Diskusi Malam Bersama Late Night Coffee di Paya Kumang: Hangat, Akrab, dan Penuh Persaudaraan
Ketapang, 27 Agustus 2025 .Suasana malam di halaman santai depan Pastoran Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Rabu (27/8) Pukul 20.58 Wib. menjadi begitu hangat dan penuh keakraban. Melalui sebuah diskusi malam yang dibalut dengan “seruput Late Night Coffee”, para imam bersama umat saling berbagi dalam nuansa persaudaraan yang erat.
Acara yang sederhana namun penuh makna ini diwarnai dengan percakapan mendalam, menyentuh berbagai aspek kehidupan: mulai dari refleksi mengenai realitas dunia hingga permenungan iman tentang kehidupan di surga. Keakraban itu tidak hanya tercipta dari hangatnya kopi yang disajikan, tetapi juga dari kebersamaan yang tulus antara para imam dan umat.
Kehadiran RP. Sabinus Lohin, CP, Provinsial Pasionis Indonesia periode 2023–2027, benar-benar menjadi momen yang menambah semarak suasana malam itu. Bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, kesempatan untuk bisa duduk berdekatan, bercakap secara santai, bahkan menikmati secangkir kopi bersama seorang pemimpin provinsi religius adalah pengalaman yang tidak biasa. Tidak banyak momen di mana seorang imam dengan tanggung jawab besar di tingkat nasional bisa hadir begitu akrab, tanpa jarak, dan membaur dengan umat dalam suasana kekeluargaan yang hangat.
Sosok RP. Sabinus Lohin sendiri bukanlah nama yang asing di kalangan Pasionis maupun umat di Keuskupan Ketapang. Beliau sudah lama dikenal sebagai pribadi yang sederhana, rendah hati, dan penuh perhatian. Meskipun mengemban tanggung jawab besar sebagai pemimpin kongregasi, gaya kepemimpinannya selalu dekat dengan umat. Dalam banyak kesempatan, ia tidak hanya menekankan aspek organisasi dan struktur, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan spiritualitas sehari-hari. Kehadirannya di Paya Kumang malam itu menjadi bukti nyata dari cara beliau membangun persaudaraan: hadir secara utuh, dengan hati yang terbuka, dan telinga yang siap mendengarkan.
Sejak awal, kehadiran beliau sudah membawa aura berbeda. Saat melangkah ke tempat acara yang sederhana di depan Pastoran Paroki, ia tidak datang dengan kemewahan atau protokol khusus. Ia datang dengan senyuman lebar, menyapa satu per satu umat yang hadir, menjabat tangan dengan hangat, bahkan sesekali menepuk bahu mereka dengan penuh kasih. Tindakan sederhana itu, yang mungkin tampak kecil, justru menjadi tanda bahwa ia hadir bukan sebagai pemimpin yang berjarak, melainkan sebagai seorang saudara yang ingin berbagi cerita.
Sebagai Provinsial Pasionis Indonesia periode 2023–2027, peran RP. Sabinus sangatlah penting. Ia memikul tanggung jawab besar dalam mengarahkan kehidupan religius para imam Pasionis, menjaga semangat pendiri Santo Paulus dari Salib, sekaligus menjawab berbagai tantangan zaman. Namun, malam itu ia tidak berbicara tentang beban kepemimpinan atau hal-hal struktural. Ia justru mengajak umat untuk melihat sisi terdalam dari kehidupan iman. Baginya, kepemimpinan bukan sekadar soal administrasi atau kebijakan, melainkan tentang bagaimana menghadirkan kasih Kristus yang nyata dalam keseharian.
Dalam diskusi yang hangat itu, RP. Sabinus menyampaikan pesan yang begitu mendalam: “Kita dipanggil untuk tidak hanya hidup di dunia, tetapi juga menyiapkan hati kita untuk kehidupan di surga. Dunia ini adalah tempat kita belajar, berproses, dan saling menolong agar kita semua pada akhirnya bisa sampai pada kebahagiaan kekal.” Kata-katanya sederhana, tetapi mengandung bobot refleksi yang dalam. Ia menekankan bahwa kehidupan dunia tidak bisa dilepaskan dari dimensi rohani, dan sebaliknya, iman tidak boleh terpisah dari realitas sehari-hari.
Sebagai seorang imam Pasionis, beliau menaruh perhatian khusus pada spiritualitas salib. Dalam salah satu bagian percakapan, beliau mengingatkan bahwa penderitaan dan tantangan hidup tidak boleh dilihat sebagai kutukan, melainkan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. “Salib bukan hanya lambang penderitaan, tetapi juga lambang cinta. Di dalam salib, kita menemukan harapan. Kita menemukan keberanian untuk terus berjalan meski dalam kesulitan,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Pernyataan itu menggugah banyak umat yang hadir. Beberapa di antaranya tampak mengangguk setuju, bahkan ada yang meneteskan air mata. Bagi mereka, kata-kata itu tidak hanya sekadar teori teologi, tetapi sungguh relevan dengan kenyataan hidup yang mereka alami. Umat di Paya Kumang, sebagaimana di banyak tempat lain, menghadapi berbagai tantangan: ekonomi keluarga, pendidikan anak-anak, kesehatan, hingga pergumulan iman. Mendengar seorang pemimpin gereja berbicara langsung tentang salib sebagai sumber harapan menjadi penghiburan tersendiri.
Selain berbicara tentang kehidupan rohani, RP. Sabinus juga mengajak umat untuk tidak kehilangan semangat membangun kebersamaan. Ia menyampaikan bahwa dunia modern seringkali membuat manusia semakin individualis. Teknologi memang membawa banyak kemudahan, tetapi juga berpotensi menjauhkan manusia satu sama lain. Di tengah kondisi ini, umat diajak untuk tetap menjaga relasi nyatasaling menyapa, saling peduli, dan saling mendukung. “Persaudaraan adalah kekuatan kita. Tanpa persaudaraan, kita mudah rapuh. Tetapi dengan persaudaraan, kita mampu menghadapi segala tantangan,” katanya penuh penekanan.
Kata-kata itu disampaikan dengan gaya yang sederhana, tanpa kesan menggurui. RP. Sabinus lebih banyak bercerita ketimbang berkhotbah. Ia menceritakan pengalamannya ketika pertama kali memimpin provinsi Pasionis pada tahun 2007. Saat itu, tantangan yang dihadapi tidak kecil. Ada banyak persoalan internal dan eksternal yang harus dihadapi, mulai dari pengelolaan komunitas, kebutuhan formasi calon imam, hingga keterlibatan dalam pelayanan pastoral di berbagai keuskupan. Namun, di balik semua tantangan itu, ia selalu menekankan pentingnya semangat persaudaraan. Tanpa persaudaraan, kata beliau, segala program hanya akan menjadi beban. Dengan persaudaraan, semua tantangan bisa dihadapi bersama-sama.
Cerita-cerita yang dibagikan itu membuat diskusi terasa hidup. Umat tidak hanya mendengarkan, tetapi juga ikut terlibat. Beberapa umat bertanya tentang bagaimana cara menjaga iman di tengah kesibukan kerja. Ada pula yang bertanya tentang bagaimana mendidik anak-anak agar tetap setia dalam iman Katolik meskipun dunia semakin terbuka dengan berbagai godaan. RP. Sabinus menjawab semua pertanyaan itu dengan sabar, penuh perhatian, dan selalu disertai dengan sentuhan pengalaman pribadi.
Momen lain yang cukup berkesan adalah ketika beliau mengangkat tema harapan. Menurutnya, harapan adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Tanpa harapan, manusia mudah putus asa. Tetapi dengan harapan, manusia bisa bertahan bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun. Ia mengutip teladan Yesus yang tetap setia sampai akhir, meski harus melewati penderitaan di kayu salib. Dari teladan itu, umat diajak untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi pergumulan hidup.
Kehadiran RP. Sabinus malam itu juga membawa nuansa persaudaraan lintas generasi. Tidak hanya orang dewasa, anak muda pun merasa dekat dengannya. Ia bahkan sempat bercanda dengan beberapa remaja yang ikut hadir, menanyakan cita-cita mereka, lalu memberi semangat agar tetap tekun belajar dan berani bermimpi besar. Gaya komunikasinya yang ramah membuat anak muda tidak sungkan untuk membuka diri. “Gereja membutuhkan generasi muda yang berani, cerdas, dan setia. Kalian adalah harapan gereja dan bangsa,” katanya dengan penuh optimisme.
Secara tidak langsung, diskusi malam itu menjadi sebuah “mini-retret” bagi umat. Tanpa perlu ruangan besar, tanpa jadwal resmi, hanya dengan secangkir kopi dan suasana santai, umat mendapatkan banyak hal: penguatan iman, semangat persaudaraan, dan dorongan untuk terus berpengharapan. Kehadiran RP. Sabinus benar-benar menghidupkan makna kebersamaan itu.
Bagi umat Paroki Paya Kumang, momen tersebut akan selalu dikenang. Mereka merasa bahwa kehadiran seorang pemimpin tidak harus selalu dalam bentuk acara resmi atau misa agung, tetapi justru dalam perjumpaan sederhana yang tulus. RP. Sabinus telah menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang hadir, mendengarkan, dan berbagi.
Lebih jauh lagi, momen itu juga memberikan inspirasi bagi umat untuk meneladani gaya hidup beliau. Sederhana, rendah hati, tetapi penuh semangat. Umat menyadari bahwa menjadi Katolik bukan hanya soal ritual, melainkan juga soal sikap hidup sehari-hari: bagaimana bersikap ramah, bagaimana peduli dengan sesama, dan bagaimana tetap teguh dalam iman.
Kehadiran RP. Sabinus juga memperkaya pemahaman umat tentang Kongregasi Pasionis. Banyak umat yang sebelumnya hanya mengenal nama besar kongregasi ini melalui para imam yang berkarya di paroki, tetapi malam itu mereka bisa mendengar langsung dari pemimpinnya. Mereka jadi lebih memahami bahwa Pasionis adalah kongregasi yang menekankan spiritualitas salib, menghidupi penderitaan Kristus, dan menghadirkannya dalam pelayanan sehari-hari. Pemahaman itu tentu akan memperdalam rasa hormat dan dukungan umat terhadap karya-karya Pasionis di Keuskupan Ketapang.
Di akhir diskusi, RP. Sabinus mengajak umat untuk terus menjaga kebersamaan seperti malam itu. Ia mengatakan bahwa “Late Night Coffee” bukan sekadar pertemuan santai, melainkan sebuah perwujudan nyata dari gereja sebagai komunitas persaudaraan. Gereja bukan hanya bangunan, bukan hanya struktur organisasi, tetapi terutama adalah persekutuan orang beriman yang saling meneguhkan.
Malam itu ditutup dengan doa singkat yang dipimpin beliau. Doa yang sederhana, tetapi penuh makna: doa syukur atas kebersamaan, doa permohonan agar umat tetap diberi kekuatan menghadapi tantangan hidup, dan doa harapan agar persaudaraan yang terjalin semakin erat. Setelah doa, beliau kembali menyapa umat satu per satu, seakan tidak ingin meninggalkan siapa pun tanpa sapaan hangat.
Umat pun pulang dengan hati gembira. Mereka merasa diperhatikan, didengarkan, dan dikuatkan. Kehadiran RP. Sabinus tidak hanya menambah semarak suasana malam itu, tetapi juga meninggalkan jejak mendalam dalam hati setiap orang yang hadir. Jejak yang berupa pesan persaudaraan, harapan, dan semangat untuk tetap setia berjalan bersama Kristus.
Dengan demikian, diskusi malam dengan “Late Night Coffee” itu tidak hanya menjadi sebuah kegiatan santai biasa, tetapi juga sebuah peristiwa iman yang mempererat tali persaudaraan. Kehadiran RP. Sabinus Lohin, CP, sebagai Provinsial Pasionis, menjadi pusat inspirasi yang menghidupkan suasana. Ia bukan hanya hadir sebagai pemimpin, tetapi sungguh sebagai seorang saudara, seorang gembala, dan seorang sahabat dalam perjalanan iman.
Selain beliau, hadir pula Pastor Kepala Paroki RP. Vitalis Nggeal, CP, serta RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, yang turut mendampingi umat dalam kebersamaan tersebut. Dari kalangan awam, sejumlah tokoh umat pun terlihat hadir, antara lain Bapak Sabinus Jumpo, Bapak Fransiskus Xaverius Krisna Murti, Ketua Bidang Persekutuan dan Tata Organisasi Bapak Yohanes Sigit Kurnianto, serta Bapak A. Khiong.
Kebersamaan malam itu menghadirkan nuansa persaudaraan lintas peran: imam dan umat duduk bersama, tanpa jarak, berbagi cerita, canda, bahkan refleksi iman. Diskusi mengalir hangat, penuh tawa namun tetap sarat makna.
Malam yang berbalut kesederhanaan itu menjadi saksi bahwa perjumpaan dalam kebersamaan, meski tanpa formalitas, mampu menumbuhkan rasa saling mendukung dalam iman dan kehidupan sehari-hari. “Late Night Coffee” di Paya Kumang pun tercatat sebagai momen indah persaudaraan yang akan dikenang.
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 27 Agustus 2025

0 comments:
Posting Komentar