Yesus Mengajak Umat Hidup Baru Dalam Kasih

 


Ketapang, 4 September 2026.Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, diajak untuk memperbarui kehidupan iman dengan meninggalkan kebiasaan lama dan membangun hidup baru dalam kasih Kristus. Ajakan tersebut disampaikan dalam perayaan Misa Jumat, 4 September 2026, yang berlangsung pukul 18.00 WIB.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh R.P. Kornelius Kadut, CP sebagai selebran utama. Ia didampingi R.P. Vitalis Nggeal, CP sebagai konselebran dan Diakon Andreas Pisin, CP. Perayaan berlangsung dalam suasana doa dan sukacita bersama umat.

Misa tersebut merupakan Jumat pertama bulan September dan termasuk Hari Biasa Pekan XXII Tahun A. Warna liturgi yang digunakan adalah hijau. Liturgi perayaan menjadi kesempatan bagi umat untuk kembali melihat kehidupan iman secara lebih mendalam.

Dalam homilinya, R.P. Kornelius Kadut, CP mengajak umat memahami bahwa setiap pembaruan dapat menimbulkan dua tanggapan. Ada orang yang menerima perubahan. Ada pula yang menolaknya karena merasa nyaman dengan pola kehidupan lama.

Menurutnya, Tuhan Yesus menghadirkan pembaruan yang berpusat pada kasih. Kasih kepada Allah dan sesama tidak boleh dikalahkan oleh pemahaman terhadap aturan yang hanya bersifat formal.

Pesan tersebut berkaitan erat dengan bacaan Injil Lukas 5:33-39 yang dibacakan oleh Diakon Andreas Pisin, CP. Dalam bacaan itu, orang-orang Farisi mempertanyakan murid-murid Yesus yang makan dan minum ketika murid-murid Yohanes dan murid-murid Farisi menjalankan puasa.

Yesus menjawab dengan gambaran tentang mempelai laki-laki. Ketika mempelai masih bersama para sahabatnya, suasana yang hadir adalah sukacita. Puasa memiliki waktunya sendiri. Melalui jawaban itu, Kristus menunjukkan bahwa kehidupan iman tidak dapat dipisahkan dari hubungan kasih dengan Allah.

Yesus kemudian menyampaikan perumpamaan tentang kain baru dan anggur baru. Ia mengatakan bahwa anggur baru harus ditempatkan dalam kantong kulit yang baru. Anggur baru tidak cocok disimpan dalam kantong lama karena dapat merusak keduanya.

Perumpamaan tersebut menjadi gambaran penting tentang pembaruan hidup. Manusia yang menerima Kristus dipanggil untuk memiliki hati yang terbuka terhadap rahmat Allah.









Kasih Lebih Utama daripada Formalitas

Dalam homilinya, R.P. Kornelius menjelaskan bahwa pembaruan yang dibawa Yesus bukan sekadar perubahan aturan. Kristus mengarahkan manusia kepada kehidupan yang lebih dekat dengan Allah dan sesama.

“Setiap pembaruan ada yang menerima dan ada yang menolak,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam homili.

Ia menjelaskan bahwa orang Farisi menjadi contoh kelompok yang sulit menerima pembaruan. Mereka mempersoalkan cara murid-murid Yesus menjalankan kehidupan keagamaan, khususnya mengenai puasa.

Bagi Yesus, kehidupan beriman tidak boleh hanya dinilai berdasarkan tindakan lahiriah. Yang lebih penting adalah hati manusia. Puasa, doa, ibadah, dan berbagai kewajiban keagamaan harus membawa seseorang semakin dekat kepada Allah.

Aturan tetap memiliki tempat dalam kehidupan umat. Namun, aturan tidak boleh membuat manusia kehilangan kasih. Hukum dan ketentuan keagamaan seharusnya membantu manusia bertumbuh dalam kebaikan.

Karena itu, umat diajak melihat kembali tujuan setiap praktik iman. Puasa bukan hanya menahan makanan. Doa bukan sekadar mengucapkan kata-kata. Kehadiran dalam perayaan Ekaristi juga bukan sekadar memenuhi kewajiban.

Semua tindakan tersebut harus menghasilkan perubahan dalam diri.

Seseorang yang berdoa diharapkan menjadi lebih sabar. Orang yang berpuasa diharapkan semakin mampu mengendalikan diri. Mereka yang rajin mengikuti perayaan iman diharapkan semakin peduli terhadap kehidupan sesama.

Dengan demikian, iman tidak berhenti di dalam gereja. Nilai yang diterima dalam perayaan harus dibawa ke tengah keluarga dan masyarakat.

Anggur Baru dan Manusia Baru

R.P. Kornelius kemudian mengajak umat merenungkan makna anggur baru dan kantong kulit baru.

Anggur baru dapat dipahami sebagai rahmat dan kasih Kristus yang diberikan kepada manusia. Sementara itu, kantong baru menggambarkan hati yang siap menerima perubahan.

Manusia sering menginginkan sesuatu yang baru. Namun, tidak semua orang siap meninggalkan kebiasaan lama. Seseorang mungkin menginginkan kehidupan yang lebih baik, tetapi tetap mempertahankan sikap egois. Ia berharap memiliki hubungan yang harmonis, tetapi masih menyimpan dendam.

Di sinilah tantangan menjadi murid Kristus.

Pembaruan tidak dapat dimulai hanya dari lingkungan sekitar. Perubahan harus dimulai dari dalam diri. Pikiran, sikap, perkataan, dan tindakan perlu diperiksa kembali.

Umat diajak bertanya kepada diri sendiri. Apakah selama ini saya sudah hidup dalam kasih? Apakah saya mudah mengampuni? Apakah saya masih suka menghakimi orang lain? Apakah saya lebih mementingkan diri sendiri? Apakah kehadiran saya membawa sukacita bagi keluarga?

Pertanyaan tersebut membantu setiap orang melihat perjalanan imannya.

Menjadi manusia baru bukan berarti seseorang langsung menjadi sempurna. Pembaruan merupakan proses yang berlangsung terus-menerus. Ada kelemahan yang perlu diperbaiki. Ada luka yang harus disembuhkan. Ada kebiasaan buruk yang perlu ditinggalkan.

Kristus memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk memulai kembali.

Menghidupi Iman dengan Sukacita

Pesan pertama yang ditekankan dalam permenungan Injil adalah pentingnya menghidupi iman dengan sukacita.

Kehadiran Yesus membawa keselamatan. Karena itu, kehidupan seorang murid Kristus seharusnya memancarkan harapan.

Sukacita Kristiani bukan berarti hidup tanpa persoalan. Setiap orang tetap menghadapi kesulitan, kehilangan, kegagalan, dan berbagai tantangan. Namun, iman memberikan kekuatan untuk menghadapi semuanya dengan harapan.

Orang yang percaya kepada Kristus tidak berjalan sendirian.

Sukacita tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana. Senyum kepada orang lain, sapaan yang ramah, kesediaan mendengarkan, bantuan kepada mereka yang mengalami kesulitan, serta kemampuan memberikan penghiburan merupakan bentuk nyata kehidupan iman.

Kasih tidak selalu hadir melalui tindakan besar. Perhatian kecil yang dilakukan dengan tulus dapat memberikan arti bagi seseorang.

Karena itu, umat diajak menjadikan keluarga sebagai tempat pertama untuk menghadirkan sukacita Kristiani. Suami dan istri dipanggil untuk saling menghargai. Orang tua diharapkan menjadi teladan bagi anak-anak. Anak-anak juga belajar menghormati orang tua.

Dalam kehidupan lingkungan dan komunitas, semangat yang sama perlu dikembangkan. Perbedaan karakter tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh.

Membuka Diri terhadap Pembaruan Hati

Pesan berikutnya adalah keberanian membuka diri terhadap pembaruan.

Kantong kulit lama menggambarkan hati yang tertutup. Hati seperti ini sulit menerima sesuatu yang baru. Ia merasa cara lama selalu paling benar.

Sikap tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang sulit menerima kritik. Ada pula yang tidak mau mengakui kesalahan. Sebagian lainnya terus mempertahankan kebiasaan yang sebenarnya sudah tidak sesuai dengan semangat kasih.

Yesus mengajak manusia keluar dari keadaan tersebut.

Pembaruan hati membutuhkan kerendahan hati. Kita harus berani mengakui bahwa diri sendiri masih memiliki kekurangan.

Orang yang rendah hati tidak takut berubah. Ia mampu menerima nasihat. Ia bersedia belajar. Ia tidak menganggap dirinya selalu benar.

Pembaruan juga membutuhkan keberanian untuk melepaskan masa lalu. Kesalahan yang pernah dilakukan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti bertumbuh.

Selama manusia mau kembali kepada Allah, selalu ada jalan untuk memperbaiki kehidupan.

Meninggalkan Cara Hidup Lama

Dalam homilinya, R.P. Kornelius juga mengajak umat meninggalkan berbagai kebiasaan lama yang menjauhkan manusia dari Allah.

Salah satunya adalah sikap terlalu mementingkan formalitas. Kehidupan beragama tidak boleh hanya terlihat baik dari luar. Kesalehan harus tampak melalui kasih kepada sesama.

Orang beriman tidak dipanggil untuk sekadar mengetahui aturan. Ia juga harus memahami semangat di balik aturan tersebut.

Kebiasaan kedua yang perlu ditinggalkan adalah menghakimi sesama. Manusia sering melihat kesalahan orang lain dengan cepat, tetapi lambat melihat kekurangan diri sendiri.

Yesus mengajak umat untuk memiliki hati yang berbelas kasih. Sebelum menilai seseorang, manusia perlu memahami situasinya.

Tidak semua persoalan dapat dilihat hanya dari satu sisi. Setiap orang memiliki perjuangan yang mungkin tidak diketahui oleh orang lain.

Sikap berikutnya adalah menyimpan dendam.

Dendam membuat hati sulit mengalami kedamaian. Luka memang tidak selalu mudah disembuhkan. Namun, pengampunan menjadi jalan untuk membebaskan hati dari beban masa lalu.

Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan. Pengampunan berarti memilih untuk tidak terus hidup dalam kebencian.

Umat juga diajak meninggalkan egoisme. Kehidupan Kristiani tidak hanya berbicara mengenai apa yang kita terima. Ada panggilan untuk berbagi.

Berbagi waktu, tenaga, perhatian, kemampuan, dan kepedulian merupakan bagian dari kehidupan sebagai murid Kristus.

Selain itu, umat diminta tidak malas dalam berbuat baik. Kesempatan untuk melakukan kebaikan sering hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kadang kesempatan tersebut terlihat sangat sederhana.

Menolong orang yang kesulitan, mengunjungi mereka yang sakit, memberikan perhatian kepada orang yang kesepian, atau membantu pekerjaan bersama merupakan bentuk pelayanan yang nyata.

Kebaikan tidak perlu menunggu tindakan besar.

Ekaristi Menjadi Sumber Kehidupan

Perayaan Misa menjadi ruang bagi umat untuk menerima kekuatan rohani. Dalam Ekaristi, umat kembali diarahkan kepada Kristus sebagai sumber kehidupan.

Perayaan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan iman.

Setelah mengikuti Misa, umat diharapkan tidak kembali menjalani kehidupan dengan cara yang sama. Ada sesuatu yang perlu dibawa pulang. Sabda Tuhan harus menjadi pedoman dalam mengambil keputusan.

Kasih yang diterima dalam perayaan perlu diwujudkan melalui kehidupan nyata.

Dalam konteks keluarga, kasih dapat diwujudkan dengan kesabaran. Dalam pekerjaan, nilai tersebut terlihat melalui kejujuran. Dalam pergaulan, kasih hadir melalui sikap menghargai. Dalam kehidupan masyarakat, semangat Kristiani tampak melalui kepedulian dan pelayanan.

Dengan demikian, perayaan Ekaristi tidak berhenti ketika umat meninggalkan gereja. Pesannya terus berjalan bersama setiap orang.

Pelayanan Liturgi Berjalan Khidmat

Perayaan Misa Jumat pertama tersebut juga didukung oleh pelayanan liturgi dari umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Tugas lektor dilaksanakan oleh Bapak Yohanes Sigit Kurnianto. Pelayanan musik liturgi dipercayakan kepada Saudari Lucia Silpa Kurnianti sebagai organis pertama dan Ibu Martha Koleta Popyzesika sebagai organis kedua.

Tugas dirigen dijalankan oleh Ibu Fransiska Romana Sri Wijati.

Koor lingkungan Kanak-kanak Yesus (KKY) turut mengambil bagian dalam mengiringi perayaan. Keterlibatan berbagai petugas liturgi menunjukkan bahwa perayaan Ekaristi menjadi tanggung jawab bersama umat.

Setiap pelayanan memiliki peran dalam membantu umat mengikuti perayaan dengan penuh perhatian.

Kehadiran para petugas juga memperlihatkan bahwa kehidupan menggereja membutuhkan partisipasi banyak pihak. Ada yang bertugas di altar, ada yang melayani melalui musik, ada yang membaca Sabda Tuhan, dan ada pula yang mendukung perayaan melalui pelayanan lainnya.

Semua pelayanan tersebut memiliki nilai ketika dilakukan dengan ketulusan.

Ajakan Menjadi Kantong Kulit yang Baru

Pada bagian akhir homilinya, R.P. Kornelius mengarahkan umat kembali pada pesan utama Injil. Anggur baru harus ditempatkan dalam kantong yang baru.

Pesan itu menjadi ajakan untuk menjadi manusia baru dalam Kristus.

Manusia baru bukan hanya orang yang mengetahui ajaran Yesus. Ia adalah pribadi yang berusaha menerapkan kasih dalam kehidupan.

Ia belajar meninggalkan kebencian. Ia berusaha mengendalikan ego. Ia tidak mudah menghakimi. Ia terbuka terhadap nasihat. Ia bersedia memperbaiki kesalahan.

Perubahan tersebut mungkin tidak selalu mudah. Namun, perjalanan iman memang membutuhkan proses.

Setiap hari merupakan kesempatan untuk memperbarui diri.

Umat dapat memulainya dari hal sederhana. Meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Mengucapkan terima kasih. Mengampuni orang yang menyakiti. Membantu tanpa mengharapkan imbalan. Menyisihkan waktu untuk keluarga. Mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian.

Langkah kecil tersebut dapat menjadi tanda bahwa kasih Kristus mulai bekerja dalam kehidupan.

Perayaan Misa Jumat, 4 September 2026, akhirnya menjadi momentum bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang untuk kembali meneguhkan iman. Pesan Injil mengingatkan bahwa keselamatan bukan hanya tentang menjalankan aturan, tetapi juga tentang menerima Kristus dan membiarkan kasih-Nya mengubah kehidupan.

Anggur baru membutuhkan kantong baru. Demikian pula rahmat Kristus membutuhkan hati yang terbuka.

Karena itu, umat diajak meninggalkan cara hidup lama dan bergerak menuju kehidupan yang lebih baik. Iman hendaknya menghasilkan sukacita, pengampunan, kepedulian, dan pelayanan.

Dengan hati yang diperbarui, umat diharapkan mampu menghadirkan kasih Kristus di tengah keluarga, komunitas, Gereja, dan masyarakat.

Pembaruan itu dimulai dari diri sendiri. Dari hati yang mau berubah. Dari keberanian meninggalkan kebiasaan lama. Dari kesediaan menerima kasih Allah.

Dengan demikian, menjadi manusia baru dalam Kristus bukan sekadar sebuah gagasan. Ia menjadi panggilan yang diwujudkan setiap hari melalui perkataan, sikap, dan tindakan nyata.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:  4 September 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar