TERANG DARI GALILEA: SERUAN BERTOBAT DAN PANGGILAN MENGIKUTI KRISTUS

 

Foto RP. Vitalis Nggeal, CP.Pimpin Misa

TERANG DARI GALILEA: SERUAN BERTOBAT DAN 

PANGGILAN MENGIKUTI KRISTUS

Minggu Biasa III  Hari Minggu Sabda Allah 
Penutupan Pekan Doa Sedunia – Pesta Pertobatan Santo Paulus Rasul
Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang
Minggu, 25 Januari 2026

Ketapang.Minggu pagi, 25 Januari 2026, suasana di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, terasa berbeda dari biasanya. Sejak pukul 06.30 WIB, umat mulai berdatangan memenuhi halaman dan ruang gereja. Wajah-wajah penuh sukacita menyapa satu sama lain, sebagian mengenakan pakaian bernuansa hijau, selaras dengan warna liturgi Minggu Biasa. Namun hari itu bukan sekadar Minggu Biasa III. Gereja universal merayakan Hari Minggu Sabda Allah, penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani, sekaligus Pesta Pertobatan Santo Paulus Rasul.

Tepat pukul 07.00 WIB, perayaan Ekaristi dimulai dan dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. Dentingan organ yang dimainkan oleh Ibu Martha Koleta Popyzesika mengalun lembut mengiringi lagu pembukaan yang dipimpin oleh Dirigen I, Ibu Willy, bersama Koor Lingkungan KKY. Suasana liturgi terasa khidmat dan penuh penghayatan.

Petugas liturgi hari itu melayani dengan penuh tanggung jawab:
Lektor: Saudara Kenzie Gavriel Jaya
Pemazmur: Saudari Renatha Ziovanya Prasetyo
Dirigen II: Ibu Dian Noviyanti

Perayaan ini menjadi momentum iman yang kaya makna, bukan hanya karena kalender liturgi yang sarat peristiwa, tetapi karena Sabda Tuhan yang diwartakan sungguh menyentuh kehidupan konkret umat.





















































































































Galilea: Dari Pinggiran Muncul Terang

Dalam homilinya yang berjudul “Ketika Tuhan Datang di Saat yang Tidak Terduga”, RP. Vitalis Nggeal, CP mengajak umat merenungkan Injil Matius 4:12–23. Bacaan ini menampilkan awal karya pelayanan Yesus di Galilea, seruan pertobatan, dan panggilan para murid pertama.

Romo Vitalis membuka homilinya dengan refleksi sederhana namun mendalam:

“Hidup sering berjalan biasa-biasa saja. Rutinitas sekolah, kuliah, bekerja, mengurus keluarga, bahkan sekadar scrolling media sosial. Lalu tiba-tiba sesuatu terjadi: sebuah teguran, kehilangan, perjumpaan, atau justru keheningan. Di momen seperti itulah Tuhan sering masuk—tidak selalu dengan suara keras, tetapi dengan undangan yang lembut: ‘Bertobatlah.’ ‘Ikutlah Aku.’”

Ia menekankan bahwa Yesus memulai karya-Nya bukan di Yerusalem sebagai pusat religius, melainkan di Galilea wilayah yang dipandang sebagai daerah pinggiran, campuran, bahkan kurang “murni” secara religius. Namun justru di tempat yang dianggap gelap itulah terang Allah dinyatakan.

Mengutip nubuat Nabi Yesaya, Romo Vitalis menegaskan:
“Bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.”

Menurutnya, pesan ini menjadi kabar gembira bagi siapa pun yang merasa hidupnya belum ideal.

“Bagi remaja yang merasa imannya belum rapi, bagi orang tua yang merasa banyak gagal, bagi keluarga yang merasa jauh dari gambaran ‘keluarga Katolik sempurna’ Tuhan tidak menunggu hidup kita terang untuk datang. Ia datang justru ke dalam kegelapan untuk menyalakan terang,” tegasnya.

“Bertobatlah”: Undangan yang Membebaskan

Seruan pertama Yesus dalam Injil hari itu sangat jelas:
“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.”

Romo Vitalis mengajak umat memahami kata “bertobat” bukan sebagai ancaman atau hukuman, melainkan undangan untuk berbalik arah.

“Pertobatan bukan pertama-tama soal rasa bersalah. Pertobatan adalah kesempatan baru. Kesempatan untuk melihat hidup dengan cara Tuhan, membangun ulang relasi, dan keluar dari kebiasaan lama yang memenjarakan,” jelasnya.

Dalam konteks dunia modern, khususnya bagi generasi muda, pertobatan sering disalahpahami sebagai larangan-larangan yang membatasi kebebasan. Namun Injil hari itu justru memperlihatkan bahwa pertobatan membuka jalan menuju hidup yang lebih utuh.

“Kerajaan Allah sudah dekat. Artinya Allah tidak jauh, tidak eksklusif. Ia hadir, Ia datang, Ia menyapa,” tambahnya.

Panggilan di Tengah Rutinitas

Bagian Injil selanjutnya menceritakan bagaimana Yesus memanggil Simon Petrus dan Andreas, lalu Yakobus dan Yohanes. Mereka dipanggil saat sedang bekerja sebagai nelayan.

Yesus tidak menunggu mereka datang ke Bait Allah. Ia berjalan menyusuri Danau Galilea, masuk ke ruang hidup orang-orang biasa.

“Ia melihat mereka bukan hanya sebagai nelayan, tetapi sebagai calon penjala manusia,” kata Romo Vitalis.

Panggilan Tuhan, lanjutnya, sering lahir di tengah aktivitas sehari-hari—di ruang kelas, di kantor, di rumah tangga, bahkan di tengah kesibukan digital.

Renungan ini terasa sangat relevan bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang yang sebagian besar adalah pekerja, pelajar, petani, pegawai, dan orang tua yang bergumul dengan rutinitas harian.

Keberanian untuk Meninggalkan

Injil mencatat:
“Mereka pun segera meninggalkan jala mereka dan mengikuti Dia.”

Kata “segera” menjadi penekanan penting dalam homili hari itu.

Mengikuti Yesus selalu berarti meninggalkan sesuatu.
Meninggalkan jala—sumber keamanan lama.
Meninggalkan perahu—zona nyaman.
Bahkan meninggalkan ayah—rencana hidup yang sudah mapan.

Namun meninggalkan bukan berarti membuang tanggung jawab. Meninggalkan berarti menata ulang pusat hidup.

“Apa jala kita hari ini?” tanya Romo Vitalis kepada umat.

Mungkin ego.
Mungkin kebiasaan tidak sehat.
Mungkin luka lama.
Mungkin ambisi yang menggeser Tuhan dari pusat hidup.

Pertanyaan itu menggema dalam keheningan gereja.

Dipanggil Karena Dicintai

Romo Vitalis juga menegaskan bahwa para murid tidak dipilih karena sempurna, melainkan karena dicintai dan disiapkan.

“Yesus tidak meminta CV rohani. Ia tidak memberi tes kelayakan. Ia memanggil, dan dalam proses mengikuti itulah mereka dibentuk.”

Pesan ini menguatkan banyak umat yang mungkin merasa belum pantas atau belum layak.

Hidup Kristiani bukan tentang pamer kesempurnaan, melainkan kesediaan untuk berjalan bersama Tuhan.

Yesus Mengajar, Mewartakan, dan Menyembuhkan

Bagian akhir Injil merangkum karya Yesus:
Ia mengajar, mewartakan Kerajaan Allah, dan menyembuhkan segala penyakit.

Romo Vitalis menegaskan bahwa iman Katolik harus utuh—menyentuh akal budi, hati, dan tindakan nyata.

Iman tidak berhenti pada doa pribadi, tetapi harus menjelma dalam kepedulian sosial, dalam pelayanan, dalam persatuan.

Penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani yang dirayakan hari itu semakin menegaskan pentingnya kesatuan dan kasih dalam keberagaman.

Hari Minggu Sabda Allah: Sabda yang Hidup

Sebagai Hari Minggu Sabda Allah, umat diajak kembali mencintai Kitab Suci.

Lektor dan pemazmur melaksanakan tugas dengan penuh penghayatan, mengingatkan bahwa Sabda bukan sekadar teks yang dibacakan, melainkan firman hidup yang mengubah hati.

Umat diajak untuk tidak hanya mendengar Sabda di gereja, tetapi juga membawanya ke dalam keluarga, pekerjaan, dan komunitas.

Pertobatan Santo Paulus: Dari Penganiaya Menjadi Rasul

Tanggal 25 Januari juga diperingati sebagai Pesta Pertobatan Santo Paulus Rasul. Peristiwa di jalan menuju Damsyik menjadi contoh nyata bagaimana Tuhan dapat mengubah hidup seseorang secara radikal.

“Tidak ada yang terlalu jauh untuk dijangkau Tuhan,” kata Romo Vitalis.

Jika Paulus yang dahulu menganiaya Gereja dapat menjadi rasul besar, maka setiap orang pun memiliki harapan untuk berubah.

Refleksi dan Doa Penutup

Menjelang akhir homili, Romo Vitalis mengajak umat merenungkan:

Di bagian hidup mana aku merasa seperti Galilea—biasa, gelap, tidak ideal?
Apakah aku percaya Tuhan bisa memulai dari sana?
Jala apa yang paling sulit aku lepaskan?

Ia menutup dengan doa:

“Tuhan Yesus, Engkau datang ke Galilea dan menyalakan terang di tempat yang dianggap gelap. Datanglah juga ke dalam hidup kami. Ajari kami berani bertobat, berani meninggalkan, dan berani mengikuti. Jadikan kami murid-Mu di tengah dunia digital, di keluarga, di sekolah, dan di Gereja. Amin.”

Iman yang Dimulai dengan Satu Langkah

Perayaan Ekaristi berakhir dengan berkat penutup dan lagu pengutusan yang dinyanyikan penuh semangat oleh Koor Lingkungan KKY.

Empat nelayan itu tidak tahu masa depan mereka. Mereka hanya tahu satu hal: Yesus memanggil, dan mereka melangkah.

Demikian pula umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang pagi itu pulang dengan pesan sederhana namun kuat: iman dimulai dengan satu langkah keberanian.

Minggu Biasa III, Hari Minggu Sabda Allah, Penutupan Pekan Doa Sedunia, dan Pesta Pertobatan Santo Paulus bukan hanya rangkaian kalender liturgi, melainkan undangan konkret untuk bertobat, bersatu, dan mengikuti Kristus dengan sepenuh hati.

Dari Galilea yang sederhana, terang itu terus menyala dan kini dipercayakan kepada setiap umat untuk membawanya ke dunia.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   25 Januari  2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar