Ketapang, 4 Oktober 2026.Umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengikuti Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XXVII sekaligus Pesta Santo Fransiskus dari Asisi pada Minggu, 4 Oktober 2026, pukul 07.00 WIB. Perayaan dengan warna liturgi hijau tersebut dipimpin oleh RP. Kornelius Kadut, CP. sebagai selebran, dengan Diakon Andreas Pisin, CP. sebagai konselebran. Melalui perayaan ini, umat diajak memahami kembali tanggung jawab dalam menerima kepercayaan Tuhan dan menghasilkan buah kehidupan melalui pelayanan, keluarga, serta kehidupan menggereja.
Perayaan Ekaristi berlangsung dalam suasana khidmat. Umat mengikuti setiap bagian liturgi dengan penuh perhatian, mulai dari pembukaan, liturgi sabda, homili, hingga perayaan Ekaristi. Kehadiran umat menjadi bagian penting dalam membangun suasana doa sekaligus memperkuat kesadaran bahwa kehidupan beriman tidak berhenti pada perayaan di dalam gereja, tetapi harus diwujudkan melalui tanggung jawab sehari-hari.
Dalam perayaan tersebut, tugas liturgi dipercayakan kepada sejumlah pelayan. Saudari Angelica Carrisa Damiya bertugas sebagai lektor, sedangkan Saudari Noberta Cahaya Setiti menjadi pemazmur. Pelayanan musik dipimpin oleh Bapak Thomas Momo A. Rico sebagai dirigen. Koor Lingkungan Santa Perawan Maria (SPM) mengambil bagian dalam mengiringi nyanyian liturgi, dengan Saudari Maria Parahita Leandra sebagai organis.
Bacaan Injil yang menjadi dasar permenungan umat adalah Matius 21:33-43, yang dibacakan oleh Diakon Andreas Pisin, CP. Perikop tersebut mengisahkan perumpamaan Yesus mengenai seorang tuan tanah yang membuka kebun anggur, melengkapinya dengan pagar, tempat pemerasan anggur dan menara jaga, kemudian menyerahkan kebun itu kepada para penggarap sebelum pergi ke negeri lain.
Ketika musim panen tiba, pemilik kebun mengutus hamba-hambanya untuk menerima bagian hasil kebun. Namun, para penggarap justru memperlakukan para utusan itu dengan kekerasan. Sebagian dipukul, sebagian dibunuh, dan yang lainnya dilempari batu.
Pemilik kebun kemudian mengutus lebih banyak hamba. Perlakuan yang sama kembali terjadi. Pada akhirnya, pemilik mengutus anaknya sendiri karena menganggap para penggarap akan menghormatinya. Namun, anak tersebut juga ditolak dan dibunuh.
Perumpamaan itu kemudian mengarah pada pertanyaan mengenai sikap manusia terhadap kepercayaan yang telah diterimanya. Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Allah akan diberikan kepada mereka yang mampu menghasilkan buah Kerajaan tersebut.
Perumpamaan Kebun Anggur dalam Kehidupan Nyata
Dalam homilinya, RP. Kornelius Kadut, CP., menghubungkan perumpamaan kebun anggur dengan pengalaman nyata yang pernah terjadi di lingkungan paroki. Ia menceritakan sebuah pengalaman mengenai kebun sawit yang dikelola oleh paroki.
Menurut kisah yang disampaikan dalam homili, kebun tersebut membutuhkan perhatian dan penjagaan agar dapat menghasilkan sesuatu yang berguna. Namun, dalam perjalanan pengelolaannya, sejumlah 130 tanaman sawit hilang karena dicuri.
Peristiwa tersebut menjadi gambaran konkret bahwa sesuatu yang dipercayakan untuk dikelola membutuhkan tanggung jawab. Kebun tidak cukup hanya dimiliki. Kebun harus dirawat, dijaga, dan diperhatikan secara terus-menerus.
Kisah itu kemudian berlanjut pada sebuah tindakan yang menunjukkan kepedulian umat. Ketika mengetahui adanya tanaman yang hilang, ada umat yang menyatakan kesediaannya untuk mengganti bibit yang telah hilang tersebut. Bibit pengganti kemudian ditanam dan dirawat hingga tumbuh dengan baik.
Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa persoalan kehilangan tidak selalu harus berakhir dengan kekecewaan. Ada tindakan nyata yang dapat dilakukan untuk memulihkan keadaan. Kesediaan mengganti dan merawat kembali apa yang hilang memperlihatkan bentuk tanggung jawab terhadap sesuatu yang dipercayakan.
Bagi RP. Kornelius Kadut, CP., pengalaman tersebut memiliki hubungan erat dengan pesan Injil tentang penggarap kebun anggur. Pemilik kebun memberikan kepercayaan kepada para penggarap untuk merawat dan mengelola kebun. Kepercayaan tersebut semestinya dijalankan dengan tanggung jawab, bukan dimanfaatkan untuk kepentingan diri sendiri.
Kisah tentang kebun sawit menjadi pengantar untuk melihat kehidupan umat secara lebih dekat. Tanggung jawab terhadap sesuatu yang dipercayakan tidak hanya berkaitan dengan aset atau pekerjaan tertentu. Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan keluarga, pelayanan Gereja, serta hubungan dengan sesama.
Kepercayaan Mengandung Tanggung Jawab
Perumpamaan yang disampaikan Yesus memperlihatkan hubungan antara pemilik kebun dan para penggarap. Pemilik memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengelola kebun. Mereka mendapatkan kepercayaan, tetapi kemudian gagal menunjukkan tanggung jawab.
Dalam homilinya, RP. Kornelius menekankan bahwa manusia juga menerima banyak kepercayaan dalam kehidupannya. Kepercayaan tersebut hadir melalui berbagai peran dan tanggung jawab.
Seseorang dapat dipercaya menjadi ayah dalam keluarga. Ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga, membimbing, melindungi, dan memberikan teladan bagi keluarganya. Demikian pula seorang ibu memiliki tanggung jawab untuk membangun kehidupan keluarga dengan kasih dan kesetiaan.
Tanggung jawab tersebut tidak hanya berupa pemenuhan kebutuhan material. Keluarga juga membutuhkan perhatian terhadap kehidupan iman. Orang tua mempunyai peran penting dalam membantu anak mengenal nilai kasih, kejujuran, pengampunan, kerja sama, dan tanggung jawab.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa keluarga dapat dipandang sebagai salah satu tempat pertama bagi manusia untuk belajar menjadi penggarap yang amanah. Apa yang dipercayakan kepada orang tua perlu dirawat sehingga menghasilkan buah yang baik.
Tanggung jawab yang sama juga berlaku dalam kehidupan menggereja. Setiap orang yang mengambil bagian dalam pelayanan memperoleh kepercayaan untuk menjalankan tugas tertentu. Pelayanan tersebut bukan sekadar posisi atau jabatan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Karena itu, setiap pelayanan perlu dijalankan dengan kesungguhan. Pelayan Gereja dipanggil untuk menggunakan tugasnya demi kebaikan umat, bukan untuk kepentingan pribadi.
Peringatan terhadap Sikap Tidak Bertanggung Jawab
Dalam perumpamaan Injil, para penggarap tidak hanya gagal menyerahkan hasil kepada pemilik kebun. Mereka juga melakukan tindakan kekerasan terhadap orang-orang yang diutus. Bahkan anak pemilik kebun yang datang kemudian diperlakukan dengan cara yang sama.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar kegagalan menghasilkan buah. Ada penolakan terhadap pihak yang memiliki hak atas kebun tersebut.
Dalam penjelasan homilinya, RP. Kornelius juga menghubungkan perumpamaan tersebut dengan perjalanan kehidupan bangsa Yahudi dan para pemimpinnya. Tugas para pemimpin pada dasarnya berkaitan dengan kehidupan umat dan keselamatan. Namun, dalam perjalanan waktu, kepemimpinan dapat mengalami penyimpangan ketika orang terjebak dalam kemunafikan atau menggunakan aturan dengan cara yang justru menyulitkan mereka yang lemah.
Pesan tersebut menjadi peringatan bagi umat agar kepercayaan tidak digunakan secara keliru. Aturan dan tanggung jawab seharusnya membantu manusia membangun kehidupan yang lebih baik dan mengarahkan umat kepada keselamatan.
Perumpamaan kebun anggur karena itu tidak hanya berbicara mengenai tokoh-tokoh pada zaman Yesus. Pesannya juga diarahkan kepada kehidupan manusia masa kini.
Setiap orang dapat bertanya kepada dirinya sendiri mengenai cara menggunakan kepercayaan yang telah diterima. Apakah kepercayaan tersebut menghasilkan kebaikan? Apakah tanggung jawab dilaksanakan dengan sungguh-sungguh? Apakah kehadiran seseorang membawa manfaat bagi keluarga, Gereja, dan masyarakat?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kehidupan iman membutuhkan buah yang dapat dilihat melalui tindakan.
Menjadi Penggarap yang Menghasilkan Buah
Pesan utama homili mengarah pada ajakan agar umat tidak menjadi seperti penggarap kebun anggur yang gagal menjalankan kepercayaan. Umat dipanggil untuk berjalan dengan sungguh-sungguh dalam setiap tanggung jawab yang diberikan.
Menjadi penggarap yang baik berarti menyadari bahwa kehidupan bukan sepenuhnya milik manusia. Segala sesuatu yang diterima merupakan anugerah yang perlu dikelola dengan baik.
Kemampuan, pekerjaan, keluarga, waktu, kesehatan, lingkungan, pelayanan, serta kesempatan untuk membantu orang lain merupakan bagian dari kepercayaan yang perlu digunakan secara bertanggung jawab.
Dalam konteks kehidupan paroki, tanggung jawab itu dapat diwujudkan melalui keterlibatan dalam berbagai kegiatan Gereja. Umat tidak hanya hadir ketika mengikuti Misa, tetapi juga mengambil bagian dalam pelayanan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Ada yang melayani melalui liturgi. Ada yang terlibat dalam pelayanan musik dan koor. Ada yang mendampingi anak-anak dan kaum muda. Ada yang membantu kegiatan lingkungan. Ada pula yang menjalankan tugas-tugas lain yang mendukung kehidupan pastoral.
Semua bentuk pelayanan tersebut memiliki nilai ketika dijalankan dengan ketulusan dan tanggung jawab.
Perumpamaan kebun anggur mengingatkan bahwa Tuhan mengharapkan buah dari apa yang telah dipercayakan. Buah tersebut tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Kesetiaan dalam tugas kecil pun merupakan bagian dari buah kehidupan.
Seorang ayah yang menjalankan tanggung jawabnya dengan baik sedang menghasilkan buah. Seorang ibu yang membangun keluarga dengan kasih juga menghasilkan buah. Anak yang menghormati orang tua dan bertumbuh dalam kebaikan menghasilkan buah. Umat yang melayani Gereja dengan tulus juga menghasilkan buah.
Demikian pula orang yang menjaga lingkungan, menghormati sesama, membantu mereka yang membutuhkan, serta menggunakan kepercayaan secara jujur sedang menghadirkan buah yang diharapkan Tuhan.
Santo Fransiskus dan Semangat Kesederhanaan
Perayaan Minggu tersebut juga bertepatan dengan Pesta Santo Fransiskus dari Asisi. Kehadiran pesta tersebut memberi ruang bagi umat untuk melihat kembali makna kehidupan yang berakar pada kesederhanaan, pelayanan, dan kepedulian terhadap ciptaan.
Dalam konteks permenungan tentang kebun anggur, pesan mengenai tanggung jawab terhadap apa yang dipercayakan memiliki relevansi yang kuat. Alam dan segala sumber daya yang ada tidak semestinya diperlakukan secara sembarangan. Manusia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan mengelolanya dengan bijaksana.
Pengalaman mengenai kebun sawit yang disampaikan dalam homili juga memperlihatkan bahwa pengelolaan sesuatu membutuhkan perhatian. Ketika tanaman hilang, diperlukan usaha untuk memulihkan. Ketika tanaman yang baru ditanam mulai tumbuh, diperlukan perawatan agar dapat berkembang dengan baik.
Proses tersebut dapat menjadi gambaran kehidupan iman. Iman juga membutuhkan pemeliharaan. Nilai-nilai Injil perlu dirawat melalui doa, perayaan Ekaristi, pelayanan, kehidupan keluarga, serta hubungan yang baik dengan sesama.
Tanpa perhatian, kehidupan iman dapat kehilangan daya tumbuh. Sebaliknya, ketika dirawat secara tekun, iman dapat menghasilkan buah yang dirasakan oleh banyak orang.
Umat Diajak Menghasilkan Buah Kehidupan
Perayaan Ekaristi di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menjadi kesempatan bagi umat untuk memperbarui kesadaran tentang tanggung jawab. Pesan Injil tidak berhenti pada pemahaman mengenai kisah kebun anggur. Umat diajak membawa pesan tersebut ke dalam kehidupan konkret.
Tanggung jawab dimulai dari hal-hal yang dekat. Keluarga menjadi ruang pertama untuk melaksanakan kepercayaan. Lingkungan Gereja menjadi tempat untuk membangun kerja sama. Paroki menjadi ruang bersama untuk memberikan diri melalui pelayanan.
Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap amanah juga diperlukan agar kehadiran setiap orang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Pengalaman tentang penggantian bibit sawit yang hilang menjadi gambaran sederhana mengenai tindakan nyata. Ketika ada sesuatu yang rusak atau hilang, seseorang dapat memilih untuk membiarkannya atau mengambil bagian dalam pemulihan.
Tindakan memperbaiki, mengganti, merawat, dan menjaga merupakan bentuk tanggung jawab. Nilainya semakin kuat ketika dilakukan dengan kesadaran bahwa kehidupan bersama membutuhkan kontribusi banyak orang.
Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa menjadi umat beriman bukan hanya persoalan menerima rahmat, tetapi juga memberikan buah dari rahmat tersebut.
Buah iman terlihat dalam tindakan. Kasih terlihat melalui kepedulian. Pengampunan terlihat ketika seseorang bersedia berdamai. Tanggung jawab terlihat melalui kesetiaan menjalankan tugas. Kejujuran terlihat ketika seseorang tetap benar meskipun tidak diawasi.
Dengan demikian, kehidupan beriman memiliki dimensi yang sangat konkret. Iman tidak hanya diucapkan melalui doa, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan sehari-hari.
Membangun Gereja melalui Tanggung Jawab
Kehidupan sebuah paroki juga bergantung pada kesediaan umat untuk mengambil bagian. Pastor dan para pelayan Gereja tidak dapat menjalankan seluruh tugas sendirian. Kehidupan komunitas membutuhkan keterlibatan umat.
Pelayanan liturgi yang berlangsung dalam Misa Minggu Biasa XXVII menjadi salah satu contoh nyata. Lektor, pemazmur, dirigen, koor, organis, diakon, imam, serta seluruh umat mengambil bagian sesuai tugas masing-masing.
Setiap pelayanan memiliki fungsi dalam membangun perayaan. Tidak ada tugas yang berdiri sendiri. Semua saling melengkapi sehingga perayaan Ekaristi dapat berlangsung dengan baik.
Hal tersebut juga dapat menjadi gambaran kehidupan Gereja secara keseluruhan. Paroki merupakan komunitas yang dibangun melalui kerja bersama. Ketika setiap orang menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, kehidupan bersama menjadi lebih kuat.
Sebaliknya, ketika kepercayaan diabaikan, kehidupan komunitas dapat mengalami kesulitan.
Karena itu, pesan menjadi penggarap yang amanah memiliki relevansi langsung dengan kehidupan pastoral. Umat dipanggil untuk menjaga apa yang telah dipercayakan dan menggunakannya bagi pertumbuhan komunitas.
Buah yang Diharapkan Tuhan
Pada bagian akhir homilinya, RP. Kornelius mengarahkan umat untuk melihat kembali kehidupan masing-masing. Ia menegaskan pentingnya menjalankan tanggung jawab dalam keluarga maupun kehidupan menggereja.
Pesan tersebut berpusat pada satu kesadaran: hidup manusia harus menghasilkan buah.
Buah itu dapat muncul dalam bentuk kasih kepada keluarga, kesetiaan dalam perkawinan, perhatian kepada anak-anak, kepedulian terhadap umat, keterlibatan dalam pelayanan, serta kesediaan membantu sesama.
Ketika setiap orang menjalankan perannya dengan baik, kehidupan bersama akan mengalami pertumbuhan. Sebaliknya, ketika kepercayaan hanya digunakan untuk kepentingan diri sendiri, tujuan bersama akan sulit tercapai.
Perumpamaan kebun anggur menjadi cermin bagi kehidupan umat. Pemilik kebun mempercayakan kebun kepada penggarap. Kepercayaan tersebut mengandung harapan agar kebun menghasilkan buah.
Demikian pula Tuhan mempercayakan kehidupan kepada manusia. Ada keluarga yang dipercayakan untuk dirawat. Ada pelayanan yang dipercayakan untuk dijalankan. Ada lingkungan yang dipercayakan untuk dijaga. Ada sesama yang dipercayakan untuk dikasihi.
Semua itu membutuhkan kesetiaan.
Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XXVII di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang akhirnya menjadi momentum bagi umat untuk kembali menyadari panggilan tersebut. Umat tidak hanya diajak mendengarkan Sabda Tuhan, tetapi juga menghidupinya setelah meninggalkan gereja.
Pesan tentang penggarap kebun anggur menjadi ajakan agar setiap orang menggunakan kepercayaan dengan benar. Kehidupan keluarga, pelayanan Gereja, pekerjaan, lingkungan, serta relasi dengan sesama perlu dikelola dengan penuh tanggung jawab.
Dengan demikian, kehidupan tidak berhenti pada apa yang diterima, tetapi bergerak menuju apa yang dapat diberikan.
Kebun yang dirawat akan menghasilkan buah. Pelayanan yang dilakukan dengan tulus akan menguatkan komunitas. Keluarga yang dibangun dengan tanggung jawab akan menjadi tempat bertumbuh. Iman yang diwujudkan dalam tindakan akan menjadi kesaksian bagi sesama.
Perayaan tersebut mengingatkan umat bahwa setiap orang dipanggil menjadi penggarap yang dapat dipercaya. Bukan sekadar menerima kepercayaan, melainkan menjaganya, mengembangkannya, dan menghasilkan buah yang berguna bagi kehidupan bersama.
Pesan itu menjadi semakin bermakna ketika umat kembali ke rumah dan menjalankan tugas masing-masing. Sabda yang telah didengarkan dalam perayaan Ekaristi diharapkan tidak berhenti di dalam gereja, tetapi tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semangat tersebut, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diajak terus membangun kehidupan yang bertanggung jawab, setia dalam pelayanan, peduli terhadap sesama, serta mampu menghadirkan kebaikan di tengah keluarga dan masyarakat.
Pada akhirnya, menjadi penggarap kebun Tuhan berarti bersedia menjaga apa yang dipercayakan dan menghasilkan buah yang dapat dirasakan oleh orang lain. Itulah panggilan iman yang terus dihidupi dalam perjalanan Gereja dan kehidupan umat.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 4 Oktober 2026

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar