Minggu Palma di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: Umat Diajak Setia Mengikuti Kristus hingga Jalan Salib

 

Foto RP. Vitalis Nggeal, CP,Pimpin Misa

Minggu Palma di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: 
Umat Diajak Setia Mengikuti Kristus hingga Jalan Salib

Ketapang, Minggu, 29 Maret 2026. Umat Katolik di Keuskupan Ketapang merayakan Minggu Palma dengan penuh khidmat dan sukacita di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Perayaan yang dimulai pukul 07.00 WIB ini dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP, dan dihadiri oleh ratusan umat yang memadati gereja sejak pagi hari.

Minggu Palma tahun ini, yang juga mengenang sengsara Tuhan serta peringatan Santo Bertold Rahib dan Santo Yonah serta Berijesu Martir, dirayakan dengan warna liturgi merah melambangkan kasih, pengorbanan, dan penderitaan Kristus. Sejak awal perayaan, suasana sakral begitu terasa, terutama saat umat memasuki gereja sambil membawa daun palma sebagai simbol kemenangan dan pengharapan.

Perayaan Ekaristi diawali dengan prosesi yang sederhana namun penuh makna. Umat melambaikan daun palma sebagai bentuk penghayatan atas peristiwa Yesus memasuki Yerusalem, disambut dengan sorak-sorai umat yang berseru, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.” Suasana ini menggambarkan kegembiraan sekaligus menjadi pengantar menuju permenungan akan sengsara Kristus.

Petugas liturgi pada perayaan ini melibatkan partisipasi aktif umat dari berbagai lingkungan. Lektor pertama dibawakan oleh Bapak Florentius Dwi Hartanto, S.Kom, sementara lektor kedua oleh Ibu Christine Sintari Ellen. Mazmur tanggapan dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh Ibu Kresensia Nini, menghadirkan suasana doa yang mendalam di tengah umat.

Kelompok koor yang terdiri dari Lingkungan St. Simon, St. Paulus dari Salib, Santa Perawan Maria, dan St. Philipus turut memperindah perayaan dengan lagu-lagu liturgi yang selaras dengan tema Minggu Palma. Di bawah arahan Dirigen Bapak Tasman dan Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini, nyanyian koor mengalun dengan harmonis, mengajak umat masuk dalam suasana refleksi iman yang lebih dalam.

Salah satu bagian penting dalam perayaan ini adalah pembacaan Kisah Sengsara Tuhan (Passio). Passio dibacakan secara bergantian oleh Bapak Florentius Dwi Hartanto, S.Kom, Ibu Christine Sintari Ellen, dan RP. Vitalis Nggeal, CP. Pembacaan ini menjadi momen yang sangat menyentuh, di mana umat diajak untuk mengenang penderitaan Yesus secara lebih konkret dan mendalam.






Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP mengangkat tema: “Hosana Putra Daud, Diberkatilah Dia yang Datang dalam Nama Tuhan.” Ia mengajak umat untuk tidak hanya berhenti pada sukacita perayaan, tetapi juga masuk dalam refleksi iman yang lebih mendalam.

“Hari ini kita memasuki Minggu Palma hari penuh sukacita. Kita mengenang bagaimana Yesus disambut dengan sorak sorai: ‘Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!’ ketika memasuki Kota Yerusalem,” ungkapnya di hadapan umat.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa sukacita tersebut tidak berlangsung lama. “Hanya dalam hitungan hari, suara yang sama bisa berubah. Dari ‘Hosana’ menjadi ‘Salibkan Dia.’ Dari sambutan meriah menjadi penolakan yang menyakitkan,” lanjutnya dengan nada reflektif.

Melalui permenungan ini, umat diajak untuk bertanya pada diri sendiri: di manakah posisi mereka dalam kisah sengsara Kristus? Apakah hanya menjadi pengikut yang setia di saat senang, ataukah tetap setia ketika menghadapi tantangan dan penderitaan dalam iman.

RP. Vitalis menekankan bahwa Yesus memasuki Yerusalem bukan sebagai raja duniawi yang penuh kemegahan, melainkan dengan kerendahan hati. Ia datang dengan kesadaran penuh akan penderitaan yang akan dihadapi, namun tetap setia pada misi kasih-Nya.

“Itulah inti Minggu Palma: kasih yang setia, bahkan sampai akhir,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa iman sejati tidak hanya tampak dalam situasi yang menyenangkan, tetapi justru diuji dalam kesulitan. “Yesus tidak mengajarkan iman yang nyaman. Ia mengajarkan iman yang setia,” katanya.

Dalam suasana hening, umat diajak untuk merenungkan makna daun palma yang mereka pegang. Daun tersebut bukan sekadar simbol perayaan, tetapi menjadi tanda komitmen iman yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

RP. Vitalis juga memberikan penjelasan tentang makna simbolis daun palma. Ia mengatakan bahwa daun palma yang dibawa pulang dan disimpan di rumah merupakan kesaksian iman akan Kristus sebagai Raja.

“Palma yang kita bawa ke rumah menjadi sarana kesaksian iman kita dalam keseharian hidup kita,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa palma yang kelak akan dibakar menjadi abu melambangkan perjalanan hidup manusia yang pada akhirnya kembali menjadi debu.

“Itu artinya, hiduplah dan jadilah orang Katolik sampai menjadi debu dan abu,” ujarnya dengan penuh penekanan.

Pesan tersebut menjadi penutup homili yang menggugah hati umat. Banyak umat tampak terdiam, merenungkan pesan yang disampaikan, sementara sebagian lainnya terlihat menundukkan kepala dalam doa.

Perayaan Ekaristi berlangsung dengan tertib dan penuh penghayatan hingga akhir. Umat mengikuti setiap bagian liturgi dengan khusyuk, mulai dari doa umat, persembahan, hingga komuni kudus.

Setelah misa selesai, umat tampak membawa pulang daun palma dengan penuh hormat. Bagi mereka, daun palma bukan sekadar benda, tetapi simbol iman yang akan mengingatkan mereka akan perjalanan sengsara dan kebangkitan Kristus.

Beberapa umat yang ditemui menyampaikan kesan mereka terhadap perayaan tersebut. Mereka mengaku tersentuh dengan homili yang disampaikan dan merasa diingatkan kembali akan pentingnya kesetiaan dalam iman.

“Saya sangat tersentuh. Kadang kita memang hanya ingat Tuhan saat senang saja,” ungkap salah satu umat.

Umat lainnya juga menyampaikan bahwa perayaan Minggu Palma tahun ini terasa lebih mendalam karena ajakan refleksi yang kuat. “Homilinya sangat mengena. Kita diajak benar-benar melihat diri kita sendiri,” katanya.

Minggu Palma menjadi awal dari Pekan Suci, yang akan berlanjut dengan perayaan Kamis Putih, Jumat Agung, dan akhirnya Paskah. Oleh karena itu, perayaan ini menjadi momen penting bagi umat untuk mempersiapkan diri secara rohani.

RP. Vitalis mengajak umat untuk tidak hanya menjalani Pekan Suci sebagai rutinitas tahunan, tetapi sebagai perjalanan iman yang sungguh-sungguh. Ia berharap umat dapat mengikuti seluruh rangkaian Pekan Suci dengan hati yang terbuka.

“Jangan hanya hadir secara fisik, tetapi hadirkan juga hati kita,” pesannya.

Dengan berakhirnya perayaan Minggu Palma ini, umat di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diharapkan semakin siap memasuki misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Semangat “Hosana” yang mereka serukan diharapkan tidak hanya berhenti pada hari ini, tetapi terus hidup hingga Paskah dan dalam kehidupan sehari-hari.

Perayaan ini tidak hanya menjadi momen liturgis, tetapi juga menjadi panggilan untuk memperbarui iman dan komitmen sebagai pengikut Kristus. Dalam dunia yang penuh tantangan, kesetiaan menjadi nilai yang semakin penting untuk dihidupi.

Sebagaimana disampaikan dalam homili, umat diajak untuk tidak hanya menjadi pengikut yang bersorak di saat senang, tetapi juga setia dalam menghadapi salib kehidupan. Dengan demikian, iman yang dihidupi menjadi iman yang nyata dan berbuah.

Minggu Palma di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.Keuskupan Ketapang tahun ini menjadi pengingat bahwa perjalanan iman tidak selalu mudah, tetapi selalu penuh makna. Dari palma menuju salib, dan dari salib menuju kebangkitan itulah jalan yang ditunjukkan Kristus kepada umat-Nya.

Dan melalui perayaan ini, umat kembali diteguhkan bahwa kasih Tuhan tidak pernah berubah, bahkan di tengah penderitaan sekalipun. Sebuah kasih yang setia, yang mengundang setiap orang untuk ikut serta dalam misteri keselamatan.

Semoga semangat Minggu Palma ini terus hidup dalam hati umat, membawa mereka semakin dekat kepada Kristus, dan memampukan mereka untuk menjadi saksi iman dalam kehidupan sehari-hari.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 29 Maret 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar