Perayaan Ekaristi Hari Raya Malam Natal di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: Natal sebagai Karya Keselamatan Allah di Tengah Keluarga
Ketapang.Kamis 25 Desember 2025,Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, menggelar Perayaan Ekaristi Hari Raya Malam Natal pada Rabu, 24 Desember 2025, bertepatan dengan Pesta Santa Anastasia Martir. Perayaan ini dirayakan dengan Warna Liturgi Putih sebagai lambang kemurnian, sukacita, dan kemuliaan Allah atas kelahiran Sang Juruselamat. Misa Malam Natal berlangsung dengan khidmat dan penuh penghayatan iman sejak pukul 18.00 WIB hingga sekitar pukul 19.20 WIB, dihadiri oleh umat yang memadati gereja dalam suasana doa yang mendalam dan penuh syukur.
Perayaan Ekaristi Hari Raya Malam Natal tersebut dipimpin langsung oleh Bapa Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prabdi, yang hadir sebagai gembala umat untuk merayakan misteri iman terbesar Gereja, yakni kelahiran Yesus Kristus, Sang Imanuel, Allah yang hadir di tengah umat-Nya. Dalam perayaan ini, Bapa Uskup didampingi oleh para imam konselebran, yaitu RP. Vitalis Nggeal, CP dan RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, yang bersama-sama menghantar umat memasuki perayaan Natal dengan penuh kekhusyukan.
Petugas liturgi mengambil peran penting dalam mendukung kelancaran dan kekhidmatan perayaan. Tugas lektor dipercayakan kepada Hanzen Marvel Candra, sementara tugas pemazmur dilaksanakan oleh Patriksius Milando yang melantunkan mazmur tanggapan dengan penuh penghayatan. Bacaan Injil dibawakan oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP. Perayaan semakin semarak dan sakral dengan iringan koor gabungan dari Lingkungan Santo Vinsensius Maria Strambi (VMS), Lingkungan Santo Yoseph atau Yosef Kanak-kanak Yesus, Lingkungan KKY Santo Rafael, dan Lingkungan Santo Filipus. Seluruh koor dipimpin oleh Dirigen Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini dengan iringan musik organ oleh Margareta Nina.
Dalam homilinya, Bapa Uskup Mgr. Pius Riana Prabdi mengajak seluruh umat untuk menyelami makna terdalam Perayaan Natal sebagai karya keselamatan Allah yang nyata dan konkret di tengah kehidupan keluarga kristiani. Natal, menurut beliau, bukan sekadar peringatan historis atau tradisi tahunan, melainkan peristiwa iman di mana Allah sendiri masuk ke dalam sejarah manusia untuk menyelamatkan umat-Nya.
Bapa Uskup menegaskan bahwa nama Yesus memiliki makna yang sangat mendalam, yakni “Allah yang menyelamatkan.” Dalam kelahiran Yesus, Allah menyerahkan Putra-Nya bagi dunia sebagai wujud kasih yang total. Yesus adalah Putra yang diberikan kepada manusia, Penasihat Ajaib, Raja yang kekal, dan pembawa damai sejati. Melalui kelahiran-Nya, Allah menyatakan bahwa keselamatan bukan sekadar janji, melainkan kenyataan yang hadir dalam kehidupan manusia.
Homili Bapa Uskup secara khusus menyoroti keterlibatan keluarga dalam rencana keselamatan Allah. Allah memilih Maria dan Yusuf, pasangan sederhana dari Nazaret, sebagai sarana untuk mewujudkan karya keselamatan-Nya. Rencana keselamatan ini tidak berjalan tanpa tantangan. Yusuf, dalam pergulatan batinnya, sempat merencanakan untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Namun, di tengah kebingungan dan kesulitan tersebut, Yusuf memilih untuk taat kepada pesan Allah yang disampaikan melalui malaikat Tuhan.
Ketaatan Yusuf, meskipun dihadapkan pada berbagai kendala dan kesulitan, menjadi pintu masuk bagi kebenaran Allah yang menyelamatkan. Bapa Uskup menegaskan bahwa janji Allah pasti terlaksana, sekalipun manusia harus melewati jalan yang penuh tantangan. Keyakinan dan iman Yusuf menjadi teladan bagi setiap keluarga kristiani agar tetap percaya dan taat kepada kehendak Allah dalam segala situasi kehidupan.
Melalui keluarga, karya keselamatan Allah terus berlangsung hingga saat ini. Allah hadir dan berkarya melalui keluarga-keluarga kristiani, mendampingi mereka dalam suka dan duka. Tema Natal tahun ini, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga,” menjadi penegasan bahwa keluarga yang taat kepada Allah merupakan jalan keselamatan yang nyata. Melalui Sakramen Perkawinan, keluarga kristiani dipanggil untuk menghadirkan keselamatan Allah dan menguduskan dunia.
Bapa Uskup mengajak umat untuk belajar dari Keluarga Kudus Nazaret. Maria dengan penuh iman menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah dengan berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Yusuf yang semula ingin menceraikan Maria diam-diam akhirnya memilih untuk taat sepenuhnya kepada pesan Allah. Dalam keluarga ini, Roh Kudus menaungi dan memampukan mereka menjadi sarana keselamatan bagi dunia.
Dalam refleksi yang sangat kontekstual, Bapa Uskup juga menyoroti tantangan berat yang dihadapi keluarga di era modern. Banjir informasi melalui gawai dan media digital telah mengubah pola relasi dalam keluarga. Banyak pasangan suami istri mengalami perpecahan akibat penggunaan media yang tidak bijaksana, judi online, pinjaman online, pesan singkat yang merusak kepercayaan, serta gaya hidup instan yang menggerus nilai-nilai kesetiaan.
Bapa Uskup mengungkapkan keprihatinannya bahwa waktu kebersamaan keluarga semakin tergerus. Bahkan dalam momen sederhana seperti makan bersama, anggota keluarga sering kali tidak lagi berjumpa secara utuh karena sibuk dengan telepon genggam masing-masing. Mentalitas egois, hedonis, dan kecenderungan mencari jalan pintas semakin menguat, sementara budaya keluarga untuk mendengarkan Sabda Allah perlahan menghilang.
Dampak dari krisis ini juga dirasakan oleh generasi muda. Bapa Uskup menegaskan bahwa penyakit mental semakin meningkat dan usia penderita semakin muda. Tidak sedikit anak muda yang memilih mengakhiri hidup karena tekanan hidup, kehilangan makna, dan minimnya dukungan keluarga yang sehat dan utuh. Situasi ini menjadi keprihatinan serius bagi Gereja dan seluruh masyarakat.
Dalam homilinya, Bapa Uskup juga membagikan pengalaman pastoralnya saat mendampingi Ketua Konferensi Waligereja Indonesia dalam menyalurkan bantuan dari Bapa Paus kepada para korban bencana di Banjar, Sibolga. Bantuan tersebut mungkin tidak seberapa, namun menjadi tanda nyata bahwa Gereja Katolik hadir, merasakan kesedihan umat, dan berjalan bersama mereka yang menderita akibat bencana alam.
Bapa Uskup menuturkan bahwa banyak warga yang kehilangan rumah dan sumber penghidupan, bahkan tidak tahu lagi harus tinggal di mana. Dalam situasi ini, Gereja terus berupaya membantu, karena rumah yang layak bukan hanya soal tempat tinggal, melainkan tempat di mana keluarga mengalami kehadiran Allah, mendengarkan Sabda-Nya, dan membangun relasi kasih antara suami, istri, dan anak-anak.
Perayaan Hari Raya Malam Natal ini, menurut Bapa Uskup, menjadi momentum untuk memulihkan kehidupan keluarga. Natal adalah perayaan kasih, dan keluarga merupakan pondasi utama peradaban kasih tersebut. Namun Natal tahun ini juga dirayakan dalam konteks luka-luka kemanusiaan, krisis kebudayaan, dan krisis kepercayaan yang melanda dunia.
Dalam situasi tersebut, umat diajak untuk memperbarui komitmen sebagai orang tua bagi anak-anak, dan sebagai anak untuk taat kepada orang tua. Para imam pun dipanggil untuk setia pada panggilan mereka sebagai pembawa damai. Keluarga kristiani diharapkan menjadi pondasi peradaban kasih, tempat pengampunan, tempat di mana yang salah dibenarkan, yang jatuh diteguhkan, yang lemah dikuatkan, dan yang sesaat diarahkan menjadi berkat.
Menutup homilinya, Bapa Uskup Mgr. Pius Riana Prabdi mengajak seluruh umat agar keluarga-keluarga kristiani sungguh menjadi kehadiran Allah di dunia. Dengan iman yang diteguhkan melalui Perayaan Ekaristi Hari Raya Malam Natal, keluarga diharapkan mampu menghadirkan damai, harapan, dan keselamatan bagi lingkungan sekitar.
Perayaan Ekaristi Hari Raya Malam Natal di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang ini menjadi ungkapan syukur atas kelahiran Sang Juruselamat sekaligus ajakan konkret untuk menghidupi iman dalam keluarga. Dalam malam yang sunyi namun penuh cahaya ini, umat diingatkan kembali bahwa Allah hadir, menyelamatkan, dan berjalan bersama keluarga manusia.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 25 Desember 2025
0 comments:
Posting Komentar