Pimpin Ibadat
Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga
Ketapang, 18 Desember 2025. Suasana hening, penuh khidmat, dan sarat permenungan menyelimuti rumah Bapak Drs. Yulianus, M.AP bersama istri Ibu Emelia Agnes, Kamis petang, 18 Desember 2025. Di tempat sederhana namun penuh kehangatan itulah umat Lingkungan Santo Gabriel Possenti, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, berkumpul untuk melaksanakan Ibadat Ke-3 Masa Adven, yang sekaligus menjadi ibadat lingkungan terakhir sepanjang Tahun 2025.
Ibadat yang dimulai pada pukul 18.30 WIB hingga selesai ini bukan sekadar pertemuan rutin umat lingkungan, melainkan sebuah momentum rohani yang sangat bermakna. Pertemuan ini menjadi ruang refleksi iman, evaluasi perjalanan rohani keluarga Katolik sepanjang satu tahun, sekaligus persiapan batin menyambut Hari Raya Natal, peristiwa agung kehadiran Allah dalam keluarga manusia.
Ibadat dipimpin oleh Prodiakon Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini, dengan kehadiran Ketua Lingkungan Santo Gabriel Possenti, Bapak Florentius Dwi Hartanto, S.Kom, serta Ketua Bidang Pewartaan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. Kehadiran para pengurus dan umat lingkungan menegaskan semangat kebersamaan, persaudaraan, dan kesatuan iman yang menjadi ciri khas kehidupan Gereja basis.
Ibadat Lingkungan: Wajah Gereja yang Hidup di Tengah Keluarga
Dalam kehidupan Gereja Katolik, ibadat lingkungan bukan hanya kegiatan liturgis sederhana, tetapi merupakan wujud nyata Gereja yang hadir dan hidup di tengah keluarga-keluarga umat. Gereja tidak hanya berdiri megah di gedung paroki, tetapi bernafas, berdoa, dan bertumbuh di ruang-ruang keluarga umat beriman.
Ibadat lingkungan menjadi tempat di mana iman dirawat secara konkret: doa dinaikkan bersama, Kitab Suci direnungkan, pengalaman hidup dibagikan, serta nilai-nilai Injil diterjemahkan ke dalam realitas sehari-hari. Terlebih pada Masa Adven, masa penantian penuh harap akan kedatangan Tuhan, ibadat lingkungan menjadi sarana yang efektif untuk mempersiapkan hati umat secara pribadi maupun sebagai keluarga.
Ibadat Ke-3 Masa Adven di Lingkungan Santo Gabriel Possenti ini mengangkat tema “Pertemuan III: Keluarga Kudus Sebagai Teladan”, sebuah tema yang sangat relevan dengan konteks kehidupan keluarga Katolik masa kini, yang tidak luput dari berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan spiritual.
Tujuan Pertemuan: Meneladani Keluarga Kudus di Nazaret
Pertemuan ini secara khusus bertujuan mengajak keluarga Katolik untuk meneladani Keluarga Kudus di Nazaret, yakni Yesus, Maria, dan Yosef, yang dalam kesederhanaan hidup mereka memperlihatkan nilai-nilai luhur: kasih yang tulus, kesetiaan yang teguh, kesabaran yang mendalam, serta penerimaan satu sama lain dalam terang kehendak Allah.
Keluarga Nazaret bukanlah keluarga yang terpandang karena kekayaan, jabatan, atau prestasi duniawi. Mereka adalah keluarga sederhana, keluarga tukang kayu, yang hidupnya jauh dari sorotan dan pujian manusia. Namun justru dalam kesederhanaan itulah, Allah berkenan hadir dan berkarya secara luar biasa.
Yesus, Sang Putra Allah, memilih untuk lahir dan bertumbuh dalam keluarga manusia yang sederhana. Ia dibesarkan dalam kasih Maria dan bimbingan Yosef. Di rumah kecil di Nazaret, Yesus belajar bekerja, berdoa, taat, dan mengasihi. Di sanalah pula nilai-nilai Kerajaan Allah ditanamkan dan dihidupi setiap hari.
Sabda Allah: Ketaatan Yosef dan Misteri Immanuel
Bacaan Kitab Suci yang direnungkan dalam ibadat ini diambil dari Injil Matius 1:18–25, yang mengisahkan peristiwa kelahiran Yesus Kristus dari sudut pandang Santo Yosef.
Dalam bacaan tersebut, Santo Yosef digambarkan sebagai seorang yang tulus hati, penuh keadilan, dan memiliki kepekaan batin yang mendalam. Ketika mengetahui bahwa Maria mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami istri, Yosef dihadapkan pada pergulatan batin yang berat. Ia bisa saja bertindak menurut hukum dan norma sosial yang berlaku saat itu, namun hatinya memilih jalan kasih: tidak mencemarkan nama Maria, melainkan berniat menceraikannya secara diam-diam.
Ketaatan Yosef terhadap kehendak Allah bukanlah ketaatan yang lahir dari pemahaman sempurna, melainkan ketaatan iman. Ia percaya, lalu bertindak. Ia bangun dari tidurnya dan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya.
Puncak pewartaan Injil ini ditegaskan dalam nama yang diberikan kepada Sang Anak: Yesus, dan nubuat yang digenapi: Immanuel – Allah menyertai kita. Allah tidak tinggal jauh di surga, melainkan hadir, menyertai, dan berjalan bersama keluarga manusia.
Ajaran Gereja: Keluarga sebagai Gereja Rumah Tangga
Renungan semakin diperdalam melalui pembacaan Katekismus Gereja Katolik (KGK), khususnya KGK 1655 dan KGK 1666, yang menegaskan peran sentral keluarga dalam kehidupan Gereja.
KGK 1655 menegaskan bahwa Kristus memilih untuk lahir dan berkembang dalam pangkuan keluarga Yosef dan Maria. Sejak awal, Gereja dibangun dari keluarga-keluarga yang beriman. Ketika sebuah keluarga percaya, iman itu tidak berhenti pada individu, tetapi mengalir ke seluruh anggota rumah tangga.
Sementara itu, KGK 1666 menyebut keluarga Kristen sebagai “Gereja-rumah tangga”, tempat pertama anak-anak menerima pewartaan iman. Keluarga menjadi sekolah kebajikan, tempat kasih Kristen dipelajari dan dipraktikkan, serta ruang utama doa dan rahmat bertumbuh.
Dengan demikian, keluarga Katolik tidak hanya menjadi objek pastoral Gereja, tetapi juga subjek pewartaan, pelaku aktif dalam membangun kehidupan Gereja dan masyarakat.
Renungan: Keluarga Adalah Tempat Lahirnya Masa Depan Umat Manusia
Dalam renungannya, Prodiakon Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini mengajak umat merenungkan makna keluarga dalam terang iman Gereja dan ajaran Bapa Suci.
Mengutip Renungan Paus Leo XIV dalam Misa Penutup Yubileum Keluarga, Anak-anak, Kakek-Nenek, dan Orang Lanjut Usia pada 1 Juni 2025 di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, ditegaskan bahwa keluarga adalah tempat lahirnya masa depan umat manusia.
Paus Leo XIV mendorong para orang tua untuk menjadi teladan integritas bagi anak-anak mereka: bertindak sebagaimana mereka ingin anak-anak bertindak, mendidik dalam kebebasan melalui kepatuhan, serta selalu melihat kebaikan dalam diri anak dan memeliharanya dengan kasih.
Pesan ini menjadi sangat relevan di tengah tantangan keluarga masa kini: tekanan ekonomi, perubahan nilai sosial, perkembangan teknologi, serta berbagai dinamika yang dapat menggerus keharmonisan keluarga.
Keluarga Kudus: Pedoman Hidup Keluarga Katolik
Renungan menegaskan bahwa Keluarga Kudus Nazaret adalah pedoman hidup keluarga Katolik yang paling hakiki. Dari mereka, keluarga Katolik belajar tentang:
Kesetiaan pada kehendak Allah, meski tidak selalu mudah dipahami
Kesabaran dalam menghadapi cobaan
Kasih yang nyata dalam tindakan sehari-hari
Kerendahan hati dan kesederhanaan hidup
Kerja keras dan tanggung jawab, seperti yang diteladankan Santo Yosef
Ketangguhan dan keteguhan iman, seperti yang ditunjukkan Bunda Maria
Keluarga Kudus mengajarkan bahwa kekudusan tidak lahir dari kemewahan atau kenyamanan, tetapi dari kesetiaan dalam hal-hal kecil yang dijalani dengan cinta.
Doa sebagai Pusat Kehidupan Keluarga
Salah satu penekanan utama dalam renungan ini adalah doa sebagai pusat kehidupan keluarga. Keluarga Kudus hidup dalam relasi yang intim dengan Allah. Tuhan menjadi pusat, bukan pelengkap.
Keluarga Katolik diajak untuk menjadikan doa sebagai prioritas utama: doa pribadi, doa bersama, doa dalam suka dan duka. Dengan doa, keluarga menemukan kekuatan untuk saling mengampuni, memahami, dan meneguhkan.
Doa menjadikan rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang kudus, tempat Allah berkenan hadir dan berkarya.
Penutup: Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga
Ibadat Ke-3 Masa Adven sekaligus ibadat lingkungan terakhir Tahun 2025 ini ditutup dengan kesadaran iman yang mendalam: Allah sungguh hadir untuk menyelamatkan keluarga. Dalam peristiwa Natal yang segera dirayakan, umat diajak untuk mengalami kembali kehadiran Sang Immanuel Allah beserta kita.
Melalui teladan Keluarga Kudus Nazaret, keluarga-keluarga Katolik di Lingkungan Santo Gabriel Possenti diteguhkan untuk terus berjalan dalam iman, harapan, dan kasih, menjadikan keluarga sebagai tempat bertumbuhnya generasi beriman, serta menghadirkan wajah Gereja yang hidup di tengah dunia.
Amin.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 18 Desember 2025

0 comments:
Posting Komentar