Ibadat Pemakaman RD. Eduardus Banggut: Perjalanan Pulang Seorang Imam ke Rumah Bapa di Pemakaman Payak Kumang
Ketapang, Selasa, 6 Januari 2026 .Suasana duka yang penuh iman dan pengharapan menyelimuti Kota Ketapang ketika Keuskupan Ketapang bersama keluarga, para imam, biarawan-biarawati, serta umat Allah mengantar kepergian RD. Eduardus Banggut menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Pemakaman Payak Kumang, Selasa (6/1/2026).
Ibadat pemakaman dilaksanakan pada pukul 12.00 WIB di Pemakaman Payak Kumang dan dipimpin oleh RD. Hendrikus Yusri Basri. Dalam suasana hening dan penuh doa, Gereja menyerahkan kembali seorang imam yang telah mengabdikan hidupnya bagi Tuhan dan umat ke dalam tangan kasih Allah.
Selain itu, tampak hadir RD. Mardianus Indra, RP. Fransiskus Mba'a, OSA., RD. GM Lastsendy Pamungkas Winarta, RD. Sirus Yulius Mbusa, RD. Gabriel Bala, RD. Zurich Arian Withosa, RD. Ignatius Made Sukartia, para suster, bruder, dan frater, serta Fransesco Agnes Ranubaya, S.Kom., S.Fil. Kehadiran mereka menjadi tanda kuatnya persaudaraan imamat dan hidup bakti dalam Gereja Katolik Keuskupan Ketapang.
RD. Eduardus Banggut wafat pada Sabtu, 3 Januari 2026, pukul 22.51 WIB di Rumah Sakit Fatima Ketapang. Kabar kepergian beliau membawa duka mendalam bagi Keuskupan Ketapang dan seluruh umat yang mengenal pribadi serta pelayanannya.
Beliau lahir di Manggarai, 13 Desember 1970, dan ditahbiskan menjadi imam pada 12 Oktober 2003 di Ketapang. Selama lebih dari dua puluh tahun imamatnya, RD. Eduardus Banggut dikenal sebagai imam yang sederhana, setia, dan penuh pengabdian.
Motto tahbisan yang dihayatinya sepanjang hidup adalah:
“Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat” (2 Korintus 4:7a)
Motto ini mencerminkan kesadaran beliau akan kelemahan manusiawi yang justru menjadi ruang bagi karya dan kuasa Allah.
Rangkaian Acara Penghormatan dan Pemakaman
Penghormatan terakhir bagi RD. Eduardus Banggut dilaksanakan dalam beberapa tahapan liturgis yang sarat makna iman.
Minggu, 4 Januari 2026
Pada pukul 19.00 WIB, dilaksanakan Ibadat Tirakatan di Wisma Keuskupan Ketapang. Dalam ibadat ini, doa-doa dipanjatkan bagi keselamatan jiwa mendiang serta penghiburan bagi keluarga.
Senin, 5 Januari 2026
Pada pukul 17.00 WIB, dilaksanakan Perayaan Ekaristi di Wisma Keuskupan Ketapang, sebagai ungkapan syukur atas rahmat imamat yang telah dijalani RD. Eduardus Banggut.
Selasa, 6 Januari 2026
Pukul 08.30 WIB: Ibadat Penutupan Peti di Wisma Keuskupan Ketapang
Pukul 09.00 WIB: Misa Requiem di Gereja Katedral Ketapang
Pukul 11.00 WIB: Pelepasan Jenazah
Pukul 12.00 WIB: Pemakaman di Pemakaman Payak Kumang
Makna Ibadat Pemakaman Imam Katolik
Ibadat pemakaman Katolik bagi seorang imam memiliki tata cara khusus yang menekankan makna panggilan imamat. Ritus ini meliputi Ritus Penerimaan Jenazah, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dan Ritus Penguburan.
Dalam ritus penguburan digunakan tanda-tanda iman seperti air suci, dupa, tanah, dan bunga, sebagai simbol pembaptisan, doa Gereja yang naik ke hadirat Allah, penyerahan tubuh kepada tanah, dan harapan akan kebangkitan.
Homili RD. Hendrikus Yusri Basri: Harapan akan Kebangkitan
Dalam homili yang disampaikan pada ibadat pemakaman RD. Eduardus Banggut, RD. Hendrikus Yusri Basri menegaskan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan peralihan menuju kehidupan kekal bersama Allah.
Homili mengutip bacaan Kitab Suci dari Yohanes 11 tentang kebangkitan Lazarus dan Yohanes 20 tentang Maria Magdalena di makam kosong. Kedua bacaan tersebut menegaskan bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup, serta bahwa iman kepada-Nya mengalahkan maut.
Beberapa penegasan homili antara lain:
“Kematian Kristus adalah sebuah paskah, peralihan menuju kehidupan baru. Demikian pula, saudara kita ini sekarang mati bersama Kristus, semoga ia hidup pula dalam keadaan baru seperti Kristus.”
“Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya (Yohanes 20:24–29). Melalui iman, kita yakin tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, termasuk kematian.”
“Kita tahu bahwa melalui pembaptisan, kita disatukan dengan Kristus. Marilah kita mendoakan saudara kita ini agar ia turut bangkit bersama Kristus.”
Homili ditutup dengan Doa Bapa Kami dan doa penutup:
“Tuhan, berilah dia istirahat kekal, dan sinarilah dia dengan cahaya abadi.”
Yang Berduka
Yang berduka atas wafatnya RD. Eduardus Banggut adalah:
Mgr. Pius Riana Prabdi
Bapak Honorius Embok (Ayah)
Ibu Regina Idim (Ibu)
Yovita Jinas (Adik)
Godens Sanur (Adik)
Sislaus Syukur (Adik)
Para Imam Diosesan Keuskupan Ketapang
Penutup
Sebagaimana dikatakan dalam Kitab Suci:
“Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Roma 14:7).
Kepergian RD. Eduardus Banggut menjadi panggilan bagi seluruh umat untuk semakin setia dalam iman dan pelayanan. Ia telah menyelesaikan peziarahan hidupnya di dunia dan kini pulang ke rumah Bapa.
Requiescat in Pace, RD. Eduardus Banggut.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 6 Januari 2026



0 comments:
Posting Komentar