RP. Avensius Rosis Kajang, CP, Hadir sebagai Narasumber Seminar 80 Tahun Karya Misi Pasionis di Indonesia

 

Foto RP. Avensius Rosis Kajang, CP

Ketapang, 17 Oktober 2026.Di balik karya pewartaan yang hadir melalui refleksi harian, lagu rohani, video musik, animasi, hingga media digital, terdapat perjalanan seorang imam Pasionis yang memadukan spiritualitas, pendidikan, dan kreativitas. Ia adalah RP. Avensius Rosis Kajang, CP, yang akrab disapa Romo Aven. Pengalaman pelayanannya membentang dari pendampingan umat di Kalimantan, karya spiritualitas di Flores, pengalaman di Australia, pembinaan calon imam, hingga tanggung jawab dalam pelayanan perjalanan rohani Gereja Katolik.

Pada Minggu, 18 Oktober 2026, pukul 09.00–13.00 WIB, Romo Aven akan hadir sebagai narasumber dalam seminar yang diselenggarakan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Pastor Jeroen Stoop, CP, dengan tema “Go Passio: Go For Life – Go For Love”, dalam rangka memperingati 80 tahun kehadiran dan karya misi Pasionis di Indonesia.

Kehadirannya menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sosok imam yang menekuni berbagai bidang pelayanan. Riwayat pendidikannya mempertemukan filsafat, teologi, dan desain komunikasi. Pengalaman pastoralnya mempertemukan pendampingan umat, pembinaan, spiritualitas, dan pewartaan melalui teknologi komunikasi.

Dari Tahbisan Menuju Perutusan

Perjalanan imamat RP. Avensius Rosis Kajang, CP, memasuki babak penting pada 18 Agustus 2009. Pada tanggal tersebut, ia ditahbiskan menjadi imam oleh Kardinal Mgr. Julius Riyadi Darmaatmadja, S.J., di Katedral Jakarta.

Tahbisan itu menandai awal pelayanannya sebagai imam dalam Kongregasi Pasionis. Panggilan tersebut kemudian membawanya ke berbagai tempat dan tanggung jawab. Setiap perutusan menghadirkan lingkungan pastoral, kebutuhan umat, serta bentuk pelayanan yang berbeda.

Sesudah tahbisan, Romo Aven menjalani tugas sebagai pastor rekan di Paroki Santo Gabriel dari Bunda Berdukacita, Pulang Pisau, Keuskupan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Dalam pelayanan paroki, seorang imam berhadapan langsung dengan kehidupan umat: mendampingi perjalanan iman, merayakan sakramen, melayani kebutuhan pastoral, serta membantu umat menghidupi Injil dalam keseharian.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan pastoralnya sebelum memasuki tugas yang lebih berfokus pada spiritualitas dan pembinaan. Dari pelayanan paroki, cakrawala perutusannya berkembang menuju tempat ziarah dan pusat spiritualitas Pasionis.

Nilo, Flores: Menemani Peziarah dalam Perjalanan Iman

Pada Juli 2011 hingga Januari 2016, Romo Aven berkarya di Pusat Spiritualitas Pasionis Mater Sanctae Spei dan tempat ziarah Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo, Maumere, Flores.

Di lingkungan seperti ini, pelayanan imam tidak hanya berkaitan dengan perayaan liturgi. Pusat spiritualitas dan tempat ziarah juga menjadi ruang bagi umat untuk mengambil jarak sejenak dari kesibukan, berdoa, merenungkan pengalaman hidup, serta memperdalam hubungan dengan Tuhan.

Para peziarah datang dengan latar belakang dan pergulatan yang beragam. Ada yang mencari ketenangan, membawa intensi doa bagi keluarga, atau ingin menemukan kembali arah hidupnya. Kehadiran pelayan pastoral membantu mereka menghayati ziarah bukan semata-mata sebagai perjalanan menuju sebuah tempat, melainkan sebagai kesempatan memperbarui kehidupan rohani.

Pengalaman di Nilo menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Romo Aven. Pelayanan spiritualitas menuntut kemampuan mendengarkan, mendampingi, dan membantu orang menemukan makna iman dalam pengalaman konkret. Hal itu sejalan dengan karakter pelayanan Pasionis yang memberi perhatian pada sengsara Kristus dan mengajak umat menemukan kasih Allah di tengah kenyataan hidup manusia.

Australia dan Perluasan Wawasan Pastoral

Pada Februari 2016 hingga Juli 2017, Romo Aven menjalani pengalaman pelayanan di Melbourne, Australia. Dalam riwayat pendidikannya, ia juga tercatat mengikuti pembelajaran bahasa Inggris untuk pelayanan pastoral di Melbourne selama dua tahun.

Pengalaman lintas negara memberi kesempatan untuk berjumpa dengan lingkungan sosial dan budaya yang berbeda. Dalam pelayanan Gereja, kemampuan berkomunikasi menjadi bagian penting karena pewartaan iman berlangsung di tengah masyarakat yang beragam.

Bahasa bukan hanya alat menyampaikan informasi. Dalam pelayanan pastoral, bahasa juga menjadi jembatan untuk mendengarkan, membangun relasi, memahami pengalaman orang lain, dan menyampaikan pesan iman secara jelas.

Pengalaman di Australia menjadi salah satu unsur dalam perjalanan Romo Aven yang kemudian ditandai dengan beragam bentuk pelayanan. Ia tidak hanya berkarya dalam pendampingan pastoral dan spiritualitas, tetapi juga mengembangkan kemampuan di bidang pendidikan, komunikasi, serta kreativitas visual.

Pendidikan yang Mempertemukan Filsafat, Teologi, dan Desain

Latar belakang pendidikan Romo Aven memperlihatkan perpaduan antara refleksi intelektual, pemahaman iman, dan keterampilan komunikasi.

Ia menempuh pendidikan sarjana filsafat di STFT Widya Sasana, Malang. Pendidikan filsafat membekali seseorang dengan kemampuan berpikir kritis, menelaah persoalan secara sistematis, dan mempertanyakan makna di balik pengalaman manusia. Dalam kehidupan seorang imam, proses tersebut dapat mendukung pendalaman panggilan dan pembacaan atas kenyataan sosial yang dihadapi umat.

Pendidikan magister teologi ditempuhnya di STT Pastor Bonus, Pontianak. Teologi membantu memperdalam pemahaman mengenai iman, Kitab Suci, tradisi Gereja, serta hubungan antara ajaran Kristiani dan kehidupan manusia. Bagi seorang pelayan pastoral, pendalaman teologi menjadi salah satu dasar untuk menyampaikan pewartaan secara bertanggung jawab.

Namun, perjalanan akademiknya tidak berhenti pada filsafat dan teologi. Romo Aven juga menempuh pendidikan sarjana Desain Komunikasi Visual di Universitas Ma Chung, Malang, serta pendidikan magister desain di Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

Perpaduan bidang-bidang tersebut menghadirkan bekal yang khas. Filsafat mengajak manusia berpikir mendalam. Teologi membantu menafsirkan kehidupan dalam terang iman. Desain komunikasi visual memberi perhatian pada cara pesan disusun, ditampilkan, dan diterima oleh khalayak.

Ketiganya dapat bertemu dalam pewartaan Gereja. Sebuah pesan rohani memerlukan isi yang dapat dipertanggungjawabkan, pemahaman yang mendalam, dan bentuk komunikasi yang sesuai dengan penerimanya. Di tengah perkembangan media digital, kemampuan mengolah pesan menjadi semakin penting agar pewartaan tidak berhenti pada kata-kata, tetapi dapat menjangkau kehidupan umat melalui beragam sarana.

Menemani Proses Pembinaan Calon Imam

Selain berkarya dalam pelayanan pastoral dan spiritualitas, Romo Aven memiliki pengalaman dalam pembinaan dan formasi Pasionis. Ia pernah terlibat dalam pendampingan di novisiat Pasionis di Batu, Malang, serta mendampingi para postulan dan frater yang menjalani pendidikan filsafat dan teologi. Ia juga berkarya dalam lingkungan Pusat Spiritualitas Pasionis di Malang.

Pembinaan calon imam merupakan proses panjang. Di dalamnya, calon anggota tarekat tidak hanya mempelajari pengetahuan akademik, tetapi juga menjalani pembentukan kepribadian, kehidupan doa, kedisiplinan, persaudaraan, dan kesiapan untuk melayani.

Proses tersebut membutuhkan pendampingan yang konsisten. Para calon imam perlu dibantu untuk mengenali motivasi panggilan, mengembangkan kedewasaan, dan menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan kehidupan nyata. Pendidikan filsafat dan teologi menjadi bagian dari proses itu, tetapi pembentukan diri juga berlangsung melalui kehidupan bersama dan pengalaman pelayanan.

Pengalaman Romo Aven dalam lingkungan formasi memperluas cakupan perutusannya. Pelayanan tidak hanya diarahkan kepada umat yang telah menjalani kehidupan menggereja, tetapi juga kepada mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pelayan Gereja.

Dalam kehidupan tarekat religius, pembinaan juga berkaitan dengan penghayatan karisma pendiri. Bagi para Pasionis, spiritualitas sengsara Kristus menjadi dasar untuk melihat penderitaan manusia dengan perhatian, solidaritas, dan kasih. Nilai tersebut perlu dipahami bukan hanya sebagai materi pembelajaran, melainkan sebagai cara hidup yang bertumbuh melalui doa, persaudaraan, dan pelayanan.

Retret dan Pendampingan Spiritualitas

Pengalaman Romo Aven di pusat spiritualitas turut berkaitan dengan pelayanan retret. Retret memberi ruang bagi seseorang untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menata kembali pengalaman, dan memeriksa arah hidup dalam terang iman.

Dalam kehidupan yang bergerak cepat, waktu hening sering kali sulit ditemukan. Kesibukan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, kegiatan sosial, serta arus informasi dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk mendengarkan suara hati. Retret membantu peserta menyediakan waktu bagi doa, refleksi, dan pembaruan komitmen.

Bagi seorang pendamping retret, pelayanan ini memerlukan kesiapan untuk menyampaikan bahan refleksi sekaligus memberi ruang bagi peserta untuk mengolah pengalaman pribadi. Tidak semua pergulatan dapat dijawab dengan penjelasan singkat. Terkadang, pendampingan yang baik dimulai dengan kesediaan mendengarkan dan membantu seseorang menemukan langkah yang dapat dijalani.

Pengalaman di bidang spiritualitas dan formasi menjadi salah satu unsur yang membentuk perjalanan pelayanan Romo Aven. Dalam konteks Gereja, pendampingan semacam ini berperan membantu umat dan para calon pelayan Gereja menghubungkan iman dengan keputusan sehari-hari.

Go Passio: Ketika Kreativitas Menjadi Sarana Pewartaan

Salah satu karya yang menonjol dalam perjalanan Romo Aven ialah Go Passio, sebuah gerakan kreatif yang mengembangkan pewartaan spiritualitas melalui beragam bentuk media.

Karya ini menghadirkan refleksi harian, lagu rohani, video musik, animasi, film pendek, dan materi kreatif lainnya. Konten tersebut disebarluaskan melalui saluran digital, termasuk WhatsApp, TikTok, Instagram, dan YouTube.

Pilihan media tersebut memperlihatkan perhatian pada perubahan cara masyarakat menerima informasi. Pesan keagamaan yang dahulu banyak disampaikan melalui pertemuan langsung, buku, atau media cetak kini juga dapat hadir di layar telepon genggam. Seseorang dapat membaca refleksi, mendengarkan lagu rohani, atau menyaksikan video singkat di sela-sela aktivitasnya.

Perkembangan teknologi tentu tidak menggantikan seluruh bentuk perjumpaan pastoral. Ekaristi, sakramen, kehidupan komunitas, dan pendampingan langsung tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan Gereja. Namun, media digital dapat menjadi sarana pendukung untuk membuka percakapan, mengajak orang merenung, dan memperkenalkan kekayaan spiritualitas kepada khalayak yang lebih luas.

Dalam konteks Go Passio, kreativitas bukan sekadar soal tampilan yang menarik. Tantangannya adalah menjaga agar bentuk komunikasi tetap selaras dengan pesan iman. Lagu, gambar, animasi, dan film pendek perlu membantu orang memahami pesan yang disampaikan, bukan mengaburkannya.

Latar belakang Romo Aven di bidang filsafat, teologi, dan desain komunikasi visual memberikan konteks yang relevan bagi karya tersebut. Pengetahuan dan pengalaman dari bidang yang berbeda dapat dipadukan untuk mengembangkan bentuk pewartaan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Nama Go Passio juga menghubungkan kreativitas itu dengan identitas spiritualitas Pasionis. Pewartaan tidak hanya dimaksudkan untuk menyampaikan informasi mengenai iman, tetapi juga mengajak orang memberi perhatian kepada kasih Kristus dan penderitaan manusia.

Gema Pasionis dan Pasionis.id: Memperluas Jangkauan Informasi

Selain Go Passio, Romo Aven menjadi penggagas dan pengelola situs Gema Pasionis serta Pasionis.id. Kedua platform tersebut menjadi bagian dari kiprahnya dalam pengembangan komunikasi dan pewartaan digital.

Situs web memiliki karakter berbeda dari media sosial. Informasi dapat disusun lebih teratur, dibaca kembali, dan menjadi rujukan bagi orang yang ingin mengetahui kegiatan, pemikiran, atau karya yang berkaitan dengan spiritualitas Pasionis.

Di tengah derasnya arus informasi, keberadaan media digital Gereja memerlukan perhatian terhadap ketepatan isi, kejelasan bahasa, dan tanggung jawab dalam penyebaran informasi. Konten yang baik perlu menyampaikan fakta secara akurat sekaligus membantu pembaca memahami maknanya.

Pengembangan media seperti Gema Pasionis dan Pasionis.id memperlihatkan bahwa pewartaan dapat mengambil bentuk yang beragam. Pelayanan tidak selalu berlangsung melalui mimbar atau pertemuan tatap muka. Ia juga dapat hadir melalui tulisan, dokumentasi, materi refleksi, dan karya audiovisual.

Meski demikian, teknologi tetap merupakan sarana. Tujuan akhirnya ialah membantu manusia memperoleh informasi yang bermanfaat, memperdalam pemahaman iman, dan menemukan dorongan untuk mewujudkan kasih dalam kehidupan nyata.

Tanggung Jawab Baru sebagai Direktur PT Raptim Indonesia

Sejak Januari 2026, RP. Avensius Rosis Kajang, CP, mendapat penugasan sebagai Direktur PT Raptim Indonesia oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

PT Raptim Indonesia bergerak dalam pelayanan perjalanan dan ziarah Gereja Katolik. Lembaga ini didirikan pada 1970 dan berada dalam lingkungan pelayanan Gereja yang berkaitan dengan kolegium para uskup Indonesia.

Perjalanan ziarah memiliki dimensi yang lebih luas daripada perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bagi banyak umat, ziarah menjadi kesempatan untuk berdoa, mengenal sejarah Gereja, mengunjungi tempat-tempat yang memiliki arti rohani, dan memperbarui kehidupan iman.

Penyelenggaraan perjalanan semacam itu membutuhkan koordinasi, perencanaan, komunikasi, dan perhatian terhadap kebutuhan peserta. Pengelolaan perjalanan juga harus memperhatikan aspek praktis agar kegiatan berlangsung tertib dan sesuai dengan rencana.

Penugasan sebagai direktur membawa Romo Aven ke lingkungan pelayanan yang berbeda dari tugas pastoral paroki atau pendampingan retret. Namun, tanggung jawab tersebut tetap berada dalam cakupan pelayanan Gereja. Pengalaman pastoral dan komunikasi dapat menjadi bekal untuk memahami bahwa perjalanan rohani tidak semata-mata berkaitan dengan tujuan wisata, tetapi juga dengan pengalaman iman orang-orang yang mengikutinya.

Dengan tanggung jawab baru ini, perjalanan pelayanannya memperlihatkan pertemuan antara kehidupan rohani, pengelolaan pelayanan, dan kebutuhan umat. Setiap bidang menuntut kompetensi yang berbeda, tetapi semuanya memerlukan orientasi yang jelas pada pelayanan.

Seminar 80 Tahun Pasionis di Indonesia

Berbagai pengalaman tersebut menjadi latar belakang kehadiran Romo Aven dalam seminar yang akan diselenggarakan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang.

Seminar bertema “Go Passio: Go For Life – Go For Love” dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 18 Oktober 2026, pukul 09.00–13.00 WIB, di Gedung Pastor Jeroen Stoop, CP. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan 80 tahun kehadiran dan karya misi Pasionis di Indonesia.

Peringatan delapan dekade tersebut merupakan kesempatan untuk mengenang perjalanan misi, menghargai karya para pendahulu, serta melihat kembali tantangan pelayanan Gereja pada masa kini. Warisan misi tidak hanya terletak pada bangunan, lembaga, atau catatan sejarah. Warisan itu juga hidup dalam spiritualitas, cara melayani, dan kesediaan meneruskan perutusan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Kehadiran Romo Aven sebagai narasumber membawa pengalaman pelayanan yang beragam: dari paroki di Kalimantan Tengah menuju pusat spiritualitas di Flores, pengalaman di Australia, pembinaan calon imam, pengembangan media digital, hingga tanggung jawab dalam pelayanan perjalanan rohani.

Riwayat tersebut memberi konteks bagi tema seminar. Perjalanan seorang imam tidak selalu berlangsung dalam satu bentuk tugas. Perutusan dapat berubah seiring kebutuhan Gereja, sementara dasar panggilannya tetap diarahkan pada pelayanan dan pewartaan kasih.

Menjaga Arah di Tengah Perubahan Zaman

Kisah pelayanan RP. Avensius Rosis Kajang, CP, memperlihatkan bagaimana pendidikan dan pengalaman dapat bertemu dalam beragam bentuk karya. Filsafat, teologi, desain komunikasi visual, pendampingan spiritualitas, pembinaan calon imam, dan media digital menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk cakupan pelayanannya.

Perpaduan tersebut relevan bagi Gereja yang terus berhadapan dengan perubahan sosial dan teknologi. Pewartaan memerlukan kedalaman isi sekaligus kemampuan untuk berkomunikasi dengan masyarakat yang memiliki kebiasaan dan kebutuhan berbeda. Kreativitas dapat membuka jalan baru, tetapi tanggung jawab terhadap kebenaran dan makna pesan tetap menjadi dasar.

Dalam spiritualitas Pasionis, perhatian kepada sengsara Kristus mengundang umat untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama. Spiritualitas itu memperoleh maknanya ketika diwujudkan dalam kepedulian, pendampingan, solidaritas, dan keberanian melayani.

Melalui karya pastoral, pembinaan, retret, dan pewartaan kreatif, Romo Aven menapaki berbagai ruang pelayanan. Perjalanan itu menunjukkan bahwa bentuk karya dapat berkembang, tetapi orientasi pelayanan perlu tetap terjaga.

Seminar di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menjadi salah satu kesempatan untuk mengenal perjalanan tersebut dalam rangka peringatan 80 tahun misi Pasionis di Indonesia. Di tengah perubahan zaman, pertanyaan penting bagi setiap pelayan Gereja tetap sama: bagaimana iman dapat dihidupi dan kasih dapat diwujudkan melalui tugas yang dipercayakan?

Bagi Romo Aven, jawabannya tercermin dalam perjalanan perutusan yang terus berkembang dari pelayanan umat dan pembinaan spiritualitas hingga penggunaan kreativitas sebagai sarana pewartaan. Semua itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan spiritualitas Pasionis dalam kehidupan nyata, agar kasih tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi tumbuh dalam tindakan pelayanan sehari-hari.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:  17  Oktober 2026


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar