Foto RP. Vitalis Nggeal, CP.Di dampingi RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.Pimpin Misa
“Setia Sampai Akhir: Misa Pesta Santo Stefanus Martir Pertama di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Natal yang Mengajak Umat Berani Bersaksi”
Ketapang, 26 Desember 2025.Gereja Katolik pada Jumat, 26 Desember 2025, memperingati Pesta Santo Stefanus, Martir Pertama, sebuah perayaan liturgis yang selalu hadir tepat sehari setelah Hari Raya Natal. Di tengah suasana Natal yang masih hangat, penuh sukacita, dan nuansa kekeluargaan, Gereja secara sengaja menghadirkan wajah iman yang lain: wajah kesetiaan, pengorbanan, dan keberanian dalam penderitaan. Peringatan ini dirayakan dengan Warna Liturgi Merah sebagai lambang darah para martir, kesaksian iman, dan kasih yang diberikan sampai tuntas.
Semangat iman tersebut terasa begitu kuat dalam Perayaan Ekaristi Jumat pagi yang berlangsung di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Misa dimulai pukul 08.00 WIB dan diikuti oleh umat dengan penuh khidmat. Suasana gereja yang masih dihiasi ornamen Natal berpadu dengan simbol-simbol liturgi pesta martir, menghadirkan kesadaran bahwa Natal bukan hanya perayaan kelahiran, tetapi juga awal dari jalan keselamatan yang penuh tantangan dan pengorbanan.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP., selaku selebran utama, dan didampingi oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP. Kehadiran kedua imam ini memperkaya perayaan dengan nuansa spiritual yang mendalam, sekaligus menjadi tanda nyata kebersamaan para gembala dalam melayani umat Allah di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.
Sejak awal perayaan, umat diajak untuk masuk dalam misteri iman yang dirayakan. Lagu-lagu liturgi yang dibawakan dengan penuh penghayatan mengantar umat pada suasana doa yang tenang namun penuh makna. Peran para petugas liturgi dalam misa ini turut memperindah dan menghidupkan perayaan Ekaristi. Organis, Bapak Yulius Sudarisman, dengan alunan musik organnya yang lembut dan khidmat, membantu umat masuk lebih dalam dalam doa dan pujian. Dirigen, Ibu Fransiska Romana Sri Wijati, memimpin koor dengan penuh ketekunan, menjaga keselarasan suara sehingga setiap lagu menjadi ungkapan iman bersama seluruh umat.
Pemazmur, John Raul Sugara, membawakan Mazmur Tanggapan dengan penuh penghayatan, menegaskan pesan Sabda Tuhan yang telah didengarkan. Sementara itu, tugas lektor diemban oleh Christivera Tanvenia, yang membacakan bacaan suci dengan suara jelas dan sikap penuh hormat terhadap Sabda Allah. Koor Lingkungan Santo Simon turut mengambil bagian penting dalam perayaan ini, mempersembahkan nyanyian-nyanyian liturgis yang menyatu dengan tema pesta Santo Stefanus dan suasana Natal.
Bacaan Injil pada perayaan ini dibacakan oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP., yang mengumandangkan Sabda Tuhan dari Injil Matius 10:17–22. Injil ini menghadirkan sabda Yesus yang tegas dan menantang tentang penganiayaan, kesetiaan, dan panggilan untuk bertahan sampai akhir. Sabda tersebut seolah kontras dengan suasana Natal yang identik dengan damai dan sukacita, namun justru di situlah Gereja mengajak umat untuk memahami kedalaman makna Natal yang sesungguhnya.
Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP., mengajak umat untuk merenungkan makna peringatan Santo Stefanus dalam terang perayaan Natal. Ia menegaskan bahwa Gereja memperingati Santo Stefanus sebagai martir pertama bukan tanpa alasan, melainkan untuk menunjukkan bahwa sejak awal sejarah Kekristenan, iman kepada Kristus selalu mengandung konsekuensi kesetiaan yang radikal.
Menurut RP. Vitalis, melalui Natal, pintu keselamatan telah dibuka dan dimulai. Natal bukan sekadar peristiwa kelahiran Yesus di Betlehem, melainkan peristiwa agung ketika Allah merendahkan diri-Nya, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam sejarah manusia. Inkarnasi ini adalah tanda kasih Allah yang luar biasa, tetapi sekaligus menjadi awal dari jalan salib yang akan ditempuh oleh Yesus.
Ia menekankan bahwa Natal juga mengandung dimensi kesedihan, khususnya bagi Bunda Maria dan Santo Yosef. Sejak awal, kelahiran Yesus sudah diwarnai dengan penderitaan, penolakan, dan ancaman. Yesus datang ke dunia bukan untuk kenyamanan diri-Nya sendiri, melainkan sebagai kurban bagi keselamatan seluruh umat manusia. Keselamatan itu akan digenapkan melalui pengorbanan, penderitaan, dan wafat-Nya di kayu salib.
RP. Vitalis mengingatkan bahwa umat Kristen sejak awal dipanggil untuk mengikuti Yesus dengan jalan yang tidak mudah. Yesus sendiri telah berkata, “Barangsiapa mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya.” Natal sering kita rayakan dalam suasana hangat, penuh kegembiraan, kebersamaan keluarga, dan berbagai tradisi yang menyenangkan. Namun, pada hari ini, melalui peringatan Santo Stefanus, Gereja mengajak umat untuk melihat sisi lain dari iman Kristiani: kesetiaan dalam penderitaan dan keberanian dalam kesaksian iman.
Santo Stefanus, lanjut RP. Vitalis, bukanlah figur yang berbicara tentang sukacita duniawi, melainkan tentang kesetiaan total kepada Kristus. Ia berani bersaksi tentang kebenaran, meskipun harus menghadapi penolakan, kebencian, dan akhirnya kematian. Puncak kesaksian iman Stefanus terlihat ketika ia berdoa bagi orang-orang yang menganiaya dan merajamnya. Doa pengampunan itu menjadi cermin kasih Kristus sendiri yang mengampuni para algojo-Nya di kayu salib.
Dalam konteks kehidupan umat saat ini, RP. Vitalis mengajak umat untuk lebih peduli dan berani berkorban. Orang yang sungguh-sungguh beriman adalah orang yang menghasilkan buah kepedulian dalam hidupnya. Kepedulian itu tidak selalu dalam bentuk hal-hal besar, tetapi dalam sikap sehari-hari: kejujuran, kesediaan mengampuni, kerelaan untuk memahami dan menerima sesama, terutama mereka yang melukai hati kita.
Natal, menurutnya, adalah saat yang tepat untuk mengasah kembali komitmen iman. Natal mengundang umat untuk hidup jujur, mengampuni dengan tulus seperti Santo Stefanus, dan setia dalam panggilan hidup masing-masing. Ia mengajak umat untuk bertanya pada diri sendiri: apa yang mau kita ambil dari bacaan hari ini? Apa makna peringatan Santo Stefanus bagi kehidupan kita sebagai orang beriman?
Secara khusus, RP. Vitalis mengajak umat untuk menjadikan keluarga sebagai tempat pertama dan utama dalam menghidupi semangat pengampunan. Ia menegaskan pentingnya membangun keluarga yang saling mengampuni: orang tua saling mengampuni sebagai suami dan istri, anak-anak belajar mengampuni orang tua, dan seluruh anggota keluarga berusaha menciptakan suasana kasih, pengertian, dan penerimaan. Dengan demikian, keluarga menjadi Gereja kecil yang memancarkan terang Kristus di tengah dunia.
Tema “Setia Sampai Akhir” menjadi benang merah yang kuat dalam perayaan Ekaristi ini. Tanggal 26 Desember selalu menjadi hari yang unik dalam kalender liturgi Gereja. Di tengah suasana Natal yang masih terasa kental, Gereja justru mengajak umat untuk menatap realitas iman yang penuh tantangan. Injil Matius 10:17–22 berbicara tentang penganiayaan, kesetiaan, dan keberanian untuk bersaksi. Gereja seolah ingin mengingatkan bahwa kelahiran Yesus tidak hanya membawa kedamaian, tetapi juga perutusan untuk hidup berani sebagai murid Kristus.
Sabda Yesus yang berbunyi, “Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat,” menjadi pesan yang menggugah hati. Sabda ini memang terdengar keras dan kontras dengan suasana Natal, tetapi justru di situlah letak hikmatnya. Inkarnasi Allah bukan sekadar perayaan manis, melainkan panggilan untuk hidup dalam kesetiaan dan keberanian.
Kelahiran Yesus adalah kabar gembira bagi dunia, tetapi kabar gembira itu tidak datang tanpa konsekuensi. Ketika terang datang, kegelapan terusik. Santo Stefanus menjadi contoh nyata bagaimana kesetiaan kepada Kristus menuntut keberanian untuk menghadapi risiko. Ia dipenuhi Roh Kudus, bijaksana, dan penuh kasih, tetapi kesaksiannya menantang banyak orang sehingga ia harus menanggung kematian. Stefanus wafat bukan sebagai orang yang kalah, melainkan sebagai saksi iman yang setia sampai akhir.
Dalam refleksi iman yang lebih luas, peringatan Santo Stefanus juga mengajak umat untuk melihat tantangan iman di dunia modern. Meskipun umat Kristiani saat ini mungkin tidak mengalami penganiayaan fisik seperti pada masa Gereja perdana, berbagai bentuk tantangan iman tetap nyata. Tekanan sosial agar diam soal iman, nilai-nilai dunia yang bertentangan dengan Injil, godaan untuk berkompromi demi diterima lingkungan, serta ketakutan dicap fanatik saat hidup seturut ajaran Kristus, semuanya menjadi “pengadilan” modern yang harus dihadapi oleh orang beriman.
Namun, Yesus telah memberikan penghiburan dan janji-Nya: “Janganlah kamu khawatir… Roh Bapamu yang akan berkata-kata dalam kamu.” Sabda ini menegaskan bahwa dalam setiap usaha untuk bersaksi, umat tidak pernah berjalan sendirian. Roh Kudus senantiasa bekerja dalam dan melalui diri setiap orang yang berani setia pada Kristus.
Injil hari itu juga menyinggung realitas yang paling menyakitkan dalam kehidupan manusia, yakni ketika pertentangan justru datang dari orang-orang terdekat. Saudara menyerahkan saudara, orang tua melawan anak, dan keluarga terpecah karena iman. Pengalaman semacam ini masih dialami oleh banyak orang hingga saat ini. Namun, Yesus mengajak umat untuk tetap setia dan percaya bahwa kasih yang dihidupi dengan tulus akan menjadi kesaksian yang mampu menyentuh hati siapa pun.
Inti dari pesan Injil dan peringatan Santo Stefanus adalah ketekunan. Bukan soal siapa yang paling hebat, siapa yang paling disukai, atau siapa yang melakukan hal paling besar, melainkan siapa yang bertahan sampai akhir. Stefanus bertahan sampai akhir. Para martir bertahan sampai akhir. Yesus sendiri bertahan sampai akhir di kayu salib. Ketekunan menjadi bukti nyata bahwa kasih kepada Kristus lebih besar daripada rasa takut akan penderitaan.
Perayaan Ekaristi di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang ini menjadi momen refleksi yang mendalam bagi umat. Melalui liturgi, homili, dan perayaan iman bersama, umat diajak untuk memaknai Natal secara lebih utuh: sebagai peristiwa kasih Allah yang memanggil setiap orang beriman untuk hidup setia, berani bersaksi, dan mengampuni dengan tulus.
Di akhir perayaan, umat pulang dengan hati yang diteguhkan. Pesta Santo Stefanus di tengah suasana Natal bukanlah pengingat yang melemahkan, melainkan panggilan yang menguatkan. Natal adalah awal dari sebuah perjalanan iman yang menuntut kesetiaan, dan Santo Stefanus menjadi teladan bahwa kesetiaan itu layak diperjuangkan sampai akhir.
Semoga perayaan ini semakin meneguhkan iman umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, untuk terus menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat Natal dan teladan Santo Stefanus, umat diajak untuk tetap setia, tetap berani, dan tetap mencintai dalam suka maupun duka hingga akhirnya mencapai keselamatan yang dijanjikan Tuhan. Amin.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 26 Desember 2025
0 comments:
Posting Komentar