Misa Pagi T-SoM 2026: RP. Rovinus Longa, CP Ajak Remaja Katolik Menjadi Pribadi Tangguh, Cerdas, Gembira, dan Misioner

 

Foto RP. Rovinus Longa, CP. Pimpin Misa 

di dampingRP. Petrus Maman Suparman, OSC

Ketapang, 10 Juli 2026.Hari kedua pelaksanaan Teens School of Mission (T-SoM) 2026 atau Sekolah Misi Remaja diawali dengan Perayaan Ekaristi di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, Jumat (10/7/2026). Misa pagi dimulai pukul 06.40 WIB hingga selesai dan berlangsung dalam suasana khidmat, penuh sukacita, serta semangat misioner. Perayaan Ekaristi menjadi sumber kekuatan rohani bagi seluruh peserta sebelum mengikuti seluruh rangkaian pembinaan T-SoM yang berlangsung selama empat hari.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RP. Rovinus Longa, CP, selaku Direktur Diosesan (Dirdios) Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Keuskupan Ketapang, sebagai selebran utama. Sementara itu, RP. Petrus Maman Suparman, OSC, Direktur Diosesan KMKI Keuskupan Bandung, bertindak sebagai konselebran sekaligus membacakan Injil.

Suasana liturgi berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Sejak pagi hari, para peserta T-SoM bersama para pendamping telah memenuhi Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang untuk mengikuti Perayaan Ekaristi sebagai pusat kehidupan iman dan sumber kekuatan dalam menjalani seluruh proses pembinaan.

Pelayanan liturgi dipercayakan kepada para peserta yang telah dipersiapkan sebelumnya. Yustina Revi Delsela Putri bertugas sebagai lektor, Yeslin Andiva sebagai pemazmur, Saudari Christy Jovalie Saputri sebagai organis, sedangkan koor dipersembahkan oleh peserta dari Keuskupan Sintang dengan dipimpin oleh dirigen Saudari Anatolia Gracia dan Saudari Feby Efronsina. Nyanyian liturgi yang dibawakan dengan penuh penghayatan semakin membantu umat memasuki suasana doa dan syukur.

Perayaan Ekaristi hari kedua ini menjadi salah satu bagian penting dalam pembinaan Teens School of Mission. Sebelum mengikuti berbagai sesi materi, dinamika kelompok, refleksi, dan kegiatan lainnya, seluruh peserta terlebih dahulu diajak berjumpa dengan Kristus melalui Sabda Allah dan Ekaristi. Hal ini menjadi penegasan bahwa seluruh karya misioner Gereja harus selalu berakar pada Kristus sebagai sumber kekuatan dan inspirasi.







Dalam homilinya, RP. Rovinus Longa, CP mengawali dengan menyapa seluruh peserta T-SoM.

"Selamat pagi, peserta Teens School of Mission. Hari ini Tuhan kembali mengumpulkan kita dalam Perayaan Ekaristi. Marilah kita membuka hati agar Sabda Tuhan sungguh membentuk hidup kita."

Beliau kemudian mengajak seluruh peserta merenungkan dua bacaan liturgi hari itu yang saling berkaitan, yaitu Bacaan Pertama dari Kitab Hosea 14:2–10 dan Injil menurut Matius 10:16–23.

Menurut RP. Rovinus, kedua bacaan tersebut memberikan pedoman yang sangat penting bagi perjalanan iman kaum muda, terutama bagi para peserta Teens School of Mission yang sedang menjalani proses pembinaan sebagai remaja Katolik misioner.

"Dalam Bacaan Pertama kita diajak bertobat. Kasih karunia Tuhan selalu lebih besar daripada kelemahan dan dosa manusia. Dalam Injil hari ini Tuhan mengajak kita menjadi pribadi yang tangguh, cerdas, gembira, dan misioner."

Beliau menjelaskan bahwa pertobatan merupakan langkah pertama dalam kehidupan setiap orang beriman. Allah senantiasa membuka pintu belas kasih bagi siapa pun yang mau datang kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus.

Mengutip pesan Nabi Hosea, RP. Rovinus mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah lelah mengampuni umat-Nya. Sebaliknya, Allah selalu ingin memulihkan kehidupan manusia yang jatuh ke dalam dosa.

"Pertobatan bukan hanya menyesali kesalahan, tetapi juga keberanian untuk bangkit dan memulai hidup baru bersama Tuhan."

Pesan tersebut menjadi sangat relevan bagi kaum muda yang sedang bertumbuh dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri, sehingga setiap peserta diajak untuk terus membangun relasi yang akrab dengan Tuhan melalui doa, sakramen, dan kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Injil.

RP. Rovinus juga menegaskan bahwa kasih karunia Tuhan selalu lebih besar daripada segala kelemahan manusia. Tidak ada dosa yang terlalu besar sehingga tidak dapat diampuni apabila seseorang sungguh bertobat dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.

Beliau mengajak seluruh peserta agar tidak pernah kehilangan harapan ketika mengalami kegagalan ataupun jatuh dalam kesalahan. Sebaliknya, setiap pengalaman hidup hendaknya menjadi kesempatan untuk semakin mengenal kasih Allah yang memulihkan.

Selanjutnya, beliau mengajak peserta merenungkan Injil menurut Santo Matius yang menggambarkan Yesus mengutus para murid seperti domba di tengah serigala. Sabda Tuhan tersebut menunjukkan bahwa menjadi pengikut Kristus tidak selalu mudah. Akan ada tantangan, penolakan, dan berbagai godaan yang harus dihadapi oleh setiap orang beriman.

Namun Yesus juga memberikan kekuatan melalui pesan-Nya agar para murid menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Menurut RP. Rovinus, inilah sikap yang harus dimiliki oleh setiap remaja Katolik dalam menghadapi dunia saat ini.

bahwa Sabda Tuhan hari ini  merangkum empat karakter utama yang perlu dimiliki setiap peserta Teens School of Mission (T-SoM) 2026, yaitu Tangguh, Cerdas, Gembira, dan Misioner. Keempat karakter tersebut bukan sekadar slogan, melainkan nilai-nilai Kristiani yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karakter pertama adalah tangguh. Menurut beliau, ketangguhan merupakan kemampuan untuk tetap setia kepada Tuhan di tengah berbagai tantangan kehidupan. Remaja Katolik akan menghadapi banyak godaan, baik dari lingkungan pergaulan, perkembangan teknologi digital, maupun berbagai pengaruh yang dapat menjauhkan mereka dari nilai-nilai Injil. Namun, sebagai murid Kristus, mereka dipanggil untuk tetap teguh dalam iman.

"Tuhan mengajak kita menjadi pribadi yang tangguh. Ketangguhan bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan selalu bangkit kembali bersama Tuhan ketika mengalami kegagalan."

Beliau menegaskan bahwa orang muda Katolik harus memiliki keberanian mempertahankan iman, kejujuran, dan nilai-nilai Kristiani meskipun terkadang harus menghadapi tantangan atau penolakan dari lingkungan sekitarnya. Ketangguhan juga diwujudkan melalui semangat untuk terus belajar, melayani, dan bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa dalam iman.

Karakter kedua adalah cerdas. RP. Rovinus menjelaskan bahwa kecerdasan yang dimaksud Yesus bukan hanya kemampuan intelektual atau prestasi akademik, tetapi kebijaksanaan dalam melihat kehendak Allah dan mengambil keputusan yang benar.

"Dalam Injil kita diajak menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Artinya, kita mampu berpikir bijaksana tanpa kehilangan ketulusan hati."

Beliau mengajak para peserta agar menggunakan kemampuan berpikir yang dianugerahkan Tuhan untuk memilih jalan yang benar, menjauhi pengaruh negatif, serta menggunakan media sosial dan teknologi secara bertanggung jawab. Remaja Katolik diharapkan menjadi generasi yang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus.

Selanjutnya, RP. Rovinus mengajak seluruh peserta untuk menjadi pribadi yang gembira. Sukacita, menurut beliau, merupakan tanda nyata kehadiran Tuhan dalam kehidupan seseorang. Orang yang hidup dekat dengan Kristus akan memancarkan damai, harapan, dan semangat positif kepada orang lain.

"Kita dipanggil menjadi orang yang gembira karena Tuhan selalu menyertai kita. Sukacita adalah kekuatan seorang murid Kristus dalam menjalani kehidupan."

Beliau mengingatkan bahwa kegembiraan Kristiani tidak bergantung pada keadaan hidup yang selalu menyenangkan, tetapi lahir dari keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Oleh karena itu, peserta T-SoM diharapkan mampu membawa suasana yang penuh sukacita di tengah keluarga, sekolah, lingkungan, maupun komunitas Gereja.

Karakter keempat adalah misioner. RP. Rovinus menegaskan bahwa setiap orang yang telah dibaptis menerima tugas untuk menjadi pewarta Injil. Misi bukan hanya tugas para imam, biarawan, atau biarawati, melainkan panggilan seluruh umat beriman, termasuk anak-anak dan remaja.

"Menjadi misioner dimulai dari hal-hal sederhana. Hormati orang tua, rajin berdoa, aktif di paroki, mengasihi teman, dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari."

Beliau menambahkan bahwa semangat misioner harus diwujudkan melalui empat pilar yang menjadi dasar karya misioner anak dan remaja, yaitu Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian. Dengan berdoa, peserta membangun hubungan yang erat dengan Kristus. Melalui derma, mereka belajar peduli kepada sesama. Dengan semangat kurban, mereka rela memberikan waktu, tenaga, dan perhatian bagi orang lain. Sedangkan melalui kesaksian hidup, mereka menghadirkan kasih Kristus di tengah masyarakat yang majemuk.

Mengakhiri homilinya, RP. Rovinus kembali mengingatkan bahwa selama mengikuti T-SoM, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang siap diutus. Setiap sesi pembinaan, refleksi, dinamika kelompok, maupun kebersamaan yang dialami selama kegiatan merupakan bagian dari proses pembentukan sebagai murid-murid Kristus yang dewasa dalam iman.

Beliau juga mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan kesempatan mengikuti T-SoM sebagai sarana memperdalam persaudaraan lintas keuskupan. Kehadiran peserta dari Keuskupan Ketapang, Keuskupan Sintang, Keuskupan Agung Pontianak, dan Keuskupan Sanggau menjadi wujud nyata persatuan Gereja yang hidup dalam keberagaman.

Perayaan Ekaristi pagi itu berlangsung dengan penuh penghayatan hingga selesai. Seluruh peserta mengikuti setiap bagian liturgi dengan tertib dan penuh perhatian. Lagu-lagu yang dibawakan oleh koor dari Keuskupan Sintang semakin memperindah jalannya perayaan dan mengajak seluruh umat untuk menghayati misteri Ekaristi dengan penuh iman.

Setelah menerima berkat penutup, para peserta meninggalkan gereja dengan semangat baru untuk mengikuti agenda pembinaan hari kedua. Pesan Sabda Tuhan yang disampaikan melalui homili RP. Rovinus Longa, CP menjadi bekal rohani yang memperkuat langkah mereka dalam seluruh rangkaian kegiatan Teens School of Mission.

Perayaan Ekaristi pagi di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menegaskan bahwa seluruh proses pembinaan T-SoM berpusat pada Kristus. Dari altar Tuhan, para peserta memperoleh kekuatan untuk menjalani panggilan sebagai remaja Katolik yang siap menjadi saksi Injil di tengah dunia.

Melalui semangat "One in Christ, United in Mission", Gereja berharap setiap peserta T-SoM 2026 kembali ke keluarga, sekolah, lingkungan, dan paroki masing-masing sebagai pribadi yang semakin mencintai Kristus, setia kepada Gereja, serta mampu menghadirkan kasih Allah melalui kehidupan sehari-hari. Mereka diharapkan menjadi generasi muda yang tangguh dalam menghadapi tantangan, cerdas dalam mengambil keputusan, gembira dalam melayani, dan misioner dalam mewartakan Injil, sehingga Gereja terus bertumbuh melalui kesaksian hidup kaum muda yang beriman, berpengharapan, dan penuh kasih.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 10 Juli 202

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar