Misa Pembukaan Rekoleksi Paya Kumang Tekankan Keteguhan Pelayanan


Ketapang, 28 September 2026. Sebanyak 36 peserta Rekoleksi Bersama Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengikuti Misa Pembukaan pada Jumat, 25 September 2026, pukul 20.00 WIB di Rumah Retret Pusat Spiritualitas Pasionis Bukit Laet, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Perayaan Ekaristi tersebut menjadi awal rangkaian rekoleksi yang diikuti Dewan Pastoral Paroki (DPP), prodiakon, ketua lingkungan, pelayan umat, kolektan, dan Orang Muda Katolik (OMK) pada 25–27 September 2026.

Misa Pembukaan dipimpin RP. Vitalis Nggeal, CP sebagai selebran utama dengan RP. Paskalis Nores, CP sebagai konselebran. Dalam perayaan tersebut, Dwi Hartanto, S.Kom bertugas sebagai lektor, sedangkan Klaudia Sri Pawanti membawakan Doa Umat. Bacaan Injil dibacakan oleh RP. Paskalis Nores, CP dari Injil Lukas 9:18–22.

Rekoleksi mengusung tema “Satu Hati, Satu Pelayanan untuk Ekaristi dan Umat” dengan landasan Yohanes 17:21. Kegiatan dilaksanakan di kawasan Jesu XPI Passio, tempat ziarah Kongregasi Pasionis (CP), yang mencakup gereja, Gua Maria, dan rumah retret.

Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP menekankan pentingnya mengenal Yesus secara benar, terutama bagi umat dan para pelayan Gereja. Ia mengarahkan perhatian peserta pada gambaran Yesus yang mengalami penderitaan, ditolak, dan menjalani jalan salib sebagaimana disampaikan dalam Injil Lukas.

Menurut materi homili yang disampaikan dalam Misa Pembukaan, pengenalan terhadap Yesus tidak berhenti pada pengetahuan tentang diri-Nya. Para pelayan Gereja juga dipanggil untuk memahami dan menghayati teladan hidup Kristus dalam menjalankan pelayanan kepada umat.

Pesan tersebut ditempatkan dalam konteks kehidupan pastoral. Pelayanan Gereja dapat menghadirkan berbagai tantangan. Para pelayan dapat berhadapan dengan situasi yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kesediaan untuk tetap melayani meskipun menghadapi kesulitan.




Misa Membuka Rangkaian Rekoleksi

Perayaan Ekaristi pada malam 25 September menjadi kegiatan pembuka sebelum peserta menjalani rangkaian rekoleksi selama tiga hari. Peserta datang dari berbagai unsur pelayanan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Kehadiran 36 peserta dalam kegiatan tersebut menunjukkan keterlibatan berbagai unsur yang selama ini mengambil bagian dalam kehidupan paroki. DPP, prodiakon, ketua lingkungan, pelayan umat, kolektan, dan OMK mengikuti kegiatan dalam satu rangkaian pembinaan.

Misa Pembukaan menjadi titik awal kegiatan bersama. Perayaan Ekaristi menempatkan seluruh peserta dalam suasana doa sebelum memasuki tahapan rekoleksi berikutnya.

Tema kegiatan, “Satu Hati, Satu Pelayanan untuk Ekaristi dan Umat”, memberikan arah bagi seluruh rangkaian. Tema tersebut menekankan bahwa berbagai tugas pelayanan di dalam paroki tetap berada dalam satu kehidupan Gereja.

Landasan Yohanes 17:21 juga menjadi bagian dari tema kegiatan. Ayat tersebut berkaitan dengan doa Yesus mengenai persatuan para pengikut-Nya.

Dalam konteks rekoleksi, persatuan menjadi bagian penting karena peserta berasal dari berbagai bidang pelayanan. Setiap bidang memiliki tanggung jawab berbeda, tetapi seluruhnya diarahkan kepada kehidupan Ekaristi dan pelayanan umat.

Injil Lukas Menjadi Dasar Perayaan

Bacaan Injil dalam Misa Pembukaan diambil dari Lukas 9:18–22. Bagian tersebut mengisahkan percakapan Yesus dengan para murid ketika Ia bertanya mengenai pandangan orang banyak tentang diri-Nya.

Para murid menyampaikan berbagai jawaban yang mereka dengar dari masyarakat. Ada yang menyebut Yesus sebagai Yohanes Pembaptis, Elia, atau salah seorang nabi zaman dahulu yang bangkit.

Yesus kemudian mengarahkan pertanyaan secara langsung kepada para murid mengenai siapa diri-Nya menurut mereka. Petrus menjawab bahwa Yesus adalah Mesias dari Allah.

Setelah itu, Yesus memperingatkan para murid agar tidak menyampaikan hal tersebut kepada siapa pun. Ia juga menjelaskan bahwa Anak Manusia harus mengalami banyak penderitaan, ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, kemudian dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Bagian Injil tersebut menjadi dasar refleksi dalam homili. Perhatian diarahkan pada identitas Yesus dan jalan penderitaan yang harus dijalani-Nya.

Bagi peserta rekoleksi yang merupakan para pelayan umat, bacaan tersebut memiliki kaitan dengan pengalaman pelayanan. Menjadi pelayan Gereja tidak selalu berarti menjalani situasi yang mudah. Ada tanggung jawab, tantangan, dan persoalan yang harus dihadapi dalam perjalanan pelayanan.

Homili Mengajak Mengenal Yesus

Dalam homili, RP. Vitalis Nggeal, CP mengangkat persoalan mengenai pengenalan umat terhadap Yesus. Ia menyampaikan bahwa banyak orang belum mengenal Yesus secara benar.

Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan pemikiran Paus Fransiskus mengenai pentingnya mengenal Yesus secara lebih mendalam. Pengenalan tersebut tidak hanya menyangkut pengetahuan keagamaan, tetapi juga hubungan dengan Kristus dan kesediaan mengikuti jalan yang ditempuh-Nya.

Dalam penjelasan homili, Yesus yang diwartakan dalam Injil adalah Yesus yang mengalami penderitaan. Ia menghadapi penolakan dan kesulitan sebelum mengalami kematian dan kebangkitan.

Gambaran tersebut menjadi penting bagi para pelayan Gereja. Pelayanan tidak selalu berlangsung dalam keadaan nyaman. Ada situasi yang menuntut kesabaran ketika pelayan berhadapan dengan berbagai karakter umat.

RP. Vitalis menghubungkan pengalaman tersebut dengan pelayanan pastoral. Para pelayan dapat menghadapi umat yang memiliki berbagai kebutuhan, pertanyaan, sikap, dan tanggapan terhadap pelayanan Gereja.

Dalam kondisi demikian, pemahaman mengenai Yesus yang menderita menjadi bagian dari kekuatan spiritual. Para pelayan diajak untuk tidak memandang kesulitan sebagai alasan untuk berhenti melayani.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi peserta yang menjalankan tugas pelayanan di lingkungan maupun paroki. Mereka tidak hanya diminta melakukan tugas secara administratif atau liturgis, tetapi juga membawa semangat Kristus dalam menjalankan tanggung jawab.

Pelayanan Tidak Selalu Berjalan Mudah

Salah satu pokok penting dalam homili adalah kenyataan bahwa pelayanan pastoral memiliki tantangan. Pengalaman tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Pelayan Gereja berhadapan dengan umat yang memiliki karakter berbeda. Ada umat yang mudah diajak bekerja sama. Ada pula situasi yang membutuhkan pendekatan lebih sabar.

Dalam materi homili, tantangan menghadapi umat yang rewel atau banyak menyampaikan keluhan disebut sebagai bagian dari pengalaman pelayanan. Hal tersebut ditempatkan dalam kerangka refleksi mengenai jalan pelayanan yang mengikuti teladan Kristus.

Kesulitan dalam pelayanan tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan untuk belajar memahami orang lain dan memperdalam kesetiaan terhadap tugas.

Pelayan Gereja juga perlu memiliki sikap yang tidak mudah menyerah. Ketika menghadapi persoalan, tugas pelayanan tetap dijalankan dengan kesabaran dan tanggung jawab.

Pemahaman tersebut menjadi bagian dari pembekalan peserta selama mengikuti rekoleksi. Para peserta tidak hanya berkumpul untuk membangun kebersamaan, tetapi juga diajak melihat kembali dasar spiritual dari pelayanan yang mereka jalankan.

Bukan Gambaran Yesus yang Serba Mudah

Dalam materi refleksi yang diberikan, perhatian juga diarahkan pada pemahaman mengenai Yesus yang tidak dapat disederhanakan sebagai jaminan kehidupan tanpa masalah.

Mengikuti Yesus bukan berarti seseorang akan selalu bebas dari penderitaan, memperoleh kenyamanan duniawi, atau terbebas dari berbagai persoalan. Jalan Kristiani juga mencakup kesetiaan ketika menghadapi kesulitan.

Dalam kerangka tersebut, salib menjadi bagian penting dalam memahami kehidupan Yesus. Salib tidak ditempatkan semata-mata sebagai simbol penderitaan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan kasih dan ketaatan Kristus.

Para peserta rekoleksi diajak memahami bahwa pelayanan kepada umat juga membutuhkan kesetiaan. Tugas yang dipercayakan kepada seseorang tidak selalu memberikan pengalaman yang mudah.

Bagi para prodiakon dan pelayan umat, pemahaman tersebut dapat menjadi dasar dalam menghadapi tantangan pastoral. Pelayanan dilakukan bukan karena selalu mendapatkan respons positif, tetapi karena adanya tanggung jawab untuk melayani.

Dengan demikian, pengalaman sulit dalam pelayanan dapat ditempatkan dalam refleksi iman. Para pelayan tetap perlu menjaga sikap, kesabaran, dan komitmen terhadap tugas yang dipercayakan.

Mengenal Kristus Melalui Kitab Suci

Materi yang disampaikan juga menghubungkan pengenalan terhadap Yesus dengan Kitab Suci. Pemahaman mengenai Kristus tidak dapat dilepaskan dari Injil dan kehidupan Gereja.

Dalam bahan yang menjadi dasar refleksi, gagasan Santo Hieronimus mengenai hubungan antara Kitab Suci dan pengenalan terhadap Kristus turut disebutkan. Prinsip tersebut menekankan pentingnya membaca dan memahami Kitab Suci sebagai jalan untuk mengenal Kristus.

Paus Fransiskus juga dikenal menekankan pentingnya Kitab Suci dalam kehidupan umat. Surat Apostolik Aperuit Illis menjadi salah satu dokumen yang menempatkan Sabda Allah sebagai bagian penting dalam kehidupan Gereja.

Dalam konteks rekoleksi, Kitab Suci tidak hanya dibaca sebagai teks. Pesan Injil menjadi bahan refleksi bagi peserta dalam menjalani kehidupan dan pelayanan.

Bacaan Lukas 9:18–22 memberikan contoh konkret mengenai bagaimana Yesus memperkenalkan jalan yang harus ditempuh-Nya. Para murid tidak hanya ditanya mengenai pendapat masyarakat, tetapi juga diajak menjawab siapa Yesus bagi mereka.

Pertanyaan tersebut memiliki relevansi bagi setiap pelayan Gereja. Sebelum melayani orang lain, seorang pelayan perlu memiliki dasar pengenalan iman yang kuat.

Yesus yang Menderita Menjadi Teladan Pelayan

Pesan mengenai Yesus yang menderita menjadi salah satu pokok utama homili. Dalam Injil, Yesus menyampaikan kepada para murid bahwa Anak Manusia akan mengalami penderitaan, penolakan, kematian, dan kebangkitan.

Jalan tersebut berbeda dari gambaran kehidupan yang selalu nyaman. Kristus menjalani tugas perutusan dengan menghadapi penolakan.

Para peserta rekoleksi diarahkan untuk melihat pelayanan mereka dalam terang pengalaman tersebut. Tantangan yang muncul dalam pelayanan tidak otomatis menunjukkan bahwa pelayanan tersebut gagal.

Ada situasi ketika seorang pelayan harus tetap menjalankan tugas meskipun menghadapi persoalan. Kesabaran menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Bagi prodiakon, pelayanan liturgis dan pelayanan kepada umat membutuhkan kesiapan hati. Bagi ketua lingkungan, pendampingan umat juga memerlukan perhatian dan kesediaan mendengarkan.

Pelayan umat memiliki tanggung jawab yang tidak selalu terlihat. Kolektan menjalankan tugas yang mendukung kehidupan perayaan. OMK mengambil bagian dalam kehidupan Gereja sesuai kemampuan dan peran mereka.

Semua bentuk pelayanan tersebut memiliki nilai ketika dilakukan dengan semangat iman dan tanggung jawab.

Peserta Berasal dari Berbagai Unsur

Sebanyak 36 peserta mengikuti Misa Pembukaan dan rangkaian rekoleksi. Mereka berasal dari berbagai unsur pelayanan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

DPP menjadi bagian dari peserta karena memiliki peran dalam kehidupan pastoral paroki. Prodiakon ikut serta sebagai pelayan dalam kehidupan liturgi dan umat.

Ketua lingkungan hadir sebagai bagian dari pelayanan yang berhubungan langsung dengan komunitas umat. Pelayan umat turut mengambil bagian dalam berbagai bentuk pelayanan yang dibutuhkan.

Kolektan juga menjadi bagian dari peserta. Sementara itu, OMK menghadirkan unsur kaum muda dalam kegiatan bersama tersebut.

Keberagaman peserta menjadi salah satu kekuatan kegiatan. Mereka memiliki pengalaman pelayanan yang berbeda dan dapat menjalani proses pembinaan dalam satu suasana.

Misa Pembukaan menjadi kesempatan bagi seluruh peserta untuk memulai kegiatan dengan dasar doa dan perayaan Ekaristi.

Peran dalam Perayaan Misa

Perayaan Misa Pembukaan melibatkan beberapa petugas liturgi. RP. Vitalis Nggeal, CP bertugas sebagai selebran utama.

RP. Paskalis Nores, CP bertugas sebagai konselebran sekaligus membacakan Injil. Bacaan Injil yang dibacakan berasal dari Lukas 9:18–22.

Dwi Hartanto, S.Kom bertugas sebagai lektor. Sementara itu, Klaudia Sri Pawanti membawakan Doa Umat.

Keterlibatan para petugas tersebut mendukung kelancaran perayaan. Masing-masing menjalankan tugas sesuai peran yang telah ditentukan.

Perayaan Ekaristi berlangsung sebagai pembuka sebelum peserta mengikuti rangkaian rekoleksi selama tiga hari. Misa menjadi bagian penting karena kegiatan tidak hanya diarahkan pada pertemuan dan pembinaan, tetapi juga ditempatkan dalam kehidupan iman Gereja.

Suasana Pembukaan Rekoleksi

Misa Pembukaan berlangsung pada malam hari, pukul 20.00 WIB. Peserta berkumpul di Rumah Retret Pusat Spiritualitas Pasionis Bukit Laet setelah berada di lokasi kegiatan.

Tempat tersebut berada di kawasan Jesu XPI Passio, tempat ziarah Kongregasi Pasionis. Di kawasan itu terdapat gereja, Gua Maria, dan rumah retret.

Lingkungan tersebut memberikan suasana yang mendukung kegiatan rohani. Peserta menjalani rangkaian rekoleksi di luar rutinitas pelayanan sehari-hari.

Kegiatan selama tiga hari memberikan ruang bagi peserta untuk berkumpul, berdoa, merefleksikan pengalaman pelayanan, dan membangun hubungan antarpelayan.

Misa Pembukaan menjadi bagian awal yang mengarahkan peserta untuk memasuki seluruh rangkaian kegiatan dengan semangat yang sesuai tema.

Satu Hati dalam Pelayanan

Tema “Satu Hati, Satu Pelayanan untuk Ekaristi dan Umat” menempatkan persatuan sebagai salah satu dasar kegiatan.

Dalam kehidupan paroki, pelayanan dilakukan oleh banyak orang. Tidak semua orang memiliki tugas yang sama. Namun, perbedaan tersebut dapat ditempatkan dalam satu tujuan.

Yohanes 17:21 menjadi dasar tema yang menekankan persatuan. Semangat tersebut relevan dengan keberadaan berbagai unsur pelayanan yang mengikuti rekoleksi.

Satu hati bukan berarti semua orang harus melakukan pekerjaan yang sama. Setiap peserta tetap menjalankan tugas sesuai tanggung jawabnya.

Persatuan dapat diwujudkan melalui komunikasi, kerja sama, saling menghargai, dan kesediaan mendukung tugas pelayanan orang lain.

Semangat tersebut menjadi bagian dari pembinaan yang berlangsung selama rekoleksi.

Tantangan Pastoral sebagai Bagian dari Pelayanan

Homili Misa Pembukaan memberikan perhatian pada kenyataan bahwa pelayanan pastoral memiliki tantangan. Peserta diajak melihat pengalaman tersebut dengan perspektif iman.

Dalam pelayanan sehari-hari, seseorang dapat menghadapi kritik, perbedaan pendapat, permintaan umat, atau kondisi yang tidak sesuai harapan.

Tantangan tersebut membutuhkan sikap dewasa. Seorang pelayan perlu mampu mendengarkan, memahami situasi, dan tetap menjalankan tugas dengan tanggung jawab.

Pengalaman Yesus yang ditolak dan menderita menjadi dasar refleksi. Para peserta diajak memahami bahwa kesetiaan dalam pelayanan juga membutuhkan ketekunan.

Hal tersebut tidak berarti setiap persoalan harus diterima tanpa penyelesaian. Tantangan tetap perlu dihadapi secara bijaksana dan sesuai dengan tanggung jawab pelayanan.

Rekoleksi memberikan ruang bagi peserta untuk melihat kembali pengalaman tersebut dan mencari kekuatan melalui doa, Sabda Tuhan, serta kebersamaan dengan sesama pelayan.

Pelayanan sebagai Persembahan

Dalam homili, pelayanan kepada umat ditempatkan sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan dan sesama.

Tugas yang dilakukan para peserta memiliki hubungan dengan kehidupan Gereja. Pelayanan tidak semata-mata dilaksanakan karena kewajiban organisasi, tetapi juga menjadi bentuk pengabdian.

Prodiakon, misalnya, menjalankan tugas pelayanan yang berkaitan dengan kehidupan Ekaristi dan umat. Ketua lingkungan menjalankan pendampingan komunitas. Pelayan umat mengambil bagian dalam berbagai kebutuhan pastoral.

OMK juga memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam kehidupan Gereja. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari dinamika komunitas dan keberlanjutan pelayanan.

Ketika setiap orang menjalankan tugas dengan tanggung jawab, pelayanan dapat menjadi persembahan yang diberikan kepada Tuhan dan sesama.

Tindak Lanjut Rekoleksi

Misa Pembukaan pada 25 September menjadi awal dari kegiatan yang berlangsung hingga 27 September 2026. Setelah perayaan tersebut, peserta melanjutkan rangkaian rekoleksi sesuai agenda yang telah disiapkan.

Pengalaman dalam Misa dan homili menjadi salah satu dasar refleksi selama kegiatan. Peserta diharapkan dapat melihat kembali motivasi pelayanan dan tantangan yang mereka hadapi.

Pesan mengenai pengenalan terhadap Yesus juga dapat menjadi bahan untuk memperdalam kehidupan iman. Pelayanan yang baik membutuhkan hubungan yang kuat dengan sumber iman.

Bagi peserta, tindak lanjut kegiatan tidak berhenti ketika rekoleksi selesai. Semangat yang diperoleh selama kegiatan perlu dibawa kembali ke lingkungan dan paroki.

Pelayanan selanjutnya tetap dilakukan sesuai tugas masing-masing. Namun, tema satu hati dan satu pelayanan dapat menjadi semangat dalam membangun kerja sama.

Rekoleksi Menjadi Ruang Pembinaan

Rekoleksi bersama memberikan kesempatan kepada para pelayan untuk mengambil jarak sejenak dari rutinitas. Selama kegiatan, mereka dapat mengikuti proses pembinaan dalam suasana yang lebih terarah.

Misa Pembukaan menjadi pintu masuk menuju proses tersebut. Perayaan Ekaristi menempatkan kegiatan dalam dasar kehidupan iman sebelum peserta menjalani rangkaian lainnya.

Bacaan Injil memberikan arah refleksi mengenai identitas Yesus dan jalan penderitaan-Nya. Homili kemudian menghubungkan pesan tersebut dengan pengalaman konkret para pelayan.

Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan Gereja tidak hanya membutuhkan keterampilan. Para pelayan juga membutuhkan kekuatan rohani untuk menjalankan tugas dalam berbagai situasi.

Penutup

Misa Pembukaan Rekoleksi Bersama Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, berlangsung pada Jumat, 25 September 2026, pukul 20.00 WIB di Rumah Retret Pusat Spiritualitas Pasionis Bukit Laet, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Sebanyak 36 peserta mengikuti perayaan yang menjadi awal rekoleksi pada 25–27 September 2026.

Misa dipimpin RP. Vitalis Nggeal, CP sebagai selebran utama dan RP. Paskalis Nores, CP sebagai konselebran. Dwi Hartanto, S.Kom bertugas sebagai lektor, sedangkan Klaudia Sri Pawanti membawakan Doa Umat. Injil Lukas 9:18–22 dibacakan oleh RP. Paskalis Nores, CP.

Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP mengajak peserta memperdalam pengenalan terhadap Yesus, terutama melalui pemahaman tentang Kristus yang mengalami penderitaan, penolakan, kematian, dan kebangkitan.

Pesan tersebut dikaitkan dengan kehidupan pelayanan pastoral. Para pelayan Gereja dapat menghadapi berbagai tantangan dalam mendampingi umat. Karena itu, pengenalan yang lebih mendalam terhadap Yesus menjadi bagian dari dasar spiritual dalam menjalankan pelayanan.

Rekoleksi mengusung tema “Satu Hati, Satu Pelayanan untuk Ekaristi dan Umat” dengan landasan Yohanes 17:21. Tema tersebut mempertemukan berbagai unsur pelayanan dalam satu kegiatan, yakni DPP, prodiakon, ketua lingkungan, pelayan umat, kolektan, dan OMK.

Misa Pembukaan di kawasan Jesu XPI Passio menjadi awal perjalanan rekoleksi. Setelah mengikuti perayaan Ekaristi, peserta melanjutkan rangkaian pembinaan hingga 27 September 2026.

Melalui rekoleksi tersebut, para peserta diarahkan untuk memperkuat kebersamaan, memperdalam kehidupan iman, serta melihat kembali pelayanan sebagai tanggung jawab kepada Tuhan dan sesama. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi peserta untuk kembali menjalankan tugas pelayanan di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang dengan semangat persatuan dan ketekunan.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:  28 September 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar