Ketua Bidang Liturgi Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Ajak Umat Hayati Lima Hal Penting Masa Prapaskah

 

Foto Bapak Hendrikus Hendri, S.S

Ketua Bidang Liturgi Paroki Santo Agustinus Paya Kumang 

Ajak Umat Hayati Lima Hal Penting Masa Prapaskah

Ketapang, 23 Februari 2026.Memasuki Masa Prapaskah tahun 2026, Ketua Bidang Liturgi dan Peribadatan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, Bapak Hendrikus Hendri, S.S., mengajak seluruh umat Katolik untuk menghayati lima hal penting selama masa pertobatan dan pembaruan iman tersebut. Selain melayani di tingkat paroki, beliau juga dikenal sebagai Koordinator Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang yang aktif membina umat dalam penguatan kehidupan rohani dan sosial kemasyarakatan.

Dalam keterangannya di Ketapang, Senin (23/2/2026), Hendrikus Hendri menegaskan bahwa Masa Prapaskah bukan sekadar tradisi tahunan Gereja, melainkan momentum istimewa untuk memperbarui relasi pribadi dengan Tuhan dan sesama. “Prapaskah adalah kesempatan emas untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang tulus. Kita diajak menyadari kelemahan, menyesali dosa, dan memperbaiki diri melalui pertobatan sejati,” ungkapnya.

Ia kemudian memaparkan lima hal penting yang perlu dihidupi umat Katolik selama Masa Prapaskah, yakni menerima Sakramen Tobat, menjalankan pantang dan puasa, membantu orang yang membutuhkan, menyediakan waktu lebih banyak untuk berdoa, serta mengikuti Ibadat Jalan Salib.

1. Menerima Sakramen Tobat

Menurut Hendrikus Hendri, Sakramen Tobat merupakan wujud nyata kerahiman Allah dalam Yesus Kristus terhadap umat yang telah jatuh dalam dosa dan ingin bertobat. Sakramen ini menjadi sarana penyembuhan rohani bagi setiap orang yang telah dibaptis namun menjauh dari Allah karena dosa.

“Sakramen Tobat adalah pernyataan cinta kasih dan belas kasih Allah. Di dalamnya kita mengalami pengampunan dan dipulihkan kembali sebagai anak-anak Allah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa melalui Sakramen Tobat, umat disadarkan akan karya penebusan dosa oleh Tuhan Yesus Kristus di kayu salib. Pengakuan dosa bukan sekadar formalitas, melainkan perjumpaan pribadi dengan Kristus yang mengampuni. Dalam sakramen ini, umat diajak untuk rendah hati mengakui kesalahan, menyesali perbuatan dosa, serta berkomitmen untuk memperbaiki hidup.

Lebih lanjut, Hendrikus mengimbau agar umat tidak menunda-nunda menerima Sakramen Tobat, terutama menjelang Hari Raya Paskah. “Jangan takut atau malu untuk mengaku dosa. Justru di situlah rahmat Tuhan bekerja memulihkan hati kita,” katanya.

2. Pantang dan Puasa

Hal kedua yang ditekankan adalah makna pantang dan puasa. Menurutnya, pantang dan puasa dalam tradisi Katolik bukan hanya soal makan dan minum semata. Makan dan minum hanyalah salah satu bentuk pengendalian diri.

“Pantang dan puasa bukan sekadar tidak makan daging atau mengurangi porsi makan. Yang lebih utama adalah pengendalian diri demi nilai-nilai yang lebih luhur,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa pantang dan puasa bertujuan untuk melatih disiplin diri serta mematikan keinginan-keinginan daging yang dapat membawa manusia ke dalam dosa. Dengan pengendalian diri, umat diharapkan lebih fokus kepada Tuhan dan kebenaran-Nya.

Hendrikus juga menegaskan bahwa pantang dan puasa tidak boleh dipahami secara sempit atau bergantung pada situasi ekonomi, seperti urusan jual beli makanan. “Yang dikendalikan adalah diri sendiri, bukan orang lain. Prapaskah adalah latihan rohani untuk membentuk karakter dan memperkuat iman,” tambahnya.

Melalui pantang dan puasa, umat diajak untuk lebih peka terhadap kebutuhan sesama serta belajar hidup sederhana dan bersyukur atas setiap berkat Tuhan.

3. Membantu Orang yang Membutuhkan

Poin ketiga yang ditekankan adalah kepedulian sosial. Masa Prapaskah, menurut Hendrikus, bukan hanya tentang peningkatan kesalehan pribadi, melainkan juga kepekaan terhadap penderitaan sesama.

“Kita dipanggil untuk semakin bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan sumber daya yang kita miliki. Prapaskah adalah saat yang tepat untuk berbagi dan mengambil bagian dalam memerangi kemiskinan, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa tindakan memberi hendaknya lahir dari kerelaan hati, bukan sekadar rutinitas atau kewajiban formal. Semangat berbagi harus dilandasi kasih yang tulus dan empati terhadap mereka yang menderita.

Sebagai Koordinator Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang, Hendrikus juga mendorong umat untuk aktif dalam kegiatan sosial paroki maupun aksi nyata di lingkungan masing-masing. Bentuknya bisa berupa sumbangan bahan makanan, kunjungan kepada orang sakit, bantuan pendidikan, atau dukungan moral bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan.

“Iman tanpa perbuatan adalah mati. Prapaskah menjadi kesempatan untuk mewujudkan iman dalam tindakan nyata,” tegasnya.

4. Ambil Waktu Lebih Banyak untuk “Berdua” dengan Tuhan

Hal keempat yang ditekankan adalah pentingnya menyediakan waktu lebih banyak untuk berdoa dan membangun relasi pribadi dengan Tuhan. Hendrikus mengingatkan bahwa Yesus sendiri memilih mengasingkan diri ke padang gurun selama 40 hari untuk berpuasa dan berdoa.

“Dalam keheningan dan kesunyian, kita dapat lebih fokus mencari wajah Tuhan dan merasakan kehadiran-Nya,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa umat tidak perlu pergi jauh ke tempat terpencil untuk mengalami keheningan. Di rumah pun, setiap orang dapat menyediakan waktu khusus untuk berdoa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, serta melakukan refleksi diri.

Momen ini diibaratkan sebagai pertapaan pribadi yang memperdalam iman dan memperkuat ketahanan rohani. Dalam suasana dunia yang penuh kesibukan dan distraksi, waktu khusus bersama Tuhan menjadi kebutuhan mendesak agar hidup tidak kehilangan arah.

“Dengan doa yang tekun, kita akan semakin peka terhadap kehendak Tuhan dan dikuatkan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup,” ujarnya.

5. Mengikuti Ibadat Jalan Salib

Poin kelima adalah mengikuti Ibadat Jalan Salib, salah satu devosi khas dalam Masa Prapaskah. Hendrikus menjelaskan bahwa Jalan Salib merupakan ziarah iman dalam doa untuk menghayati kasih dan pengorbanan Kristus yang menderita demi keselamatan manusia.

Setiap perhentian Jalan Salib mengajak umat merenungkan langkah-langkah Yesus menuju Golgota. Melalui permenungan tersebut, umat diundang untuk meneladan kerendahan hati dan ketekunan Kristus.

“Salib bukan tanda kelemahan. Salib adalah simbol tertinggi tentang cinta, penyerahan diri, dan harapan,” kutipnya.

Ia berharap umat semakin setia mengikuti Ibadat Jalan Salib di gereja maupun secara pribadi di rumah. Dengan merenungkan sengsara Kristus, umat akan semakin memahami makna pengorbanan dan terdorong untuk memikul salib kehidupan dengan penuh iman.

Ajakan untuk Pembaruan Iman

Mengakhiri pesannya, Hendrikus Hendri mengajak seluruh umat Katolik di Ketapang dan sekitarnya untuk menjadikan Masa Prapaskah sebagai momentum pembaruan iman yang sungguh-sungguh.

“Prapaskah bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan rohani menuju kebangkitan bersama Kristus. Jika kita menjalani lima hal penting ini dengan sungguh-sungguh, maka kita akan sampai pada Paskah dengan hati yang diperbarui,” tuturnya.

Sebagai Ketua Bidang Liturgi dan Peribadatan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang sekaligus Koordinator Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang, ia berharap seluruh umat semakin dewasa dalam iman, kuat dalam pengharapan, dan nyata dalam kasih.

Ketapang, 23 Februari 2026

Bapak Hendrikus Hendri, S.S.
Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 22 Februari 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar