Paus Leo XIV Kecam Perang Atas Nama Agama dalam Kunjungan Apostolik ke Turki dan Lebanon


Paus Leo XIV Kecam Perang Atas Nama Agama dalam Kunjungan Apostolik ke Turki dan Lebanon

Ketapang, 1 Desember 2025.Kunjungan apostolik pertama Paus Leo XIV ke luar Eropa sejak terpilih pada Februari 2025 menjadi salah satu momentum diplomatik paling penting Gereja Katolik dalam dekade terakhir. Dalam lawatan ke Turki dan Lebanon tanggal 27 November–2 Desember 2025, Paus tidak hanya menyampaikan pesan damai pada wilayah yang dilanda ketegangan geopolitik, tetapi juga menegaskan evolusi arah diplomasi Takhta Suci yang semakin proaktif menjangkau kawasan Timur Tengah.

Perjalanan tersebut memberi gambaran bagaimana Vatikan memosisikan diri sebagai aktor moral global yang mencoba memediasi konflik, memperkuat rekonsiliasi antargereja, dan merawat dialog antaragama di tengah krisis kemanusiaan regional. Dari Iznik hingga Beirut, dari Masjid Biru hingga reruntuhan pelabuhan yang meledak pada 2020, semua lokasi yang dikunjungi Paus Leo XIV sarat dengan simbolisme sejarah, luka kemanusiaan, dan harapan akan perdamaian.

Pesan Kecaman terhadap Perang atas Nama Agama

Di hari kedua lawatan, saat berada di Iznik pada Jumat (28/11/2025), Paus Leo XIV menyampaikan seruan tegas menolak penggunaan agama sebagai dalih kekerasan. Dalam upacara doa bersama para pemimpin Gereja Timur Tengah, Paus menyatakan:

“Kita harus dengan tegas menolak penggunaan agama untuk membenarkan perang, kekerasan, ataupun segala bentuk fundamentalisme atau fanatisme. Jalan yang harus ditempuh adalah jalan pertemuan, dialog, dan kerja sama persaudaraan.”

Pernyataan tersebut menjadi salah satu pidato terpenting yang dikeluarkan Vatikan sejak pecahnya berbagai konflik di Timur Tengah satu dekade terakhir, termasuk perang Ukraina–Rusia yang juga memecah komunitas Kristen Ortodoks.

Dengan visi diplomasi yang lebih terstruktur, Paus Leo XIV menekankan bahwa agama harus menjadi fondasi perdamaian, bukan justifikasi pertumpahan darah.

Momentum 1.700 Tahun Konsili Nikea Pertama

Kunjungan ke Iznik atau Nicea kuno bukan sekadar ziarah historis, melainkan bagian inti dari perayaan 1.700 tahun Konsili Nikea Pertama, konsili besar Gereja Kristen yang berlangsung pada tahun 325 Masehi.

Di sinilah disusun Kredo Nikea, pernyataan iman fundamental Kekristenan yang hingga kini didaraskan seluruh denominasi Kristen arus utama.

Konsili itu memperteguh keyakinan bahwa Yesus Kristus setara dengan Allah Bapa, sebuah doktrin yang menjadi jantung teologi Kristen.

Namun perjalanan sejarah kemudian menyisakan perpecahan panjang:

  • Skisma Timur–Barat tahun 1054, yang memisahkan Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks.

  • Reformasi Protestan.

  • Perpecahan internal Ortodoks modern, terutama antara Moskwa dan Konstantinopel.

Maka, momentum peringatan 1.700 tahun ini dipandang sebagai kesempatan simbolis untuk merekatkan kembali hubungan gerejawi yang telah pecah selama berabad-abad.

Patriark Ekumenis Bartholomeus I, yang hadir bersama Paus Leo XIV dalam misa doa ekumenis di tepi Danau Iznik, menegaskan:

“Kita tidak hanya mengenang masa lalu. Kita harus bergerak maju bersama.” 

Diplomasi yang Progresif dan Multilapis

Peralihan dari Diplomasi Simbolik ke Diplomasi Institusional

Para pengamat menilai Paus Leo XIV memiliki gaya diplomasi berbeda dibanding pendahulunya, Paus Fransiskus (2013–2025).

Menurut Michael Driessen, profesor ilmu politik Universitas John Cabot, Roma:

“Kita akan melihat lebih sedikit gestur simbolis profetik Paus Fransiskus, dan lebih banyak diplomasi institusional dari Paus Leo XIV.”

Paus Fransiskus dikenal dengan kuatnya pesan simbolik, seperti mencium kaki para pemimpin Sudan Selatan atau berdoa di perbatasan Meksiko. Sementara Paus Leo XIV memperlihatkan pendekatan lebih formal, terstruktur, dan sistematik melalui dialog antaragama, pertemuan lintas-denominasi, serta dialog diplomatik dengan negara-negara kunci.

Mengikuti Jejak Paus-Paus Sebelumnya

Pada Sabtu (29/11/2025), Paus Leo XIV dijadwalkan mengunjungi Masjid Biru di Istanbul. Kunjungan ini membangkitkan memori historis:

  • 2006 → Paus Benediktus XVI berkunjung,

  • 2014 → Paus Fransiskus berkunjung.

Dengan gestur yang sama, Paus Leo XIV menunjukkan kesinambungan diplomasi Katolik yang berpangkal pada penghormatan lintas agama.

Konteks Kompleks Gereja-Gereja Ortodoks

Konflik gerejawi modern menjadi latar belakang penting dalam lawatan ini.

Pada 2018, Patriarkat Konstantinopel mengakui Gereja Ortodoks Ukraina sebagai gereja autocephalous (mandiri), memutuskan kendali Moskowa atas Kiev. Keputusan ini memicu ketegangan politik dan teologis, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Paus Leo XIV dalam pesannya menyatakan:

“Jika umat Kristen dapat mengatasi perbedaan, itu akan menawarkan pesan perdamaian bagi seluruh umat manusia.” 

Persiapan Menuju Lebanon

Setelah agenda padat di Turki, Paus Leo XIV akan berangkat ke Lebanon pada Minggu (30/11/2025). Negara itu memiliki populasi Kristen terbesar di Timur Tengah dan sedang berjuang menghadapi:

  • Krisis ekonomi berkepanjangan,

  • Ketegangan Hizbullah–Israel,

  • Masuknya lebih dari satu juta pengungsi Suriah dan Palestina,

  • Luka mendalam akibat ledakan Pelabuhan Beirut 2020.

Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, bahkan memberikan sambutan hangat:

“Kami berdoa agar Bapa Suci berkontribusi dalam menyebarkan perdamaian dan mengakhiri agresi Israel.” 

Bagi rakyat Lebanon yang putus asa, kedatangan Paus bukan hanya simbolis, tetapi membawa harapan nyata.

Beirut: Luka yang Belum Sembuh

Paus diperkirakan akan mengunjungi lokasi ledakan Pelabuhan Beirut yang menewaskan lebih dari 200 orang, melukai 7.000 orang, serta membuat 300.000 orang kehilangan rumah.

Banyak korban berasal dari komunitas Kristen, karena lokasi ledakan berdekatan dengan wilayah Kristen seperti Mar Mikhael dan Gemmayzeh.

Marielle Boutros dari ACN mengatakan:

“Kunjungan Paus adalah bukti bahwa Lebanon tidak dilupakan dunia.” 

Turki–Lebanon: Alasan Pemilihan Negara Tujuan Pertama

Keputusan Paus Leo XIV memilih Turki dan Lebanon mengejutkan banyak pihak karena banyak memprediksi bahwa ia akan mengunjungi:

  • Amerika Serikat (tempat kelahirannya),

  • Peru (tempat pelayanannya),

  • atau Aljazair (tanah Santo Agustinus, tokoh yang sangat menginspirasi dirinya).

Namun Turki dan Lebanon menyimpan nilai strategis:

1. Hub Timur–Barat dalam Kekristenan

Turki adalah pusat sejarah Gereja kuno, termasuk tujuh konsili ekumenis pertama.

2. Kawasan penuh konflik agama

Lebanon, Suriah, Gaza, dan Irak adalah titik rawan konflik keagamaan dan kemanusiaan.

3. Diplomasi lintas-denominasi

Kunjungan ke Patriark Ekumenis adalah tradisi penting Gereja Katolik dalam mendekatkan diri dengan Ortodoks.

4. Dialog Islam–Kristen

Turki adalah negara mayoritas Muslim sekuler dengan sejarah panjang terkait Gereja, sedangkan Lebanon adalah laboratorium pluralisme agama Timur Tengah.

Kunjungan yang Telah Dikonfirmasi Vatikan (Bagian Tambahan Diminta)

Kunjungan Paus Leo XIV ke Turki dan Lebanon dikonfirmasi langsung oleh kantor pers Vatikan sebagai kunjungan apostolik luar negeri pertamanya. Kunjungan berlangsung 27 November–2 Desember 2025.

Kunjungan ini juga dibangun berdasarkan janji Paus Fransiskus untuk menghadiri peringatan Konsili Nicea bersama Patriark Bartholomew I.

Dalam laporan resmi:

  • Paus akan berada di Turki 27–30 November dan melakukan ziarah ke Iznik (Nicea).

  • Paus juga dapat mengunjungi Ankara untuk pertemuan diplomatik.

  • Paus kemudian menuju Lebanon 30 November–2 Desember, memenuhi undangan pemerintah dan otoritas gerejawi.

Paus diperkirakan memperingati ledakan Pelabuhan Beirut 2020, yang banyak menelan korban dari komunitas Kristen.

Dalam wawancara dengan Crux, Paus Leo XIV menyatakan bahwa perayaan 1.700 tahun Konsili Nicea harus melibatkan seluruh pemimpin Kristen karena:

“Kredo disusun sebelum perpecahan terjadi. Ini adalah pengakuan iman bersama.”

Kunjungan Ini sebagai Titik Penting Diplomasi Vatikan Modern

Kunjungan Paus Leo XIV menjadi tonggak baru karena menunjukkan:

1. Strategi diplomasi ke kawasan non-Eropa

Mengikuti jejak Paus Fransiskus yang membawa Gereja “keluar dari pusat”.

2. Perhatian pada krisis kemanusiaan regional

Paus menunjukkan solidaritas terhadap para pengungsi, korban perang, dan masyarakat yang terdampak konflik sektarian.

3. Rekonsiliasi antar-gereja Kristen

Merayakan 1.700 tahun Konsili Nicea bersama hierarki Ortodoks menjadi sinyal penting bagi masa depan ekumenisme.

4. Dialog dengan dunia Islam

Kunjungan ke Masjid Biru adalah simbol penghormatan dan persatuan melampaui batas agama.

Kesimpulan: Lawatan Sejarah yang Menandai Babak Baru Gereja

Perjalanan apostolik Paus Leo XIV ke Turki dan Lebanon membawa pesan fundamental:

  • Menolak perang atas nama agama

  • Mengupayakan rekonsiliasi Kristen

  • Menguatkan dialog antaragama

  • Berdiri bersama korban krisis kemanusiaan

  • Membangun jembatan diplomasi baru di Timur Tengah

Dalam dunia yang masih diwarnai konflik, kunjungan ini menjadi suara moral global yang mengingatkan bahwa agama, bila dijalankan dengan benar, adalah sumber kedamaian dan persaudaraan, bukan permusuhan.

SUMBER INFORMASI : “Vatican Confirms Papal Trip to Turkey, Lebanon.”

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   1 Desember 2025

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar