Kepergian RD. Zacharias Lintas, Umat Diteguhkan dalam Pengharapan akan Hidup Kekal

 
Foto Almarhum RD. Zacharias Lintas, Pr

Ketapang, 12 Oktober 2026.Ibadat pemakaman RD. Zacharias Lintas, Pr., imam diosesan Keuskupan Ketapang sekaligus imam Dayak pertama di keuskupan tersebut, berlangsung di Pemakaman Katolik Paya Kumang, Ketapang, pada Senin, 12 Oktober 2026, mulai pukul 12.49 WIB hingga selesai. Ibadat dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP., dan dihadiri Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, para pastor, diakon, suster, bruder, serta umat dari Paroki Katedral Santa Gema Galgani, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, dan berbagai paroki lainnya di Keuskupan Ketapang. Dalam homili, sabda Yesus dalam Injil Yohanes 6:37 menjadi pokok pengharapan iman bagi umat yang berduka, khususnya melalui pesan bahwa setiap orang yang datang kepada Kristus tidak akan ditolak oleh-Nya.

RD. Zacharias Lintas meninggal dunia pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 04.56 WIB di Rumah Sakit Fatima Ketapang, dalam usia 77 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka bagi umat Katolik, terutama mereka yang mengenal perjalanan hidup dan pelayanannya selama puluhan tahun sebagai imam diosesan Keuskupan Ketapang.

Pemakaman tersebut menjadi kesempatan bagi umat untuk mengungkapkan rasa kehilangan sekaligus menyerahkan almarhum kepada kasih Allah. Melalui pesan Injil yang menjadi pusat homili, umat diajak memandang kematian dalam terang iman Kristiani, tanpa mengabaikan kesedihan yang menyertai perpisahan dengan seorang imam yang telah mengambil bagian dalam kehidupan Gereja.






Homili Meneguhkan Iman di Tengah Kehilangan

Dalam homili pemakaman, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP., mengarahkan perhatian umat pada Injil Yohanes 6:37, yang berbunyi, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.”

Sabda tersebut menjadi dasar refleksi iman dalam menghadapi kepergian RD. Zacharias Lintas. Janji Yesus tentang penerimaan terhadap setiap orang yang datang kepada-Nya mengingatkan umat bahwa kasih Allah merupakan sumber pengharapan ketika manusia berhadapan dengan kematian.

Bagi umat Kristiani, kematian tidak hanya dimaknai sebagai berakhirnya kehidupan jasmani, tetapi juga sebagai misteri yang dihadapi dengan iman dan penyerahan diri kepada Tuhan. Keyakinan akan kehidupan kekal tidak menghilangkan kesedihan akibat kehilangan, tetapi memberikan kekuatan untuk menjalani masa duka dengan tetap berpegang pada janji Kristus.

Dalam konteks pemakaman seorang imam, pesan Injil tersebut mengajak umat mengenang perjalanan panggilan almarhum sekaligus menyerahkan seluruh kehidupannya kepada penyelenggaraan Allah. Doa, kebaikan, ketulusan, dan pengabdian yang telah menjadi bagian dari pelayanannya dikenang sebagai unsur penting dalam perjalanan hidupnya.

Yohanes 6:37 merupakan bagian dari pengajaran Yesus tentang Roti Hidup. Dalam bagian Injil tersebut, Yesus menegaskan bahwa Ia datang untuk melakukan kehendak Bapa yang mengutus-Nya. Kehendak itu berkaitan dengan keselamatan manusia dan pengharapan akan kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Karena itu, sabda tersebut tidak sekadar menjadi kata-kata penghiburan dalam suasana pemakaman. Pesan itu juga mengundang umat untuk memperdalam kepercayaan kepada Tuhan, terutama ketika menghadapi kenyataan hidup yang tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh manusia.

Kepergian RD. Zacharias Lintas menjadi pengalaman kehilangan bagi komunitas Gereja yang pernah menerima pelayanan dan pendampingannya. Namun, dalam terang iman, umat diajak untuk tidak hanya mengenang perpisahan, tetapi juga memelihara harapan bahwa kehidupan manusia berada dalam kasih Allah.

Melalui doa bersama, umat menyerahkan almarhum kepada Bapa di surga dan memohon agar ia memperoleh damai abadi. Pada saat yang sama, keluarga, para imam, kaum religius, dan umat yang ditinggalkan didoakan agar memperoleh kekuatan untuk menghadapi masa duka.

Kematian dalam Terang Pengharapan Kristiani

Dalam iman Katolik, doa pemakaman merupakan ungkapan kepercayaan kepada Allah yang menjadi sumber kehidupan dan keselamatan. Gereja mendoakan orang yang meninggal serta menyerahkan dirinya kepada belas kasih Tuhan. Sikap ini mencerminkan keyakinan bahwa manusia tidak dapat memahami seluruh misteri kehidupan dan kematian hanya berdasarkan pengalaman duniawi.

Pesan Injil Yohanes 6:37 mengarahkan umat pada keyakinan bahwa Yesus menerima mereka yang datang kepada-Nya. Janji tersebut menjadi dasar pengharapan yang tidak bertumpu pada kekuatan manusia, melainkan pada kasih dan kesetiaan Allah.

Dalam menghadapi kematian seorang imam, pengharapan itu berjalan bersama kesadaran akan kehilangan nyata. Kehadiran seorang gembala dalam kehidupan umat tidak hanya berkaitan dengan perayaan sakramen, tetapi juga dengan pendampingan rohani, pewartaan Injil, pelayanan pastoral, serta hubungan yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Ketika seorang imam berpulang, umat kehilangan sosok yang selama hidupnya menjalankan tugas pelayanan Gereja. Kenangan atas kehadiran dan pengabdiannya menjadi bagian dari proses menerima perpisahan tersebut.

Namun, kenangan itu juga dapat mengarahkan umat pada refleksi mengenai arti panggilan Kristiani. Kehidupan yang diabdikan untuk melayani sesama mengingatkan bahwa iman tidak berhenti pada pengakuan, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.

Dalam konteks tersebut, perjalanan hidup RD. Zacharias Lintas menjadi bagian dari kenangan Gereja Katolik di Keuskupan Ketapang. Pengabdian yang telah dijalaninya selama puluhan tahun dikenang sebagai bagian dari sejarah pelayanan kepada umat di berbagai wilayah, termasuk kawasan pedalaman.

RD. Zacharias Lintas, Imam Diosesan Keuskupan Ketapang

RD. Zacharias Lintas, Pr., lahir di Simpang Dua, Ketapang, Kalimantan Barat, pada 3 Januari 1949. Ia menjalani panggilan imamat sebagai imam diosesan Keuskupan Ketapang dan ditahbiskan menjadi imam pada 10 April 1978 oleh Mgr. Gabriel Willem Sillekens, C.P.

Tahbisan tersebut menjadi awal perjalanan pelayanannya sebagai imam yang mengabdikan diri kepada Gereja dan umat. Dalam tugas imamat, seorang imam dipanggil untuk mewartakan Injil, merayakan sakramen, mendampingi umat, serta membantu mereka bertumbuh dalam kehidupan iman.

RD. Zacharias Lintas dikenal sebagai imam Dayak pertama di Keuskupan Ketapang. Kehadiran dan perjalanannya sebagai imam menjadi bagian dari perkembangan sejarah Gereja Katolik di wilayah tersebut, khususnya dalam konteks pelayanan kepada umat yang tersebar di berbagai daerah.

Wilayah Keuskupan Ketapang memiliki tantangan geografis yang membuat pelayanan pastoral membutuhkan ketekunan, kesiapan, dan kedekatan dengan kehidupan umat. Dalam konteks seperti itu, kehadiran imam memiliki peran penting untuk mendampingi umat dalam menjalani kehidupan menggereja, baik melalui pelayanan sakramental maupun kegiatan pastoral lainnya.

Almarhum dikenang atas dedikasi, doa, kebaikan, dan ketulusannya dalam melayani umat Katolik. Pengabdiannya di berbagai wilayah, termasuk kawasan pedalaman, menjadi bagian dari perjalanan panjang pelayanan yang telah dijalaninya.

Kenangan terhadap seorang imam tidak hanya dibentuk oleh jabatan atau lamanya masa pelayanan, tetapi juga oleh pengalaman umat ketika menerima pendampingan dan perhatian. Melalui pelayanan tersebut, seorang imam mengambil bagian dalam perjalanan iman komunitas yang dilayaninya.

Kepergian RD. Zacharias Lintas pada usia 77 tahun mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia. Namun, nilai-nilai yang melekat pada pengabdiannya tetap dapat menjadi bahan refleksi bagi umat, terutama mengenai kesetiaan terhadap panggilan, ketekunan dalam doa, dan kesediaan melayani sesama.

Motto Tahbisan: Kebijaksanaan dan Ketulusan dalam Perutusan

Dalam perjalanan imamatnya, RD. Zacharias Lintas memilih motto tahbisan yang bersumber dari Matius 10:16:

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Sabda tersebut mengingatkan para murid bahwa menjalankan perutusan membutuhkan kebijaksanaan sekaligus ketulusan. Kebijaksanaan diperlukan untuk memahami keadaan dan mengambil langkah yang tepat, sedangkan ketulusan menjaga agar pelayanan tetap berakar pada kasih serta kesetiaan kepada Tuhan.

Bagi seorang imam, motto tahbisan menjadi pengingat akan tanggung jawab yang diterima melalui Sakramen Tahbisan. Panggilan imamat bukan sekadar kedudukan dalam struktur Gereja, melainkan kesediaan untuk mengambil bagian dalam perutusan Kristus dan melayani umat.

Kebijaksanaan dan ketulusan merupakan sikap yang penting dalam menjalankan tugas pastoral. Seorang pelayan Gereja berhadapan dengan beragam kebutuhan, keadaan, serta persoalan umat. Dalam situasi tersebut, pelayanan membutuhkan kemampuan mendengarkan, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan tetap menghormati martabat setiap orang.

Motto tahbisan RD. Zacharias Lintas kini menjadi bagian dari kenangan atas perjalanan panggilannya. Sabda itu juga mengajak umat untuk merefleksikan kehidupan masing-masing: bagaimana iman diwujudkan melalui tindakan, bagaimana tanggung jawab dijalankan dengan tulus, dan bagaimana pelayanan dapat menjadi sarana menghadirkan kasih Tuhan bagi sesama.

Jika Matius 10:16 mengingatkan tentang sikap dalam menjalankan perutusan, Injil Yohanes 6:37 memberikan pengharapan mengenai penerimaan Kristus. Kedua sabda tersebut memiliki penekanan yang berbeda, tetapi sama-sama mengarahkan umat pada kehidupan yang berlandaskan iman, ketulusan, dan kepercayaan kepada Allah.

Kehadiran Uskup, Para Imam, dan Umat dari Berbagai Paroki

Ibadat pemakaman RD. Zacharias Lintas di Pemakaman Katolik Paya Kumang dihadiri Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, bersama para pastor, diakon, suster, bruder, serta umat dari sejumlah paroki.

Umat yang hadir berasal dari Paroki Katedral Santa Gema Galgani, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, dan berbagai paroki lainnya di wilayah Keuskupan Ketapang. Kehadiran mereka menjadi bagian dari penghormatan terakhir kepada almarhum sekaligus ungkapan kebersamaan dalam menghadapi kehilangan.

Bagi komunitas Gereja, pemakaman seorang imam merupakan peristiwa yang membawa dimensi pribadi dan komunal. Secara pribadi, umat mengenang hubungan dan pengalaman mereka bersama almarhum. Secara komunal, Gereja berkumpul untuk berdoa dan menyerahkan orang yang meninggal kepada kasih Allah.

Dalam persekutuan iman, kesedihan tidak harus ditanggung seorang diri. Doa bersama menjadi salah satu cara bagi umat untuk saling menguatkan, terutama ketika menghadapi perpisahan yang meninggalkan kesan mendalam.

Kehadiran para pelayan Gereja dalam ibadat tersebut juga memperlihatkan bahwa perjalanan imamat berlangsung dalam persekutuan. Seorang imam melayani bukan sebagai pribadi yang terpisah dari Gereja, melainkan sebagai bagian dari komunitas yang bersama-sama menjalankan perutusan Kristus.

Ibadat yang dipimpin RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP., menjadi kesempatan untuk mengenang kehidupan almarhum, mendengarkan kembali pesan Kitab Suci, dan meneguhkan pengharapan akan kehidupan kekal. Seluruh rangkaian doa pemakaman mengarahkan umat untuk menyerahkan RD. Zacharias Lintas kepada Tuhan.

Meneruskan Semangat Pelayanan

Kepergian RD. Zacharias Lintas meninggalkan kenangan sekaligus kesempatan bagi umat untuk merefleksikan kelanjutan pelayanan Gereja di Keuskupan Ketapang. Penghormatan terhadap almarhum dapat diwujudkan bukan hanya melalui doa, tetapi juga melalui usaha meneruskan nilai-nilai baik yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Ketekunan dalam doa, ketulusan melayani, dan perhatian terhadap umat merupakan nilai yang relevan untuk terus dikembangkan dalam kehidupan menggereja. Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui keterlibatan dalam kegiatan pastoral, pendampingan terhadap umat yang membutuhkan, serta kerja sama antaranggota komunitas.

Pelayanan kepada umat di pedalaman juga menjadi salah satu aspek yang dapat direnungkan dalam konteks perjalanan Gereja di Keuskupan Ketapang. Luasnya wilayah dan beragamnya kebutuhan umat menuntut adanya komitmen bersama agar pendampingan rohani tetap berjalan dan kehidupan iman terus bertumbuh.

Bagi para imam dan calon imam, perjalanan hidup RD. Zacharias Lintas dapat menjadi bahan refleksi mengenai kesetiaan terhadap panggilan. Imamat menuntut kesediaan untuk terus belajar, melayani, dan menjalankan tanggung jawab Gereja dalam berbagai keadaan.

Sementara itu, bagi umat secara umum, pengalaman kehilangan seorang imam dapat mendorong pembaruan kehidupan iman. Doa dan perayaan liturgi perlu disertai kepedulian terhadap sesama, sedangkan penghayatan Injil hendaknya tampak dalam sikap sehari-hari.

Tindak lanjut tersebut merupakan ajakan reflektif bagi umat, bukan keputusan resmi yang diumumkan dalam ibadat pemakaman. Intinya, kenangan atas seorang pelayan Gereja dapat menjadi dorongan untuk meneruskan semangat pelayanan dalam lingkungan masing-masing.

Menyerahkan RD. Zacharias Lintas ke Dalam Kasih Bapa

RD. Zacharias Lintas meninggal dunia pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 04.56 WIB di Rumah Sakit Fatima Ketapang. Dua hari kemudian, pada Senin, 12 Oktober 2026, umat mengantarkan almarhum dalam ibadat pemakaman di Pemakaman Katolik Paya Kumang.

Perjalanan hidupnya mencakup kelahiran di Simpang Dua pada 3 Januari 1949, tahbisan imamat pada 10 April 1978, dan pelayanan sebagai imam diosesan Keuskupan Ketapang. Ia dikenang sebagai imam Dayak pertama di keuskupan tersebut serta sebagai pelayan Gereja yang mengabdikan diri kepada umat di berbagai wilayah.

Dalam suasana perpisahan, Injil Yohanes 6:37 menjadi pesan pengharapan yang mengarahkan umat kepada janji Kristus. Sabda bahwa setiap orang yang datang kepada-Nya tidak akan dibuang mengingatkan umat untuk tetap percaya pada kasih Allah, sekalipun berhadapan dengan kematian dan kehilangan.

Doa bagi almarhum berjalan bersama permohonan bagi mereka yang ditinggalkan. Keluarga, para imam, kaum religius, sahabat, dan seluruh umat diharapkan memperoleh kekuatan untuk menjalani masa duka dengan iman yang teguh.

Pemakaman ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kehidupan seorang pelayan Gereja meninggalkan tanggung jawab bagi komunitas yang pernah dilayaninya. Semangat doa, ketulusan, dan pengabdian dapat diteruskan melalui kehidupan menggereja yang nyata serta kepedulian terhadap sesama.

Semoga RD. Zacharias Lintas, Pr., diterima dalam kasih Bapa di surga dan menikmati damai abadi. Semoga seluruh umat yang ditinggalkan diteguhkan dalam iman, dikuatkan dalam pengharapan, dan dimampukan meneruskan semangat pelayanan dalam kehidupan sehari-hari.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:  12 Oktober 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar