**Ketapang, 20 September 2024** Gereja Santo Yosef Meraban adalah sebuah gereja yang terletak di wilayah Desa Kualan Hilir (sebelumnya Desa Meraban), Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Gereja ini didedikasikan untuk Santo Yosef. Cakupan pelayanan Paroki Santo Yosef adalah Desa Kualan Hilir dan Desa Sekucing Kualan.
Foto Pastor Paroki RD. Mardianus IndraSejarah
Masuknya agama Katolik
Penyebaran
iman di tanah Meraban diawali dengan datangnya Seorang perantau bernama Sebam
yang kemudian dikenal dengan sebutan Kek Belobo berasal dari Majang (Iban)
menikah di Segulang (Batang Torang/ Kab. Sanggau) dengan Dewi yang
kemudian dikenal dengan sebutan Nek Tinggi. Setelah menikah mereka pergi
mencari pekerjaan di Durian Sebatang, mereka bekerja mencari getah jelitang,
getah merah, rotan, dll. Kemudian
mereka pindah dan menetap di Meraban, setelah mendapatkan cukup uang, dan
membeli barang-barang tembaga, seperti gong, ketawak, dsb. Pergilah mereka
(Seban dan Dewi) kepada keluarganya di Batang Torang. Secara khusus Kek Belobo
ini mendatangi keluarga yang di Munggu Tampui (Pakeng). Kek Belobo mengabarkan
kalau di Kualan khususnya Meraban. Hutan masih luas dan subur, Ikan
dan babi masih banyak. Dengan
kata lain mata pencaharian masih mewah atau banyak.
Akhirnya
pada tanggal 1 Januari 1955, berangkatlah Bapak Fransiskus Litan Djit,
Agustinus Oyon, Hendrikus Akuh, Kondon, Soni dan Apeng ke Kualan (Meraban).
Mereka berangkat dari sungai Munggu Tampui, terus ke Sungai Toyan, kemudian
milir di Sungai Kapuas. Mereka melewati Kampung Baru, menyusuri Sungai Dawak,
lanjut ke Kuala Labai, kemudian menyusuri Sungai Mendaok, dan akhirnya
sampailah mereka ke Kuala Kualan. Karena arus sungai Kualan sangat deras, serta
perahu sebagai alat transportasi yang mereka pakai menggunakan dayung, mereka
mengalami perjuangan yang sangat panjang untuk sampai di Meraban. Perjalanan
selama satu minggu di atas air akhirnya sampai juga di Meraban, tempat yang
dituju adalah rumah Kek Belobo yang terletak di Padukuhan yang bernama Londah.
Apa
yang diceritakan Kek Belobo benarlah adanya, keenam orang ini menyatakan
tekadnya mau pindah ke Meraban (Kualan) lalu mereka mulai mencari lokasi untuk
berladang, mereka pun mulai menebas dan menebang, setelah selesai mereka pulang
ke Munggu Tampui lagi, untuk mengambil keluarganya masing-masing, sambil
mengembalikan sampan pinjaman dari Bapak Alek. Akhirnya sampailah saatnya,
“selamat tinggal Munggu Tampui, selamat tinggal sanak saudara, kampung halaman,
keenam keluarga ini pergi berjuang memulai kehidupan baru di rantauan.”
Keberangkatan ke enam keluarga ini tidak menggunakan sampan lagi, tapi pakai
motor air kepunyaan Take Amoi dari Durian Sebatang, yang dijuragani Bapak
Saujung (orang tur) dari Ismael Nonat, kebetulan saat di Meraban mereka berjanji
untuk di jemput oleh Take Amoi, ongkos semua ditanggung yang penting kalau
mereka berladang harus ditanami karet.
Maka
pada tanggal 5 April 1955, keenam keluarga ini meninggalkan Mungguk Tampui
setelah mengarungi beberapa aliran sungai selama tiga hari tiga malam sampailah
mereka di Meraban, selama satu minggu menginap di rumah Kek Belobo, kemudian
mereka pindah ke pondok masing-masing, sebagai pimpinan kelompok ini adalah
Bapak Fransiskus Litan Djit dan Agustinus Oyon.
Bapak
Fransiskus Li Tan Djit dan Bapak Agustinus Oyon sudah menganut tradisi Katolik
yang kuat sejak mereka di Batang Tarang. Maka tidak mengherankan ketika mereka
mulai mengajak penduduk asli meraban yang saat itu belum memeluk agama Katolik
untuk menerima Kristus. Dua Keluarga Katolik ini mulai mengajak orang-orang
berkumpul belajar agama Katolik dan doa-doa yang dipakai sehari hari seperti
Salam Maria, Bapa Kami, Aku Percaya, Sepuluh Perintah Allah dan doa Tobat.
Setahun
lamanya mereka hidup bersama di Padukuhan Kek Belobo, lalu mereka pindah ke
Hulu Sungai Sekantak, karena mulai banyak orang tertarik belajar agama Katolik,
maka mereka membuat Kapel berukuran 5x6 meter terbuat dari kayu bulat, atap dan
dinding dari kulit kayu Emang, adapun lantai mengguanakan papan. Di Kapel
inilah Kristus mulai diwartakan. Bapak Agustinus Oyon dan Hendrikus mulai
mengajarkan mengajarkan agama Katolik kepada penduduk setempat. Selain
mewartakan Kristus mereka juga mengajarkan PBH (Pemberantasan Buta Huruf)
dengan buku buku pelajaran agama Katolik dan buku pelajaran PBH yang mereka
bawa dari Batang Torang. Murid (orang-orang) yang pertama mengikuti kegiatan
PBH adalah Ginal, Ujang Rugai, Alam, Aman, Deleng, Apui (Acel), Bujang Tondai,
kemudian diantara mereka ini, 5 orang menjadi Katolik. Pewartaan iman
dikalangan orang Dayak makin menguat dengan dibaptisnya tokoh masyarakat yang
ada di Gensaok Kek Migang, Kek Toban, Kek Loyoi, Pak Bonan, dan Bujang Tondai,
Pemukiman
di Meraban kala itu baru ada pondok Pak Juwe dan Jelang, Kek Tumpu dan Kek
Botong (Bapak angkat Kek Belobo). Karena orang yang masuk Katolik semakin
ramai, maka didirikanlah sebuah kapel berukuran 6x12 meter, secara swadaya oleh
umat pada tahun 1958. Pastor pertama yang pernah mengunjungi/melayani umat di
Meraban adalah Pastor Eduar, CP, beliau berjalan kaki dari Sekadau melewati
Lokoi-Balai Berkuak terus menuju Meraban sebanyak dua kali. Yang kedua Pastor
Agus,CP dari Sekadau juga sebanyak dua kali. Yang ketiga Pastor Canisius,CP
Beliau melayani dari Sepotong, dan pada saat itulah Meraban mendapat bantuan
lonceng untuk menara kapel, yang diambil dari Sepotong dengan berjalan kaki
oleh Bapak Agustinus Oyon, Hendrikus, dan dibantu oleh Pak Bidan, Pak Gabeh dan
Pak Sondan dari Pendaun. (Berat lonceng tersebut 50 kg, jarak
Meraban-Sepotong ±98 km).
Pembangunan
Kapel diteruskan oleh Pastor ke-empat yang mengunjungi Meraban yaitu Pastor
Vitalis Frumau,CP dan menambah sayap bangunan kapel tersebut kiri-kanan hingga
berbentuk salib sehingga bisa menampung 200-300 orang/umat, dan menara untuk
lonceng serta rumah penginapan pastor atau katekis. Kemudian yang kelima Pastor
Ben Vandam CP, sempat membangun panggung pemuda yang digunakan untuk
acara-acara bersama.
Selama belum ada rumah penginapan tersebut, pastor-pastor yang datang melayani umat di Meraban selalu bermalam di rumah Bapak Fransiskus Litan Djit. Pastor Abel Kornelis Tinga,CP sebagai pastor penutup (terakhir) sebagai misionaris dari Barat (Belanda) yang melayani dan membangun stasi St. Yosef Meraban, dan diteruskan Pastor Diosecan dengan dibantu oleh beberapa Katekis. Adapun Katekis yang pernah bertugas di Meraban, yang pertama Bapak Yohanes Tukiman Hadi Susilo, yang kedua Wilhelmus Enfen sampai Juni 1984, Y. Sito Maryono Juli 1984 – 1 Mei 2014.
Peran
pendidikan dan pengajar
Dari
Sepotong pada tahun 1973, pindahlah seorang guru yang berasal dari Sekadau ke
Meraban yang bernama Fransiskus Xaparius Rajud M. Saat beliau datang ke Meraban
baru A. Mincang, D. Deleng, V. Ayon yang sudah menjadi Katolik, kecuali
Setontong Luar dan Setontong Dalam dan Kelabit sudah ratusan (±160 an orang
yang sudah Katolik, pindahan dari Botong, Torang gelombang I, II, III, dst). FX
Rajud M, selain mengajarkan agama di sekolahan (saat itu SDU) beliau juga
mengadakan kunjungan ke dukuh-dukuh seperti Manggis, Kenderas, Gensaok, Kenatu,
Munggu Sanggau, Meraban Soke pada setiap malam minggu.
"Pentingnya
pendidikan dan Agama. Kemajuan di daerah kita ini tergantung pada pendidikan
dan agama, kita dapat pendidikan dan agama dari para pastor (Kanisius Cp, Ben
Vanden dan Pastor Abel misionaris dari Belanda) tujuan mereka baik membangun
kita, maka sekolahlah dan beragama (masuk Katolik)". itulah yang selalu
disampaikan Oleh FX Radjut M kepada masyarakat Meraban maka akhirnya banyak
orang mulai terbuka pemikiran mereka dan mau dibaptis masuk agama Katolik. Maka
awal tahun 80-an banyak orang-orang di padukuhan berangsur-angsur pindah ke
Meraban (Sekantak) buat rumah supaya dekat ke sekolah dan ke Gereja. FX
Radjut M, seorang guru militan Katolik baik pada saat masih SDU maupun setelah
beralih ke Sekolah Negeri.
Awal
Era Perkembangan
Perkembangan
pesat umat Katolik di Meraban terjadi pada tahun 1985, dimana saat itu ada
seorang tokoh yang cukup sentral (berpengaruh besar) sudah puluhan tahun agama
Katolik tumbuh di Meraban, tapi beliau belum tertarik menjadi seorang Katolik,
Pak Y Sito sebagai Katekis disana kadang-kadang membantu beliau saat itu
sebagai kepada desa, Nama Bapak itu adalah Bapak Lagu orangnya tenang, kalau
berbicara lantang dan didengarkan orang, penuh wibawa, beliau juga begitu
humoris. Hingga akhirnya pada suatu saat Dia mengutarakan, mau dibaptis menjadi
Katolik, Pastor Abel pun merestui dan meminta Katekis Y Sito M mempersiapkan
Katekumen baru ini.
Pada
malam Natal 24 Desember 1985, beliau menyerahkan diri kepada Yesus Kristus
dalam Gereja Katolik bersama 72 orang lainnya dibaptis oleh Pastor Bonifasius
Ubin Pr. Maka nama A. Lagu menjadi Antonius Lagu. Semakin banyak orang yang
tertarik menjadi Katolik. Pada 6 April 1986 Paskah 103 orang dibaptis oleh
Pastor Abel Kornelis Tinga CP. Seperti pintu Surga terus terbuka selalu
mengalir Keselamatan Bagi Orang Dayak, hal ini tanpak bahwa setiap setiap Natal
dan Paskah selalu ada pembaptisan. Pembaptisan terus terjadi yaitu Pada paskah
tahun 1987 Pastor Dominikus Kikwella Kubun Pr membaptis sebanyak 125 orang.
Kemudian pada Paskah 25 Maret 1989 Pastor Zakarias Lintas Pr membaptis 126
orang. Perkembangan pembaptisan masih terus terjadi sampai pada 1996-1997, dimana
Pastor C. Wahyanto membaptis 94 orang sampai tahun 2003. Pastor Ig. Made
Sukarta Pr masih membaptis 72 orang pada saat Natal 2003.
Pembaptisan
yang disebut diatas hanya meliputi wilayah pusat, Meraban dan sekitarnya. Belum
ditambah dengan pembaptisan di stasi-stasi bagian Hilir (Bagan Pering,
Lelayang, Selimbung, Munggu Naning, Sekucing Kualan), setiap Pastor yang
melayani terutama pada setiap Paskah dan Natal selalu ada yang dibaptis dalam
jumlah banyak.
Karena
melihat perkembangan umat yang signifikan meningkat, Pastor Abel Kornelis Tinga
CP, menyarankan agar umat memikirkan pembangunan gereja baru. Timbullah
keinginan umat mau membangun gereja baru, karena gereja (kapel) yang ada saat
itu sudah tak mampu lagi menampung kehadiran umat. Maka pada tanggal 18
September 1985 diadakan rapat akbar umat Meraban, pembentukan panitia pendirian
Gereja St. Yosef Meraban dengan susunan sebagai berikut:
Ketua:
Bapak Fransiskus Litan Djit
Wakil
Ketua: Bapak FX. Radjut M
Sekretaris:
Y. Sitomaryono
Bendahara:
Yustinus Yansen
Setelah
rapat bersama antara Pastor dan Tokoh Umat akhirnya disepakati kalau pasir,
batu, kayu adalah swadaya umat, maka umat dipungut Rp 18.000/KK, muda-mudi Rp
5.000/orang ditambah sumbangan (pedagang-pedagang) di Meraban-Lelayang menurut
kerelaannya. Dari semua dana yang terkumpul dapatlah membeli lokasi (tanah)
dari bapak Antonius Toran yang berukuran 100x100 meter (10.000 m¬2) dengan
harga Rp 300.000 . saldo sumbangan uang dari pembelian tersebut digunakan untuk
membeli minyak bensin, oli dan pembayaran upah penggesek bahan (operator
chainsaw saat itu yaitu Jono Edwinus, Sulaimun dari Selimbung, Martinus Heng
dari Sekantak, Petrus Karem dari Kelabit).
Katekis
Y. Sitomaryono selain menjalankan tugas utamanya (Turne dan memberikan
Pelajaran agama, dll), beliau juga diserahi tugas baru oleh Pastor Abel
Kornelis Tinga CP, untuk merancang besarnya bangunan gereja tersebut (membuat
denah, menghitung kebutuhan bahan-bahan dari kayu, mengkoordinir pengangkutan
pasir, penggesekan bahan-bahan kayu dan pengangkutannya).
Bahan-bahan
kayu belian didapatkan dengan menggesek di Sungai Lelayang dan menyelam di
Sungai Kualan (di Hulu Kenderas dan di Hilir Munggu Sanggau terutama 15x15x5
meter. Sedangkan 8x8x4 meter di dapatkan menggesek di Bukit Tunggal ± 6 km
dari lokasi pembangunan gereja, ratusan batang kayu belian tersebut diangkut
dengan tenaga (dipikul) dengan berjalan kaki. Setiap orang mengangkut perbatang
denganndua kali estafet untuk sampai ke tepi Sungai Kualan. Sedangkan
Kayu Belian ukuran 15x15x5 meter dan 12x12x4 meter diangkut dengan motor tempel
milik Bapak Ismael Nomot dengan juragan F. Lipkhiong dan Tensun.
Adapun kayu kelas III (Bengkirai
dan Kapur) digesek dekat Meraban, Panitia meminta pulau rimba umat dan itu
disumbangkan oleh yang bersangkutan. Kegiatan mengangkut kayu ini biasanya
selesai ibadah setiap hari Minggu. Pastor yang pernah ikut angkut bahan adalah
Pastor Bonifasius Ubin Pr. Kekompakan Meraban untuk gotong royong saat itu luar
biasa, baik orang tua, dewasa, maupun anak muda, kaum perempuan, anak-anak SD,
guru-guru (Pak FX Radjut, Y. Yansen, Yohanes Kadis, Hilarius Wagiran) ikut
terlibat, angkut pasir kerja bakti membersihkan lokasi gereja, panitia hanya
menyiapkan air putih, kopi, teh, bekal nasi bawa sendiri-sendiri. Adapun pasir,
batu, bahan kayu-kayu, murni swadaya umat. Sedangkan Semen, atap, seng, upah
tukang adalah bantuan umat dari Jerman melalui Pastor Abel Kornelis Tinga CP
sebagai pastor paroki St. Martinus saat itu. Akhirnya gereja yang berukuran
10x25 meter ditambah sayap kiri-kanan 4x4 meter yang didirikan pada tanggal 25
Maret 1988 itu diresmikan oleh Bapak Camat Simpang Hulu, Lukas Laun BA dan
diberkati oleh Uskup Ketapang Mgr. Blasius Pujaraharja Pr pada tanggal 1
Januari 1990. Umat begitu bergembira, mereka bersukacita karena bangunan gereja
St. Yosef Meraban sangat megah dan bisa menampung umat 650-700 orang. Mereka
bergembira karena teringat dan semangat mereka menyatu dengan adonan semen pada
bangunan gereja itu.
Pada tahun 2007 Umat
mendirikan/membangun pastoran yang berukuran 9x20 meter. Bahan-bahan bangunan
seperti tongkat, bantal kep (kayu-kayu belian) didapatkan dari donatur rencana
bangunan asrama putri di Balai Berkuak yang gagal. Romo Made dan Romo C. Wahyanto
memindah fungsikan sebagian bahan-bahan itu ke Meraban. sedangkan papan,
tiang-tiang kayu penyawa dan pasir dari sumbangan (swadaya umat), yang lainnya
bantuan dari Keuskupan Ketapang yang dipercayakan kepada Romo Yohanes Matheas
Pr untuk mendampingi Pembangunan tersebut (pengelolaan keuangan). Saat Pastor
Martinus Akomen Pr, bertugas di Meraban, bangunan pastoran tersebut diperlebar
ke samping kiri ditambah garasi dan bagian belakang. Pembangunan ini disumbang
oleh PT. KUT sebesar Rp 50 juta dan PT. Adhitya Agroindo membantu RP 60 juta.
Pada tanggal 30 April - 1 Mei
2010 diadakan musyawarah umat di stasi pusat, mengundang stasi-stasi bagian
hilir (Stasi Santo Markus Bagan Pering, Stasi Santa Elisabet Lelayang, Stasi
Santo Paulus Selimbung, Stasi Santo Antonius Munggu Naning, Stasi Santa Lusia
Sekucing Kualan). Muspar
ini dipimpin oleh Romo Ig. Made Sukartia Pr sebagai pastor Paroki Santo
Martinus Balai Berkuak. Hadir juga pada saat itu Romo Martinus Akomen, Pr dan
Romo Mateus Juli Pr. Akhirnya dalam musyawarah itu disepakati status stasi
Santo Yosef Meraban ditingkatkan menjadi Pra Paroki Santo Yosef Meraban dan
dibentuklah pada hari itu (1 Mei 2010) pengurus DPP (Dewan Pra Paroki) Santo
Yosef Meraban.
Garis
waktu
Didirikan
sebagai Pra Paroki pada tanggal 25 Juli 2010, memisahkan diri
terpisah dari Paroki St. Martinus Balai Berkuak.
Ditingkatkan
menjadi Paroki pada tanggal 9 September 2019.
**Penulis:** Tim Komsos Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang
**Tanggal:** 20 September 2024


0 comments:
Posting Komentar