**Meraban: Paroki ke-19 di Keuskupan Ketapang, Simbol Kesempurnaan dan Kepenuhan**

 

      Foto Bapak Uskup Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi.Meresmikan  Gereja Paroki Meraban

**Ketapang, 20 September 2024** – Pada tanggal 9 September 2019, sejarah baru tercipta bagi umat Katolik di Keuskupan Ketapang dengan peresmian Paroki Meraban sebagai paroki ke-19 di wilayah keuskupan tersebut. Momen bersejarah ini mengandung makna yang sangat mendalam, tidak hanya bagi umat di Meraban, tetapi juga bagi seluruh Keuskupan Ketapang. Paroki Meraban yang kini genap berusia lima tahun terus menjadi simbol pertumbuhan spiritual dan kepenuhan dalam kehidupan beriman umat Katolik di Kalimantan Barat.

Dalam salah satu unggahan status Facebook pribadinya pada tanggal 13 September 2019, **RD. Mardianus Indra**, Ketua Unio Keuskupan Ketapang sekaligus Ketua PSE Caritas Keuskupan Ketapang, mengenang dengan penuh haru perjalanan panjang menuju pembentukan Paroki Meraban. "Sembilan tahun menunggu, pada tanggal 9 bulan 9 tahun 2019, Meraban resmi menjadi paroki ke-19 di Keuskupan Ketapang. Perayaan dihadiri oleh 9 imam, dan babi yang dipotong seberat 90 kg, bertepatan dengan ulang tahun Episkopal Uskup Mgr. Pius Riana Prapdi," tulisnya. Ungkapan RD. Mardianus ini menunjukkan pentingnya angka-angka tersebut, yang dianggap sakral dan penuh makna baik bagi tradisi Yahudi maupun adat Dayak.

**Angka 9 dan 7: Simbol Kesempurnaan dan Kepenuhan**

Dalam tradisi Yahudi, angka 7 dianggap sebagai simbol kesempurnaan, sementara bagi masyarakat Dayak, angka tersebut melambangkan kepenuhan dan kelengkapan. Oleh karena itu, tanggal 9 September, yang jatuh pada ulang tahun ke-7 Episkopal **Mgr. Pius Riana Prapdi**, Uskup Keuskupan Ketapang, menjadi saat yang sangat simbolis untuk merayakan peresmian paroki baru tersebut. 

Perayaan peresmian ini dihadiri oleh 9 imam sebagai simbol persatuan dan kerja sama dalam melayani umat di seluruh keuskupan. Pemotongan babi seberat 90 kg dalam acara tersebut juga merupakan tradisi lokal yang memperkaya perayaan ini, menegaskan penghormatan kepada adat dan budaya setempat, sekaligus sebagai ungkapan syukur atas tercapainya momen bersejarah ini.

**Perjalanan Menuju Paroki Meraban**

Sebelum menjadi paroki mandiri, Meraban adalah sebuah stasi di bawah Paroki Nanga Tayap. Umat Katolik di Meraban telah lama berharap memiliki paroki sendiri agar pelayanan sakramental dan pastoral dapat lebih dekat dengan mereka. Selama bertahun-tahun, umat di Meraban berjuang dengan semangat gotong royong, membangun gereja dan fasilitas pendukung lainnya dengan bantuan dari berbagai pihak, termasuk dari Caritas Keuskupan Ketapang yang dipimpin oleh RD. Mardianus Indra.

Pembentukan paroki ini tidak hanya memperluas jangkauan pelayanan gereja, tetapi juga menguatkan ikatan antarumat, baik di Meraban maupun di keuskupan secara keseluruhan. Proses ini membutuhkan kesabaran dan komitmen, terutama dari para imam dan umat yang setia melayani. Selama sembilan tahun, Meraban terus berbenah dan mempersiapkan diri menjadi paroki yang mandiri.

**RD. Mardianus Indra: Pemimpin dengan Dedikasi Tinggi**

Sebagai Ketua Unio dan PSE Caritas Keuskupan Ketapang, **RD. Mardianus Indra** dikenal sebagai sosok yang penuh semangat dalam memperjuangkan kepentingan umat, terutama yang berada di daerah-daerah terpencil. Dedikasinya terlihat jelas dalam berbagai program sosial dan pastoral yang ia gagas, termasuk dalam upayanya memperkuat kehadiran gereja di wilayah-wilayah pedalaman seperti Meraban.

RD. Mardianus juga memainkan peran penting dalam mengembangkan Paroki Meraban dengan dukungan dari Uskup **Mgr. Pius Riana Prapdi** dan para imam lainnya. “Perjalanan panjang menuju terbentuknya Paroki Meraban adalah bukti nyata bahwa dengan kesabaran, doa, dan kerja keras, apa yang kita harapkan bisa terwujud. Tuhan selalu memberi pada waktu yang tepat,” ujar RD. Mardianus saat mengenang proses panjang ini.








                                 Sumber Foto RD. Mardianus Indra.Dokumentasi Pribadi

**Uskup Mgr. Pius Riana Prapdi: Pemimpin yang Visioner**

Selain RD. Mardianus, **Mgr. Pius Riana Prapdi** juga memainkan peran kunci dalam proses pembentukan paroki ini. Uskup yang memimpin Keuskupan Ketapang sejak 2012 tersebut dikenal sebagai pemimpin yang visioner dan penuh perhatian terhadap kebutuhan umat, terutama yang berada di daerah-daerah terpencil. Peresmian Paroki Meraban yang bertepatan dengan ulang tahun ke-7 masa Episkopalnya menjadi salah satu tonggak penting dalam kepemimpinannya di Keuskupan Ketapang.

Dalam khotbahnya pada perayaan peresmian paroki tersebut, Mgr. Pius menekankan pentingnya komunitas yang kuat dalam menjalani kehidupan iman. “Sebuah paroki bukan hanya sekedar batas wilayah administratif gereja, tetapi sebuah komunitas iman yang saling mendukung dalam suka dan duka. Saya berharap Paroki Meraban dapat terus berkembang sebagai pusat spiritual dan sosial yang memberdayakan umat di wilayah ini,” ujar Mgr. Pius.

**Tantangan dan Harapan di Masa Depan**

Meski sudah resmi menjadi paroki, tantangan ke depan bagi Paroki Meraban masih cukup besar. Wilayah yang luas dengan kondisi geografis yang menantang membuat pelayanan pastoral tidak selalu mudah. Namun, dengan dukungan dari keuskupan dan semangat gotong royong umat, tantangan ini diyakini dapat diatasi.

Di usia yang kelima, Paroki Meraban terus berbenah, membangun infrastruktur gereja yang lebih baik, serta memperkuat program-program pastoral, terutama yang berkaitan dengan pendidikan iman bagi kaum muda. Keuskupan Ketapang, melalui PSE Caritas, juga terus memberikan dukungan, baik dalam bentuk material maupun pendampingan spiritual, untuk memastikan paroki ini berkembang dengan baik.

Umat Katolik di Meraban pun penuh harapan bahwa paroki mereka akan menjadi pusat pelayanan dan penginjilan yang semakin berkembang, menjawab kebutuhan rohani umat di sekitar. Mereka juga berharap Paroki Meraban akan menjadi inspirasi bagi wilayah-wilayah lain yang masih dalam proses menjadi paroki mandiri.

Dengan perayaan penuh makna ini, Paroki Meraban kini menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan perjalanan Keuskupan Ketapang. Umat di paroki ini, bersama dengan para pemimpin gereja, terus berkomitmen untuk mewujudkan visi gereja yang inklusif, melayani, dan mengasihi, sesuai dengan semangat Injil.


**Penulis:**  Tim Komsos Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang

**Tanggal:**  20 September 2024


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar