Ketapang, 17 Desember 2025.Dalam rangka persiapan menyambut Hari Raya Natal Tahun 2025, Panitia Natal Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, menyelenggarakan Ibadat Tobat bagi umat di Lingkungan Kanak-kanak Yesus. Kegiatan rohani ini dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Desember 2025, bertempat di Rumah Bapak Yohanes Midi yang beralamat di BTN Permata Dalong 3 Blok B.13. Ibadat Tobat dimulai pada pukul 19.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 20.30 WIB, berlangsung dengan suasana hening, khidmat, serta penuh penghayatan iman.
Pelaksanaan Ibadat Tobat ini menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan Adven Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Masa Adven merupakan waktu penantian dan persiapan rohani umat Kristiani untuk menyambut kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Dalam konteks inilah, Ibadat Tobat dihadirkan sebagai sarana bagi umat untuk melakukan refleksi diri, menyadari keterbatasan manusiawi, serta membuka hati bagi karya belas kasih Allah yang senantiasa mengampuni dan membarui hidup.
Ibadat Tobat di Lingkungan Kanak-kanak Yesus dipimpin oleh Pastor Paroki, RP. Vitalis Nggeal, CP. Dalam tugas pelayanannya, RP. Vitalis Nggeal, CP tidak hanya memimpin jalannya ibadat, tetapi juga memberikan katekese yang mendalam dan relevan dengan situasi hidup umat. Katekese tersebut menekankan makna pertobatan sejati sebagai sebuah proses yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sikap hidup yang diwujudkan dalam perubahan perilaku, relasi yang dipulihkan, serta komitmen untuk hidup semakin setia pada kehendak Allah.
Sejak awal ibadat, umat yang hadir diarahkan untuk memasuki suasana doa yang mendalam. Tanda salib sebagai pembuka ibadat mengingatkan seluruh umat akan identitas mereka sebagai orang-orang yang telah dibaptis dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Doa pembuka yang dilantunkan menjadi ungkapan kerinduan umat akan rahmat pengampunan dan pembaruan hidup. Lagu-lagu rohani yang dinyanyikan bersama turut membantu umat memusatkan hati dan pikiran pada Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Liturgi Sabda menjadi bagian penting dalam rangkaian Ibadat Tobat ini. Sabda Allah yang dibacakan mengajak umat untuk merenungkan kasih Allah yang tak terbatas, khususnya melalui gambaran Allah sebagai Gembala yang mencari domba yang hilang. Sabda tersebut mengingatkan bahwa setiap orang, betapapun jauhnya pernah tersesat, tetap dicari dan dicintai oleh Allah. Renungan yang disampaikan menegaskan bahwa pertobatan bukanlah semata-mata rasa takut akan hukuman, melainkan jawaban kasih manusia atas kasih Allah yang terlebih dahulu mengasihi.
Dalam katekese yang disampaikan, RP. Vitalis Nggeal, CP menguraikan makna Ibadat Tobat Katolik sebagai sebuah perayaan liturgi yang mengajak umat untuk bersama-sama mengakui dosa, memohon ampunan Tuhan, dan mempersiapkan diri untuk hidup baru sebagai anak-anak Allah. Ibadat Tobat dipahami sebagai kesempatan rahmat, di mana umat diajak untuk mendengarkan Sabda Tuhan, melakukan pemeriksaan batin secara jujur, mengakui dosa-dosa, melaksanakan penitensi, dan akhirnya menerima berkat sebagai tanda pengutusan untuk hidup dalam kasih.
Pemeriksaan batin menjadi momen yang sangat menentukan dalam Ibadat Tobat ini. Dalam suasana hening, umat diajak untuk menengok kembali perjalanan hidup mereka, baik dalam relasi dengan Allah, sesama, maupun dengan diri sendiri. Setiap umat diberi ruang untuk secara pribadi menyadari kelemahan, kesalahan, serta dosa-dosa yang mungkin selama ini menghalangi pertumbuhan iman. Keheningan yang tercipta membantu umat untuk berjumpa dengan suara hati dan membuka diri pada terang Roh Kudus.
Bagian pengakuan dan absolusi menegaskan pentingnya sikap rendah hati di hadapan Allah. Dalam tradisi Gereja Katolik, pengakuan dosa merupakan sarana rahmat yang memulihkan relasi manusia dengan Allah dan Gereja. Ibadat Tobat ini menegaskan bahwa meskipun dilaksanakan secara komunal, pertobatan tetap bersifat personal. Umat diajak untuk memiliki niat tulus untuk mengakui dosa secara jujur dan bertekad untuk memperbaiki diri.
Penjelasan mengenai pengakuan pribadi dan absolusi kolektif juga disampaikan dalam katekese. Pengakuan pribadi, yaitu mengakui dosa secara langsung kepada imam dan menerima absolusi individu, ditegaskan sebagai bentuk Sakramen Tobat atau Sakramen Rekonsiliasi yang menjadi sarana utama pengampunan dosa berat. Sementara itu, absolusi kolektif dijelaskan sebagai bentuk yang hanya diberikan dalam situasi khusus sesuai dengan ketentuan Gereja, dengan tetap disertai niat untuk melakukan pengakuan pribadi pada kesempatan berikutnya.
Penitensi dan berkat penutup menjadi bagian akhir dari rangkaian Ibadat Tobat. Penitensi dipahami bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai sarana pendidikan rohani untuk membantu umat memperbaiki diri dan menumbuhkan sikap tanggung jawab atas dosa yang telah dilakukan. Berkat penutup yang diberikan menjadi tanda penyertaan Allah bagi umat yang diutus kembali ke tengah kehidupan sehari-hari.
Ibadat Tobat ini juga menegaskan tujuan utama pertobatan, yakni memperbarui janji baptis dan hidup dalam kasih karunia Allah. Melalui pertobatan, umat diingatkan kembali akan rahmat baptisan yang telah mereka terima, di mana mereka dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak terang dan saksi kasih Kristus. Pertobatan menjadi jalan untuk kembali setia pada panggilan tersebut.
Selain itu, Ibadat Tobat menjadi sarana penting untuk mempersiapkan hati menyambut Kristus, khususnya dalam masa Adven. Dengan hati yang dibersihkan dari dosa dan beban batin, umat diharapkan dapat menyambut kelahiran Kristus dengan sukacita yang sejati. Natal tidak hanya dirayakan sebagai peringatan historis kelahiran Yesus, tetapi sebagai peristiwa iman yang mengubah hidup.
Aspek penting lainnya dari Ibadat Tobat adalah pengalaman akan belas kasihan Allah yang mengampuni dan membebaskan. Dalam ibadat ini, umat diajak untuk menyadari bahwa Allah selalu membuka pintu pengampunan bagi siapa saja yang datang kepada-Nya dengan hati yang hancur dan rendah. Kesadaran ini memberikan pengharapan baru dan kekuatan untuk memulai hidup yang lebih baik.
Sikap umat selama Ibadat Tobat juga menjadi perhatian utama. Umat diajak untuk bertobat dengan sungguh-sungguh, menyesali dosa, dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Pertobatan sejati menuntut kejujuran di hadapan Allah dan kesediaan untuk berubah. Tanpa sikap ini, pertobatan berisiko menjadi rutinitas tanpa makna.
Selain sikap penyesalan, umat juga diajak untuk mencari rahmat dengan mengakui diri sebagai pendosa yang membutuhkan Allah. Kesadaran akan keterbatasan diri menjadi pintu masuk bagi karya rahmat Tuhan. Dalam kerendahan hati inilah, Allah bekerja membarui dan menyembuhkan.
Menerima belas kasihan Allah menjadi sikap dasar yang ditekankan dalam Ibadat Tobat ini. Umat diajak untuk membuka hati sepenuhnya pada kasih pengampunan Allah, tanpa terjebak pada rasa bersalah yang berlebihan. Pengampunan Allah membebaskan dan memulihkan martabat manusia sebagai anak-anak-Nya.
Pelaksanaan Ibadat Tobat di Lingkungan Kanak-kanak Yesus ini mencerminkan semangat kebersamaan umat dalam menjalani hidup menggereja. Rumah Bapak Yohanes Midi sebagai tempat pelaksanaan ibadat menjadi ruang perjumpaan iman, di mana umat berkumpul, berdoa, dan saling menguatkan dalam perjalanan rohani bersama.
Kegiatan ini juga menunjukkan peran aktif Panitia Natal Paroki Santo Agustinus Paya Kumang dalam memfasilitasi pembinaan iman umat. Ibadat Tobat tidak hanya dipandang sebagai kegiatan rutin, tetapi sebagai bagian integral dari upaya membangun kehidupan rohani umat yang matang dan bertanggung jawab.
Dalam konteks Gereja Katolik, Ibadat Tobat memiliki makna yang sangat penting sebagai sarana pertobatan komunal. Meskipun demikian, ditegaskan bahwa rekonsiliasi dosa berat tetap memerlukan Sakramen Tobat pribadi dengan imam. Hal ini sejalan dengan ajaran Gereja yang menempatkan Sakramen Rekonsiliasi sebagai sarana utama pengampunan dosa berat dan pemulihan penuh relasi dengan Allah dan Gereja.
Melalui Ibadat Tobat ini, umat Lingkungan Kanak-kanak Yesus diajak untuk semakin menyadari panggilan mereka sebagai bagian dari Tubuh Kristus. Pertobatan pribadi diharapkan berdampak pada kehidupan bersama, menciptakan komunitas yang saling mengasihi, mengampuni, dan melayani.
Suasana ibadat yang tertib dan penuh penghayatan mencerminkan kerinduan umat akan kehidupan rohani yang lebih mendalam. Keheningan, doa, dan permenungan menjadi sarana efektif untuk membantu umat mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah.
Ibadat Tobat ini juga menjadi momen edukatif bagi umat mengenai makna dan tata cara pertobatan dalam Gereja Katolik. Penjelasan yang sistematis mengenai tujuan, tata cara umum, serta sikap yang perlu dimiliki umat membantu memperdalam pemahaman iman dan praksis hidup kristiani.
Secara keseluruhan, pelaksanaan Ibadat Tobat di Lingkungan Kanak-kanak Yesus Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Keuskupan Ketapang pada Selasa, 16 Desember 2025, menjadi sebuah peristiwa iman yang bermakna. Ibadat ini mengajak umat untuk berhenti sejenak dari kesibukan hidup, menata kembali relasi dengan Allah, dan memperbarui komitmen untuk hidup sesuai dengan Injil Kristus.
Dengan semangat pertobatan dan pembaruan hidup yang terus dipelihara, umat diharapkan mampu menyambut Hari Raya Natal dengan hati yang bersih, penuh sukacita, dan siap menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia. Ibadat Tobat ini menjadi salah satu wujud nyata perjalanan iman umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang dalam membangun kehidupan menggereja yang berakar pada pertobatan, pengampunan, dan kasih Kristus.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 17 Desember 2025





0 comments:
Posting Komentar