**Ketapang, 20 September 2024** – Dalam sebuah unggahan yang penuh makna di Facebook pada 29 Juni 2024, RD. Mardianus Indra mengungkapkan perjalanan imamatnya yang telah berlangsung selama sepuluh tahun. Ia mengawali tulisannya dengan dua kalimat penting: *"Imamat itu pilihan bukan paksaan. Panggilan itu menggembirakan bukan beban."* Ungkapan ini menggambarkan semangat dan komitmen yang menggerakkan dirinya sebagai seorang imam.
Tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, dan bagi RD. Mardianus, hari itu memiliki makna istimewa karena merupakan momen perayaan imamatnya. Ia berbagi bahwa tanggal dan bulan yang sama menjadi pengingat akan perjalanan spiritualnya yang berharga. Dalam refleksinya, ia menyebutkan beberapa rekan imam yang juga merayakan tahbisan mereka pada hari tersebut, termasuk Rm Fitri, Rm Frans, Rm Basri, dan Rm Bone.
Sebagai seorang imam yang rendah hati, RD. Mardianus merasa bahwa satu dekade yang telah berlalu terasa singkat. Ia mengakui masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Dalam menjalani panggilan ini, ia banyak terinspirasi oleh tokoh-tokoh besar, seperti Santo Paulus dan Santo Petrus. Dari Santo Paulus, ia belajar tentang ketaatan dan kerendahan hati, mengingatkan kita akan sikap rendah hati yang dimiliki Paulus, meskipun dia adalah seorang ahli Taurat yang sangat cerdas. Dalam konteks ini, RD. Mardianus mengingatkan akan pentingnya ketaatan dalam pelayanan.
Menggugah perasaan, ia mengisahkan perjalanan Santo Petrus yang pernah menyangkal Yesus, namun setelah kebangkitan, dihadapkan pada pertanyaan mendalam dari Yesus tentang kasihnya. Momen ini menggambarkan mawas diri yang diperlukan dalam pelayanan, bahwa seorang imam bukanlah malaikat yang sempurna, tetapi manusia yang senantiasa belajar dan bertumbuh.
Di tengah refleksi ini, RD. Mardianus juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada orang tua, saudara, dan keluarga besar yang selalu mendukung dan mendoakan. Ia mengenang pengalaman berharga selama proses panggilan, khususnya bimbingan dari Rm Istejemaya yang mengajarkan kerja keras dan semangat meskipun menghadapi kemarahan sekalipun.
Pengalaman bersama Rm. Made, seorang imam senior yang penuh dedikasi, juga menjadi pelajaran berharga baginya. RD. Mardianus belajar tentang kerendahan hati dan keterbukaan terhadap kritik, serta pentingnya mencintai proses pelayanan. Motto “bekerjalah dengan hati, dan nikmatilah proses” menjadi pedoman dalam pelayanannya.
Selama tahun pastoral di Paroki Semandang bersama Rm Pamungkas, RD. Mardianus belajar untuk tetap tersenyum di tengah tantangan, menunjukkan bahwa kebahagiaan dapat ditemukan dalam setiap interaksi dengan umat.
Mengakhiri refleksinya, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak Uskup, rekan-rekan pastor, dan seluruh umat yang telah menjadi bagian dari perjalanan pelayanannya. Ia mengingatkan bahwa meskipun jauh dari kesempurnaan, kehadiran imamatnya bertujuan untuk menjadi berkat bagi banyak orang.
Semoga 10 tahun imamat ini menjadi langkah awal untuk semakin mendalami panggilan suci dan melayani umat dengan sepenuh hati.
**Sumber: Status Facebook RD. Mardianus Indra, 29 Juni 2024**
**Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang**
.jpg)
0 comments:
Posting Komentar