Ketapang, 20 September 2026.Orang tua dan wali baptis dari enam anak calon penerima Sakramen Baptis mengikuti pembekalan di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, Jumat, 18 September 2026, mulai pukul 16.00 wib hingga selesai. Pembekalan tersebut disampaikan oleh Ketua Bidang Pewartaan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Hendrikus Hendri, S.S., untuk membantu peserta memahami makna Sakramen Baptis serta tugas dan tanggung jawab dalam mendampingi pertumbuhan iman anak.
Enam anak yang dipersiapkan untuk menerima Sakramen Baptis terdiri atas empat anak laki-laki dan dua anak perempuan. Mereka adalah Christian Zio Fernando, Michaelia Zora Alexa, Gregorius Zenosius Samego, Johanes Jyohenzo Horge, Gloria Pricilla Livia, dan Valentinus Roveniel Eros Matteo.
Pembekalan berlangsung di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang sebagai bagian dari persiapan sebelum keenam anak tersebut menerima Sakramen Baptis. Orang tua dan wali baptis mendapatkan pemahaman mengenai arti Baptis dalam kehidupan Gereja Katolik sekaligus tanggung jawab yang melekat setelah anak menerima sakramen tersebut.
Kegiatan tidak hanya membahas tata cara pelaksanaan sakramen. Materi juga diarahkan pada pemahaman mengenai kehidupan iman anak setelah menerima Baptis. Orang tua dan wali baptis dipersiapkan untuk memberikan pendampingan yang berkelanjutan dalam keluarga maupun kehidupan menggereja.
Sakramen Baptis menjadi awal perjalanan iman seseorang dalam Gereja Katolik. Melalui sakramen tersebut, anak diterima sebagai anggota Gereja dan masuk dalam persekutuan umat beriman. Karena itu, penerimaan Baptis membutuhkan dukungan keluarga agar kehidupan iman anak dapat terus berkembang.
Enam Anak Dipersiapkan Menerima Baptis
Enam anak yang menjadi bagian dari persiapan Sakramen Baptis mengikuti proses pendampingan melalui orang tua dan wali baptis masing-masing. Persiapan tersebut menjadi bagian penting sebelum mereka menerima sakramen dalam kehidupan Gereja.
Adapun enam calon baptis tersebut ialah Christian Zio Fernando yang berjenis kelamin laki-laki, Michaelia Zora Alexa yang berjenis kelamin perempuan, Gregorius Zenosius Samego yang berjenis kelamin laki-laki, Johanes Jyohenzo Horge yang berjenis kelamin laki-laki, Gloria Pricilla Livia yang berjenis kelamin perempuan, serta Valentinus Roveniel Eros Matteo yang berjenis kelamin laki-laki.
Keenam calon baptis tersebut menjadi fokus pendampingan iman keluarga melalui persiapan yang dilakukan bersama orang tua dan wali baptis. Persiapan tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan upacara, tetapi juga menyangkut kesiapan keluarga dalam melanjutkan pendidikan iman setelah Baptis diterima.
Kehadiran orang tua dan wali baptis dalam pembekalan menunjukkan adanya perhatian terhadap kesiapan pendampingan anak. Mereka mendapatkan materi yang berkaitan dengan makna sakramen dan tanggung jawab yang akan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami Makna Sakramen Baptis
Salah satu pokok pembahasan dalam pembekalan ialah makna Sakramen Baptis bagi anak. Baptis merupakan sakramen pertama yang membuka jalan bagi penerimaan sakramen-sakramen lainnya dalam Gereja Katolik.
Melalui Baptis, anak diterima sebagai anggota Tubuh Kristus. Sakramen ini juga berkaitan dengan penghapusan dosa asal dan kelahiran baru dalam kehidupan iman. Anak yang dibaptis diterima sebagai anak Allah serta menjadi bagian dari persekutuan Gereja.
Pemahaman tersebut menjadi dasar bagi orang tua dan wali baptis dalam menjalankan tanggung jawab pendampingan. Baptis bukan sekadar sebuah perayaan atau kegiatan seremonial. Penerimaan sakramen membawa anak memasuki kehidupan baru dalam iman yang perlu dipelihara melalui pendampingan keluarga.
Pembekalan juga menjelaskan bahwa Baptis memberikan meterai rohani yang tidak dapat dihapus. Dengan demikian, sakramen tersebut memiliki makna mendalam bagi kehidupan anak sebagai pribadi yang telah diterima dalam Gereja.
Orang tua dan wali baptis perlu memahami makna tersebut sebelum menjalankan tugas masing-masing. Pemahaman yang baik diharapkan membantu mereka memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan iman anak.
Orang Tua sebagai Pendidik Iman Pertama
Materi pembekalan selanjutnya menekankan peran orang tua sebagai pendidik iman pertama dan utama bagi anak. Keluarga menjadi lingkungan pertama tempat anak mengenal kasih, doa, nilai-nilai Kristiani, dan kehidupan menggereja.
Pendidikan iman dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana di rumah. Orang tua dapat mengajak anak berdoa, memperkenalkan Kitab Suci, mengajarkan nilai kasih dan kejujuran, serta membangun kebiasaan hidup yang sesuai dengan ajaran Kristiani.
Tanggung jawab tersebut membutuhkan keteladanan. Anak tidak hanya menerima pendidikan melalui nasihat, tetapi juga belajar dari perilaku orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap saling menghormati, kepedulian terhadap sesama, kejujuran, kesediaan mengampuni, dan tanggung jawab menjadi nilai yang dapat diperkenalkan melalui kehidupan keluarga.
Orang tua juga memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan anak pada kehidupan Gereja. Keterlibatan dalam Misa Kudus, doa bersama, serta kegiatan pembinaan iman menjadi bagian dari proses pendampingan tersebut.
Pendampingan tidak berhenti setelah anak menerima Baptis. Orang tua perlu mendukung perjalanan iman anak hingga memasuki tahap penerimaan sakramen berikutnya, termasuk Ekaristi dan Krisma.
Keteladanan dalam Kehidupan Keluarga
Kehidupan keluarga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan iman. Anak belajar dari berbagai pengalaman yang terjadi di rumah, termasuk cara orang tua berbicara, menyelesaikan masalah, menunjukkan kasih, dan memperlakukan orang lain.
Karena itu, orang tua diharapkan memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Nilai Kristiani akan lebih mudah dipahami anak apabila mereka melihat penerapannya secara langsung.
Kebiasaan berdoa bersama dapat menjadi salah satu bentuk sederhana pendidikan iman. Demikian pula kebiasaan mengikuti perayaan Ekaristi, membaca atau mendengarkan Kitab Suci, serta membangun komunikasi yang baik dalam keluarga.
Pendampingan semacam itu membantu anak mengenal iman bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan. Proses tersebut berlangsung secara bertahap sesuai dengan usia dan perkembangan anak.
Keluarga juga menjadi tempat anak memperoleh pengalaman pertama mengenai kasih dan kepedulian. Karena itu, suasana kehidupan rumah tangga memiliki pengaruh terhadap proses pertumbuhan iman.
Tugas dan Tanggung Jawab Wali Baptis
Pembekalan juga memberikan perhatian terhadap peran wali baptis. Wali baptis bukan sekadar pelengkap dalam upacara Baptis atau pemenuhan persyaratan administratif.
Wali baptis memiliki tugas sebagai pendamping rohani anak. Peran tersebut dijalankan bersama orang tua untuk membantu anak mengenal dan menghayati kehidupan sebagai umat Katolik.
Wali baptis diharapkan mampu menjadi teladan iman yang dewasa. Karena itu, orang yang menjalankan tugas tersebut perlu memiliki kehidupan iman yang baik dan memahami tanggung jawabnya terhadap anak baptis.
Pendampingan dapat diwujudkan melalui doa, perhatian terhadap perkembangan iman, serta dukungan dalam berbagai tahap kehidupan anak. Wali baptis juga dapat memberikan penguatan ketika anak menghadapi persoalan dalam perjalanan hidupnya.
Tugas tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara wali baptis dan anak berlangsung lebih panjang daripada sekadar saat upacara Baptis. Pendampingan rohani menjadi bagian penting dari tanggung jawab yang diterima.
Dalam keadaan tertentu, wali baptis juga diharapkan dapat membantu ketika orang tua mengalami hambatan dalam mendampingi anak. Peran tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama antara keluarga dan wali baptis.
Wali Baptis sebagai Mitra Orang Tua
Orang tua dan wali baptis memiliki peran yang saling melengkapi. Orang tua menjalankan tanggung jawab utama dalam pendidikan iman di keluarga, sedangkan wali baptis memberikan dukungan sebagai pendamping rohani.
Kerja sama keduanya diperlukan agar anak mendapatkan pendampingan yang berkesinambungan. Anak membutuhkan orang dewasa yang memberikan contoh dan penguatan dalam menjalani kehidupan iman.
Wali baptis dapat membantu anak mengenal teladan para kudus dan memperkenalkan nilai-nilai Kristiani melalui pengalaman hidup. Pendampingan tersebut dapat dilakukan dengan cara sederhana sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.
Selain memberikan perhatian, wali baptis juga memiliki tanggung jawab untuk mendoakan anak baptisnya. Doa menjadi salah satu bentuk dukungan rohani yang dapat dilakukan secara terus-menerus.
Dengan demikian, peran wali baptis tidak berhenti pada satu peristiwa sakramental. Tanggung jawab tersebut menjadi bagian dari perjalanan iman yang perlu dijalankan dengan kesediaan dan komitmen.
Katekese sebagai Persiapan Baptis
Pembekalan orang tua dan wali baptis menjadi bagian dari katekese Baptis di lingkungan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Katekese membantu peserta memahami makna sakramen dan tanggung jawab yang menyertainya.
Persiapan tersebut diperlukan agar orang tua dan wali baptis tidak hanya memahami aspek pelaksanaan upacara. Mereka juga perlu mengetahui peran yang akan dijalankan setelah anak menerima Baptis.
Dalam proses katekese, pemahaman iman menjadi dasar bagi keluarga dalam mendampingi anak. Orang tua diajak menyadari bahwa pendidikan iman berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
Keenam calon baptis dipersiapkan untuk memasuki kehidupan sebagai bagian dari Gereja. Karena itu, keluarga perlu menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan iman masing-masing anak.
Kehidupan doa, keteladanan, keterlibatan dalam perayaan Ekaristi, serta partisipasi dalam kegiatan Gereja menjadi bagian dari proses tersebut.
Katekese Baptis juga membantu peserta melihat bahwa tanggung jawab pendidikan iman membutuhkan kesinambungan. Anak tidak hanya membutuhkan pendampingan pada saat menerima sakramen, tetapi juga dalam berbagai tahap pertumbuhan berikutnya.
Pendidikan Iman Berkelanjutan
Pertumbuhan iman anak berlangsung dalam jangka panjang. Karena itu, tugas orang tua dan wali baptis tidak selesai ketika prosesi Baptis berakhir.
Orang tua tetap memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak mengenal doa, Kitab Suci, ajaran Gereja, dan kehidupan Kristiani. Pendampingan dilakukan sesuai dengan usia dan kemampuan anak.
Dalam proses tersebut, orang tua juga perlu mendukung anak untuk menerima sakramen-sakramen berikutnya. Ekaristi dan Krisma menjadi bagian dari perjalanan inisiasi Kristiani yang perlu dipersiapkan melalui pendampingan iman.
Wali baptis dapat mendukung proses tersebut dengan tetap menjalin komunikasi dan memberikan perhatian terhadap perkembangan rohani anak. Kehadiran wali baptis dapat menjadi pengingat bahwa anak memiliki komunitas yang mendukung perjalanan imannya.
Pendampingan yang dilakukan secara konsisten diharapkan membantu anak memahami bahwa kehidupan iman tidak hanya berlangsung di dalam gereja. Nilai Kristiani juga perlu diwujudkan dalam hubungan dengan keluarga, teman, sekolah, dan masyarakat.
Membangun Komitmen Bersama
Pembekalan yang berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai tersebut menjadi bagian dari persiapan orang tua dan wali baptis sebelum keenam anak menerima Sakramen Baptis.
Materi yang disampaikan memberikan penekanan pada makna Baptis, peran keluarga, serta tanggung jawab wali baptis. Peserta diarahkan untuk memahami bahwa penerimaan sakramen membawa tanggung jawab dalam kehidupan iman.
Orang tua dipersiapkan untuk menjadi pendidik iman pertama bagi anak. Tugas tersebut dijalankan melalui keteladanan dan kebiasaan hidup Kristiani dalam keluarga.
Sementara itu, wali baptis dipersiapkan untuk menjadi mitra orang tua dalam memberikan pendampingan rohani. Peran tersebut mencakup doa, perhatian, keteladanan, dan dukungan terhadap perkembangan iman anak.
Komitmen tersebut menjadi bagian penting dari persiapan Baptis. Keenam calon baptis membutuhkan lingkungan yang mendukung agar kehidupan iman yang diterimanya dapat berkembang secara bertahap.
Peran Gereja dalam Pendampingan Keluarga
Paroki memiliki peran dalam mendampingi keluarga melalui pewartaan, katekese, dan berbagai kegiatan pembinaan iman. Pembekalan orang tua dan wali baptis menjadi salah satu bentuk pendampingan tersebut.
Gereja dan keluarga memiliki tanggung jawab yang saling berkaitan dalam mendukung pertumbuhan iman anak. Gereja memberikan pembinaan, sementara keluarga meneruskan pendidikan iman dalam kehidupan sehari-hari.
Kerja sama tersebut diperlukan agar anak memperoleh pengalaman iman yang berkesinambungan. Keluarga menjadi lingkungan utama, sedangkan komunitas Gereja memberikan dukungan melalui kehidupan bersama sebagai umat beriman.
Pembekalan juga menjadi kesempatan untuk memperkuat pemahaman bahwa sakramen memiliki hubungan erat dengan kehidupan. Baptis bukan hanya peristiwa yang dirayakan pada satu hari, tetapi awal perjalanan iman yang berlangsung sepanjang kehidupan.
Karena itu, orang tua dan wali baptis diharapkan dapat menjalankan tanggung jawab dengan kesadaran dan komitmen. Pendampingan yang dilakukan secara konsisten menjadi bagian dari upaya membantu anak bertumbuh dalam iman Katolik.
Bekal bagi Perjalanan Iman Enam Calon Baptis
Kegiatan pembekalan di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, memberikan bekal kepada orang tua dan wali baptis sebelum enam anak calon baptis menerima Sakramen Baptis.
Enam calon baptis tersebut adalah Christian Zio Fernando, Michaelia Zora Alexa, Gregorius Zenosius Samego, Johanes Jyohenzo Horge, Gloria Pricilla Livia, dan Valentinus Roveniel Eros Matteo.
Pembekalan menjadi kesempatan bagi keluarga untuk memahami makna Baptis sekaligus mempersiapkan diri menjalankan tanggung jawab pendidikan iman. Setiap anak membutuhkan pendampingan yang sesuai dengan perkembangan usia dan kehidupan rohaninya.
Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam pendidikan iman di keluarga, sedangkan wali baptis berperan sebagai pendamping rohani. Keduanya diharapkan dapat bekerja sama dalam memberikan perhatian, doa, keteladanan, dan dukungan kepada anak.
Melalui persiapan yang baik, penerimaan Sakramen Baptis diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah perayaan. Sakramen tersebut menjadi awal perjalanan iman yang terus dipelihara dalam keluarga dan komunitas Gereja.
Pembekalan yang disampaikan Ketua Bidang Pewartaan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Hendrikus Hendri, S.S., menjadi bagian dari upaya mempersiapkan orang tua dan wali baptis memahami tanggung jawab tersebut.
Dengan pemahaman yang lebih baik, orang tua dan wali baptis diharapkan mampu memberikan pendampingan iman secara nyata dan berkelanjutan. Keenam anak calon baptis selanjutnya diharapkan dapat bertumbuh dalam pengenalan terhadap Kristus serta semakin aktif dalam kehidupan Gereja.
Persiapan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pendidikan iman merupakan tanggung jawab bersama. Orang tua, wali baptis, dan komunitas Gereja memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang membantu anak bertumbuh sebagai pribadi Katolik.
Sakramen Baptis menjadi awal perjalanan tersebut. Setelah sakramen diterima, pendampingan tetap berlanjut melalui kehidupan keluarga, doa, keteladanan, perayaan Ekaristi, pendidikan iman, serta keterlibatan dalam komunitas Gereja.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 20 September 2026
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar