Ketapang Berduka: Perpisahan dengan RD. Petrus Canisius Dremono Harimurti (Romo Hari) di Pemakaman Paya Kumang
Ketapang, 15 September 2025.Suasana haru dan penuh duka menyelimuti umat Katolik di Keuskupan Ketapang ketika jenazah RD. Petrus Canisius Dremono Harimurti, yang akrab disapa Romo Hari, dimakamkan di Pemakaman Paya Kumang pada Senin, 15 September 2025, pukul 11.47 WIB. Prosesi pemakaman yang dipimpin oleh RD. Ignasius Made Sukartia ini dihadiri ratusan umat, keluarga, serta para rohaniwan dan rohaniwati yang datang dari berbagai paroki di seluruh Keuskupan Ketapang untuk memberikan penghormatan terakhir.
Romo Hari, lahir pada 27 Desember 1948, berpulang pada Sabtu, 13 September 2025, pukul 12.20 WIB di Puskesmas Nanga Tayap. Kabar kepergiannya mengejutkan banyak pihak, terlebih karena sosoknya selama ini dikenal dekat dengan umat, rendah hati, dan penuh kasih dalam melayani.
Prosesi pemakaman tersebut diwarnai dengan kehadiran tokoh-tokoh penting Gereja Katolik di Keuskupan Ketapang, antara lain Bapa Uskup Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang; RD. Lorensius Sutadi, Pr, Vikaris Jenderal Keuskupan Ketapang; RD. Simon Anjar Yogatama, Sekretaris Keuskupan Ketapang; serta RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, Pastor Paroki Santo Agustinus Paya Kumang sekaligus Vikaris ex officio.
Selain itu, hadir pula keluarga besar almarhum, para pastor, bruder, suster, serta ratusan umat yang datang dari berbagai penjuru Keuskupan Ketapang. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata betapa besar cinta umat kepada sosok Romo Hari yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk Gereja dan umat Tuhan.
Suasana Pemakaman yang Penuh Haru
Sejak pagi, suasana di sekitar Gereja dan Pemakaman Paya Kumang dipadati ratusan umat yang datang untuk menghantarkan Romo Hari ke peristirahatan terakhirnya. Barisan umat dengan wajah murung dan doa yang tak henti terucap tampak mengiringi perjalanan peti jenazah.
Pukul 11.47 WIB, prosesi pemakaman dimulai dengan doa dan lagu pengantar. RD. Ignasius Made Sukartia memimpin perayaan liturgi pemakaman dengan khidmat. Homili yang ia sampaikan begitu menyentuh hati, menggambarkan kehidupan Romo Hari yang penuh kesederhanaan dan kasih tanpa batas.
Dalam homilinya, RD. Ignasius menegaskan bahwa Romo Hari adalah seorang gembala yang selalu hadir di tengah umat tanpa sekat dan jarak. Beliau dikenal tidak hanya sebagai pemimpin rohani, tetapi juga sahabat dan saudara bagi umat yang dilayaninya.
“Banyak orang berpaling kepada Yesus karena melihat kesaksian hidupmu, Romo Hari. Kepada Yesus yang engkau yakini, kini engkau kembali. Selamat jalan, Romo yang baik. Tuhan memberkati engkau dalam kehidupan kekal,” tutur RD. Ignasius dengan suara bergetar.
Homili tersebut disambut isak tangis umat yang hadir. Beberapa umat bahkan tidak mampu menahan air mata, mengenang jasa dan teladan Romo Hari yang selalu sederhana, penuh perhatian, dan mengutamakan pelayanan kepada sesama.
Kehadiran Uskup dan Para Pastor
Prosesi pemakaman semakin sakral dengan kehadiran langsung Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang. Seusai pemakaman, Bapa Uskup memimpin doa Rosario bersama para pastor, bruder, suster, keluarga almarhum, serta ratusan umat yang hadir.
Momen doa Rosario ini menjadi penghiburan rohani bagi seluruh umat yang merasa kehilangan. Dalam doa tersebut, umat diajak untuk menyerahkan jiwa Romo Hari ke dalam pangkuan Bunda Maria, agar beliau memperoleh kedamaian abadi di Surga.
“Kita percaya, Romo Hari kini beristirahat dalam damai Kristus. Kita mengenang beliau bukan dengan kesedihan yang berlarut, melainkan dengan rasa syukur atas teladan hidupnya. Semoga jiwa beliau diterima di rumah Bapa,” ungkap Bapa Uskup.
Kehadiran para pastor senior seperti RD. Lorensius Sutadi, Pr, RD. Simon Anjar Yogatama, serta RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP memperlihatkan ikatan persaudaraan dalam imamat yang begitu kuat. Mereka berdiri bersama umat, menunjukkan bahwa duka ini adalah duka bersama seluruh Gereja.
Sosok Romo Hari di Mata Umat
Sepanjang hidupnya, Romo Hari dikenal sebagai imam yang penuh dedikasi. Ia tidak hanya melayani dalam altar dan sakramen, tetapi juga hadir di tengah umat dalam keseharian. Karakter rendah hati, mudah didekati, dan penuh kehangatan membuatnya sangat dicintai.
Banyak umat mengenang Romo Hari sebagai pribadi yang tidak pernah membedakan satu umat dengan yang lain. Semua orang merasa diterima dan dicintai, tanpa memandang latar belakang. Ia menjadi sosok gembala yang menuntun dengan keteladanan, bukan hanya kata-kata.
Beberapa umat yang hadir bahkan mengungkapkan kenangan pribadi mereka.
“Romo Hari selalu mengingat nama kami satu per satu, walaupun sudah lama tidak bertemu. Itu membuat kami merasa begitu dekat dengan beliau,” ujar seorang umat Libertus Wimpi Pangalela, S.Pd dari Paroki Santo Petrus Rasul Nanga Tayap.
“Beliau sering menyempatkan diri mampir ke rumah-rumah umat, sekadar menyapa dan mendoakan. Hal kecil, tetapi sangat berharga bagi kami,” tambah umat Ibu Alexia, S.Pd dari Paroki Santo Petrus Rasul Nanga Tayap.
Kenangan tersebut memperlihatkan betapa kuat ikatan kasih antara Romo Hari dengan umat yang ia layani. Ia bukan hanya imam di altar, melainkan juga sahabat dalam kehidupan sehari-hari umatnya.
Warisan Rohani yang Abadi
Kepergian Romo Hari tentu meninggalkan luka mendalam. Namun, lebih dari itu, beliau meninggalkan warisan rohani yang tak ternilai. Kehidupan imamatnya yang penuh kesetiaan menjadi teladan bagi generasi muda Gereja.
Para pastor yang hadir dalam pemakaman sepakat bahwa teladan Romo Hari harus terus dihidupi oleh semua umat. Kesederhanaan, keterbukaan, dan ketulusan hati menjadi nilai-nilai yang patut diteruskan.
RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, Pastor Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, dalam kesempatan tersebut menegaskan:
“Romo Hari mengajarkan kita bahwa menjadi imam berarti menjadi pelayan yang dekat dengan umat. Ia telah menunjukkan bahwa cinta kepada Kristus harus diwujudkan dalam cinta kepada sesama. Mari kita teruskan warisan rohani ini dalam hidup kita.”
Duka yang Menyatukan
Momen pemakaman Romo Hari tidak hanya menjadi saat berduka, tetapi juga saat persaudaraan Gereja semakin erat. Ratusan umat dari berbagai paroki berkumpul bersama, saling menguatkan, dan memperlihatkan bahwa cinta kasih Kristus nyata di tengah-tengah mereka.
Kebersamaan itu terlihat dalam doa Rosario bersama, saat umat, suster, bruder, pastor, hingga Uskup duduk berdampingan, memanjatkan doa dalam satu suara. Meskipun kehilangan, iman dan harapan tetap menjadi dasar penghiburan.
Penutup: Selamat Jalan, Romo Hari
Kepergian RD. Petrus Canisius Dremono Harimurti meninggalkan duka yang dalam bagi Keuskupan Ketapang. Namun, umat percaya bahwa beliau kini beristirahat dalam damai Kristus.
Romo Hari telah menjalani hidup imamatnya dengan setia, penuh kasih, dan tanpa pamrih. Kini, beliau telah kembali kepada Sang Gembala Agung yang selama ini ia wartakan dengan hidupnya.
Prosesi pemakaman yang berlangsung dengan khidmat dan penuh doa menjadi bukti betapa besar cinta umat kepada sosok gembala ini. Selamat jalan, Romo Hari. Doa dan kenangan akan selalu menyertai perjalananmu menuju kehidupan abadi.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 15 September 2025

0 comments:
Posting Komentar