Perayaan Hari Minggu Paskah III di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: Umat Diajak Mengenali dan Bersaksi tentang Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari
Ketapang, 19 April 2026. Suasana penuh sukacita dan iman terasa begitu kental di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Minggu pagi, 19 April 2026. Umat Katolik dari berbagai lingkungan berkumpul dalam perayaan Ekaristi Hari Minggu Paskah III yang dimulai tepat pukul 07.00 WIB. Dengan warna liturgi putih yang melambangkan sukacita kebangkitan, umat diajak untuk kembali merenungkan makna kehadiran Kristus yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan Misa Kudus ini dipimpin oleh RD. Agustinus Mujianto yang dengan penuh khidmat memimpin seluruh rangkaian liturgi. Sejak awal perayaan, suasana gereja dipenuhi oleh keheningan yang penuh makna, diiringi dengan nyanyian pembuka yang dinyanyikan oleh koor Lingkungan St. Rafael. Harmoni suara umat yang berpadu dengan alunan musik dari organis Saudari Cintia serta arahan dirigen Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini, menciptakan suasana yang mengangkat hati umat kepada Tuhan.
Petugas liturgi yang terlibat dalam perayaan ini menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Ibu Luliana Suan sebagai lektor membacakan Sabda Tuhan dengan jelas dan penuh penghayatan, sementara Ibu Xioa Ling sebagai pemazmur mengajak umat untuk menanggapi Sabda Tuhan melalui mazmur yang dinyanyikan dengan indah dan penuh penghayatan iman.
Suasana Liturgi yang Hidup dan Menghidupkan
Sejak awal perayaan, umat terlihat mengikuti setiap bagian liturgi dengan penuh perhatian. Tanda salib yang menjadi pembuka perayaan bukan hanya menjadi rutinitas, tetapi sungguh dihayati sebagai tanda iman yang mendalam. Tanda salib menjadi simbol bahwa setiap umat yang hadir telah ditebus oleh darah Kristus dan diutus untuk menjadi saksi-Nya di tengah dunia.
Dalam liturgi Sabda, bacaan-bacaan yang diwartakan mengajak umat untuk merenungkan kembali perjalanan iman mereka. Sabda Tuhan yang disampaikan tidak hanya menjadi bahan renungan, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Homili: Dari Tidak Mengenal Menjadi Bersaksi
Dalam homilinya, RD. Agustinus Mujianto mengajak umat untuk merenungkan kisah dua murid yang berjalan menuju Emaus. Kisah ini menjadi pusat refleksi iman dalam perayaan tersebut. Ia menekankan bahwa dalam perjalanan hidup, manusia sering kali berada dalam situasi yang mirip dengan kedua murid tersebut.
“Kita sering berjalan bersama Tuhan, tetapi tidak menyadari kehadiran-Nya,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa kedua murid itu sebenarnya berjalan bersama Yesus, tetapi mereka tidak mengenali-Nya. Bahkan ketika Yesus menjelaskan Kitab Suci kepada mereka, hati mereka belum terbuka sepenuhnya.
Namun, momen penting terjadi ketika Yesus memecah-mecahkan roti. Dalam tindakan sederhana itu, mata mereka terbuka dan mereka akhirnya mengenali bahwa yang bersama mereka adalah Tuhan sendiri.
Romo Agustinus menegaskan bahwa pengalaman ini sangat relevan dengan kehidupan umat saat ini. Banyak orang yang sebenarnya mengalami kehadiran Tuhan dalam hidupnya, tetapi tidak menyadarinya. Kesibukan, masalah hidup, dan kurangnya kepekaan rohani sering kali membuat manusia “buta” terhadap kehadiran Allah.
Belajar dari Ayub: Iman yang Tak Goyah
Lebih lanjut, dalam homilinya, RD. Agustinus Mujianto mengajak umat untuk belajar dari tokoh Ayub dalam Kitab Suci. Ayub adalah contoh nyata dari seseorang yang tetap setia kepada Tuhan dalam segala keadaan.
“Hartanya diambil, anak-anaknya diambil, bahkan ia dijauhi oleh teman-temannya. Tetapi ia tetap berkata: Terpujilah Tuhan,” jelasnya.
Kisah Ayub menjadi pengingat bahwa iman sejati tidak bergantung pada keadaan. Ketika segala sesuatu berjalan baik, mudah bagi seseorang untuk percaya. Namun, iman yang sejati justru terlihat ketika seseorang tetap setia dalam penderitaan.
Dalam kehidupan modern saat ini, tantangan iman semakin kompleks. Banyak orang yang mudah kehilangan harapan ketika menghadapi kesulitan. Namun, melalui teladan Ayub, umat diajak untuk tetap percaya bahwa Tuhan selalu hadir dan memiliki rencana yang indah.
Keteladanan Bunda Maria
Selain Ayub, RD. Agustinus juga mengangkat keteladanan Bunda Maria sebagai contoh iman yang sempurna. Bunda Maria dengan penuh kerendahan hati menerima kehendak Tuhan dengan berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
Ucapan tersebut bukanlah hal yang mudah. Itu adalah ungkapan iman yang mendalam dan totalitas penyerahan diri kepada Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, umat sering kali sulit untuk menerima kehendak Tuhan, terutama ketika tidak sesuai dengan keinginan pribadi.
Melalui teladan Bunda Maria, umat diajak untuk belajar berkata “ya” kepada Tuhan dalam segala situasi. Iman bukan hanya tentang mengenal Tuhan, tetapi juga tentang mempercayakan hidup sepenuhnya kepada-Nya.
Dari Mengenal Menuju Bersaksi
Salah satu poin penting dalam homili tersebut adalah ajakan untuk tidak berhenti hanya pada tahap mengenal Yesus. RD. Agustinus menegaskan bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata, yaitu bersaksi.
Ia menyinggung kisah Rasul Petrus yang pernah menyangkal Yesus. Namun, setelah mengalami pertobatan dan dipenuhi oleh Roh Kudus, Petrus menjadi saksi yang berani.
“Iman membuat kita berani bersaksi, di manapun kita berada,” tegasnya.
Sebagai orang yang telah dibaptis, setiap umat Katolik memiliki tanggung jawab untuk menjadi saksi Kristus. Baptisan bukan hanya sebuah simbol, tetapi merupakan panggilan untuk hidup sebagai murid Kristus.
Sejarah Awal Iman: Dari Tanda Salib
Dalam bagian lain homilinya, RD. Agustinus juga menyinggung sejarah awal masuknya iman Katolik yang dimulai dari tanda salib. Ia menyebutkan bagaimana iman sederhana yang diwujudkan melalui tanda salib dapat menjadi awal dari pewartaan yang lebih besar.
Hal ini menjadi pengingat bahwa tindakan kecil yang dilakukan dengan iman dapat membawa dampak besar. Setiap umat dipanggil untuk mewartakan Injil, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan sehari-hari.
Harapan dan Peneguhan Iman
Menjelang akhir homili, RD. Agustinus memberikan pesan peneguhan kepada umat. Ia mengingatkan agar umat tidak pernah kehilangan iman, sekalipun menghadapi situasi yang sulit.
“Jangan pernah kehilangan iman kalian walaupun tidak ada jalan yang bisa kamu lalui,” pesannya.
Kata-kata ini menjadi sumber kekuatan bagi umat yang mungkin sedang menghadapi berbagai tantangan hidup. Ia menegaskan bahwa perjalanan hidup bersama Tuhan adalah perjalanan panjang yang penuh dengan dinamika, tetapi selalu ada harapan di dalamnya.
Partisipasi Umat yang Aktif
Perayaan Misa berlangsung dengan penuh partisipasi umat. Setiap bagian liturgi diikuti dengan khidmat, mulai dari liturgi Sabda hingga liturgi Ekaristi. Umat terlihat aktif dalam menjawab doa-doa, menyanyikan lagu-lagu, dan mengikuti setiap ritus dengan penuh kesadaran.
Koor Lingkungan St. Rafael memberikan kontribusi besar dalam menciptakan suasana liturgi yang hidup. Lagu-lagu yang dibawakan tidak hanya indah secara musikal, tetapi juga mendalam secara rohani.
Organis Saudari Cintia dengan penuh keterampilan mengiringi setiap lagu, sementara dirigen Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini memimpin koor dengan penuh dedikasi.
Makna Perayaan bagi Umat
Bagi umat yang hadir, perayaan ini bukan hanya sekadar rutinitas Mingguan, tetapi menjadi momen perjumpaan dengan Tuhan. Banyak umat yang merasa dikuatkan dan diteguhkan melalui Sabda Tuhan dan homili yang disampaikan.
Perayaan ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan umat. Setelah Misa, umat saling menyapa dan berbagi cerita, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat.
Penutup: Perjalanan Iman yang Berkelanjutan
Perayaan Hari Minggu Paskah III di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menjadi pengingat bahwa iman adalah sebuah perjalanan. Seperti dua murid Emaus, umat diajak untuk terus berjalan bersama Tuhan, membuka hati untuk mengenali kehadiran-Nya, dan akhirnya menjadi saksi bagi sesama.
Melalui Sabda Tuhan dan refleksi yang disampaikan, umat diteguhkan untuk tetap setia dalam iman, belajar dari teladan Ayub dan Bunda Maria, serta berani bersaksi seperti para rasul.
Perjalanan iman tidak selalu mudah, tetapi dengan kehadiran Tuhan, setiap langkah menjadi penuh makna. Seperti yang disampaikan dalam homili, hidup bersama Allah adalah perjalanan panjang yang penuh harapan.
Dengan semangat Paskah yang terus menyala, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diharapkan mampu menjadi terang dan garam dunia, menghadirkan kasih Kristus di tengah kehidupan sehari-hari.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 19 April 2026





0 comments:
Posting Komentar