Misa Minggu Prapaskah V di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: RP. Vitalis Nggeal, CP Tekankan Empat Poin Refleksi Iman
Ketapang, 22 Maret 2026. Umat Katolik di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengikuti Perayaan Ekaristi pada Minggu Prapaskah V yang berlangsung dengan khidmat pada Minggu pagi, 22 Maret 2026. Perayaan ini bertepatan dengan peringatan Santo Zakarias, Paus, serta Santa Lea, Janda dan Pengaku Iman, dengan warna liturgi ungu yang melambangkan masa pertobatan.
Misa dimulai pukul 07.00 WIB dan dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. Suasana ibadat berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan, dengan keterlibatan petugas liturgi yang telah ditunjuk. Ibu Dian Noviyanti bertugas sebagai lektor, sementara pemazmur dipercayakan kepada Bapak Yulius Sudarisman. Iringan musik liturgi dipandu oleh organis Ibu Martha Koleta Popyzesika, dengan dirigen Ibu Kresensia Nini. Koor pada misa tersebut dibawakan oleh Lingkungan Santa Sesilia.
Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP mengangkat kisah Injil Yohanes 11 tentang Marta, Maria, dan Lazarus. Ia menegaskan bahwa kisah kebangkitan Lazarus bukan sekadar peristiwa mukjizat di masa lalu, melainkan refleksi nyata akan kuasa Tuhan dalam kehidupan manusia saat ini. Homili disampaikan dengan penekanan pada empat poin utama yang menjadi bahan permenungan umat.
Poin pertama menegaskan bahwa Yesus adalah Allah sejati dan sumber kebangkitan. RP. Vitalis menjelaskan bahwa ketika Yesus berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup,” hal itu menunjukkan otoritas ilahi-Nya atas kehidupan dan kematian. Dalam konteks kematian Lazarus yang telah berlangsung empat hari, secara manusiawi keadaan tersebut dianggap sudah berakhir dan tidak mungkin diubah. Namun, melalui sabda “Lazarus, keluarlah!”, Yesus menunjukkan bahwa tidak ada batas bagi kuasa Allah.
Poin kedua menyoroti bahwa Yesus adalah Allah yang berempati. RP. Vitalis menekankan bahwa Yesus tidak hanya hadir sebagai penguasa kehidupan, tetapi juga sebagai pribadi yang turut merasakan penderitaan manusia. Dalam kisah tersebut, Yesus menangis melihat duka Marta dan Maria. Air mata Yesus menjadi tanda bahwa Tuhan tidak jauh dari penderitaan umat-Nya, melainkan hadir dan peduli secara nyata.
Poin ketiga menegaskan bahwa tidak ada situasi yang mustahil bagi Tuhan. RP. Vitalis menjelaskan bahwa “empat hari” dalam kisah Lazarus melambangkan kondisi yang menurut manusia sudah tidak memiliki harapan. Namun, bagi Tuhan, keterlambatan bukanlah halangan. Ia mengajak umat untuk tidak cepat menyimpulkan bahwa keadaan hidup yang sulit baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun relasi sudah berakhir. Tuhan tetap mampu memulihkan dan membangkitkan.
Poin keempat berbicara tentang pentingnya relasi iman yang sejati. RP. Vitalis menekankan bahwa hubungan Marta dan Maria dengan Yesus bukanlah hubungan formalitas, melainkan relasi yang dilandasi kepercayaan. Pernyataan Marta, “Ya Tuhan, aku percaya,” menjadi contoh iman yang teguh di tengah situasi sulit. Umat diajak untuk membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan, bukan sekadar menjalankan kewajiban agama.
Perayaan Misa Minggu Prapaskah V ini menjadi momen permenungan bagi umat untuk semakin mendalami iman, khususnya dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan yang penuh tantangan. Pesan homili yang disampaikan menegaskan kembali bahwa harapan dalam Tuhan tidak pernah berakhir, sekalipun manusia sering kali melihat segala sesuatu sebagai jalan buntu.
Dengan berakhirnya misa pagi tersebut, umat meninggalkan gereja dalam suasana tenang, membawa pesan refleksi yang disampaikan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari di masa Prapaskah.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 22 Maret 2026
0 comments:
Posting Komentar