Ketapang, 1 Oktober 2026.Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengawali Bulan Rosario melalui Perayaan Ekaristi pada Kamis, 1 Oktober 2026, pukul 17.30 WIB. Perayaan tersebut sekaligus menjadi ungkapan syukur atas 80 tahun perjalanan karya misi Pasionis di Indonesia dan dilaksanakan bertepatan dengan Pesta Santa Teresia dari Kanak-Kanak Yesus dengan warna liturgi putih.
Perayaan Ekaristi dipimpin RP. Vitalis Nggeal, CP. sebagai selebran utama dan RP. Kornelius Kadut, CP. sebagai konselebran. Rangkaian kegiatan diawali dengan perarakan Patung Bunda Maria Ratu Rosario dan Patung Santo Paulus dari Salib dari Taman Doa Bunda Maria Pembawa Rahmat menuju Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.
Perarakan mengelilingi kawasan gereja sebelum kedua patung tersebut dibawa masuk ke dalam gedung gereja. Prosesi itu menjadi bagian penting dalam pembukaan Bulan Rosario sekaligus mengingatkan umat pada perjalanan iman, devosi kepada Bunda Maria, serta karya Kongregasi Pasionis yang telah hadir dan melayani umat di Indonesia selama delapan dekade.
Suasana perayaan berlangsung dalam nuansa doa dan penghormatan. Umat mengikuti prosesi dengan penuh perhatian sebelum melanjutkan perayaan Ekaristi di dalam gereja. Kehadiran Patung Bunda Maria Ratu Rosario dan Santo Paulus dari Salib juga menjadi bagian visual yang memperkuat tema perayaan, yakni doa, kerendahan hati, cinta, serta kesetiaan dalam menjalankan kehendak Allah.
Perayaan tersebut juga menempatkan Santa Teresia dari Kanak-Kanak Yesus sebagai teladan iman bagi umat. Santa Teresia, yang dikenal sebagai Teresa dari Lisieux, mengajarkan jalan kecil dalam kehidupan rohani. Jalan tersebut menekankan kesetiaan dalam melakukan hal-hal sederhana dengan kasih yang besar.
Perarakan Membuka Bulan Rosario
Sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, umat mengikuti perarakan Patung Bunda Maria Ratu Rosario dan Santo Paulus dari Salib. Kedua patung tersebut berasal dari Taman Doa Bunda Maria Pembawa Rahmat yang berada di lingkungan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.
Prosesi bergerak mengelilingi Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Setelah menyelesaikan perarakan, umat kemudian memasuki gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi.
Perarakan menjadi bagian pembuka yang menghubungkan ruang doa di taman dengan ruang perayaan liturgi di dalam gereja. Bagi umat, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memasuki Bulan Rosario dengan suasana batin yang diarahkan kepada doa dan penghormatan kepada Bunda Maria.
Bulan Rosario yang dimulai pada Oktober menjadi kesempatan bagi umat untuk memperdalam kehidupan doa. Rosario tidak hanya ditempatkan sebagai rangkaian doa yang diucapkan, tetapi juga sebagai sarana untuk merenungkan perjalanan hidup dan karya keselamatan Yesus Kristus bersama Bunda Maria.
Dalam perayaan tersebut, penghormatan kepada Bunda Maria juga ditempatkan dalam kerangka iman kepada Allah. Maria menjadi teladan karena kesediaannya menerima kehendak Allah dengan kerendahan hati.
Perayaan ini sekaligus menjadi momentum mengenang 80 tahun perjalanan karya misi Pasionis di Indonesia. Peringatan tersebut menghubungkan kehidupan umat saat ini dengan perjalanan panjang pelayanan para misionaris Pasionis yang hadir untuk mewartakan iman dan mendampingi umat.
Mengenang Santo Paulus dari Salib
Patung Santo Paulus dari Salib turut diarak bersama Patung Bunda Maria Ratu Rosario. Santo Paulus dari Salib merupakan pendiri Kongregasi Pasionis atau The Passionists. Ia lahir di Italia pada 1694 dan wafat pada 1775.
Kongregasi Pasionis memiliki perhatian khusus pada devosi kepada Sengsara Yesus Kristus. Spiritualitas tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pelayanan para anggota Kongregasi Pasionis di berbagai tempat.
Kehadiran Patung Santo Paulus dari Salib dalam perarakan pembukaan Bulan Rosario juga mengingatkan umat akan spiritualitas Pasionis. Kesetiaan kepada Kristus, perhatian terhadap penderitaan manusia, serta semangat pelayanan menjadi bagian dari perjalanan misi yang terus dihidupi.
Santo Paulus dari Salib diperingati setiap 19 Oktober. Sosoknya menjadi bagian penting dalam sejarah Kongregasi Pasionis dan terus dikenang dalam kehidupan komunitas Pasionis.
Peringatan 80 tahun misi Pasionis di Indonesia dalam perayaan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan karya pelayanan sekaligus mengarahkan perhatian kepada keberlanjutan misi di tengah umat.
Tata Perayaan Ekaristi
Dalam Perayaan Ekaristi tersebut, tugas liturgi melibatkan sejumlah umat dan petugas. Lektor dipercayakan kepada Ibu Idha Srilestari, sedangkan pemazmur adalah Bapak Yohanes Sigit Kurnianto.
Koor Lingkungan Santo Paulus dari Salib bertugas mendukung nyanyian liturgi. Kelompok koor tersebut dipimpin oleh Ibu Lastri Anita Gultom sebagai dirigen. Sementara itu, tugas organis dijalankan oleh Saudara Matthew Satria Sugiarto Agissucida.
Keterlibatan berbagai petugas liturgi memberikan dukungan terhadap kelancaran perayaan. Nyanyian, mazmur, bacaan, serta tata peribadatan menjadi satu kesatuan dalam Perayaan Ekaristi.
Bacaan Injil disampaikan oleh RP. Kornelius Kadut, CP. dengan mengambil Injil Matius 18:1-5. Bacaan tersebut mengisahkan para murid yang bertanya kepada Yesus mengenai siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga.
Yesus kemudian memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah para murid. Anak tersebut menjadi gambaran yang digunakan Yesus untuk menjelaskan arti kerendahan hati dan pertobatan.
Pesan Injil mengarahkan umat untuk tidak mengejar kebesaran berdasarkan kedudukan atau kekuatan manusia. Yesus justru menunjukkan bahwa seseorang perlu memiliki sikap seperti anak kecil untuk masuk dalam Kerajaan Surga.
Santa Teresia dan Jalan Kecil
Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP. mengajak umat merenungkan teladan Santa Teresia dari Kanak-Kanak Yesus. Pesan utama yang disampaikan berkaitan dengan kesediaan melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.
Santa Teresia dikenal melalui spiritualitas yang sering disebut sebagai “Jalan Kecil”. Jalan tersebut mengajak umat untuk menjalani kehidupan iman melalui kesetiaan dalam tindakan sederhana.
RP. Vitalis menjelaskan bahwa hal-hal sederhana tetap memiliki nilai ketika dilakukan dengan cinta. Perbuatan tersebut tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar atau luar biasa. Hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi bentuk kasih apabila dilakukan dengan ketulusan.
Pesan tersebut ditempatkan dalam hubungan dengan bacaan Injil Matius 18:1-5. Para murid bertanya mengenai siapa yang terbesar di hadapan Allah. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab Yesus dengan menempatkan seorang anak kecil di tengah mereka.
Anak kecil menjadi gambaran tentang kesederhanaan hati. Ia juga menunjukkan ketergantungan kepada orang yang mengasihinya. Sikap tersebut menjadi gambaran hubungan manusia dengan Allah.
Dalam homilinya, RP. Vitalis menyampaikan bahwa menjadi kecil bukan berarti seseorang tidak berharga. Menjadi kecil berarti menyadari bahwa manusia membutuhkan Allah.
Kesadaran tersebut berlawanan dengan sikap sombong yang membuat seseorang merasa mampu melakukan segala sesuatu sendiri tanpa membutuhkan siapa pun. Karena itu, manusia diajak kembali kepada Allah dan mengakui bahwa kehidupannya bergantung pada-Nya.
Kerendahan Hati di Hadapan Allah
Pesan tentang kerendahan hati menjadi salah satu bagian utama homili. RP. Vitalis mengaitkan sikap tersebut dengan pertanyaan mengenai siapa yang terbesar di hadapan Allah.
Dalam pandangan iman yang disampaikan melalui Injil, kebesaran tidak ditentukan oleh kedudukan, kekuatan, atau kemampuan manusia. Yesus justru menunjuk seorang anak kecil sebagai contoh.
Anak kecil memiliki hati yang sederhana. Ia berserah kepada orang yang mengasihinya dan mempercayakan dirinya kepada mereka. Sikap tersebut menjadi gambaran tentang bagaimana manusia seharusnya menempatkan diri di hadapan Allah.
RP. Vitalis menegaskan bahwa semakin rendah hati seseorang, semakin ia menyadari kebutuhannya akan Tuhan. Kerendahan hati bukan berarti menghilangkan nilai diri, melainkan menempatkan diri secara benar di hadapan Allah.
Sikap tersebut juga berkaitan dengan cara seseorang menjalankan pelayanan. Pelayanan tidak semestinya dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian atau pengakuan. Setiap tugas dapat dilakukan dengan cinta dan kerendahan hati meskipun tidak selalu mendapat perhatian dari orang lain.
Pesan Santa Teresia menjadi relevan dalam kehidupan umat karena banyak pelayanan berlangsung melalui tindakan-tindakan sederhana. Menolong sesama, memberi perhatian, menjalankan tugas, melayani komunitas, dan melakukan tanggung jawab sehari-hari dapat menjadi bentuk kasih apabila dilakukan dengan ketulusan.
Melakukan Segala Sesuatu dengan Cinta
Dalam homilinya, RP. Vitalis mengangkat semangat Santa Teresia untuk melakukan segala sesuatu dengan cinta. Bagi Santa Teresia, tindakan sederhana dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Pesan tersebut mengajak umat melihat kembali motivasi dalam setiap pekerjaan. Seseorang dapat melakukan tugas yang sederhana tanpa mencari pujian. Nilai tindakan tersebut terletak pada ketulusan dan kasih yang menyertainya.
Semangat itu juga dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan, komunitas gerejani, maupun pelayanan sosial. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menunjukkan kasih melalui tindakan yang berada dalam jangkauannya.
Melakukan sesuatu dengan cinta berarti memberikan perhatian terhadap orang lain. Tindakan tersebut tidak harus menunggu kesempatan besar. Justru dalam rutinitas sehari-hari, nilai kasih dapat diwujudkan melalui kesetiaan terhadap tugas dan kepedulian kepada sesama.
Santa Teresia menjadi teladan bahwa kehidupan rohani tidak hanya diwujudkan melalui perbuatan besar. Kesetiaan terhadap hal kecil juga dapat menjadi jalan untuk bertumbuh dalam iman.
Bunda Maria sebagai Teladan Penyerahan Diri
Di hadapan umat juga terdapat Patung Bunda Maria Ratu Rosario. Kehadiran patung tersebut menjadi bagian dari suasana pembukaan Bulan Rosario sekaligus mengarahkan umat kepada teladan Bunda Maria.
Dalam homilinya, RP. Vitalis mengaitkan Bunda Maria dengan sikap kerendahan hati dan penyerahan diri kepada kehendak Allah. Allah melakukan karya besar dalam diri Maria, tetapi Maria tidak menempatkan dirinya sebagai pusat dari karya tersebut.
Sikap Maria menjadi contoh bagaimana manusia menerima karya Allah dengan penuh kerendahan hati. Kehendak Allah ditempatkan di atas kehendak pribadi.
Teladan tersebut memiliki hubungan erat dengan semangat doa Rosario. Melalui Rosario, umat diajak untuk merenungkan perjalanan hidup Yesus Kristus dengan mendampingi permenungan tersebut melalui teladan Maria.
Pembukaan Bulan Rosario karena itu tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Momentum tersebut mengajak umat membangun kembali kehidupan doa dan menjadikan Maria sebagai teladan dalam mengikuti Kristus.
Doa, Cinta, dan Pelayanan
Pesan yang disampaikan dalam homili juga mengarahkan umat untuk menghubungkan doa dengan kehidupan sehari-hari. Doa tidak berhenti pada kata-kata, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan yang dilakukan dengan cinta.
Santa Teresia memberikan teladan bahwa tindakan kecil memiliki arti ketika dilakukan dengan kasih. Kerendahan hati membuat seseorang mampu menjalankan tugas tanpa menjadikan pujian sebagai tujuan utama.
Dalam konteks kehidupan menggereja, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk pelayanan. Setiap umat memiliki peran yang berbeda, tetapi seluruh pelayanan dapat diarahkan kepada tujuan yang sama, yaitu membangun kehidupan bersama dalam iman.
Keterlibatan para petugas liturgi dalam Perayaan Ekaristi menjadi salah satu contoh nyata. Lektor, pemazmur, anggota koor, dirigen, organis, serta para pelayan altar menjalankan tugas masing-masing agar perayaan dapat berlangsung dengan baik.
Masing-masing pelayanan memiliki fungsi berbeda. Namun, seluruhnya menjadi bagian dari satu perayaan iman.
Semangat pelayanan tersebut sejalan dengan pesan Santa Teresia tentang kesediaan melakukan hal kecil dengan cinta yang besar. Tugas yang tampak sederhana tetap mempunyai nilai ketika dilakukan dengan ketulusan.
80 Tahun Misi Pasionis di Indonesia
Perayaan Ekaristi pembukaan Bulan Rosario juga memiliki makna khusus karena dilaksanakan dalam rangka syukur 80 tahun misi Pasionis di Indonesia.
Delapan dekade perjalanan misi menjadi bagian dari sejarah pelayanan Gereja. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan karya Pasionis sekaligus melihat tanggung jawab pelayanan yang terus berlangsung.
Spiritualitas Santo Paulus dari Salib yang berpusat pada Sengsara Yesus Kristus menjadi bagian dari identitas Kongregasi Pasionis. Spiritualitas tersebut mengarahkan perhatian kepada Kristus dan mengajak umat untuk memiliki kepedulian terhadap sesama.
Peringatan 80 tahun misi tidak hanya melihat masa lalu. Momentum tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk meneguhkan semangat pelayanan pada masa kini.
Di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, peringatan tersebut dipadukan dengan pembukaan Bulan Rosario. Kedua momentum tersebut bertemu dalam semangat doa, syukur, dan pelayanan.
Mengawali Bulan Rosario dengan Kerendahan Hati
Perayaan Ekaristi pada 1 Oktober menjadi awal perjalanan umat memasuki Bulan Rosario. Perarakan Patung Bunda Maria Ratu Rosario dan Santo Paulus dari Salib, Perayaan Ekaristi, pembacaan Injil, serta homili menjadi rangkaian yang saling berkaitan.
Pesan Santa Teresia tentang melakukan hal kecil dengan cinta yang besar menjadi salah satu titik refleksi bagi umat. Bacaan Injil tentang anak kecil juga memperkuat ajakan untuk hidup dalam kesederhanaan dan kerendahan hati.
Umat diajak untuk tidak mengukur kebesaran diri berdasarkan kedudukan atau pengakuan manusia. Sebaliknya, kehidupan iman diarahkan pada kesediaan untuk membutuhkan Allah, menjalankan kehendak-Nya, serta melayani sesama dengan kasih.
Bunda Maria menjadi teladan dalam sikap penyerahan diri. Santo Paulus dari Salib menjadi teladan dalam perjalanan spiritualitas Pasionis. Santa Teresia menjadi teladan melalui Jalan Kecil yang menekankan kesetiaan dalam hal-hal sederhana.
Ketiganya ditempatkan dalam satu rangkaian perayaan yang membuka Bulan Rosario sekaligus mengenang 80 tahun karya misi Pasionis di Indonesia.
Perayaan tersebut diharapkan menjadi momentum bagi umat untuk melanjutkan kehidupan doa sepanjang Bulan Rosario. Doa kemudian diwujudkan melalui tindakan nyata dalam keluarga, lingkungan, komunitas, dan kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, pembukaan Bulan Rosario di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang tidak berhenti pada perayaan satu hari. Momentum tersebut menjadi awal perjalanan rohani umat untuk memperdalam doa, menumbuhkan kerendahan hati, dan menjalankan setiap tanggung jawab dengan cinta.
Pesan Santa Teresia kembali mengingatkan bahwa kehidupan iman dapat dibangun melalui tindakan sederhana. Ketika dilakukan dengan kasih dan ketulusan, hal kecil dapat menjadi bagian dari persembahan hidup kepada Allah.
Perayaan Ekaristi ditutup dalam suasana syukur. Umat kemudian melanjutkan perjalanan Bulan Rosario dengan membawa pesan tentang kesederhanaan, kerendahan hati, penyerahan diri kepada Allah, serta kesediaan melakukan pelayanan dengan cinta.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 1 Oktober 2026

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.png)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar