**Pastor Yerun: Jejak Van Lith di Tanah Dayak dan Karya Besarnya di Kalimantan Barat**

                                     Jacobus Cornelius Stoop, CP. Foto Istimewa/Alkap Pasti

**Ketapang, 21 September 2024**_Dalam sejarah penyebaran agama Katolik di Indonesia, nama besar Van Lith SJ sering kali disebut sebagai sosok penting di Tanah Jawa pada awal abad ke-20. Kontribusinya tidak hanya terletak pada penginjilan, tetapi juga pada pendekatan pendidikan yang membawa perubahan sosial bagi masyarakat pribumi. Van Lith menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk memajukan masyarakat, dan melalui sekolah guru, ia membuka jalan bagi banyak anak muda Jawa untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Hampir 75 tahun kemudian, di pedalaman Kalimantan Barat, seorang imam Pasionis bernama Pastor Jacobus Cornelius Stoop atau yang dikenal sebagai Pastor Yerun CP, melanjutkan visi serupa bagi masyarakat Dayak.

**Perjalanan Awal Pastor Yerun di Tanah Misi**

Pastor Yerun lahir di Schoorl, Belanda, pada 2 Maret 1925. Setelah ditahbiskan sebagai imam Pasionis pada usia 28 tahun, ia memutuskan untuk menjalani misi di Ketapang, Kalimantan Barat, wilayah yang dikenal sebagai daerah Matan pada masa itu. Pada September 1953, Pastor Yerun berangkat dari pelabuhan Amsterdam menggunakan kapal Oranye menuju Singapura, sebelum melanjutkan perjalanan dengan kapal Lamonggang ke Pontianak. Perjalanan panjang ini berakhir di tanah Ketapang pada 20 Oktober 1953, di mana Pastor Yerun memulai pelayanannya di wilayah Tumbang Titi, yang saat itu mencakup juga Tayap atau Matan Hulu.

Di Tumbang Titi, Pastor Yerun mendapati kehidupan masyarakat Dayak yang jauh dari akses pendidikan. Dalam tur pastoralnya, ia sering menggunakan sepeda atau berjalan kaki, mengunjungi berbagai desa di pedalaman, dan menyaksikan realitas bahwa hanya sedikit anak muda Dayak yang melanjutkan pendidikan setelah sekolah dasar. Kesadaran ini memicu gagasan dalam benaknya bahwa pendidikan adalah jalan untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi komunitas Dayak. Ia percaya bahwa, meski memakan waktu lama, pendidikan akan menjadi kunci kemajuan masyarakat.

                   Foto Pastor Yerun (kiri) semasa hidupnya.Foto Istimewa/Alkap Pasti

**Panitia Beasiswa Keuskupan Ketapang: Membangun Masa Depan Lewat Pendidikan**

Setelah 10 tahun melayani di pedalaman Matan, pada tahun 1963 Pastor Yerun pulang ke Belanda untuk menjalani cuti selama satu tahun. Saat kembali ke Indonesia pada 1965, ia diutus oleh kongregasinya untuk bertugas di Lintang Kapuas, Kabupaten Sanggau. Di sini, di usia 40-an, Pastor Yerun semakin dekat dengan masyarakat Dayak, terus memperdalam pemahamannya tentang kebutuhan mereka akan pendidikan.

Titik balik dalam pelayanannya terjadi pada tahun 1978 ketika bersama tokoh Dayak, Petrus Yosef Denggol, Pastor Yerun mendirikan Panitia Beasiswa Keuskupan Ketapang (PBS). Tujuannya sederhana namun mendalam: memberikan beasiswa kepada anak-anak Dayak untuk melanjutkan pendidikan tinggi di luar Kalimantan. Uskup Gabriel William Sillekens CP memberikan restu atas pembentukan lembaga ini, dan dengan dukungan PBS, anak-anak Dayak yang terpilih dikirim ke sekolah-sekolah tinggi di Jawa, termasuk IKIP Sanata Dharma di Yogyakarta. PBS ini menjadi cikal bakal perubahan besar bagi masyarakat Dayak.

**Mengikuti Jejak Van Lith: Pendidikan untuk Kemajuan Sosial**

Jika Van Lith mendirikan sekolah guru di Jawa, Pastor Yerun menggunakan pendekatan berbeda, yaitu mengirim anak-anak Dayak ke Jawa untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Hal ini mirip dengan yang dilakukan Van Lith dalam upayanya mengembangkan pendidikan di Jawa Tengah. Di Tanah Jawa, murid-murid Van Lith seperti IJ Kasimo dan Uskup Albertus Soegijapranata menjadi simbol keberhasilan pendidikan Katolik. Demikian pula, melalui PBS, Pastor Yerun berharap para alumni bisa berperan penting dalam pembangunan masyarakat Dayak, menjadi guru dan pemimpin di daerah asal mereka.

Pada rentang waktu 1979 hingga 2000, PBS berhasil mengirimkan hampir 600 anak dari berbagai latar belakang etnis, termasuk Dayak, Tionghoa, Jawa, dan Flores, untuk melanjutkan pendidikan di tingkat SMA hingga perguruan tinggi di berbagai kota di Indonesia. Para alumni PBS ini kini banyak berperan di sektor pendidikan, pemerintahan, dan swasta, meneruskan cita-cita besar Pastor Yerun untuk memajukan masyarakat Dayak.

**Warisan yang Tak Terlupakan**

Karya Pastor Yerun melalui PBS meninggalkan jejak yang mendalam di Kalimantan Barat. Uskup Ketapang, Mgr Pius Riana Prapdi, dalam sebuah kesempatan menyampaikan bahwa keterlibatan para alumni PBS dalam masyarakat telah memberikan kontribusi besar dalam perkembangan iman dan kehidupan umat di Keuskupan Ketapang. Dalam buku biografi "Pater Yerun, PBS dan Tahun-Tahun di Tanah Misi" (2020), Uskup Pius menegaskan bahwa kaum muda adalah penentu peradaban, dan pendidikan yang diberikan melalui PBS telah melahirkan pribadi-pribadi yang berperan penting dalam membangun bangsa.

Meski pada tahun 1999 Pastor Yerun berpindah tugas ke Malang, Jawa Timur, cintanya pada masyarakat Dayak tak pernah padam. Dalam salah satu suratnya, ia menulis: “Walaupun saya telah meninggalkan Ketapang dua bulan lalu, hati saya masih di sana. Saya mencintai orang Dayak.” Pastor Yerun meninggal pada 23 Desember 2017 di Belanda dan dimakamkan di pemakaman Biara Pasionis, Moulenhop.

**Penutup: Warisan Tak Ternilai**

Pastor Yerun meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi masyarakat Dayak. Sebagaimana Van Lith di Jawa, Pastor Yerun adalah pionir dalam memperjuangkan pendidikan sebagai alat perubahan sosial. Melalui PBS, ia membuka jalan bagi ratusan anak Dayak untuk meraih pendidikan tinggi, sebuah pencapaian luar biasa yang hingga kini terus memberikan dampak positif bagi masyarakat di pedalaman Kalimantan Barat.

Buku biografi tentang Pastor Yerun ini, yang ditulis oleh para alumni PBS, memberikan gambaran lengkap tentang perjuangan iman dan dedikasi seorang imam misionaris yang mencintai masyarakat yang dilayaninya. Buku ini bukan hanya kisah tentang Pastor Yerun, tetapi juga tentang bagaimana pendidikan dapat menjadi jalan menuju kemajuan, seperti yang telah diajarkan oleh Van Lith dan diteruskan oleh Pastor Yerun di Borneo.

*Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus, Paya Kumang*  

Tanggal: 21 September 2024

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar