KASIH YANG DIRAYAKAN DALAM EKARISTI Misa Syukur 20 Tahun Pernikahan Bapak.Ranto Sihombing, SE., ME & Ibu.Kristina Mey

 

Foto RP. Vitalis Nggeal, CP.Pimpin Misa

KASIH YANG DIRAYAKAN DALAM EKARISTI
Misa Syukur 20 Tahun Pernikahan Willem Ranto Sihombing, SE., ME & Kristina Mey
Paroki Santo Agustinus Paya Kumang – Keuskupan Ketapang
Rabu, 28 Januari 2026

Ketapang, 28 Januari 2026 – Suasana penuh sukacita dan haru menyelimuti kediaman Bapak Willem Ranto Sihombing, SE., ME dan Ibu Kristina Mey di Jalan Karya Tani Gang Solidaritas, Sukaharja – Ketapang, pada Rabu malam, 28 Januari 2026. Tepat pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Santo Yosef bersama keluarga, sahabat, dan kerabat berkumpul dalam satu perayaan iman: Misa Syukur 20 Tahun Pernikahan pasangan yang telah menapaki perjalanan rumah tangga selama dua dekade tersebut.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor RP. Vitalis Nggeal, CP dari Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Dalam keheningan malam yang teduh, cahaya lampu dan lilin menghiasi halaman rumah yang telah dipersiapkan dengan sederhana namun penuh makna. Kursi-kursi tertata rapi, altar dihias dengan bunga-bunga segar, serta salib dan lilin yang berdiri tegak menjadi pusat perhatian umat yang hadir.

Malam itu bukan sekadar perayaan ulang tahun pernikahan. Ia menjadi momentum iman—sebuah ungkapan syukur atas rahmat kesetiaan, pengampunan, perjuangan, dan cinta kasih yang telah dijalani bersama selama 20 tahun dalam sakramen perkawinan.

















































































Perayaan yang Berakar pada Syukur

Dalam kata pengantarnya sebelum misa dimulai, Bapak Willem Ranto Sihombing menyampaikan ungkapan syukur dan refleksi singkat atas perjalanan hidup berkeluarga yang telah ia dan istrinya jalani.

Dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan, beliau mengisahkan bahwa perjalanan 20 tahun pernikahan bukanlah kisah tanpa luka. Ada suka dan duka, ada tawa dan air mata, ada kebahagiaan dan juga sakit hati. Namun yang membuat semuanya berarti adalah keputusan untuk tetap memilih satu sama lain.

“Mungkin ada saat-saat kami kecewa, lelah, atau terluka. Tetapi kami memilih untuk tidak saling mengecewakan. Kami memilih untuk tetap bersama, dan hari ini kami memilih untuk merayakan,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menjadi pintu masuk yang sangat dalam bagi homili Pastor Vitalis, yang kemudian mengajak seluruh umat untuk merenungkan makna kesetiaan dan kasih dalam terang Injil.

Liturgi yang Khidmat dan Penuh Makna

Perayaan Misa dipandu dengan penuh khidmat. Lagu-lagu pujian dipimpin oleh Ibu Herklana Haini, yang dengan suara lembut dan penuh penghayatan mengajak umat mengangkat hati kepada Tuhan. Suara umat yang menyatu dalam nyanyian menciptakan suasana doa yang mendalam.

Pemazmur pada malam itu adalah Saudara Theo Maximus Ersi, yang membawakan Mazmur dengan penuh penghayatan, menghadirkan Sabda Tuhan sebagai doa umat yang hidup.

Bacaan pertama dibawakan oleh Bapak Willem Ranto Sihombing sendiri. Dengan membacakan Sabda Tuhan, ia seakan mempersembahkan kembali seluruh perjalanan hidup rumah tangganya dalam terang firman Allah.

Injil yang dibacakan malam itu diambil dari Yohanes 13:34-35 dan Yohanes 15:12-17, tentang perintah baru untuk saling mengasihi.

Homili: Memilih untuk Tidak Saling Mengecewakan

Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP mengawali dengan menyoroti pengantar yang disampaikan oleh Bapak Ranto. Pastor mengatakan bahwa perayaan 20 tahun pernikahan bukanlah sekadar angka, melainkan sebuah keputusan iman yang terus diperbarui setiap hari.

“Menarik tadi pengantar dari Bapak Ranto. Ada suka, ada duka, ada sakit hati. Tetapi yang lebih menarik adalah mereka memilih untuk tidak saling mengecewakan. Mereka memilih merayakan, bukan berlarut-larut dalam kesedihan,” ungkap Pastor.

Pastor menegaskan bahwa merayakan 20 tahun pernikahan berarti memilih untuk tidak tinggal dalam luka masa lalu. Merayakan berarti bersyukur. Bersyukur berarti mengakui bahwa Tuhan hadir dalam setiap proses, termasuk dalam kesulitan.

Beliau mengajak umat untuk merenungkan pertanyaan mendasar: Mengapa pasangan harus merayakan ulang tahun pernikahan?

Jawabannya sederhana namun mendalam: karena tidak ada pasangan yang sempurna. Tidak ada suami atau istri yang ideal. Tidak ada kehidupan yang tanpa masalah. Yang membuat semuanya menjadi “ideal” bukanlah kesempurnaan, melainkan penerimaan.

“Kuncinya ada pada penerimaan. Ketika ada penerimaan, maka yang tidak ideal menjadi indah. Selama 20 tahun mereka belajar melihat bukan pasangan yang sempurna, tetapi pasangan yang setia,” tegas Pastor.

Setia dalam Untung dan Malang

Pastor kemudian mengingatkan kembali janji perkawinan Katolik: setia dalam untung dan malang, sehat dan sakit, sepanjang hidup.

Janji tersebut bukan sekadar kata-kata di altar pada hari pernikahan. Janji itu lahir dari hati dan harus diperjuangkan setiap hari. Ketika janji itu sungguh keluar dari hati, ia tidak akan mudah hilang.

“Mereka bisa bertahan sampai hari ini karena janji itu tidak hanya diucapkan di mulut, tetapi dihidupi dalam hati,” ujar Pastor.

Beliau juga mengingatkan bahwa perkawinan bukanlah permainan. Ia adalah sakramen. Ia kudus. Ia harus dijalankan dengan sungguh dan serius. Keluarga muda maupun keluarga yang sudah lama menikah dipanggil untuk merawat sakramen perkawinan ini.

“Jangan pernah jenuh dengan pasangan. Setialah. Karena kesetiaan itulah yang akan membawa kita masuk ke dalam Kerajaan Allah,” pesan Pastor dengan penuh keyakinan.

Menghidupi Perintah Baru: Saling Mengasihi

Pastor kemudian menghubungkan perayaan ini dengan Injil Yohanes tentang perintah baru: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.”

Kasih yang dimaksud Yesus bukanlah kasih biasa. Ia adalah kasih yang rela berkorban. Kasih yang tidak hanya mencari keuntungan diri sendiri. Kasih yang bertahan dalam penderitaan.

“Yesus tidak berkata, ‘Kasihilah kalau pasanganmu sempurna.’ Tidak. Ia berkata, ‘Kasihilah seperti Aku telah mengasihi kamu.’ Dan kasih Yesus adalah kasih yang sampai memberikan nyawa-Nya,” jelas Pastor.

Dalam konteks keluarga, kasih yang berkorban berarti kesediaan untuk mengampuni, memahami, dan tetap tinggal meskipun ada luka.

Pastor menegaskan bahwa saling mengasihi adalah tanda utama murid Kristus. Dunia akan mengenal kita sebagai pengikut Kristus bukan dari jabatan atau kekayaan, tetapi dari kasih yang kita hidupi.

“Malam ini, Bapak Willem dan Ibu Kristina memberi kesaksian bahwa kasih yang bertahan itu nyata. Kasih yang memilih untuk tetap tinggal itu nyata,” katanya.

Kesetiaan sebagai Warisan Iman

Salah satu poin penting yang ditekankan Pastor adalah bahwa kesetiaan dalam perkawinan adalah warisan terbesar bagi anak-anak dan cucu.

Harta bisa habis. Jabatan bisa hilang. Tetapi teladan kesetiaan akan tinggal dalam hati anak-anak sepanjang hidup mereka.

“Ketika orang tua setia, anak-anak belajar tentang Injil. Anda menghidupi Injil. Anda menjaga kesetiaan,” ujar Pastor.

Beliau juga menyampaikan rasa terima kasih sebagai imam kepada pasangan-pasangan yang setia dalam perkawinan.

“Saya sebagai Pastor berterima kasih banyak bagi pasangan yang setia. Pastor bisa menjadi kudus. Umat bisa menjadi kudus. Semua dipanggil menjadi kudus, termasuk dalam kehidupan keluarga.”

Doa dan Harapan

Menjelang akhir homili, Pastor mengajak seluruh umat untuk berdoa bagi pasangan yang merayakan ulang tahun pernikahan ke-20 ini.

“Kita berdoa semoga sehat selalu sampai menua. Jadilah keluarga yang setia. Amin.”

Kata “Amin” yang diucapkan bersama umat malam itu terasa sangat kuat. Ia bukan sekadar penutup doa, melainkan peneguhan komitmen iman.

Ekaristi sebagai Puncak Syukur

Perayaan Ekaristi malam itu menjadi puncak ungkapan syukur. Dalam doa syukur agung, seluruh umat mempersembahkan hidup mereka bersama roti dan anggur.

Bagi Bapak Willem dan Ibu Kristina, Ekaristi menjadi simbol paling nyata dari kasih yang berkorban—kasih Kristus yang memberikan diri-Nya sepenuhnya.

Dengan menerima Tubuh dan Darah Kristus, mereka seakan memperbarui janji untuk terus saling memberikan diri dalam kasih.

Kesaksian yang Menguatkan Lingkungan

Misa Syukur ini bukan hanya menjadi perayaan pribadi, tetapi juga menjadi penguatan bagi Lingkungan Santo Yosef dan seluruh umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Banyak umat yang hadir mengaku tersentuh dan dikuatkan oleh kesaksian pasangan tersebut. Di tengah tantangan keluarga zaman sekarang—konflik, perceraian, kesibukan, dan tekanan ekonomi—kesetiaan 20 tahun menjadi tanda harapan.

Perayaan ini mengingatkan bahwa keluarga Kristen dipanggil untuk menjadi Gereja kecil, tempat kasih Kristus dihidupi secara nyata.

Dua Puluh Tahun yang Bukan Akhir

Dua puluh tahun bukanlah akhir perjalanan. Ia adalah tonggak. Ia adalah kesempatan untuk melangkah lebih dalam lagi.

Jika 20 tahun pertama adalah masa belajar menerima, mengampuni, dan bertumbuh, maka tahun-tahun berikutnya menjadi masa untuk semakin matang dalam kasih.

Perayaan malam itu menjadi deklarasi iman: bahwa kasih tidak berhenti pada romantisme awal, tetapi terus diperbarui dalam komitmen sehari-hari.

Penutup: Kasih yang Tetap Berbuah

Dalam Injil Yohanes 15:16, Yesus berkata: “Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.”

Buah dari 20 tahun pernikahan bukan hanya anak-anak atau pencapaian materi. Buah sejati adalah kesetiaan yang tetap, kasih yang matang, dan iman yang bertumbuh.

Malam itu, di Jalan Karya Tani Gang Solidaritas, kasih yang telah berjuang selama dua dekade dirayakan dalam Ekaristi. Kasih yang mungkin pernah terluka, tetapi tidak pernah menyerah. Kasih yang mungkin pernah goyah, tetapi tidak pernah runtuh.

Dalam terang lilin dan doa, dalam nyanyian dan Sabda, dalam roti dan anggur, keluarga ini mempersembahkan syukur mereka kepada Tuhan.

Semoga kasih yang telah dipilih dan diperjuangkan selama 20 tahun itu terus berbuah—menjadi berkat bagi anak-anak, cucu, lingkungan, paroki, dan Gereja.

Selamat ulang tahun pernikahan ke-20, Bapak Willem Ranto Sihombing, SE., ME dan Ibu Kristina Mey.

Tetaplah setia. Tetaplah mengasihi. Tetaplah berjalan bersama dalam Tuhan.Amin

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   28 Januari  2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar