SAAT KEMULIAAN DISINGKAPKAN: Umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Rayakan Minggu Prapaskah II dengan Iman dan Keteguhan

 

Foto RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.Pimpin Misa

SAAT KEMULIAAN DISINGKAPKAN: Umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Rayakan Minggu Prapaskah II dengan Iman dan Keteguhan

Ketapang, Minggu 1 Maret 2026.Suasana khidmat menyelimuti Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang pada Minggu pagi, 1 Maret 2026. Umat berbondong-bondong menghadiri Perayaan Ekaristi Minggu Prapaskah II yang dimulai tepat pukul 07.00 WIB. Hari ini Gereja juga memperingati Santo Felix III (II), Paus, dan Santo David, Pengaku Iman, dengan warna liturgi ungu sebagai tanda pertobatan dan pengharapan.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, yang dengan penuh keteduhan mengajak umat memasuki misteri iman melalui Sabda dan Ekaristi. Liturgi berlangsung tertib dan penuh partisipasi aktif umat.

Pelayan Liturgi

Perayaan Misa pagi ini melibatkan para petugas liturgi yang telah mempersiapkan diri dengan baik:

Lektor: Tiofilius Pransisko

Pemazmur: Ibu Lastri Anita Gultom

Dirigen 1: Calisia Calista Damara

Dirigen 2: Ibu Beatha Hariantini

Organis: Suster Fidelia,OSA

Koor: SD Santa Monica

Lantunan mazmur dan nyanyian pujian yang dibawakan oleh Koor SD Santa Monica mengalun lembut dan menyentuh hati. Suara anak-anak yang jernih menghadirkan suasana doa yang mendalam, membantu umat semakin masuk dalam permenungan masa Prapaskah.











































































































































Homili: Panggilan Iman, Penderitaan, dan Kemuliaan

Dalam homilinya, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP mengangkat tema besar: panggilan iman, penderitaan, dan kemuliaan. Beliau mengajak umat merenungkan perjalanan iman Abraham, kesaksian kasih Allah, serta peristiwa Transfigurasi Tuhan Yesus di gunung.

1. Panggilan Abraham: Keluar dari Kenyamanan

Mengawali refleksinya dari bacaan pertama, Romo Oscar menyoroti panggilan Abraham yang dipanggil Tuhan untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke negeri yang akan ditunjukkan kepadanya.

“Abraham percaya pada janji Tuhan, meskipun belum melihat wujudnya,” tegas Romo.

Abraham dipanggil untuk menjadi bangsa yang besar. Ia melangkah dalam iman, bukan dalam kepastian manusiawi. Dalam konteks Prapaskah, umat diajak keluar dari “zona nyaman” kehidupan, meninggalkan kebiasaan lama yang menjauhkan dari Tuhan, serta memperbarui komitmen hidup dalam terang Sabda.

Masa Prapaskah bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan undangan untuk berani melangkah seperti Abraham  percaya, taat, dan setia.

2. Kesaksian Iman dan Kemenangan atas Kuasa Maut

Dalam bacaan kedua, umat diingatkan tentang kesaksian iman yang berakar pada kasih Allah. Romo Oscar menekankan bahwa hidup kristiani bukan bebas dari penderitaan, melainkan perjalanan menuju kemenangan atas kuasa maut.

“Minggu Prapaskah yang lalu kita mendengar bagaimana Yesus dicobai di padang gurun. Firman menjadi pegangan-Nya. Demikian pula kita harus menjadikan Sabda sebagai dasar hidup,” ujarnya.

Prapaskah adalah waktu melatih diri untuk mengalahkan godaan, egoisme, dan kecenderungan dosa. Dengan ketabahan seperti Timotius, umat diajak memegang teguh iman, sebab ada janji kemuliaan kekal yang menanti.

3. Transfigurasi: Mendengarkan Sabda

Puncak permenungan homili tertuju pada peristiwa Transfigurasi dalam Injil. Yesus dimuliakan di atas gunung di hadapan Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Musa dan Elia menampakkan diri, melambangkan hukum Taurat dan para nabi.

Wajah Yesus bercahaya, pakaian-Nya putih berkilau, dan terdengarlah suara dari surga:
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”

Romo Oscar menjelaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar mukjizat spektakuler, melainkan penyingkapan identitas Yesus sebagai Putra Allah.

“Kunci utama hidup rohani adalah mendengarkan Sabda,” tegasnya.

Sering kali, seperti Petrus, manusia ingin menetap dalam pengalaman rohani yang indah. “Tuhan, biarlah kami dirikan tiga kemah...” Namun Yesus tidak mengizinkan mereka tinggal di gunung. Mereka harus turun kembali menjalani kehidupan nyata.

Saat Kemuliaan Disingkapkan

Peristiwa Transfigurasi menjadi penguatan sebelum Yesus memasuki penderitaan. Seolah Bapa surgawi menegaskan bahwa jalan salib yang akan ditempuh adalah jalan keselamatan.

Romo Oscar menekankan pola rohani ini:

Tuhan memberi terang sebelum ujian.

Tuhan memberi penghiburan sebelum penderitaan.

Tuhan menyingkapkan kemuliaan untuk menguatkan iman.

Dalam kehidupan sehari-hari, umat pun mengalami “transfigurasi kecil” ketika hati yang keras menjadi lembut, kebencian berubah menjadi pengampunan, kecemasan berubah menjadi kepercayaan, dan egoisme berubah menjadi pelayanan.

Kemuliaan Allah sering hadir tidak dalam gemuruh, melainkan dalam keheningan.

Gunung sebagai Tempat Perjumpaan

Dalam Kitab Suci, gunung melambangkan tempat perjumpaan dengan Allah  tempat doa, wahyu, dan perubahan.

“Naik gunung berarti meninggalkan keramaian dan masuk dalam keheningan,” kata Romo Oscar.

Dalam konteks modern, “naik gunung” dapat berarti:

Menyediakan waktu doa pribadi

Membatasi kebisingan digital

Membaca dan merenungkan Injil harian

Memberi ruang bagi Sabda untuk berbicara

Pengalaman terang rohani bukan tujuan akhir. Ia adalah bekal untuk setia ketika harus turun ke lembah kehidupan.

Reaksi Para Murid: Takut Namun Dikuatkan

Para murid tersungkur ketakutan ketika kemuliaan Allah dinyatakan. Namun Yesus mendekati mereka dan berkata: “Bangunlah, jangan takut.”

Inilah wajah Allah yang menyentuh dan mengangkat.

Kemuliaan Tuhan tidak dimaksudkan untuk menakutkan, tetapi untuk meneguhkan.

Sering kali hidup iman tidak selalu terasa menggetarkan. Tidak setiap doa terasa khusyuk. Tidak setiap Misa terasa luar biasa. Namun Kristus tetap sama  dalam terang maupun dalam keseharian biasa.

Kesetiaan lebih penting daripada perasaan.

“Dengarkanlah Dia”: Inti Pesan Prapaskah

Pesan utama dari peristiwa Transfigurasi adalah mendengarkan Yesus.

Bukan sekadar mengagumi, tetapi menaati.

Langkah konkret yang ditawarkan dalam homili:

  1. Membaca Injil harian secara rutin

  2. Mengambil satu kalimat Sabda untuk direnungkan

  3. Bertanya: “Tuhan, apa yang ingin Engkau ubah dalam diriku hari ini?”

  4. Melakukan satu tindakan nyata sebagai wujud pertobatan

Sabda harus menjadi perbuatan. Tanpa tindakan, iman menjadi hampa.

Jangan Tinggal di Gunung

Romo Oscar mengingatkan bahwa pengalaman rohani tidak boleh berhenti sebagai kenangan indah. Ia harus dibawa turun ke kehidupan nyata.

Doa yang benar menghasilkan perubahan nyata:

Lebih sabar

Lebih lembut

Lebih jujur

Lebih mengasihi

Jika pengalaman rohani tidak mengubah perilaku sehari-hari, maka kita hanya berhenti di gunung tanpa makna.

Terang untuk Menghadapi Lembah

Gunung adalah tempat terang, tetapi kehidupan banyak berlangsung di lembah. Transfigurasi mengajarkan bahwa terang Tuhan cukup untuk menuntun langkah umat melewati masa sulit.

Saat iman terasa berat, umat diajak mengingat:

Doa yang pernah dijawab

Damai yang pernah dirasakan

Sabda yang pernah menyentuh hati

Itulah cahaya gunung yang dibawa turun.

Partisipasi Umat dan Suasana Perayaan

Sepanjang perayaan, umat mengikuti liturgi dengan penuh perhatian. Jawaban liturgi diucapkan dengan mantap. Anak-anak hingga lansia hadir memenuhi bangku gereja.

Suasana khusyuk terasa saat konsekrasi, ketika seluruh umat berlutut dalam keheningan. Denting lonceng kecil mengiringi misteri agung perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

Nyanyian penutup yang dibawakan Koor SD Santa Monica menggema penuh sukacita, menjadi tanda harapan di tengah masa tobat.

Refleksi Akhir: Prapaskah sebagai Jalan Menuju Kemuliaan

Minggu Prapaskah II di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menjadi momen reflektif yang mendalam bagi umat. Panggilan Abraham, kesaksian iman, serta peristiwa Transfigurasi menyatu dalam satu pesan besar:

Iman menuntut keberanian untuk melangkah, kesetiaan dalam penderitaan, dan pengharapan akan kemuliaan kekal.

Masa Prapaskah bukan hanya tentang pengorbanan lahiriah, tetapi transformasi batin. Tuhan memanggil setiap orang untuk mendengarkan Sabda-Nya, berjalan dalam terang-Nya, dan tetap setia meski harus melewati lembah kehidupan.

Sebagaimana disampaikan dalam doa penutup permenungan:

“Tuhan Yesus yang dimuliakan, singkapkanlah terang-Mu dalam hatiku. Ajari aku setia mendengarkan Sabda-Mu, bukan hanya mengagumi, tetapi menaati. Kuatkan aku saat turun ke lembah kehidupan, agar aku tetap berjalan dalam terang-Mu. Amin.”

Perayaan Minggu Prapaskah II ini meninggalkan pesan yang kuat:
Kemuliaan Tuhan nyata, dan setiap umat dipanggil untuk menjadi saksi terang-Nya di tengah dunia.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 1 Maret  2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar