Umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Diajak Menjadi Saksi Kristus Melalui Keteladanan Hidup
Ketapang, 21 Juni 2026.Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa Pekan XII Tahun A dengan penuh khidmat pada Minggu pagi, 21 Juni 2026. Perayaan yang menggunakan warna liturgi hijau tersebut dimulai pukul 07.00 WIB dan dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP.
Sejak pagi hari umat telah memenuhi gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi yang menjadi sumber dan puncak kehidupan iman Gereja. Suasana penuh sukacita dan kekhusyukan tampak mewarnai seluruh rangkaian liturgi. Kehadiran umat dari berbagai lingkungan menunjukkan semangat kebersamaan dalam membangun persekutuan sebagai murid-murid Kristus.
Pelayanan liturgi pada perayaan ini dipercayakan kepada berbagai petugas yang telah mempersiapkan diri dengan baik. Tugas pemazmur dilaksanakan oleh Saudari Noberta Cahaya Setiti, sementara bacaan Kitab Suci dibawakan oleh Saudari Vanessa Christine sebagai lektor. Iringan musik liturgi dipercayakan kepada Saudara Atanasius Aquila Puruhita Raya sebagai organis.
Perayaan Ekaristi semakin semarak dengan pelayanan koor dari Lingkungan Santo Rafael yang membawakan lagu-lagu liturgi secara harmonis dan penuh penghayatan. Paduan suara tersebut dipimpin oleh Ibu Yuliana Yani selaku dirigen. Keharmonisan suara koor membantu umat memasuki suasana doa dan permenungan yang mendalam sepanjang perayaan berlangsung.
Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP. mengajak seluruh umat untuk merenungkan makna sejati menjadi pengikut Kristus di tengah dunia modern yang penuh tantangan. Menurut beliau, pada zaman sekarang seseorang tidak mengalami kesulitan untuk mengaku sebagai orang Katolik. Banyak tanda lahiriah yang dapat menunjukkan identitas sebagai umat Katolik, seperti mengenakan kalung rosario, membawa simbol-simbol religius, ataupun aktif mengikuti berbagai kegiatan Gereja.
Namun demikian, RP. Vitalis Nggeal, CP. menegaskan bahwa pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah kehidupan sehari-hari sungguh mencerminkan ajaran Kristus. Menjadi Katolik bukan sekadar persoalan identitas, melainkan panggilan untuk hidup seturut kehendak Tuhan.
“Di zaman ini tidak sulit mengaku Katolik dengan memakai kalung rosario. Pertanyaannya, apakah hidup kita benar-benar mengikuti Kristus?” ungkap RP. Vitalis Nggeal, CP. dalam homilinya.
Beliau kemudian mengutip sabda Yesus yang menegaskan, “Setiap orang yang mengakui Aku di hadapan manusia, Aku juga akan mengakuinya di hadapan Bapa-Ku yang di surga.” Sabda tersebut menjadi pengingat bahwa pengakuan terhadap Kristus harus diwujudkan secara nyata dalam tindakan dan perilaku hidup sehari-hari.
Menurut RP. Vitalis Nggeal, CP., banyak orang jatuh dalam sikap yang tidak selaras antara perkataan dan perbuatan. Mereka mengucapkan kata-kata yang baik, tetapi tidak mewujudkannya dalam tindakan konkret. Fenomena seperti ini dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam keluarga, lingkungan kerja, dunia pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat.
Beliau menegaskan bahwa mengakui Kristus tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Saya percaya kepada Yesus.” Iman harus tampak dalam pilihan hidup yang nyata. Ketika seseorang memiliki kesempatan untuk melakukan kecurangan tetapi memilih berlaku jujur, di situlah iman diwujudkan. Ketika seseorang mampu mengampuni meskipun disakiti, di situlah Kristus hadir dalam kehidupannya.
RP. Vitalis Nggeal, CP. juga mengangkat sebuah pepatah Latin yang sangat terkenal, yaitu Verba docent, exempla trahunt, yang berarti “kata-kata mengajar, tetapi teladanlah yang menggerakkan.” Menurut beliau, pepatah tersebut sangat relevan dengan kehidupan umat Kristiani saat ini.
Kata-kata memang memiliki kekuatan untuk mengajar dan memberikan pemahaman. Akan tetapi, teladan hidup memiliki kekuatan yang jauh lebih besar karena mampu menginspirasi dan menggerakkan hati orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Dalam dunia kepemimpinan, misalnya, seorang pemimpin yang baik bukan hanya pandai memberikan instruksi, tetapi juga mampu menunjukkan contoh nyata melalui perilakunya. Seorang pemimpin yang disiplin, jujur, dan bertanggung jawab akan lebih mudah memperoleh kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya.
Demikian pula dalam dunia pendidikan. Anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat yang diberikan orang tua atau guru, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari. Orang tua yang rajin berdoa akan lebih mudah menanamkan kebiasaan doa kepada anak-anaknya. Guru yang hidup jujur dan bertanggung jawab akan menjadi inspirasi bagi para peserta didik.
RP. Vitalis Nggeal, CP. menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya belajar melalui pengamatan. Apa yang dilihat sering kali lebih berpengaruh dibandingkan apa yang didengar. Oleh karena itu, keteladanan menjadi sarana pewartaan yang sangat efektif.
“Orang cenderung lebih percaya pada apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar,” jelas RP. Vitalis Nggeal, CP.
Beliau menambahkan bahwa keteladanan yang baik akan membangun kepercayaan. Ketika seseorang menunjukkan kesesuaian antara perkataan dan perbuatannya, orang lain akan lebih mudah mempercayainya. Sebaliknya, ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan dapat merusak kepercayaan yang telah dibangun.
Dalam kehidupan menggereja, keteladanan memiliki peranan yang sangat penting. Kehadiran umat Katolik di tengah masyarakat seharusnya membawa nilai-nilai Kristiani yang nyata, seperti kejujuran, kerendahan hati, kepedulian, kesetiaan, dan semangat pelayanan.
RP. Vitalis Nggeal, CP. memberikan contoh kehidupan religius para biarawan dan biarawati yang berusaha hidup dalam ketaatan kepada panggilan Tuhan. Demikian pula para pelajar yang memilih bersikap jujur dalam ujian meskipun memiliki kesempatan untuk berbuat curang. Semua itu merupakan bentuk kesaksian iman yang nyata.
Beliau menekankan bahwa menjadi murid Kristus berarti memiliki hati yang penuh pengampunan dan kepedulian terhadap sesama. Dunia saat ini sangat membutuhkan pribadi-pribadi yang mampu menghadirkan kasih Allah melalui tindakan nyata.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali seseorang lebih mudah menghakimi daripada mengampuni. Namun seorang murid Kristus dipanggil untuk menghadirkan belas kasih. Pengampunan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan iman yang mampu mengatasi luka dan kebencian.
Kepedulian terhadap sesama juga menjadi ciri khas seorang pengikut Kristus. Kepedulian itu dapat diwujudkan melalui perhatian kepada orang yang sakit, membantu mereka yang mengalami kesulitan ekonomi, menemani mereka yang sedang berduka, ataupun memberikan dukungan kepada mereka yang sedang menghadapi berbagai persoalan hidup.
Menurut RP. Vitalis Nggeal, CP., banyak orang pada masa sekarang tidak membaca Kitab Suci secara langsung, tetapi mereka membaca kehidupan umat Kristiani. Mereka menilai ajaran Kristus melalui sikap dan perilaku para pengikut-Nya.
Karena itu, setiap orang Katolik dipanggil menjadi “Kitab Suci yang hidup”, yaitu menghadirkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan nyata. Melalui keteladanan tersebut, orang lain dapat merasakan kehadiran Kristus tanpa harus mendengar banyak kata-kata.
“Banyak orang tidak membaca Kitab Suci, tetapi membaca tingkah laku kita,” tegas RP. Vitalis Nggeal, CP.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesaksian hidup memiliki dampak yang sangat besar dalam karya evangelisasi Gereja. Ketika umat hidup sesuai ajaran Kristus, mereka secara tidak langsung sedang mewartakan Injil kepada dunia.
Lebih lanjut, RP. Vitalis Nggeal, CP. menegaskan bahwa Yesus tidak terutama meminta para pengikut-Nya menjadi pengkhotbah yang pandai berbicara. Yesus menghendaki para murid menjadi saksi yang menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Saksi adalah orang yang mengalami dan menghidupi apa yang ia yakini. Oleh sebab itu, kesaksian hidup yang baik akan menjadi pewartaan Injil yang paling efektif.
Di akhir homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP. mengajak seluruh umat untuk melakukan refleksi pribadi. Apakah orang lain dapat melihat Kristus melalui sikap, perkataan, dan tindakan kita? Apakah kehidupan kita sungguh menjadi cerminan kasih Allah?
Pertanyaan tersebut menjadi bahan permenungan yang mendalam bagi seluruh umat yang hadir. Menjadi murid Kristus berarti berani menghadirkan Injil dalam kehidupan nyata, sehingga orang lain dapat berkata, “Inilah murid Kristus yang telah mengakui Tuhan di dunia.”
Perayaan Ekaristi berlangsung dengan tertib dan penuh penghayatan hingga selesai. Umat mengikuti setiap bagian liturgi dengan penuh perhatian, mulai dari Liturgi Sabda hingga Liturgi Ekaristi. Kehadiran petugas liturgi yang melayani dengan baik turut mendukung suasana ibadah yang khusyuk.
Melalui homili yang disampaikan RP. Vitalis Nggeal, CP., umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diajak untuk semakin menyadari bahwa iman Kristiani tidak berhenti pada pengakuan lisan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang mencerminkan kasih, kejujuran, pengampunan, dan kepedulian.
Dengan demikian, setiap umat dapat menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, lingkungan kerja, sekolah, dan masyarakat. Keteladanan hidup yang baik akan menjadi pewartaan Injil yang hidup dan mampu membawa banyak orang semakin mengenal kasih Tuhan.
“Amin.”
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 21 Juni 2026







0 comments:
Posting Komentar