Ketapang, 17 Mei 2026.Suasana penuh sukacita, khidmat, dan persaudaraan menyelimuti Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Minggu pagi, 17 Mei 2026. Perayaan Ekaristi dimulai tepat pukul 07.00 WIB dan dihadiri umat dari berbagai lingkungan yang datang dengan penuh semangat iman untuk mengikuti Misa Pekan VII Paskah sekaligus peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60. Umat Allah berkumpul dalam perayaan Ekaristi Pekan VII Paskah yang sekaligus menjadi peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia (KOMSOS) ke-60. Perayaan Ekaristi kudus tersebut dipimpin oleh R.P. Vitalis Nggeal, CP. dengan warna liturgi putih yang melambangkan kemuliaan Kristus yang bangkit.
Perayaan Misa berlangsung dengan penuh penghayatan dan dihadiri oleh umat dari berbagai lingkungan. Kehadiran umat sejak pagi hari memperlihatkan semangat iman yang hidup di tengah komunitas Gereja lokal. Dalam suasana doa dan persatuan, umat diajak untuk merenungkan makna kehidupan para murid setelah Yesus naik ke surga, sekaligus merefleksikan pentingnya komunikasi yang sehat, benar, dan penuh kasih di era digital saat ini.
Petugas liturgi yang melayani dalam perayaan tersebut antara lain:
Lektor: Christivera Tanvenia
Pemazmur: John Raul Sugara
Organis 1: Saudari Christaviona Tanvenia
Organis 2: Ibu Martha Koleta Popyzesika
Koor: Lingkungan Santo Paulus dari Salib
Dirigen: Ibu Lastri Anita Gultom
Pelayanan liturgi yang tertata dengan baik membuat jalannya perayaan Ekaristi berlangsung khidmat dan menyentuh hati umat. Lantunan lagu-lagu liturgi yang dibawakan oleh Koor Lingkungan Santo Paulus dari Salib mengiringi umat dalam doa dan pujian kepada Tuhan.
Umat Diajak Menjadi Gereja yang Tekun dalam Doa
Dalam homilinya, R.P. Vitalis Nggeal, CP. menyampaikan refleksi mendalam berdasarkan tiga bacaan liturgi pada Pekan VII Paskah. Beliau mengajak umat untuk melihat bagaimana para murid Yesus menghadapi situasi setelah Yesus kembali kepada Bapa.
Mengawali homilinya, beliau mengatakan:
“Bapa, ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, tiga bacaan yang diperdengarkan kepada kita pada pagi hari ini sangat menarik. Ketiganya berbicara tentang kehidupan para murid setelah Yesus akan kembali kepada Bapa: hidup yang penuh doa, penuh tantangan, tetapi juga penuh pengharapan karena ditopang oleh doa Yesus sendiri.”
Beliau kemudian menyoroti bacaan pertama dari Kisah Para Rasul yang menggambarkan para murid berkumpul bersama Maria, Bunda Yesus, setelah peristiwa kenaikan Tuhan ke surga.
Menurut beliau, secara manusiawi para murid tentu mengalami ketakutan, kebingungan, dan kehilangan arah karena Yesus tidak lagi hadir secara fisik bersama mereka. Namun di tengah situasi tersebut, para murid justru menunjukkan ketekunan dan kesatuan hati dalam doa.
“Dengan sehati mereka semua bertekun dalam doa. Inilah kekuatan Gereja perdana. Bukan kekuatan politik. Bukan kekuatan uang. Bukan pula kekuatan jumlah. Tetapi kekuatan doa dan persatuan hati,” ungkap R.P. Vitalis Nggeal, C.P.
Beliau menegaskan bahwa doa menjadi sumber kekuatan yang menjaga para murid tetap bersatu dan penuh harapan. Doa juga mempersiapkan mereka untuk menerima Roh Kudus.
Dalam kehidupan Gereja masa kini, semangat tersebut tetap relevan. Gereja dipanggil untuk hidup dalam persatuan, saling menopang satu sama lain, serta menjaga iman melalui doa bersama, Ekaristi, dan kehidupan komunitas.
“Iman tidak dijalani sendirian. Gereja adalah persekutuan. Kita saling menopang. Karena itu komunitas, keluarga, lingkungan, doa bersama, dan Ekaristi sangat penting untuk menjaga iman kita tetap hidup,” lanjut beliau.
Beliau juga menegaskan bahwa doa bukanlah pelarian dari masalah hidup, melainkan sumber kekuatan untuk menghadapi setiap persoalan.
Berbahagia dalam Penderitaan karena Kristus
Pada bagian berikutnya, R.P. Vitalis Nggeal, C.P. merefleksikan bacaan kedua dari Surat Pertama Rasul Petrus yang berbicara tentang penderitaan demi nama Kristus.
Dalam homilinya beliau menyampaikan:
“Berbahagialah jika kamu dinista karena nama Kristus.”
Beliau mengajak umat memahami bahwa penderitaan demi Kristus bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan umat-Nya, melainkan tanda persatuan dengan Kristus sendiri.
Menurut beliau, ketika seseorang mengalami kesulitan karena mempertahankan iman, karena pelayanan, atau karena berusaha hidup dalam kasih dan kebenaran, sesungguhnya ia sedang mengambil bagian dalam penderitaan Kristus.
“Ketika seorang Kristen mengalami penolakan, sakit karena pelayanan, atau mempertahankan iman dengan kasih dan kebenaran, ia sedang bersatu dengan Kristus,” jelas beliau.
Beliau menambahkan bahwa para santo dan martir Gereja melihat penderitaan demi iman sebagai kehormatan rohani dan bukan sebagai kegagalan.
Dalam kehidupan sehari-hari, umat Katolik dipanggil untuk tetap setia ketika menghadapi tantangan hidup dan tidak mudah menyerah.
“Orang Katolik yang dewasa dalam beriman, ketika menemukan kesulitan dalam beriman, dia tidak kabur atau lari. Ketika merasa tergelitik, dia membenah diri dan menerima semua itu dengan kerendahan hati serta penuh iman,” tutur beliau.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi umat bahwa kesetiaan kepada Kristus sering kali membutuhkan pengorbanan dan keteguhan hati.
Yesus Mendoakan Umat-Nya
Dalam bagian Injil, umat diajak masuk ke dalam doa Yesus kepada Bapa sebelum sengsara-Nya. R.P. Vitalis Nggeal, C.P. menggambarkan doa tersebut sebagai salah satu percakapan paling mendalam dan intim antara Yesus dan Bapa.
Beliau mengatakan bahwa doa Yesus memperlihatkan hubungan kasih yang begitu erat antara Putra dan Bapa. Namun yang lebih mengagumkan, Yesus juga membawa para murid dan seluruh umat manusia dalam doa-Nya.
“Ia tidak hanya memikirkan diri-Nya sendiri menjelang penderitaan. Hati-Nya tertuju kepada para murid. Ia menjaga mereka, mengasihi mereka, dan menyerahkan mereka kembali kepada Bapa,” ujar beliau.
Melalui refleksi tersebut, umat diajak menyadari bahwa setiap pribadi sangat berharga di mata Tuhan.
“Kita bukan angka. Kita bukan sekadar bagian kecil dari keramaian dunia. Kita dikenal secara pribadi oleh Kristus. Nama kita ada di hati-Nya. Bahkan sebelum kita mampu berdoa, Yesus sudah lebih dahulu mendoakan kita,” katanya.
Beliau menegaskan bahwa Gereja tetap bertahan hingga saat ini bukan karena kekuatan manusia semata, melainkan karena Gereja hidup dalam doa Kristus.
“Doa Yesus adalah penopang hidup Gereja. Ketika Gereja mengalami penganiayaan, Yesus tetap berdoa. Para rasul bertahan karena doa. Para murid kuat karena Roh Kudus. Dan semuanya ditopang oleh doa Yesus sendiri,” ungkap beliau.
Umat yang hadir tampak menyimak homili dengan penuh perhatian. Beberapa umat terlihat terharu ketika mendengarkan peneguhan iman yang disampaikan.
Refleksi Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60
Selain merenungkan bacaan liturgi, perayaan Ekaristi tersebut juga menjadi momentum penting untuk memperingati Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60.
Dalam kesempatan itu, R.P. Vitalis Nggeal, C.P. mengajak umat untuk menggunakan media komunikasi secara bijaksana dan bertanggung jawab.
Beliau menjelaskan bahwa komunikasi yang sehat harus mengandung kebenaran, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap sesama.
“Katakan ya jika ya, katakan tidak jika tidak,” tegas beliau.
Beliau juga menekankan bahwa komunikasi harus dilakukan dengan ramah dan membawa kegembiraan bagi orang lain.
“Siapa pun yang membaca atau mendengarkan kita hendaknya memperoleh harapan dan sukacita,” katanya.
Selain itu, beliau mengingatkan pentingnya menjaga hati dan menghormati hak serta kebebasan orang lain dalam komunikasi.
Menurut beliau, komunikasi yang baik selalu memiliki etika dan kesantunan.
“Jangan terlalu berteriak meski sedang benar,” ujar beliau sambil memberikan ilustrasi sederhana yang mengundang senyum umat.
Beliau menambahkan bahwa komunikasi juga tidak boleh memaksakan sudut pandang dengan cara yang merugikan pihak lain.
“Kedepankan dialog,” pesan beliau.
Dalam homili tersebut, beliau turut mengutip Mazmur 34:14:
“Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”
Beliau juga mengutip Efesus 4:29:
“Pakailah perkataan yang baik untuk membangun supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia.”
Pesan-pesan tersebut terasa sangat relevan di tengah perkembangan media sosial dan kecerdasan buatan yang semakin pesat.
Tema KOMSOS 2026: Menjaga Suara dan Wajah Manusia
Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 tahun 2026 ditetapkan oleh Paus Leo XIV dengan tema:
“Menjaga Suara dan Wajah Manusia” (Preserving Human Voice and Face).
Tema ini mengajak umat manusia untuk tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan, empati, serta relasi yang otentik di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.
Dalam konteks kehidupan modern, teknologi memang memberikan banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan baru. Arus informasi yang sangat cepat sering kali membuat orang mudah menyebarkan berita tanpa memeriksa kebenarannya.
Selain itu, komunikasi digital kadang membuat hubungan antarmanusia menjadi dangkal dan kehilangan sentuhan pribadi.
Melalui tema tersebut, Gereja Katolik mengingatkan bahwa teknologi harus digunakan untuk membangun martabat manusia dan memperkuat persaudaraan.
R.P. Vitalis Nggeal, C.P. mengajak umat agar menjadi pengguna media sosial yang membawa damai, kebenaran, dan kasih.
Beliau mengingatkan bahwa setiap kata yang ditulis atau diucapkan memiliki dampak besar bagi kehidupan orang lain.
“Komunikasi hendaknya membangun, bukan menghancurkan. Membawa kasih, bukan kebencian. Membawa pengharapan, bukan ketakutan,” tegas beliau.
Liturgi yang Berjalan Khidmat dan Penuh Sukacita
Perayaan Ekaristi berlangsung dengan tertib dan penuh penghayatan. Umat mengikuti setiap bagian liturgi dengan khusyuk mulai dari lagu pembukaan hingga berkat penutup.
Christivera Tanvenia sebagai lektor membawakan sabda Tuhan dengan jelas dan penuh penghayatan. Sementara Jon Raul Sugara sebagai pemazmur melantunkan mazmur tanggapan dengan baik sehingga membantu umat masuk dalam suasana doa.
Iringan musik dari Saudari Christaviona Tanvenia dan Ibu Martha Koleta Popyzesika semakin memperindah jalannya liturgi. Lagu-lagu liturgi yang dibawakan koor Lingkungan Santo Paulus dari Salib dipimpin dengan baik oleh Ibu Lastri Anita Gultom.
Perpaduan pelayanan liturgi tersebut menciptakan suasana ibadah yang mendalam dan membantu umat menghayati misteri iman.
Semangat Pelayanan di Tengah Gereja Lokal
Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia juga menjadi momentum refleksi bagi Gereja lokal untuk terus mengembangkan pelayanan komunikasi pastoral.
Di tengah perkembangan teknologi informasi, Gereja dipanggil untuk hadir secara aktif dalam ruang digital sebagai pewarta Injil.
Media sosial, video digital, siaran daring, dan berbagai platform komunikasi menjadi sarana baru untuk menjangkau umat dan menyebarkan kabar sukacita.
Namun demikian, Gereja juga diingatkan untuk tidak kehilangan wajah manusiawi dalam komunikasi.
Komunikasi pastoral bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi membangun relasi, mendengarkan, dan menghadirkan kasih Kristus.
Semangat inilah yang hendak ditegaskan dalam peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun ini.
Gereja dan Tantangan Era Digital
Dalam dunia yang semakin digital, umat Katolik menghadapi tantangan besar dalam menjaga kualitas komunikasi.
Berbagai fenomena seperti hoaks, ujaran kebencian, fitnah, perundungan daring, hingga manipulasi informasi menjadi ancaman nyata.
Karena itu, Gereja mengajak umat untuk menjadi saksi kebenaran.
Komunikasi yang sehat harus dilandasi tanggung jawab moral dan spiritual.
Sebagai murid Kristus, umat dipanggil untuk menghadirkan wajah kasih Allah di ruang digital.
R.P. Vitalis Nggeal, C.P. menekankan bahwa komunikasi yang baik lahir dari hati yang baik.
Jika hati dipenuhi kasih, maka kata-kata yang keluar juga akan membawa damai.
Sebaliknya, jika hati dipenuhi kebencian dan kemarahan, komunikasi akan melukai orang lain.
Karena itu, beliau mengajak umat untuk selalu memeriksa hati sebelum berbicara atau menulis sesuatu.
Kehadiran Maria sebagai Teladan Gereja
Dalam bacaan pertama, para murid berkumpul bersama Maria, Bunda Yesus. Kehadiran Maria menjadi tanda penting dalam kehidupan Gereja perdana.
Maria hadir sebagai ibu yang mendampingi para murid dalam doa dan pengharapan.
Beliau menjadi teladan iman, ketekunan, dan kesetiaan.
Dalam kehidupan Gereja saat ini, Maria tetap menjadi teladan bagi umat beriman.
Seperti Maria yang setia mendampingi para murid, umat juga dipanggil untuk saling menguatkan dalam perjalanan iman.
Doa bersama dalam keluarga dan lingkungan menjadi sarana penting untuk menjaga persatuan dan kekuatan rohani.
Persatuan Menjadi Kekuatan Gereja
Salah satu pesan utama yang ditekankan dalam homili adalah pentingnya persatuan.
Para murid mampu bertahan karena mereka hidup dalam kesatuan hati.
Persatuan membuat Gereja mampu menghadapi berbagai tantangan sepanjang sejarah.
Di tengah dunia yang sering terpecah oleh konflik dan perbedaan, Gereja dipanggil menjadi tanda persaudaraan.
Persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan, tetapi membangun kasih di tengah keberagaman.
Melalui Ekaristi, umat dipersatukan sebagai satu tubuh Kristus.
Perayaan Misa menjadi sumber kekuatan yang menyatukan umat dalam iman dan kasih.
Umat Diajak Menjadi Pewarta Harapan
Pesan homili R.P. Vitalis Nggeal, CP. juga mengajak umat menjadi pembawa harapan bagi sesama.
Di tengah situasi dunia yang penuh tantangan, kehadiran orang beriman hendaknya membawa penghiburan dan semangat baru.
Kata-kata yang baik, sikap yang ramah, serta tindakan kasih sederhana dapat menjadi sarana pewartaan Injil.
Hari Komunikasi Sosial Sedunia menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya komunikasi yang sehat.
Bukan hanya para pekerja media atau pelayan Gereja, tetapi seluruh umat dipanggil menjadi komunikator kasih Allah.
Membangun Budaya Dialog
Salah satu poin penting dalam homili adalah ajakan untuk mengedepankan dialog.
Dalam masyarakat yang plural dan beragam, dialog menjadi jalan penting untuk membangun persaudaraan.
Dialog menolong orang saling memahami dan menghormati perbedaan.
Komunikasi yang baik bukan komunikasi yang memaksa, tetapi komunikasi yang mendengarkan.
Melalui dialog, konflik dapat dicegah dan hubungan antarmanusia dapat dipulihkan.
R.P. Vitalis Nggeal, C.P. mengingatkan bahwa orang Kristen dipanggil menjadi pembawa damai.
Karena itu, komunikasi hendaknya menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan dan bukan memecah belah.
Pengalaman Iman yang Menguatkan
Bagi umat yang hadir, perayaan Misa tersebut menjadi pengalaman iman yang menguatkan.
Banyak umat merasa diteguhkan melalui sabda Tuhan dan pesan homili yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam dunia yang penuh perubahan cepat, Gereja tetap menjadi tempat umat menemukan harapan dan kekuatan.
Doa bersama, Ekaristi, dan persekutuan umat membantu orang beriman untuk tetap teguh menghadapi tantangan hidup.
Gereja yang Hadir di Tengah Dunia
Peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia juga mengingatkan bahwa Gereja tidak boleh menutup diri dari perkembangan zaman.
Gereja dipanggil hadir di tengah dunia dan menggunakan sarana komunikasi modern untuk pewartaan Injil.
Namun kehadiran tersebut harus tetap berpijak pada nilai-nilai Injil.
Teknologi harus menjadi sarana pelayanan, bukan alat untuk menyebarkan kebencian atau manipulasi.
Gereja dipanggil menjaga martabat manusia dalam setiap bentuk komunikasi.
Menjadi Murid Kristus di Era Digital
Sebagai murid Kristus di era digital, umat Katolik diajak untuk lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial.
Sebelum membagikan informasi, umat diajak untuk memeriksa kebenarannya.
Sebelum menulis komentar, umat diajak mempertimbangkan apakah kata-kata tersebut membangun atau melukai.
Sebelum menyebarkan berita, umat diajak memikirkan dampaknya bagi orang lain.
Sikap-sikap sederhana tersebut menjadi bentuk nyata tanggung jawab iman dalam dunia digital.
Harapan bagi Gereja dan Masyarakat
Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menjadi momentum penting untuk memperbarui komitmen umat dalam membangun komunikasi yang sehat dan manusiawi.
Melalui perayaan ini, umat diajak untuk menjadi pembawa damai, pewarta kebenaran, dan saksi kasih Kristus.
Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan yang terus maju, manusia tetap harus menjadi pusat perhatian.
Nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan relasi yang tulus tidak boleh hilang.
Gereja berharap agar media komunikasi dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan dan membangun dunia yang lebih baik.
Penutup
Perayaan Ekaristi Pekan VII Paskah dan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, berlangsung dengan penuh rahmat dan sukacita.
Melalui homili yang mendalam, R.P. Vitalis Nggeal, CP. mengajak umat untuk hidup dalam doa, tetap setia dalam iman, serta membangun komunikasi yang benar dan penuh kasih.
Pesan-pesan yang disampaikan menjadi pengingat bahwa Gereja bertahan karena doa Kristus dan kekuatan Roh Kudus.
Di tengah dunia digital yang terus berkembang, umat dipanggil menjadi terang dan garam dunia melalui komunikasi yang membangun, menghormati martabat manusia, dan menghadirkan kasih Allah.
Semangat Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 kiranya terus menginspirasi umat untuk menjaga suara dan wajah manusia di tengah kemajuan teknologi.
Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana pertukaran informasi, tetapi juga jalan menghadirkan kasih, harapan, dan persaudaraan bagi dunia.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 17 Mei 2026




0 comments:
Posting Komentar