Perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: Gereja Dipanggil Bersinar bagi Semua Bangsa
Ketapang, 3 Januari 2026.Umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, dengan penuh sukacita dan kekhusyukan merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan atau Epifani pada Sabtu sore, 3 Januari 2026. Perayaan Ekaristi yang dimulai pada pukul 18.00 WIB ini berlangsung dalam suasana liturgi yang agung dengan warna liturgi putih, melambangkan terang Kristus yang dinyatakan kepada seluruh bangsa. Hari Raya Penampakan Tuhan juga bertepatan dengan peringatan Beata Elisabeth Bayley Ann Seton, seorang janda yang menjadi teladan iman, keteguhan, dan pengabdian dalam kehidupan Gereja.
Misa kudus dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP, dan dihadiri oleh umat dari berbagai lingkungan paroki. Sejak sore hari, umat mulai memadati gereja, menciptakan suasana doa yang mendalam dan penuh pengharapan. Kehadiran umat dari berbagai usia mencerminkan semangat kebersamaan sebagai satu keluarga Allah yang berkumpul untuk merayakan pewahyuan Tuhan yang hadir nyata dalam Yesus Kristus.
Pelayanan liturgi dijalankan dengan tertib dan penuh penghayatan. Tugas lektor dibawakan oleh Saudari Maria Parahita Leandra, yang dengan suara jelas dan penuh iman mewartakan Sabda Tuhan. Pemazmur, Saudari Abigail Vallerie Relegion, melantunkan mazmur tanggapan dengan penghayatan yang mendalam, mengajak umat untuk merespons Sabda Allah dengan hati yang terbuka. Iringan musik liturgi dipersembahkan oleh Bapak Yulius Sudarisman sebagai organis, sementara koor SPDS Lingkungan Santo Paulus dari Salib memperindah perayaan Ekaristi dengan nyanyian yang harmonis di bawah arahan dirigen Ibu Lastri Anita Gultom.
Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP mengajak umat untuk merenungkan makna Hari Raya Penampakan Tuhan sebagai peristiwa iman yang sangat mendasar dalam kehidupan Gereja. Ia menegaskan bahwa Epifani adalah perayaan penampakan diri Allah kepada dunia, sebuah pewahyuan yang menegaskan bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus diperuntukkan bagi semua orang tanpa kecuali.
RP. Vitalis mengutip salah satu khotbah Paus Leo Agung, Santo Leo I, yang menekankan bahwa kasih karunia Tuhan tidak mungkin tersembunyi. Setelah Bunda Maria melahirkan Yesus, Allah tidak menyembunyikan rahmat-Nya, melainkan menyatakannya secara nyata dan dapat dialami oleh manusia. Dalam misteri Inkarnasi, Allah yang tak terlihat menjadi terlihat, yang kekal memasuki waktu, dan yang ilahi mengambil wujud manusiawi. Melalui ketaatan dan iman Maria sebagai Bunda Allah, Firman menjadi daging dan tinggal di antara manusia.
Mengacu pada ajaran Paus Leo Agung, RP. Vitalis menegaskan bahwa Yesus Kristus sungguh Allah dan sungguh manusia. Ia hadir secara nyata, bukan sebagai gagasan atau simbol semata, melainkan sebagai pribadi yang hidup dan berjalan bersama manusia. Karena itu, iman Kristiani adalah iman yang konkret, iman yang menyentuh kehidupan sehari-hari umat beriman.
Hari Raya Penampakan Tuhan sendiri merupakan hari raya wajib dalam Gereja Katolik. Perayaan ini memperingati kunjungan orang-orang Majus dari Timur ke Betlehem untuk menyembah Yesus, Sang Raja yang baru dilahirkan. Peristiwa ini menandai pewahyuan Allah kepada semua bangsa, bahwa Yesus datang bukan hanya untuk bangsa Yahudi, tetapi bagi seluruh umat manusia. Dalam Kitab Hukum Kanonik, kewajiban merayakan hari raya ini ditegaskan dalam Kanon 1247, yang menyatakan bahwa umat Katolik wajib menghadiri Misa pada hari raya wajib dan hari Minggu, serta menahan diri dari pekerjaan yang dapat merintangi ibadat dan pengudusan hari Tuhan.
Secara makna iman, Epifani berasal dari kata Yunani epiphainen yang berarti menampakkan atau memperkenalkan. Melalui bayi Yesus yang lahir di Betlehem, Allah memperkenalkan diri-Nya kepada dunia. Kehadiran orang-orang Majus dari Timur menjadi simbol bahwa keselamatan Allah bersifat universal. Ketiga Majus, yang dalam tradisi Gereja dikenal dengan nama Kaspar, Melkior, dan Balthasar, mewakili bangsa-bangsa lain yang datang menyembah Kristus dengan membawa emas, kemenyan, dan mur sebagai persembahan.
RP. Vitalis menegaskan bahwa para Majus adalah orang-orang asing bagi Israel, namun justru mereka yang dengan penuh iman melakukan perjalanan panjang dan penuh ketidakpastian demi mencari Tuhan. Mereka tidak tinggal diam, tidak pasif, dan tidak menunggu kepastian penuh. Mereka bergerak karena percaya pada tanda yang Tuhan berikan melalui bintang di Timur. Hal ini menjadi cermin bagi kehidupan umat beriman saat ini, yang sering kali menginginkan hasil tanpa perjuangan dan pengorbanan.
Ketika para Majus akhirnya menemukan Yesus, mereka tidak menjumpai seorang raja dengan kemegahan duniawi, melainkan seorang bayi kecil dalam kesederhanaan. Namun, hal itu tidak menghalangi mereka untuk sujud menyembah. Persembahan emas, kemenyan, dan mur menjadi simbol penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Emas melambangkan pengakuan akan Yesus sebagai Raja, kemenyan sebagai pengakuan akan keilahian-Nya, dan mur sebagai lambang penyerahan hidup, termasuk penderitaan, kepada Allah.
Dalam refleksinya, RP. Vitalis juga menekankan bahwa perayaan Epifani mengajak Gereja untuk menjadi Gereja yang terbuka, Gereja yang bersinar, dan bukan Gereja yang menghakimi. Yesus menampakkan diri-Nya kepada semua orang tanpa membeda-bedakan latar belakang. Gereja, sebagai tubuh Kristus, dipanggil untuk memantulkan cahaya-Nya di tengah dunia, di tempat kerja, di lingkungan, dan dalam komunitas. Setiap orang beriman dipanggil untuk menjadi bintang yang menuntun sesama kepada Tuhan.
Bacaan Injil dari Matius 2:1–12 yang diwartakan dalam perayaan ini menggambarkan kontras antara sikap para Majus yang tulus mencari Tuhan dan sikap Raja Herodes yang dipenuhi rasa takut dan kepentingan diri. Herodes melambangkan ego manusia yang takut kehilangan kuasa dan kenyamanan. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap Herodes dapat muncul dalam bentuk ketakutan untuk berubah, kebiasaan buruk yang sulit dilepaskan, atau kelekatan pada zona nyaman yang menjauhkan manusia dari kehendak Allah.
Sebaliknya, para Majus mengajarkan keberanian iman. Setelah berjumpa dengan Yesus, mereka pulang ke negerinya melalui jalan lain. Ungkapan ini menjadi simbol transformasi hidup. Setiap perjumpaan sejati dengan Tuhan selalu membawa perubahan arah hidup, cara berpikir, dan prioritas.
Perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menjadi momen refleksi mendalam bagi umat untuk kembali bertanya tentang panggilan hidup masing-masing. Cahaya Natal yang telah hadir dalam diri umat tidak berhenti pada perayaan liturgi, tetapi diharapkan terus bersinar dalam tindakan nyata sehari-hari.
Dengan berakhirnya perayaan Ekaristi, umat diutus kembali ke tengah dunia dengan semangat baru. Hari Raya Penampakan Tuhan menegaskan kembali jati diri Gereja sebagai Gereja yang universal, terbuka, dan diutus untuk menjadi terang bagi segala bangsa. Dalam terang Kristus itulah umat dipanggil untuk hidup, bersaksi, dan memuliakan Tuhan, kini dan sepanjang masa.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 3 Januari 2026
0 comments:
Posting Komentar