Ditempa di Ruang Digital: Para Direktur Diosesan dan Tim Pastoral Misi Bangun Peradaban Komunikasi Gereja

 

Foto Gabriel Abdi Susanto. Saat Pemaparan Materi

Ditempa di Ruang Digital: Para Direktur Diosesan dan Tim Pastoral Misi Bangun Peradaban Komunikasi Gereja

Sabtu sore itu, 28 Februari 2026, layar-layar Zoom menyala dari berbagai penjuru Indonesia. Di balik wajah para pastor, suster, dan tim komunikasi sosial, ada satu kesadaran yang sama: misi Gereja hari ini tidak hanya berlangsung di altar dan mimbar, tetapi juga di beranda digital di sana, kebenaran harus tetap dijaga, dan harapan harus terus disuarakan.


Ketapang, 28 Februari 2026  Dalam semangat memperkuat kapasitas pengelolaan media digital sekaligus mengembangkan website missionusantara.com sebagai wajah resmi pewartaan misi, para Direktur Diosesan (Dirdios) dan Tim Pastoral Misi Digital KMKI Keuskupan mengikuti Pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting, Sabtu (28/2) pukul 16.00 WIB hingga selesai.

Kegiatan ini difasilitasi oleh Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia dan diinisiasi oleh Pontifical Mission Societies (PMS) Indonesia atau Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI). Lembaga ini merupakan badan resmi Gereja Katolik yang membantu tugas Bapa Paus dalam karya misi universal dan berada di bawah Dicastery for Evangelization.

Peserta pelatihan berasal dari berbagai keuskupan di Indonesia. Para pastor, suster, dan tim komunikasi sosial (Komsos) hadir dengan semangat belajar dan berjejaring. Dari Keuskupan Ketapang, Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang turut ambil bagian, termasuk Petrus Sapriyun, yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.



Misi yang Bertransformasi: Dari Mimbar ke Media Digital

Direktur Nasional PMS Indonesia, RP. Alfonsus Widhiwiryawan, SX, dalam sambutannya menegaskan bahwa Gereja tidak bisa mengabaikan transformasi digital yang sedang berlangsung.

“Penguatan kapasitas pengelolaan media digital bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Melalui pelatihan ini, kita ingin memastikan bahwa informasi misi yang disampaikan kepada umat bersifat akurat, inspiratif, serta sesuai dengan kaidah jurnalistik dan standar komunikasi Gereja,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa website missionusantara.com diharapkan menjadi ruang bersama untuk menyajikan dinamika karya misi dari berbagai keuskupan secara profesional dan kredibel.

Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali tidak terverifikasi, Gereja dipanggil untuk menjadi suara yang jernih—bukan hanya menyampaikan kabar, tetapi menghadirkan terang.

Narasumber Berpengalaman di Dunia Media Nasional

Pelatihan menghadirkan Gabriel Abdi Susanto, Founder Sesawi.Net dan Inigoway.com, sekaligus Editor di Liputan6.com. Ia merupakan alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta (lulus 2001) dan memiliki pengalaman panjang sebagai wartawan di kelompok Kompas Gramedia.

Sebelum aktif sebagai content creator dan trainer di bidang jurnalistik serta digital marketing (SEO), Gabriel pernah terlibat dalam pengembangan Kompas.com serta bekerja di berbagai media nasional lainnya. Ia juga aktif sebagai anggota Badan Pengurus Komsos KWI dan konsultan di sejumlah media.

Dengan latar belakang filsafat sosial, pengalaman jurnalistik lebih dari satu dekade, serta kiprah dalam pengembangan media Katolik, Gabriel menghadirkan kombinasi refleksi teologis dan ketajaman praktis dalam sesi pelatihan.

Dasar Teologis: Jurnalisme sebagai Praktik Iman

Dalam sesi pembuka, Gabriel mengajak peserta kembali pada fondasi iman.

“Jurnalisme Gereja berakar pada keyakinan bahwa Allah adalah sumber kebenaran. Pewartaan bukan sekadar aktivitas komunikasi, tetapi bagian dari misi,” ungkapnya.

Ia merujuk pada pembukaan Injil Lukas (Luk 1:1–3), di mana penulis menegaskan proses penyelidikan yang cermat, mendengarkan kesaksian para saksi mata, menyusun peristiwa secara teratur, dan menghadirkan kebenaran yang pasti bagi pembaca.

Empat unsur tersebut—riset, verifikasi, penyusunan sistematis, dan orientasi pada kebenaran—menjadi prinsip jurnalisme modern.

Lebih lanjut, ia mengutip Injil Matius 5:37: “Jika ya, katakanlah ya; jika tidak, katakanlah tidak.” Ayat ini, menurutnya, merupakan fondasi integritas pewarta Gereja.

“Wartawan Gereja dipanggil untuk jujur, tidak memutarbalikkan fakta, dan tidak membesar-besarkan informasi demi sensasi,” tegasnya.

Di ruang digital yang kerap dipenuhi clickbait dan opini sepihak, Gereja harus tampil sebagai saksi kebenaran.

Teknik Penulisan Berita: Akurat dan Terstruktur

Memasuki sesi teknis, peserta diajak memahami struktur dasar penulisan berita.

Berita, jelas Gabriel, harus memenuhi unsur 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How). Struktur yang digunakan adalah piramida terbalik: informasi terpenting ditempatkan di awal, disusul detail pendukung.

Ia mencontohkan bagaimana menulis lead yang kuat, ringkas, dan informatif.

“Pembaca digital memutuskan dalam hitungan detik apakah akan melanjutkan membaca atau tidak. Lead harus langsung menjawab inti peristiwa,” katanya.

Peserta kemudian diajak berlatih merumuskan judul yang informatif, tidak clickbait, namun tetap menarik.

Feature: Menghadirkan Makna di Balik Peristiwa

Selain berita, peserta juga mempelajari teknik penulisan feature.

Jika berita menekankan aktualitas dan fakta, feature lebih menonjolkan sisi human interest dan kedalaman cerita. Feature memberi ruang pada narasi, suasana, dan refleksi.

“Konten Gereja tidak hanya soal peristiwa, tetapi juga tentang makna,” ujar Gabriel.

Dalam konteks misi, kisah para katekis di daerah terpencil, perjuangan umat membangun kapel, atau kesaksian iman seorang relawan dapat diolah menjadi feature yang menyentuh dan menginspirasi.

Ia mengingatkan bahwa feature tetap harus berbasis fakta dan verifikasi, meski ditulis dengan gaya yang lebih naratif.

Strategi Konten Digital: Hook – Value – Call to Action

Salah satu materi penting adalah struktur konten digital: Hook – Value – Call to Action.

Hook adalah kalimat pembuka yang menarik perhatian dalam 3–5 detik pertama. Value adalah isi utama yang memberi manfaat nyata. Sementara Call to Action (CTA) adalah ajakan bagi audiens untuk bertindak like, share, komentar, mendaftar, atau hadir dalam kegiatan.

“Tanpa CTA, konten kehilangan arah interaksi,” jelasnya.

Peserta juga diajak memahami pentingnya mengenali audiens secara spesifik—usia, latar belakang, kebutuhan, serta platform yang digunakan.

Konten untuk generasi muda tentu berbeda pendekatan dengan konten untuk orang dewasa atau lansia.

SEO dan Tantangan Algoritma

Dalam dunia digital, kualitas konten saja tidak cukup. Konten harus ditemukan.

Gabriel menjelaskan prinsip dasar SEO (Search Engine Optimization): penggunaan kata kunci relevan, meta description, struktur heading yang jelas, hingga penggunaan hyperlink internal dan eksternal.

“Konten yang baik tetapi tidak ditemukan, sama dengan tidak dibuat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya konsistensi visual, kualitas audio, dan branding warna agar media Gereja memiliki identitas yang kuat.

Etika dan Legalitas: Rambu-rambu yang Tak Boleh Diabaikan

Pelatihan juga menekankan pemeriksaan legal dan etika sebelum publikasi.

Peserta diingatkan untuk tidak melanggar hak cipta, tidak mencemarkan nama baik, tidak memuat ujaran kebencian, dan tidak melanggar privasi.

Dalam konteks Indonesia, prinsip Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menjadi rujukan penting.

“Integritas lebih utama daripada kecepatan,” pesan Gabriel.

Partisipasi Aktif dari Berbagai Keuskupan

Diskusi interaktif berlangsung hangat. Peserta dari berbagai daerah berbagi pengalaman tentang tantangan mengelola media paroki keterbatasan sumber daya, minimnya SDM terlatih, hingga dinamika komentar di media sosial.

Bagi Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Keuskupan Ketapang, pelatihan ini menjadi momentum pembelajaran yang sangat berarti.

“Kami semakin memahami bahwa komunikasi Gereja harus profesional, bukan sekadar mengunggah informasi,” ungkap salah satu peserta.

Menuju Budaya Komunikasi yang Profesional dan Misioner

Pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga gerakan membangun budaya komunikasi Gereja yang profesional, etis, dan misioner.

Di tengah era digital yang serba cepat, Gereja dipanggil untuk tetap setia pada nilai Injil jujur, berimbang, dan penuh kasih.

Misi hari ini tidak hanya berlangsung di ladang-ladang terpencil atau altar gereja, tetapi juga di ruang digital yang melintasi batas geografis.

Ketika layar-layar Zoom itu akhirnya padam malam itu, para peserta tidak hanya membawa catatan dan materi pelatihan. Mereka membawa kesadaran baru: bahwa setiap kata yang ditulis, setiap gambar yang diunggah, dan setiap berita yang dipublikasikan adalah bagian dari kesaksian iman.

Dan di sanalah, jurnalisme Gereja menemukan maknanya bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi menghadirkan kebenaran yang membebaskan.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 28 Februari 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar