"Sebatang Pohon, Sejuta Harapan: Menanam Kehidupan Baru untuk Bumi yang Lebih Hijau"


         **Foto Luhut Binsar Pandjaitan Cium Tangan Paus Fransiskus: Momen Bersejarah                                                                                      Penanaman Mangrove di Katedral Jakarta**


*Ketapang, 5 September 2024* - Di balik hiruk-pikuk kota Jakarta yang padat, di dalam kesunyian sakral Katedral Jakarta, terukir momen yang begitu menyentuh hati dan memancarkan kehangatan kemanusiaan. Pada Rabu, 4 September 2024, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dengan penuh hormat mencium tangan Paus Fransiskus, pemimpin umat Katolik dunia, sebagai tanda penghormatan dan kasih sayang. Momen ini tak hanya menyentuh hati yang hadir, tetapi juga menjadi simbol kuat tentang perdamaian, kerendahan hati, dan komitmen bersama untuk merawat bumi.



Pertemuan bersejarah ini berlangsung dalam rangka kegiatan bersama Scholas Occurrentes, sebuah organisasi pendidikan dan sosial yang didirikan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2013. Di tengah suasana penuh haru, Paus Fransiskus bersama Luhut dan dua anak muda Indonesia berdiri di hadapan para hadirin, siap memulai sebuah ritual kecil namun sarat makna—penanaman bibit mangrove, simbol kehidupan dan harapan baru bagi dunia yang lebih baik.

Ketika Luhut mendekati Paus Fransiskus yang duduk di kursinya, ada keheningan yang menyelimuti ruangan. Luhut, dengan mengenakan batik bercorak biru, merundukkan tubuhnya dengan rasa hormat yang dalam dan mencium tangan Paus. Gerakan sederhana ini, yang mungkin tampak kecil bagi sebagian orang, sebenarnya menggambarkan sebuah penghormatan yang tulus dan tak terucapkan; sebuah pengakuan akan nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan abadi.

Di hadapan mata-mata yang terharu, bibit mangrove yang telah disiapkan tergeletak di meja, menunggu untuk ditanam. Dua pelajar berseragam membawa bejana berisi tanah dan air. Paus Fransiskus, dengan kelembutan dan senyum hangat, memindahkan tanah dari bejana ke pot kecil berisi bibit mangrove, diikuti oleh Luhut dan kedua pelajar yang menuangkan air. Tindakan sederhana ini—menanam sebatang pohon kecil—berbicara lebih lantang daripada ribuan pidato; ia berbicara tentang harapan, tentang kehidupan yang baru, tentang bumi yang lebih hijau dan masa depan yang lebih cerah.

Setelah selesai, Paus Fransiskus menundukkan kepalanya dan dengan suara lembut, mulai memberikan berkat. "Saya akan memberikan berkat seperti yang diminta. Berkat itu etimologinya dari *benedire*; *bene* berarti baik, *dire* berarti berkata. *Benedire* berarti mengatakan yang baik-baik tentang orang lain," tuturnya dalam bahasa Italia, dengan keheningan menyelimuti seluruh ruangan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti alunan musik yang lembut, menyentuh jiwa mereka yang hadir.

Paus Fransiskus kemudian mengajak semua orang untuk berdoa dengan tenang, dalam diam. "Tuhan memberkati setiap dari kalian. Memberkati keinginan kalian. Memberkati keluarga kalian. Memberkati keadilan kalian. Memberkati saat ini dan masa depan," ucapnya dengan nada yang begitu tulus. Air mata terlihat menggenang di mata beberapa orang; momen ini bukan hanya soal agama, melainkan tentang kemanusiaan—tentang cinta tanpa syarat kepada sesama dan alam semesta.

Sementara itu, pembawa acara mengumumkan bahwa bibit mangrove yang ditanam ini akan dibawa ke upacara pembukaan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2024 yang akan digelar pada 5-6 September. "Mangrove ini adalah simbol perdamaian dan komitmen untuk merawat rumah bersama kita," ujarnya dengan penuh semangat.

Luhut, dalam pertemuan dengan media setelah acara, mengungkapkan rasa harunya. “Pertemuan ini sangat berkesan bagi saya. Ini mengingatkan saya pada saat 35 tahun yang lalu ketika saya menjadi tim keamanan untuk Paus Yohanes Paulus II. Sekarang, saya bertemu lagi dengan Paus Fransiskus, kali ini sebagai seorang warga negara yang ingin belajar dari keteladanannya,” ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kesederhanaan dan cinta Paus Fransiskus terhadap perdamaian dan lingkungan. “Kesederhanaan dan bagaimana dia mendorong perdamaian, serta cintanya terhadap lingkungan, bagi saya sangat luar biasa,” tambahnya dengan suara yang sarat dengan emosi.

Malam itu, Paus Fransiskus melanjutkan agendanya di Jakarta, tetapi momen hangat dan penuh kasih itu tetap terekam di hati semua yang hadir. Momen ini mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang sering kali diliputi oleh ketegangan dan perpecahan, selalu ada ruang untuk cinta, persatuan, dan harapan. Penanaman bibit mangrove hanyalah awal dari banyak langkah kecil yang akan kita ambil bersama untuk menjaga bumi kita—rumah kita yang satu dan sama.

Dengan pesan kuat dari Paus Fransiskus dan keteladanan yang ditunjukkan oleh Luhut, harapan dan doa untuk dunia yang lebih baik kini tumbuh, seperti mangrove kecil yang baru saja ditanam—akar-akarnya menguat, menembus tanah, mencari air dan cahaya, siap menjadi pohon besar yang melindungi kehidupan di sekitarnya. Sebuah pesan abadi untuk generasi kini dan yang akan datang: bahwa dalam persatuan dan kepedulian terhadap alam, kita menemukan kekuatan sejati untuk merawat dunia yang kita cintai.

Tim Komsos Paroki St. Agustinus Paya Kumang

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar