Ketika Tuhan Mengubah Rencana: Iman Yosef yang Sunyi dan Taat dalam Pergulatan Batin Manusia

 

Foto  RP. Vitalis Nggeal, CP,pimpin Misa

Ketika Tuhan Mengubah Rencana:

 Iman Yosef yang Sunyi dan Taat dalam Pergulatan Batin Manusia

Refleksi Mendalam Homili Misa Sabtu, Hari Minggu Adven IV 

di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Ketapang, 21 Desember 2025.Dalam suasana hening dan penuh pengharapan menjelang Hari Raya Natal, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, berkumpul dengan penuh khidmat mengikuti Perayaan Ekaristi Sabtu sore, 20 Desember 2025, pukul 18.00 WIB, yang merupakan Misa Hari Minggu Adven IV. Perayaan ini sekaligus memperingati Santo Petrus Kanisius, Pengaku Iman dan Pujangga Gereja, dengan warna liturgi ungu, sebagai simbol pertobatan, penantian, dan kesiapan batin menyambut Sang Juru Selamat.

Perayaan Ekaristi berlangsung dalam suasana sakral dan tertib, diiringi lantunan pujian yang membawa umat masuk ke dalam kedalaman misteri iman. Kehadiran umat dari berbagai lingkungan menandai semangat kebersamaan Gereja yang hidup, yang sedang berjalan bersama dalam masa Adven—masa menunggu dengan iman, berharap dengan tekun, dan mempersiapkan hati dengan sungguh.

Pelayan Liturgi yang Menghidupkan Perayaan

Perayaan Ekaristi diperkaya oleh pelayanan liturgi yang tertata dengan baik. Lektor Agustina Rosa Marhen membawakan bacaan Kitab Suci dengan artikulasi yang jelas dan penuh penghayatan, sementara Pemazmur Abigail Vallerie Relegion melantunkan mazmur tanggapan dengan suara lembut namun penuh iman, membantu umat merenungkan Sabda Tuhan secara lebih mendalam.

Iringan musik rohani dipandu oleh Organis Noberta Cahya Setiti, yang dengan setia mengalun lembut mendukung setiap bagian liturgi. Pujian umat dipersembahkan oleh Koor Lingkungan Santa Perawan Maria (SPM), dengan Dirigen Bapak Thomas Momo A. Rico, yang memimpin koor secara penuh dedikasi. Harmoni suara koor dan umat menghadirkan suasana doa yang khusyuk, menegaskan bahwa liturgi bukan sekadar ritual, melainkan perjumpaan hidup dengan Allah yang hadir dan berkarya.

Namun pusat perhatian umat pada perayaan Ekaristi ini tertuju pada homili yang disampaikan oleh RP. Vitalis Nggeal, CP, yang secara mendalam dan menyentuh mengajak umat memasuki pergumulan batin Santo Yosef, sosok yang kerap berada di balik layar peristiwa Natal, namun justru memikul tanggung jawab iman yang sangat besar.





























































































































Yosef: Sosok Sunyi yang Selalu Hadir dalam Misteri Natal

Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP membuka permenungannya dengan sebuah pernyataan yang sederhana namun mengena: “Setiap kali kita merayakan Natal, kita hampir selalu memikirkan Maria dan Bayi Yesus. Tetapi ada satu sosok yang sering hadir dalam keheningan: Yosef.”

Yosef, lanjutnya, adalah pribadi yang jarang berbicara dalam Kitab Suci. Tidak satu kata pun darinya dicatat dalam Injil. Namun justru dalam keheningan itulah, Yosef menjadi figur iman yang luar biasa. Ia tidak dikenal karena kata-katanya, melainkan karena ketaatannya.

Mengacu pada Injil Matius 1:18–24, RP. Vitalis mengajak umat membayangkan kondisi psikologis Yosef saat mengetahui bahwa Maria, tunangannya, mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami-istri. Situasi ini bukan hanya mengejutkan, tetapi juga mengguncang seluruh rencana hidup Yosef.

“Secara manusiawi, Yosef pasti sangat terpukul,” ungkap RP. Vitalis. “Ia kaget, bingung, goyah, dan terluka. Ia harus menanggung sesuatu yang bukan kesalahannya, dan bertanggung jawab atas sesuatu yang bukan berasal dari dirinya.”

Pergolakan Batin Yosef: Beban yang Tidak Ringan

Homili kemudian membawa umat menelusuri lima pergumulan batin besar Yosef, yang menunjukkan betapa berat panggilan yang ia terima.

1. Mengakui dan Mengasuh Anak yang Bukan Darah Dagingnya

Pergumulan pertama Yosef adalah menerima kenyataan bahwa anak yang dikandung Maria bukan darah dagingnya sendiri. Dalam budaya Yahudi pada zaman itu, garis keturunan dan kehormatan keluarga sangat dijunjung tinggi. Menerima anak yang bukan biologisnya bukanlah perkara mudah.

Namun Yosef tidak hanya menerima, ia juga mengasuh dan mengasihi. Ia memberikan identitas, perlindungan, dan cinta seorang ayah sejati. Di sinilah terlihat bahwa kasih sejati tidak selalu ditentukan oleh ikatan darah, melainkan oleh kesetiaan dan pengorbanan.

2. Pergumulan antara Cinta dan Kecewa

Pergumulan kedua adalah konflik batin antara cinta dan kekecewaan. Yosef mencintai Maria. Injil dengan jelas menyebutkan bahwa ia adalah orang yang tulus hati. Tetapi cinta itu diuji oleh kenyataan pahit yang tidak ia pahami.

“Ia sempat berpikir untuk menceraikan Maria secara diam-diam,” jelas RP. Vitalis. “Bukan karena benci, tetapi justru karena cinta. Ia tidak ingin Maria dipermalukan.”

Di sini Yosef menunjukkan kedewasaan iman: ketika hati terluka, ia tidak memilih jalan kekerasan, tetapi jalan belas kasih.

3. Menanggung Tekanan Sosial, Malu, dan Luka Batin

Pergumulan ketiga adalah tekanan sosial yang luar biasa. Maria mengandung sebelum menikah. Dalam konteks hukum dan budaya saat itu, ini bisa berujung pada hukuman berat, bahkan kematian.

Yosef harus menghadapi rasa malu, gunjingan, dan penilaian masyarakat, tanpa mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia memikul salib sosial yang berat, sebuah penderitaan yang sering kali lebih menyakitkan daripada penderitaan fisik.

4. Melindungi Mesias dari Ancaman Herodes

Pergumulan keempat muncul setelah Yesus lahir. Yosef dipanggil untuk melindungi Sang Mesias dari kejaran Raja Herodes. Ia harus membawa keluarganya mengungsi ke Mesir, meninggalkan tanah, pekerjaan, dan rasa aman.

“Yosef mungkin bertanya dalam hatinya: Apakah aku cukup kuat? Apakah aku sanggup?” tutur RP. Vitalis. Namun di tengah ketakutan itu, Yosef tetap melangkah dalam iman.

5. Memilih Rencana Allah di atas Keinginan Pribadi

Pergumulan kelima adalah yang paling mendasar: memilih rencana Allah atau keinginan pribadi. Yosef adalah seorang tukang kayu sederhana. Ia bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan seadanya. Ia tidak mengejar kemuliaan atau pengakuan.

Namun ketika Allah memanggilnya, Yosef menyerahkan seluruh hidupnya kepada kehendak Tuhan, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti. Ketaatan seperti inilah, tegas RP. Vitalis, yang “diterima di surga”.

Iman Yosef yang Sunyi dan Ketaatan Tanpa Syarat

Homili kemudian menyoroti momen kunci dalam Injil: saat malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Yosef dalam mimpi dan berkata, “Janganlah engkau takut.”

Kalimat ini menjadi pusat refleksi malam itu. “Jangan takut,” bukan hanya pesan bagi Yosef, tetapi juga bagi setiap orang beriman yang sedang menghadapi ketidakpastian hidup.

Yosef menerima pesan Allah dalam keheningan mimpi, bukan dalam dialog panjang. Ini menunjukkan spiritualitas Yosef yang dalam: ia adalah pribadi yang mampu mendengarkan Allah dalam diam.

Dan respons Yosef sangat sederhana, tetapi revolusioner:
“Sesudah bangun dari tidurnya, Yosef berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.”

Tidak ada perdebatan. Tidak ada syarat. Tidak ada penundaan.

“Inilah iman sejati,” tegas RP. Vitalis. “Iman yang tidak hanya percaya, tetapi juga melakukan.”

Yosef Menginspirasi Para Bapak dan Setiap Orang Beriman

Dalam bagian akhir homilinya, RP. Vitalis secara khusus menegaskan bahwa Yosef hari ini mengajak para bapak untuk berkaca pada hidup mereka. Yosef adalah ayah jasmani Mesias, bukan karena darah, tetapi karena kesetiaan.

Ia adalah teladan ayah yang:

  • hadir dalam diam,

  • bekerja tanpa banyak bicara,

  • melindungi keluarga,

  • dan setia pada kehendak Allah.

Namun lebih dari itu, Yosef adalah teladan bagi setiap orang beriman yang sedang menghadapi perubahan rencana hidup, kekecewaan, dan ketidakpastian.

Injil yang Menyapa Kehidupan Umat Hari Ini

Homili tersebut tidak berhenti pada refleksi teologis, tetapi menyentuh realitas hidup umat:

  • ketika rencana hidup berantakan,

  • ketika keputusan terasa berat,

  • ketika masa depan tampak gelap,

  • ketika seseorang merasa difitnah, disalahpahami, atau ditekan oleh keadaan.

Dalam situasi seperti itulah, Injil Adven IV menyapa umat dengan pesan pengharapan:
Allah hadir justru ketika manusia merasa tidak sanggup.

Seperti Yosef, umat diajak untuk percaya, meskipun tidak melihat seluruh gambar besar kehidupan.

Penutup: Adven, Masa Belajar Taat dalam Keheningan

Perayaan Ekaristi Sabtu sore itu menjadi momen refleksi mendalam bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Melalui sosok Yosef, umat diajak memahami bahwa Natal bukan hanya tentang kelahiran Yesus, tetapi juga tentang ketaatan manusia yang membuka jalan bagi keselamatan.

Dalam keheningan Yosef, Gereja belajar mendengarkan.
Dalam ketaatan Yosef, umat belajar percaya.
Dalam kesetiaan Yosef, iman menemukan bentuknya yang paling nyata.

Menjelang Natal, pesan itu bergema kuat:
Ketika Tuhan mengubah rencana hidup kita, iman yang sunyi namun taat akan menuntun kita pada keselamatan.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   21 Desember  2025

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar