Foto Almarhum RD. Zacharias Lintas, Pr
Ketapang, 14 Oktober 2026.Lonceng duka seakan bergema di antara rumah-rumah umat, menembus keheningan pagi dan menyentuh hati mereka yang mengenal perjalanan seorang gembala. Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 04.56 WIB, RD. Zacharias Lintas, Pr., mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Fatima Ketapang. Ia meninggalkan dunia pada usia 77 tahun, setelah menjalani perjalanan hidup yang menjadi bagian dari sejarah Gereja Katolik di Keuskupan Ketapang.
Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang imam. Bagi Gereja lokal dan masyarakat Dayak, namanya melekat pada sebuah tonggak sejarah: ia dikenal sebagai Imam Dayak pertama di Keuskupan Ketapang. Perjalanan hidupnya mengingatkan umat bahwa panggilan imamat tidak hanya berbicara tentang pelayanan di altar, tetapi juga tentang kesetiaan terhadap iman, penghargaan terhadap identitas budaya, keberanian menyuarakan kebenaran, serta kepedulian terhadap martabat manusia.
RD. Zacharias Lintas, Pr., lahir di Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada 3 Januari 1949. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 10 April 1978 oleh Mgr. Gabriel Willem Sillekens, C.P. Sejak itu, hidupnya terikat pada tugas pelayanan Gereja. Motto tahbisannya diambil dari Injil Matius 10:16: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”
Ayat tersebut menjadi landasan rohani yang tepat untuk mengenang seorang imam yang perjalanan hidupnya dikaitkan dengan keteguhan prinsip, kejernihan berpikir, dan keberanian menghadapi persoalan. Dalam kenangan atas dirinya, pesan Injil itu menghadirkan gambaran tentang panggilan yang menuntut kebijaksanaan sekaligus ketulusan, keberanian sekaligus kerendahan hati.
Kini, ketika ia telah kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan, pertanyaan yang tersisa bukan hanya tentang berapa lama ia hidup atau jabatan apa yang pernah diembannya. Pertanyaan yang lebih mendalam ialah apa yang dapat dipelajari generasi berikutnya dari perjalanan seorang putra Dayak yang mempersembahkan hidupnya bagi pelayanan Gereja.
Dari Simpang Dua, Menapaki Jalan Pendidikan dan Iman
Perjalanan RD. Zacharias Lintas, Pr., bermula dari lingkungan masyarakat Dayak di kawasan Simpang Dua. Menurut catatan biografis yang dipublikasikan Amon Stefanus, ia lahir di Palumpat, sebuah pondok ladang sekitar lima kilometer dari Kampung Karab, Kecamatan Simpang Dua. Ia merupakan putra pasangan Yulius Tjinta dan Marta Lata, serta anak kelima dari delapan bersaudara.
Lingkungan tempat ia bertumbuh mempertemukannya dengan kehidupan masyarakat yang dekat dengan alam, tradisi leluhur, kerja keras, dan semangat kebersamaan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari latar kehidupan seorang anak Dayak yang kemudian menapaki jalan pendidikan dan pelayanan Gereja.
Pada masa itu, kesempatan memperoleh pendidikan lanjutan tidak selalu mudah bagi anak-anak yang berasal dari wilayah pedalaman. Jarak, keterbatasan sarana, dan keadaan sosial menuntut perjuangan. Namun, pendidikan membuka jalan bagi generasi muda untuk memperluas wawasan dan menemukan kemungkinan baru dalam kehidupan.
Zacharias menjalani pendidikan dasar di Sekolah Rakyat di Simpang Dua dan Usaba Banjur Karab. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Usaba Ketapang, sebelum memasuki Seminari Menengah Mertoyudan. Perjalanan formasinya diteruskan di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta.
Rangkaian pendidikan tersebut bukan sekadar tahapan akademis. Dalam perjalanan seorang calon imam, pendidikan juga merupakan masa pembentukan watak, pendalaman iman, pengenalan diri, dan pematangan keputusan untuk menyerahkan hidup kepada pelayanan Tuhan.
Seminari menjadi ruang untuk mempelajari Kitab Suci, tradisi Gereja, filsafat, dan teologi, sekaligus melatih kedisiplinan serta tanggung jawab. Di sana, seorang calon imam belajar bahwa panggilan tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kerendahan hati, ketekunan, dan kesediaan untuk mendengarkan.
Perjalanan dari Simpang Dua menuju tempat-tempat pendidikan tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari perjuangan seorang anak daerah dalam menjawab panggilan hidupnya. Ia meninggalkan lingkungan yang dikenalnya untuk menempuh proses panjang, sebelum kelak kembali mengabdikan diri dalam kehidupan Gereja di tanah kelahirannya.
Pendidikan yang diterimanya juga memiliki arti lebih luas bagi masyarakat Dayak. Kehadirannya sebagai putra Dayak yang menempuh pendidikan calon imam menunjukkan bahwa masyarakat setempat memiliki tempat dalam perjalanan kepemimpinan dan pelayanan Gereja.
Namun, arti penting perjalanan itu tidak semata-mata terletak pada pencapaian pribadi. Yang lebih mendasar ialah bagaimana kesempatan belajar dan pembentukan panggilan dapat menghasilkan pelayanan yang bermanfaat bagi orang lain.
Tahbisan Imamat: Sebuah Tonggak Sejarah Gereja Ketapang
Pada 10 April 1978, perjalanan formasi Zacharias Lintas mencapai salah satu titik terpenting. Ia menerima tahbisan imamat dari Mgr. Gabriel Willem Sillekens, C.P., yang saat itu memimpin Keuskupan Ketapang. Peristiwa ini dicatat dalam sejarah resmi Keuskupan Ketapang sebagai tahbisan imam Dayak pertama dari keuskupan tersebut.
Tahbisan itu memiliki makna khusus, baik bagi perjalanan pribadi Zacharias maupun bagi sejarah Gereja lokal. Ia menjadi imam diosesan yang berasal dari masyarakat Dayak, sebuah kenyataan yang memperlihatkan bahwa panggilan pelayanan Gereja tumbuh juga dari tengah masyarakat yang dilayani.
Gereja Katolik di Ketapang memiliki perjalanan panjang. Karya pewartaan Injil di wilayah ini tidak hanya berkembang melalui kehadiran para misionaris, tetapi juga melalui keterlibatan umat awam dan masyarakat setempat. Sejarah resmi keuskupan mencatat peran keluarga-keluarga Tionghoa Katolik dalam pewartaan Injil di kawasan Ketapang sejak awal abad ke-20. Seiring waktu, kehidupan Gereja berkembang dengan keterlibatan semakin banyak umat lokal.
Dalam konteks tersebut, tahbisan Zacharias menjadi salah satu penanda penting pertumbuhan panggilan lokal. Seorang putra Dayak tidak hanya menjadi anggota umat yang menerima pelayanan, tetapi juga tampil sebagai pelayan yang mengambil bagian dalam pewartaan Injil dan pendampingan umat.
Imamat bukanlah gelar kehormatan yang berhenti pada upacara tahbisan. Tahbisan membawa tanggung jawab panjang: mewartakan Sabda Allah, merayakan sakramen, membimbing umat, mendampingi mereka yang mengalami kesulitan, dan menjaga kesatuan persekutuan Gereja.
Seorang imam juga dipanggil untuk hadir dalam kehidupan nyata umat. Ia berjumpa dengan keluarga yang sedang membangun rumah tangga, anak-anak yang sedang bertumbuh, orang muda yang mencari arah hidup, orang sakit yang membutuhkan penghiburan, serta mereka yang berduka dan memerlukan pendampingan.
Di situlah makna pelayanan imamat menjadi konkret. Altar dan kehidupan sehari-hari bukanlah dua dunia yang terpisah. Ekaristi menjadi sumber kekuatan bagi pelayanan, sedangkan pengalaman hidup umat menghadirkan ruang bagi Injil untuk diwujudkan melalui tindakan.
Bagi Zacharias, tahbisan pada 10 April 1978 membuka perjalanan pengabdian yang berlangsung selama puluhan tahun. Dalam perjalanan itu, ia mengemban berbagai tanggung jawab pastoral, pendidikan, dan kepemimpinan di lingkungan Keuskupan Ketapang.
Motto Tahbisan: Cerdik dalam Kebijaksanaan, Tulus dalam Pelayanan
Motto tahbisan RD. Zacharias Lintas, Pr., diambil dari Matius 10:16. Yesus mengutus para murid seperti domba ke tengah-tengah serigala, sembari meminta mereka menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Sabda tersebut memuat dua sikap yang perlu berjalan bersama. Kecerdikan mengingatkan seorang pelayan akan pentingnya membaca keadaan, menimbang persoalan, dan mengambil keputusan dengan bijaksana. Ketulusan mengarahkan hati agar pelayanan tidak dikuasai oleh kepentingan diri, melainkan berakar pada kasih dan kesetiaan kepada kebenaran.
Keduanya bukan sikap yang saling bertentangan. Kebijaksanaan tanpa ketulusan dapat kehilangan arah moral. Sebaliknya, ketulusan tanpa pertimbangan yang matang dapat membuat seseorang kesulitan menghadapi persoalan yang rumit. Dalam kehidupan seorang imam, keduanya diperlukan agar pelayanan tidak hanya baik dalam niat, tetapi juga bertanggung jawab dalam tindakan.
Motto itu menjadi lensa reflektif untuk mengenang perjalanan Pastor Lintas. Ia dikenal dalam kenangan yang disampaikan tentang dirinya sebagai pribadi yang teguh dalam prinsip, berpikir kritis, dan berani menyampaikan pandangan ketika berhadapan dengan persoalan. Nilai-nilai tersebut patut direnungkan dalam terang panggilan imamat, tanpa harus menganggap setiap keputusan dalam hidupnya selalu bebas dari tantangan.
Keberanian menyampaikan pendapat bukan berarti menutup telinga terhadap orang lain. Ketegasan tidak harus menjadi kekerasan. Seorang pelayan yang sungguh-sungguh berpegang pada kebenaran juga perlu memiliki kesediaan untuk mendengar, menimbang bukti, dan mengoreksi diri.
Dalam kehidupan Gereja dan masyarakat, sikap semacam itu penting. Persoalan sosial tidak selalu mempunyai jawaban sederhana. Perbedaan kepentingan, ketimpangan, dan perubahan zaman menuntut pemikiran yang jernih serta hati yang tidak mudah dikuasai prasangka.
Motto tahbisan Pastor Lintas mengajak generasi muda untuk memahami bahwa iman bukan alasan untuk menghindari persoalan. Sebaliknya, iman dapat menjadi sumber keberanian untuk menghadapi kenyataan dengan tanggung jawab, sambil tetap menjaga ketulusan hati.
Pada akhirnya, nilai sebuah motto tidak hanya terletak pada kata-kata yang tercantum dalam kenangan tahbisan. Nilainya terlihat ketika pesan tersebut terus direnungkan dan diupayakan dalam kehidupan.
Mengabdi dalam Berbagai Bidang Pelayanan
Perjalanan imamat Pastor Zacharias tidak terbatas pada satu tempat atau satu jenis tugas. Ia menjalani pelayanan pastoral di sejumlah wilayah, kemudian dipercaya memegang tanggung jawab dalam bidang pendidikan dan kepemimpinan Gereja.
Catatan biografis yang diterbitkan Amon Stefanus menyebutkan bahwa ia memulai karya pastoral di Paroki Tanjung pada 1978–1982, kemudian melayani di Tumbang Titi pada 1982–1985. Setelah itu, ia melanjutkan studi di Roma. Sekembalinya dari studi, ia menjalankan tugas sebagai Direktur Yayasan Usaba pada 1988–1994. Ia juga pernah menjadi Pastor Kepala Paroki Katedral dan Vikaris Jenderal Keuskupan Ketapang pada 1999–2013. Pada 2009–2015, ia bertugas sebagai pastor kepala pertama Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, kemudian melayani di Paroki Tembelina pada 2019.
Rangkaian tugas tersebut memperlihatkan beragam bidang yang menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya. Pelayanan di paroki mempertemukannya dengan kehidupan umat sehari-hari. Tanggung jawab dalam bidang pendidikan memberinya ruang untuk terlibat dalam pembinaan generasi muda. Sementara itu, tugas sebagai Vikaris Jenderal membawanya pada tanggung jawab yang lebih luas dalam kehidupan keuskupan.
Setiap bidang memiliki tantangan tersendiri. Di paroki, seorang imam perlu memahami kebutuhan rohani umat dan keadaan masyarakat. Dalam pendidikan, ia berhadapan dengan pembentukan manusia yang membutuhkan pendampingan jangka panjang. Dalam kepemimpinan keuskupan, ia dituntut mempertimbangkan berbagai kebutuhan pastoral, membangun komunikasi, dan membantu pelaksanaan arah pelayanan Gereja.
Jabatan-jabatan tersebut bukan sekadar catatan administratif. Jika dikenang secara mendalam, semuanya mengingatkan bahwa pelayanan Gereja membutuhkan orang-orang yang bersedia menerima tanggung jawab sesuai kebutuhan zaman dan komunitas.
Menjadi Vikaris Jenderal, misalnya, berarti menjalankan tugas dalam lingkup pemerintahan keuskupan sesuai kewenangan yang diberikan. Tanggung jawab itu memerlukan ketelitian, kemampuan berdialog, serta kesediaan bekerja bersama uskup dan para pelayan Gereja lainnya.
Namun, jabatan tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan seorang imam. Lebih penting daripada kedudukan ialah bagaimana tanggung jawab dijalankan, bagaimana keputusan dipertimbangkan, dan sejauh mana pelayanan membantu kehidupan umat.
Dalam mengenang Pastor Zacharias, riwayat penugasannya mengajak umat melihat bahwa pengabdian dapat mengambil banyak bentuk. Ada pelayanan yang tampak di hadapan banyak orang, ada pula pekerjaan yang berlangsung dalam pertemuan, pendampingan, pengambilan keputusan, dan proses panjang yang tidak selalu terlihat.
Keseluruhan perjalanan itu menjadi bagian dari sejarah seorang imam yang mengabdikan hidupnya dalam lingkungan Keuskupan Ketapang.
Iman Katolik dan Identitas Dayak
Salah satu makna terpenting dalam mengenang RD. Zacharias Lintas, Pr., terletak pada pertemuan antara iman Katolik dan identitas Dayak yang melekat pada dirinya.
Ia dikenal sebagai imam Dayak pertama di Keuskupan Ketapang. Identitas tersebut menjadikan perjalanan hidupnya relevan untuk direnungkan dalam konteks hubungan antara iman, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat lokal.
Bagi seseorang yang tumbuh dalam kebudayaan tertentu, menerima panggilan imamat bukan berarti harus menghapus seluruh akar kehidupannya. Bahasa, pengalaman keluarga, ingatan tentang kampung halaman, dan nilai kebersamaan dapat menjadi bagian dari perjalanan seseorang dalam memahami panggilannya.
Iman Kristiani mengajak setiap orang untuk bertumbuh dalam kasih, kebenaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Kebudayaan, pada gilirannya, menyediakan bahasa, simbol, dan pengalaman hidup yang membantu seseorang memahami dunia serta membangun hubungan dengan sesama.
Keduanya dapat bertemu dalam kehidupan yang saling memperkaya. Identitas budaya tidak harus menjadi penghalang bagi penghayatan iman. Sebaliknya, iman dapat mendorong seseorang mengembangkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaannya, sembari menilai setiap praktik berdasarkan penghormatan terhadap martabat manusia dan ajaran Injil.
Dalam kenangan mengenai Pastor Zacharias, semangat menjadi Katolik tanpa kehilangan identitas Dayak merupakan pesan yang penting. Pesan tersebut dapat dirangkum dalam ungkapan yang dikenal dalam tulisan memorial tentang dirinya: seratus persen Katolik, seratus persen Dayak.
Ungkapan itu bukan sekadar pernyataan identitas. Ia mengundang generasi muda untuk memahami bahwa menjadi bagian dari Gereja universal tidak mengharuskan seseorang melepaskan tanggung jawab terhadap komunitas dan tanah kelahirannya.
Seorang Katolik dapat menghayati iman sekaligus menghargai bahasa daerah, merawat tradisi yang baik, mempelajari sejarah leluhur, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Dengan cara itu, identitas budaya tidak berhenti sebagai simbol, tetapi menjadi ruang untuk menghidupi persaudaraan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.
Bagi generasi muda Dayak, kisah Pastor Zacharias dapat menjadi dorongan untuk menempuh pendidikan, mengembangkan kemampuan, dan mengambil bagian dalam pelayanan masyarakat. Anak-anak dari pedalaman pun memiliki kesempatan untuk bertumbuh, belajar, dan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan.
Warisan semacam ini tidak seharusnya berhenti pada kebanggaan karena seseorang menjadi yang pertama. Tonggak sejarah akan lebih bermakna apabila membuka jalan bagi banyak orang sesudahnya.
Karena itu, penghormatan kepada Pastor Zacharias dapat diwujudkan dengan memperluas kesempatan pendidikan, mendampingi panggilan hidup kaum muda, merawat kebudayaan Dayak, serta membangun kehidupan menggereja yang menghargai keberagaman.
Dengan demikian, buah sulung tidak hanya dikenang karena ia datang lebih dahulu. Ia juga dikenang karena kehadirannya menjadi bagian dari perjalanan yang dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.
Keberanian Berpikir dan Keberpihakan kepada Martabat Manusia
Dalam gambaran memorial tentang dirinya, Pastor Zacharias dikenang sebagai pribadi yang kritis, teguh dalam pendirian, dan tidak mudah menghindari persoalan. Ia digambarkan sebagai seseorang yang berani menyampaikan pandangan dan berusaha mencari jalan keluar ketika berhadapan dengan masalah.
Sikap tersebut layak menjadi bahan refleksi, terutama dalam kehidupan Gereja yang selalu berada di tengah masyarakat dengan berbagai kebutuhan dan tantangan.
Pelayanan pastoral tidak berlangsung dalam ruang kosong. Gereja hidup di tengah masyarakat yang menghadapi persoalan pendidikan, kemiskinan, perubahan sosial, konflik, dan ketidakpastian masa depan. Dalam keadaan seperti itu, pewartaan Injil perlu disertai kepekaan terhadap kehidupan nyata manusia.
Keberpihakan kepada mereka yang lemah merupakan salah satu wujud penting dari kasih Kristiani. Keberpihakan itu tidak cukup dinyatakan melalui kata-kata yang indah. Ia perlu diwujudkan dalam kesediaan mendengarkan, mendampingi, memperjuangkan keadilan, dan membantu mereka yang mengalami kesulitan.
Iman yang hidup menggerakkan manusia untuk melihat sesama bukan sebagai angka atau persoalan, melainkan sebagai pribadi yang memiliki martabat. Orang yang menderita membutuhkan lebih dari sekadar simpati. Ia membutuhkan kehadiran, penghormatan, dan tindakan yang membantu memulihkan harapannya.
Dalam konteks tersebut, keberanian menyampaikan kebenaran harus berjalan bersama sikap rendah hati. Kritik perlu didasarkan pada pertimbangan yang bertanggung jawab. Perbedaan pandangan harus dihadapi melalui dialog. Sementara itu, keputusan yang menyangkut kehidupan orang lain perlu mempertimbangkan dampak dan konsekuensinya.
Mengenang Pastor Zacharias bukan berarti menempatkan seorang manusia di atas segala kekurangan. Penghormatan yang dewasa justru mengakui bahwa setiap kehidupan memiliki keterbatasan, tetapi juga dapat meninggalkan pelajaran yang berharga.
Yang perlu diteruskan oleh generasi berikutnya ialah nilai-nilai baik yang dapat dipelajari dari perjalanan hidupnya: keberanian berpikir, kesungguhan mencari jalan keluar, keteguhan dalam prinsip, serta kesadaran bahwa pelayanan harus menyentuh kehidupan manusia.
Di tengah zaman ketika perbedaan pendapat mudah berubah menjadi pertentangan, keteladanan tersebut dapat menjadi undangan untuk membangun dialog yang jujur dan bertanggung jawab.
Gereja membutuhkan pelayan yang tidak hanya mampu berbicara tentang kasih, tetapi juga bersedia menghadirkan kasih dalam keputusan dan tindakan. Masyarakat pun membutuhkan orang-orang yang berani membela martabat sesama tanpa kehilangan penghormatan terhadap kebenaran.
Warisan bagi Generasi Mendatang
Kepergian RD. Zacharias Lintas, Pr., menandai berakhirnya perjalanan hidup seorang imam. Namun, kenangan atas kehidupannya membuka ruang untuk mempertanyakan apa yang akan diteruskan oleh mereka yang masih melanjutkan perjalanan.
Warisan seorang tokoh tidak selalu berupa bangunan, jabatan, atau benda yang dapat dilihat. Ada warisan yang hidup dalam cara seseorang memahami panggilan, memandang sesama, menghargai budaya, dan menjalankan tanggung jawab.
Bagi Keuskupan Ketapang, kedudukan Pastor Zacharias sebagai imam Dayak pertama merupakan bagian penting dari sejarah panggilan lokal. Bagi masyarakat Dayak, kisahnya dapat menjadi pengingat bahwa akar budaya dan keterlibatan dalam kehidupan Gereja dapat berjalan bersama. Bagi generasi muda, perjalanan pendidikannya mengingatkan bahwa cita-cita membutuhkan ketekunan, proses pembentukan diri, dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Warisan tersebut perlu dirawat melalui tindakan nyata. Pendidikan calon imam perlu mendapat dukungan. Anak-anak dan kaum muda perlu memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan. Kebudayaan lokal perlu dipelajari dan diwariskan secara bertanggung jawab. Pelayanan Gereja pun perlu terus dibangun agar semakin dekat dengan kehidupan umat.
Dengan demikian, mengenang seorang tokoh tidak berhenti pada upacara penghormatan atau tulisan memorial. Kenangan menjadi bermakna ketika menggerakkan orang untuk melakukan sesuatu yang baik.
Setiap generasi memiliki tugasnya sendiri. Mereka yang hidup pada masa kini tidak dapat mengulang perjalanan orang yang telah meninggal. Namun, mereka dapat meneruskan nilai-nilai yang baik, memperbaiki kekurangan, dan membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Pastor Zacharias telah menjalani zamannya. Kini, tanggung jawab meneruskan perjalanan Gereja berada di tangan para imam, biarawan-biarawati, kaum awam, keluarga, dan kaum muda yang masih berziarah.
Mereka tidak harus menempuh jalan yang sama. Yang perlu dijaga ialah semangat untuk melayani, kesediaan belajar, penghormatan terhadap identitas, serta keberanian menghadapi persoalan dengan iman dan kebijaksanaan.
Pulang ke Rumah Bapa
Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 04.56 WIB, perjalanan duniawi RD. Zacharias Lintas, Pr., berakhir di Rumah Sakit Fatima Ketapang. Kabar kepergiannya membawa duka bagi mereka yang mengenal dan menghargai pengabdiannya.
Usia 77 tahun menandai perjalanan panjang yang kini menjadi bagian dari kenangan. Masa kecil di Simpang Dua, pendidikan yang ditempuhnya, tahbisan imamat pada 10 April 1978, serta berbagai tanggung jawab pelayanan yang pernah dijalankannya membentuk rangkaian kisah hidup yang layak dikenang.
Dalam iman Katolik, kematian bukan hanya perpisahan yang menghadirkan kesedihan. Kematian juga mengarahkan hati kepada pengharapan akan kebangkitan dan kehidupan kekal dalam kasih Allah.
Pengharapan itu tidak menghapus air mata. Kehilangan tetap terasa karena seseorang yang pernah hadir dalam perjalanan hidup umat kini tidak lagi dapat ditemui secara fisik. Namun, iman memberi ruang bagi kesedihan untuk berjalan bersama rasa syukur atas kehidupan yang telah dijalani.
Kepada Allah, umat menyerahkan kembali kehidupan hamba-Nya. Doa bagi orang yang meninggal menjadi ungkapan kepercayaan bahwa kasih dan kerahiman Tuhan melampaui keterbatasan manusia.
Pastor Zacharias telah menyelesaikan peziarahannya. Ia tidak lagi menjalankan tugas pastoral, menghadiri pertemuan, atau menyampaikan pandangan dalam berbagai persoalan. Semua itu kini menjadi bagian dari masa lalu yang dikenang.
Namun, kisah hidupnya tetap dapat berbicara kepada mereka yang datang kemudian. Bukan melalui suara yang terdengar dari mimbar, melainkan melalui nilai-nilai yang direnungkan dan diwujudkan oleh generasi penerus.
Wahai Pastor Zacharias, si buah sulung dari tanah Dayak, engkau telah menempuh jalan panjang dari kampung halaman menuju altar pelayanan. Engkau telah menjadi bagian dari sejarah Gereja Ketapang, sebuah nama yang akan terus diingat dalam perjalanan panggilan imam lokal.
Kini, tanah leluhur kembali menjadi tempat kenanganmu. Gereja yang pernah menjadi ladang pengabdianmu meneruskan perjalanan. Umat yang pernah menerima pelayanan para gembalanya melanjutkan ziarah dalam iman.
Semoga kepergianmu menguatkan kami untuk semakin setia dalam panggilan masing-masing, menghargai martabat setiap manusia, merawat warisan budaya yang baik, dan menghidupi iman melalui tindakan kasih.
Selamat jalan, RD. Zacharias Lintas, Pr. Terima kasih atas perjalanan hidup yang telah menjadi bagian dari sejarah Gereja Katolik Keuskupan Ketapang.
Semoga Tuhan menerima engkau dalam kerahiman-Nya, mengampuni segala kekuranganmu, dan menganugerahkan kepadamu sukacita kehidupan kekal.
Dari tanah Simpang Dua menuju altar pelayanan, dari perjalanan duniawi menuju keabadian, engkau kini kami serahkan ke dalam kasih Sang Gembala Agung.
Selamat beristirahat dalam damai, Pastor Zacharias.
Requiescat in Pace.
Semoga engkau beristirahat dalam damai abadi di rumah Bapa di surga.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 14 Oktober 2026

0 comments:
Posting Komentar