketaatan mereka menjadi teladan bagi umat masa kini.
Bapak Dersi, S.H., M.A.P., selaku tuan rumah, mengingatkan bahwa tantangan zaman modern menuntut umat untuk tidak pernah lengah dalam mewartakan sukacita Injil.
Suster Stela, OSA, mengajak umat untuk bertumbuh menjadi benih-benih yang baik dalam pewartaan Injil. Benih iman harus dirawat melalui doa dan persekutuan.
Bapak Yohanes Sigit Kurnianto menyoroti bagaimana para murid Yesus mengalami semangat luar biasa dalam mewartakan salib sebagai sumber keselamatan. Meskipun menghadapi pertentangan, pewartaan itu terus berlanjut hingga saat ini.
Ibu Angelina Norma Sanger menekankan pentingnya kepekaan rohani dalam kelompok doa. Menurutnya, relasi yang mendalam dengan Yesus memampukan umat mendengarkan suara Roh Kudus. Ia juga menggarisbawahi pentingnya kerja sama dalam paroki agar setiap umat terlibat aktif dalam pelayanan.
Kepedulian kepada Orang Miskin dan Lingkungan
Dalam refleksi Aksi Puasa Pembangunan, ditegaskan bahwa Gereja memiliki keberpihakan kepada kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Prinsip “pilihan utama bagi kaum miskin” menjadi dasar tindakan nyata Gereja.
Melalui karya diakonia dan lembaga sosial seperti Caritas, Gereja menyediakan bantuan kemanusiaan, pendidikan, dan layanan kesehatan. Namun lebih dari itu, Gereja juga bersuara dalam advokasi sosial demi keadilan.
Kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari iman. Kerusakan alam akibat keserakahan manusia membawa dampak besar: banjir, longsor, kekeringan, polusi, krisis air bersih, hingga kepunahan flora dan fauna.
Umat diajak menyadari bahwa menjaga ciptaan bukan sekadar isu lingkungan, melainkan panggilan iman.
Doa Penutup dan Berkat
Ibadat ditutup dengan doa penuh harapan:
“Allah Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur atas sabda-Mu yang meneguhkan dan menggerakkan kami. Curahkanlah rahmat-Mu agar kami setia dalam doa, peduli kepada sesama, dan tekun menjalankan aksi puasa dan pembangunan.”
Berkat penutup dipimpin dengan khidmat. Umat pulang membawa semangat baru untuk berkarya dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.
Kesimpulan: Doa sebagai Sumber Gerakan
Pertemuan I masa prapaskah ini menjadi awal perjalanan rohani umat Lingkungan Sta. Lusia. Doa ditegaskan sebagai sumber gerakan, bukan sekadar kegiatan rohani yang terpisah dari kehidupan nyata.
Dari rumah sederhana di Lingkungan Sta. Lusia, benih-benih pengharapan ditaburkan. Dalam doa, puasa, dan tindakan kasih, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang terus melangkah dalam misi Gereja.
Sebagaimana biji gandum yang jatuh ke tanah dan berbuah, demikian pula umat dipanggil untuk berani berkorban, taat pada Roh Kudus, dan setia mewartakan Injil.
Malam itu, di Ketapang, doa-doa sederhana naik ke surga, membawa harapan bagi Gereja dan dunia.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 24 Februari 2026
0 comments:
Posting Komentar